web analytics

Ngejot di Bali: Tradisi Dua Agama Saat Iduladha yang Sarat Makna Toleransi

clockRabu, 21 Juli 2021 17:00 WIB userRedaksi AyoBandung.Com
Gaya Hidup - Kuliner, Ngejot di Bali: Tradisi Dua Agama Saat Iduladha yang Sarat Makna Toleransi, Tradisi,Ngejot,Bali,Agama,Iduladha,Toleransi,Islam,Hindu

Ilustrasi tradisi ngejot di Bali, dimana pada perayaan Hari Raya Islam dan Hindu, masyarakat akan saling membagikan hidangan khas Hari Raya. (Freepik)

Menjelang Hari Raya Iduladha, biasanya banyak kegiatan rutin yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia di berbagai penjuru daerah.

Salah satunya tradisi ngejot yang biasa dilakukan masyarakat agama Hindu dan Islam di Bali. Tradisi ngejot membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa damai karena setiap orang bisa melihat bagaimana kerukunan dan nilai toleransi beragama diperlihatkan.

Tradisi ngejot atau biasa juga disebut jotan merupakan sebuah tradisi yang biasanya dilakukan di hari besar keagamaan Hindu dan Islam.

Pada hari besar umat Hindu biasanya dilakukan saat hari raya Galungan, Kuningan, hingga Odalan. Sedangkan umat islam merayakan tradisi ngejot pada saat Hari Raya Idulfitri, Iduladha, hingga maulid Nabi Muhammad Saw.

Saat tradisi ngejot ini berlangsung, biasanya masyarakat akan membagikan makanan kepada saudara dan tetangganya. Saat merayakan Hari Raya Iduladha, masyarakat muslim Bali biasanya akan membagikan hidangan khas lebaran, seperti opor ayam dan ketupat. Juga sebaliknya, saat perayaan hari raya umat Hindu biasanya akan memberikan buah-buahan hingga makanan kering yang halal untuk dikonsumsi.

Tradisi ngejot di Bali sangat sarat akan nilai dan makna, baik dalam kehidupan sosial masyarakat Bali, maupun pesan yang disampaikan kepada masyarakat luas. Tradisi ngejot mempertontonkan bagaimana keragaman budaya dan agama yang ada di tanah Bali tidak menjadikan alasan untuk tidak saling menghargai.

Menurut jurnal penelitian Hasan Baharin dan dua kawannya yang berjudul Tradisi Ngejot: Sebuah Ekspresi Keharmonisan dan Kerukunan Antar Umat Beragama dengan Dakwah Bil Hal, menyebutkan bahwa tradisi ngejot merupakan buah dari terma sosial yang dianut oleh masyarakat Islam dan Hindu di Bali. Terma sosial yang dianut seperti nyama selam-nyama hindu yang artinya saudara Islam dan saudara Hindu.

Sementara menurut sumber literatur lainnya, yaitu jurnal yang ditulis oleh Sepma Pulthinka dan kedua kawannya yang berjudul Tradisi Ngejot: Positive Relationship Antar Umat Beragama, menyebutkan bahwa makna filosofis dalam tradisi ngejot yaitu mempererat dan memelihara.

“Makna dari tradisi ini adalah harus duduk bersama, berdiri bersama, dan hidup bersama,” terang penulis dalam penelitiannya.

Sekilas Sejarah Tradisi Ngejot

Selain dua agama, tradisi ngejot juga merupakan tradisi yang dilakukan oleh dua suku, yaitu Suku Sasak yang beragama Islam dan Suku Bali yang beragama Hindu. Moto sosial dari tradisi ngejot yang erat kaitannya dengan perayaan Hari Raya dalam masyarakat Suku Sasak adalah “ndkn kanggo mesak ime”. Artinya adalah jika seseorang menyembelih hewan seperti kambing atau sapi, tidak boleh menikmatinya sendiri saja, tetapi harus berbagi dengan tetangga.

Sedangkan dalam kepercayaan Hindu, prinsip dasar tradisi ngejot terkandung dalam Tria Hita Karana, mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, dengan alam, dan manusia. “Mencintai sesama manusia sebagaimana kamu mencintai diri sendiri” rasanya menjadi prinsip dasar semua umat beragama yang menjunjung nilai cinta kasih.

Menurut penelitian Sepma Pulthinka dan kedua kawannya, tradisi ngejot merupakan budaya lama yang eksistensinya dimulai oleh nenek moyang yang lahir terpengaruhi oleh dua faktor pengikat. Pertama adalah faktor perkawinan antara umat Islam dan Hindu. Para pendatang Islam di Bali menikahi wanita-wanita Hindu yang membuat hubungan kedua agama semakin dekat.

Faktor kedua adalah hubungan kekerabatan antar umat. Antara umat Islam dan Hindu di Bali, secara emosional menjadi sangat dekat karena kedua umat gotong royong, saling membantu untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. Pekerjaan tersebut seperti menjaga alam Bali agar tetap lestari.

