web analytics

Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyelamat?

clockRabu, 21 Juli 2021 20:00 WIB user-groupNetizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyelamat?, Politik Bebas Aktif,Indonesia,Politik Luar Negeri,Ketergantungan,dependent

Dampak politik luar negeri bebas aktif adalah menciptakan ketergantungan (dependent) yang makin dalam terhadap negara-negara yang sedang bersaing. (Pixabay/Alex Yomare )

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

Masyarakat dunia menghadapi dua masalah yang sangat menganggu.

(1) Wabah Covid-19, yang menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), per 20 Juli 2021 sebanyak 190.671.330 orang terkonfirmasi terpapar Covid-19. 4.098.758 diantaranya meninggal dunia.

WHO merinci, sebanyak 74.931.056 yang terpapar berdomisili di Amerika Serikat, Kanada dan Amerika Selatan. 58.219.035 di Eropa, 36.966.334 di Asia Tenggara, 11.890.644 di Timur Tengah, 4.636.239 di Afrika dan 4.027.254 di Pasifik Barat.     

Bila ditinjau per negara, Amerika Serikat terbanyak dengan 33.741.532 orang terpapar, India dengan 31.174.332, Brazil 19.376.574, Federasi Rusia 6.006.536, Prancis sebanyak 5.753.579, Turki 5.537.386. Inggis 5.473.481,  Argentina 4.756.378, 850, Kolombia 4.639.466, Italia 4.289.528, Spanyol 4.161 dan Jerman 3.746.420 orang.

WHO mengutip data pemerintah Indonesia, jumlah yang terpapar per 18 Juli 2021 berjumlah 2.877.476 dan 2.261.658 telah sembuh.Wafat 73.582 orang.

Bila sekalian angka dibandingkan, tanpa mengenyampingkan aspek kemanusiaan, sangat berlebihan bila dikatakan Indonesia menjadi pusat ledakan baru wabah setelah India. Sebagaimana yang diutarakan CNN dan New York Times.

Masuk akal bila Kemenkes membantah. WHO pun  dalam publikasinya tidak pernah menyebut Indonesia sebagai episentrum baru.

WHO memperkirakan ledakan ketiga wabah dunia akan berlangsung pada Oktober-November. Hal ini disebabkan terjadi mutasi virus. Lambda atau C.37 yang ditemukan di Peru.Varian Raja B1351 yang dijumpai Afrika Selatan. Varian Delta di India. Juga ada varian Beta, Alfa dan Gamma. Masing-masing varian dengan cepat menyebar karena manusia terpapar melakukan perjalanan ke luar negeri. Tambahan lagi virus yang bermutasi itu, setidaknya setiap tiga bulan, kebal vaksin-vaksin tertentu.    

Direktur WHO untuk Eropa Hans Kluge beberapa waktu lalu memperkirakan wabah baru akan berakhir pada akhir 2022. Virus akan tetap ada tetapi tidak lagi diperlukan pembatasan mobilitas penduduk. Mutasi virus itu normal.

Covid-19,  diduga muncul karena mutasi dari khewan ke manusia atau kebocoran di laboratorium, pada awalnya bisa ditangani dengan teknologi sederhana. Pakai masker, sering cuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, membatasi mobilitas, menerapkan pola hidup sehat dan mematuhi peraturan pemerintah dan vaksinasi.

Covid-19, yang WHO nyatakan mewabah pada Maret 2020, menyebar ke sedikitnya 189 negara dan teritori. Pandemi ini secara efektif menggoyahkan perekonomian, terutama negara-negara berkembang.   

Pemerintah terpaksa menggeser anggaran pembangunan untuk mengatasi Covid-19. Kecenderungan ini menyebabkan negara yang bersangkutan mengalami kemunduran. Dalam konteks ini muncul ketergantungan satu negara kepada negara lain yang lebih makmur.

Sepertinya negara yang akan cepat pulih adalah negara-negara kaya, namun kali ini tak hanya negara-negara Barat tetapi juga China. Ironisnya keduanya adalah para pihak yang bersaing dan berupaya saling menjatuhkan.

Wabah kali ini sering disebut sebagai konspirasi. Benar atau tidak, namun yang pasti tampaknya wabah dipakai sebagai instrumen membangun blok baru.

Meningkatkan Ketegangan

(2) Pada saat yang bersamaan, Amerika Serikat, Eropa (NATO), Jepang, Korea Selatan , Australia dan Selandia Baru telah menghimpun kekuatan untuk mengekang perkembangan teknologi, investasi, perdagangan bahkan pengaruh China di seluruh dunia. Tindakan ini didasarkan rasa khawatir China akan melampaui negara-negara yang notabene berfaham demokratis, liberal sekaligus imperialis alias penjajah.

