web analytics

Mengatasi Over Kapasitas Lapas

clockRabu, 21 Juli 2021 21:15 WIB user-groupNetizen Puguh Setyawan Jhody, S.H.
Netizen, Mengatasi Over Kapasitas Lapas, Over Kapasitas,Lapas,Hukuman Penjara,Masalah Kejahatan,Kriminalitas

Wamenkumham dan Dirjen Pemasyarakat meninjau menemui WBP Lapas Cipinang. (Ditjenpas.go.id)

Pidana penjara merupakan salah satu pidana pokok yang dikenal di dalam sistem peradilan pidana di Indonesia.

Pada tahun 1995, terbentuk Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, yang mengubah paradigma pemenjaraan menjadi pemasyarakatan.

Pemenjaraan atau hukuman penjara, meskipun menjadi mekanisme yang penting untuk menghukum pelaku, bukanlah merupakan “obat” untuk mengatasi seluruh masalah kejahatan, khususnya jika dikaitkan dengan upaya untuk mencegah kejahatan atau kebutuhan integrasi sosial pelaku.

Pidana penjara justru dinilai telah menunjukkan efek yang kontraproduktif terhadap upaya rehabilitasi dan reintegrasi para pelaku tindak pidana ringan dan pelaku yang merupakan kelompok rentan.

Dampak buruk penggunaan pidana penjara semakin besar dengan melihat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) yang mengalami kelebihan kapasitas penghuni (overcrowding). Overcrowding terjadi karena semakin tingginya jumlah penghukuman dengan pidana penjara jika dibandingkan dengan kapasitas ruang penjara yang tersedia.

Kondisi saat ini, berdasarkan data SDP (Sistem Database Pemasyarakatan) menunjukan total penghuni Lapas dan Rutan mencapai 262.765 orang narapidana, sementara kapasitas atau daya tampung Lapas dan Rutan hanya sekitar 135.647 orang. Secara data statistik, menunjukan tingkat over kapasitas hunian Lapas dan Rutan mencapai 94%. Pernyataan Menteri Hukum dan HAM RI, Bapak Yasonna H. Laoly, mengungkapkan “Banyak kondisi Lapas kita sangat over kapasitas. Ada Lapas dan Rutan mencapai 300 persen over kapasitasnya”.

Overcrowding berdampak pada terjadinya berbagai permasalahan serta kurang berhasilnya berbagai program pemasyarakatan seperti program pembinaan tidak berjalan dengan baik karena jumlah penghuni terlalu banyak, gangguan keamanan dan ketertiban seperti kerusuhan, dan peredaran narkoba di dalam Lapas/Rutan, penularan penyakit, banyaknya penghuni yang melarikan diri karena perbandingan jumlah penghuni dan petugas pengamanan yang tidak seimbang, membengkaknya anggaran untuk membiayai penghuni Rutan dan Lapas, serta kemungkinan terjadi pengulangan tindak pidana (residivisme).

Untuk mengatasi permasalahan ini, Kementerian Hukum dan HAM melalui Direktorat Jenderal Pemasyarakatan telah berupaya memberikan solusi dengan  membangun lebih banyak lapas/rutan, dan kebijakan pengeluaran narapidana melalui program asimilasi di rumah dalam rangka pencegahan penularan covid-19. Namun, langkah-langkah tersebut merupakan solusi jangka pendek saja, mengingat pembangunan lapas baru tidak sebanding dengan jumlah narapidana baru yang masuk lapas. Oleh karena itu diperlukan pula langkah-langkah terobosan/inovasi sebagai solusi jangka panjang dengan mendorong implementasi alternatif pemidanaan dan keadilan restoratif bagi pelaku dewasa sehingga tidak semua pelaku tindak pidana harus menjalani hukuman di Lapas/Rutan. Upaya ini tentunya memerlukan dukungan dari berbagai pihak, baik dari unsur aparat penegak hukum, pemerintah, dan masyarakat secara luas.

Mendorong Keadilan Restoratif dan Alternatif Pemidanaan

Keadilan restoratif (restorative justice) kian hari semakin “didambakan” banyak pihak, dan menjadi bahan materi yang menarik untuk didiskusikan. Bahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjadikan keadilan restoratif sebagai salah satu program presisi 100 hari Kapolri. Keadilan restoratif adalah penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan.

Sebelumnya konsep penerapan alternatif pemidanaan dan keadilan restoratif telah diberlakukan bagi Anak, sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) yang membuahkan hasil positif dalam penyelesaian kasus anak yang berhadapan dengan hukum dengan mengedapankan kepentingan terbaik bagi anak. Meskipun dalam praktinya, masih terdapat banyak tantangan dan hambatan.