Manusia sebagai makhluk sosial sudah seharusnya selalu mengedepankan sikap toleransi, menghargai, dan mencintai satu sam lain. Melalui tradisi ngejot yang sudah mengakar dan menjadi nilai historis masyarakat umat Hindu dan Islam di Bali mampu menimbulkan rasa kebahagiaan antar pemeluknya. [Jessy Febriani]

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Resep dan Cara Membuat Makanan Korea Bibimbap Mudah dan Praktis

Kuliner Jumat, 30 Juli 2021 | 23:30 WIB

Bibimbap yang merupakan makanan berat yang berasal negeri Korea, akan lebih praktis jika dapat membuatnya di rumah.

Gaya Hidup - Kuliner, Resep dan Cara Membuat Makanan Korea Bibimbap Mudah dan Praktis, Resep,Cara Membuat,makanan korea,Bibimbap,Kuliner,Makanan,Cara Penyajian

Resep Pisang Keju Cokelat, Nikmat dan Pasti Bikin Nagih!

Kuliner Kamis, 29 Juli 2021 | 21:25 WIB

Coba masak pisang keju cokelat, dijamin ngiler!

Gaya Hidup - Kuliner, Resep Pisang Keju Cokelat, Nikmat dan Pasti Bikin Nagih!, Resep,Cara Membuat,Bahan-Bahan,Pisang Keju Cokelat,Camilan,Kudapan,Kuliner,Makanan,Di Rumah Aja

Roti Gempol, Roti Klasik Kota Bandung

Kuliner Kamis, 29 Juli 2021 | 20:50 WIB

Berbicara soal Roti Gempol, kudapan yang satu ini bisa dikatakan sebagai roti klasik karena keberadaannya sudah ada seja...

Gaya Hidup - Kuliner, Roti Gempol, Roti Klasik Kota Bandung, Roti Gempol,Roti Klasik,Kota Bandung,Kuliner,Roti Bakar

Mencicipi Tahu Pocong, Tahu Seram yang Rasanya Bikin Nagih

Kuliner Rabu, 28 Juli 2021 | 23:00 WIB

Salah satu kuliner yang memiliki nama unik tersebut adalah Tahu Pocong.

Gaya Hidup - Kuliner, Mencicipi Tahu Pocong, Tahu Seram yang Rasanya Bikin Nagih, Tahu Pocong,Tahu Seram,Bikin Nagih,Kuliner,Kota Bandung,Bandung Barat

Mie Gacoan: Restoran Incaran Mahasiswa di Bandung, Harga Murah, Tempat...

Kuliner Selasa, 27 Juli 2021 | 20:45 WIB

Keunikan dari restoran Mie Gacoan ini adalah menyediakan menu mie ala Chinese.

Gaya Hidup - Kuliner, Mie Gacoan: Restoran Incaran Mahasiswa di Bandung, Harga Murah, Tempat Nyaman, Mie Gacoan,Restoran,Incaran Mahasiswa,Kota Bandung,Kuliner

Mengenal Lebih Dekat Bisnis Kerupuk Dorokdok di Kampung Cihamerang

Kuliner Selasa, 27 Juli 2021 | 18:20 WIB

Kampung Cihamerang, Desa Banjaran Wetan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, terkenal akan produksi kerupuk dorokdok.

Gaya Hidup - Kuliner, Mengenal Lebih Dekat Bisnis Kerupuk Dorokdok di Kampung Cihamerang, Bisnis,Kerupuk,Dorokdok,Cihamerang,Kabupaten Bandung,Kuliner,Jajanan, kudapan,Camilan

Timbel Ayam Kampung Brovit: Kuliner Desa, Diburu Warga Kota

Kuliner Selasa, 27 Juli 2021 | 15:36 WIB

Tak selamanya kuliner bercita rasa tinggi dan disukai banyak orang berada di pusat-pusat kota. Kudapan berkualitas terny...

Gaya Hidup - Kuliner, Timbel Ayam Kampung Brovit: Kuliner Desa, Diburu Warga Kota, Timbel Ayam Kampung Brovit,Kuliner Bandung,Warung Makan Teh Iis,Nasi Timbel Ayam Kampung,Waduk Saguling

Cempaka, Berkenalan dengan Salah Satu Warung Nasi Favorit Mahasiswa UI...

Kuliner Senin, 26 Juli 2021 | 21:00 WIB

Sering merasa lapar pada malam hari? Kebetulan sekali! Di Cibiru ada kedai makan lokal yang buka selama 24 jam dan siap...

Gaya Hidup - Kuliner, Cempaka, Berkenalan dengan Salah Satu Warung Nasi Favorit Mahasiswa UIN Bandung, Cempaka,Warung Nasi,Favorit Mahasiswa,uin bandung,Kota Bandung,Rekomendasi Warteg

artikel terkait

dewanpers
arrow-up