Persaingan ini akan berlangsung dalam jangka panjang. Pengaruhnya dapat dirasakan Indonesia karena mempunyai aset yang mereka perlukan. Sumber daya alam. Letak geografis. Jumlah penduduk yang banyak yang dapat dimanfaatkan sebagai konsumen barang dan  jasa.

Tidak mustahil, kelak Indonesia akan diancam sanksi apabila membeli barang dan jasa atau membuat perjanjian tertentu dengan China.

Masih ingat dengan kegagalan membeli pesawat Sukhoi buatan Russia?

Pengendalian pengaruh China juga ditandai dengan kesepakatan AS-NATO, bahwa Russia, terorisme bukan lagi musuh utama melainkan China.

Selat Taiwan dan Laut China Selatan akan menjadi titik api sebab di kedua lokasi itu, kepentingan negara-negara yang bersaing bertemu.

Di tengah kondisi pandemi dan perebutan pengaruh,  Indonesia memerlukan modal dan  investasi asing, bahkan sekarang vaksin dan oksigen. Untunglah Indonesia menganut politik luar negeri bebas dan aktif, meskipun hanya mujarab sebagai cara.

Dampaknya adalah menciptakan ketergantungan (dependent) yang makin dalam terhadap negara-negara yang sedang bersaing. [*]

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Selebgram Cilik dan Hak Privasi Anak

Netizen Jumat, 30 Juli 2021 | 18:00 WIB

Hak anak atas privasi digital sudah milik mereka sejak lahir.

Netizen, Selebgram Cilik dan Hak Privasi Anak, Selebgram Cilik,Hak Privasi Anak,Selebram,Instagram

Tiga Kata Sederhana Ini Masih Sering Dilupakan dan Diabaikan

Netizen Jumat, 30 Juli 2021 | 16:10 WIB

Ada tiga kata ajaib yaitu tolong, maaf,dan terima kasih, yang kini mulai sukar ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Netizen, Tiga Kata Sederhana Ini Masih Sering Dilupakan dan Diabaikan, Tiga Kata Sederhana,tiga kata ajaib,tolong,maaf,terima kasih

Jaringan Jalan di Baduy Merupakan Bentuk Asli Jalan di Jawa Barat Abad...

Netizen Jumat, 30 Juli 2021 | 13:21 WIB

Jaringan Jalan di Baduy Merupakan Bentuk Asli Jalan di Jawa Barat Abad ke-16 – 17

Netizen, Jaringan Jalan di Baduy Merupakan Bentuk Asli Jalan di Jawa Barat Abad ke-16 – 17 , jalan baduy,Jawa Barat,dipati ukur

Pandemi, Narasi, dan Realitas Menakutkan

Netizen Kamis, 29 Juli 2021 | 23:30 WIB

Efek samping dari narasi seram itu lebih cepat menjalar dari pada pengaruh berbagai obat dan vitamin yang saya konsumsi.

Netizen, Pandemi, Narasi, dan Realitas Menakutkan, Pandemi,Narasi,Realitas,Kasus Covid-19,Isolasi Mandiri,obat covid-19,Virus Corona

GARUDA SHIELD 2021: Indonesia Bermain Cantik!

Netizen Rabu, 28 Juli 2021 | 20:15 WIB

Indonesia-Amerika Serikat telah membuat sejarah panjang dalam latihan militer bersama atau pertukaran perwira militer.

Netizen, GARUDA SHIELD 2021: Indonesia Bermain Cantik!, GARUDA SHIELD,Militer,Indonesia,Amerika Serikat

Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?

Netizen Selasa, 27 Juli 2021 | 17:35 WIB

Vaksin dianggap menjadi penyelamat dari serangan virus Corona yang diperkirakan lebih mematikan dari virus flu lainnya.

Netizen, Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?, Seruan Berpartisipasi,Mengatasi Covid-19,COVID-19,Virus Corona

Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

Netizen Selasa, 27 Juli 2021 | 09:02 WIB

Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

Netizen, Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI), UNI,sidolig,Persib,sepakbola,bandung,Teddy Kessler,Wim Kuik

Mengungkap Fakta Kandungan Susu Bear Brand

Netizen Senin, 26 Juli 2021 | 23:00 WIB

Alasannya, karena susu Bear Brand diyakini dapat meredakan paparan Covid-19.

Netizen, Mengungkap Fakta Kandungan Susu Bear Brand, Fakta,Susu,Bear Brand,COVID-19,Sehat,Hoaks

artikel terkait

dewanpers
arrow-up