Penerapan keadilan restoratif bagi orang dewasa di Indonesia, sudah mulai bergulir digalakkan baik di tingkat penyidikan kepolisian merujuk pada Surat Edaran Kapolri No. 8 Tahun 2018 tentang Penerapan Keadilan Restoratif Dalam Penyelesaian Perkara Pidana. Selanjutnya di tingkat penuntutan, Kejaksaan merujuk pada Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia No. 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif, dan di tingkat pemeriksaan pengadilan merujuk pada SK Dirjen Badan Peradilan Umum No. 1691/DJU/SK/PS.00/12/2020 tentang Pemberlakuan Pedoman Penerapan Keadilan Restoratif. Seperti halnya pada penerapan keadilan restoratif bagi pelaku anak, peran pemasyarakatan dalam penerapan keadilan restoratif bagi pelaku dewasa juga perlu didorong untuk berkontribusi memberikan peningkatan pelayanan pemasyarakatan baik berupa layanan penelitian kemasyarakatan bagi tersangka dewasa yang dapat digunakan sebagai pertimbangan bagi aparat penegak hukum yang lain. Peran ini termaktub dalam Pasal 38 Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan.

Namun, sebenarnya aturan-aturan diatas belum cukup memperkuat konsep keadilan restoratif dalam sistem peradilan pidana. Di masa depan diperlukan regulasi yang komprehensif dan terpadu yang mengatur bagaimana kolaborasi dan sinergitas antara penegak hukum, pemerintah, dan masyarakat dalam penerapan keadilan restoratif di Indonesia.

Pendapat-pendapat diatas semakin membuat kita optimis bahwa penerapan alternatif pemidanaan dan keadilan restoratif merupakan solusi tepat dalam mengatasi over kapasitas lapas dan tentunya meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan pemasyarakatan sesuai dengan tujuan sistem pemasyarakatan yakni pulihnya kesatuan hubungan hiup, hidup, dan kehidupan. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Selebgram Cilik dan Hak Privasi Anak

Netizen Jumat, 30 Juli 2021 | 18:00 WIB

Hak anak atas privasi digital sudah milik mereka sejak lahir.

Netizen, Selebgram Cilik dan Hak Privasi Anak, Selebgram Cilik,Hak Privasi Anak,Selebram,Instagram

Tiga Kata Sederhana Ini Masih Sering Dilupakan dan Diabaikan

Netizen Jumat, 30 Juli 2021 | 16:10 WIB

Ada tiga kata ajaib yaitu tolong, maaf,dan terima kasih, yang kini mulai sukar ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Netizen, Tiga Kata Sederhana Ini Masih Sering Dilupakan dan Diabaikan, Tiga Kata Sederhana,tiga kata ajaib,tolong,maaf,terima kasih

Jaringan Jalan di Baduy Merupakan Bentuk Asli Jalan di Jawa Barat Abad...

Netizen Jumat, 30 Juli 2021 | 13:21 WIB

Jaringan Jalan di Baduy Merupakan Bentuk Asli Jalan di Jawa Barat Abad ke-16 – 17

Netizen, Jaringan Jalan di Baduy Merupakan Bentuk Asli Jalan di Jawa Barat Abad ke-16 – 17 , jalan baduy,Jawa Barat,dipati ukur

Pandemi, Narasi, dan Realitas Menakutkan

Netizen Kamis, 29 Juli 2021 | 23:30 WIB

Efek samping dari narasi seram itu lebih cepat menjalar dari pada pengaruh berbagai obat dan vitamin yang saya konsumsi.

Netizen, Pandemi, Narasi, dan Realitas Menakutkan, Pandemi,Narasi,Realitas,Kasus Covid-19,Isolasi Mandiri,obat covid-19,Virus Corona

GARUDA SHIELD 2021: Indonesia Bermain Cantik!

Netizen Rabu, 28 Juli 2021 | 20:15 WIB

Indonesia-Amerika Serikat telah membuat sejarah panjang dalam latihan militer bersama atau pertukaran perwira militer.

Netizen, GARUDA SHIELD 2021: Indonesia Bermain Cantik!, GARUDA SHIELD,Militer,Indonesia,Amerika Serikat

Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?

Netizen Selasa, 27 Juli 2021 | 17:35 WIB

Vaksin dianggap menjadi penyelamat dari serangan virus Corona yang diperkirakan lebih mematikan dari virus flu lainnya.

Netizen, Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?, Seruan Berpartisipasi,Mengatasi Covid-19,COVID-19,Virus Corona

Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

Netizen Selasa, 27 Juli 2021 | 09:02 WIB

Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

Netizen, Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI), UNI,sidolig,Persib,sepakbola,bandung,Teddy Kessler,Wim Kuik

Mengungkap Fakta Kandungan Susu Bear Brand

Netizen Senin, 26 Juli 2021 | 23:00 WIB

Alasannya, karena susu Bear Brand diyakini dapat meredakan paparan Covid-19.

Netizen, Mengungkap Fakta Kandungan Susu Bear Brand, Fakta,Susu,Bear Brand,COVID-19,Sehat,Hoaks
dewanpers
arrow-up