web analytics

Fakta Psikologis di Balik Penipuan yang Makin Marak Saat Pandemi

clockSenin, 19 Juli 2021 22:15 WIB user-groupNetizen Filosofi Syah Toti
Netizen, Fakta Psikologis di Balik Penipuan yang Makin Marak Saat Pandemi, Penipu,Penipuan,Pandemi,Moral,psikologis

Ilustrasi penipu yang gencar melakukan penipuan lewat kecanggihan teknologi. (Freepik.)

Filosofi Syah Toti

Mahasiswa Universitas Padjadjaran.

Penipuan mengatasnamakan Ridwan Kamil, yang disinggung beberapa waktu lalu lewat instagram Kang Emil, meminta proposal pembangunan rumah ibadah. Seperti yang disinggung Ridwan Kamil, penipu memasang foto Ridwan Kamil tetapi cara bertutur si penipu tidaklah sama dengan Ridwan Kamil.

Ini menjadi pertanyaan besar, kenapa saat pandemi ini penipu makin marak? Padahal banyak orang kesulitan dengan kondisi dan situasi ini masih ada yang tega menipu sesamanya.

Pandemi, tampaknya, telah menciptakan wadah unik bagi penipuan online untuk berkembang, karena para penipu memanfaatkan ketakutan dan kecemasan kita selama masa isolasi mandiri. Untuk menghindari diri kita ditipu, kita membutuhkan kesadaran yang jauh lebih besar tentang cara-cara tertentu yang melewati pemikiran kritis kita.

Tapi taktik penipu telah menjadi lebih canggih dari waktu ke waktu. Dengan menggunakan data dari media sosial, kini relatif mudah untuk mempersonalisasi detail pesan agar tampak lebih meyakinkan – sebuah proses yang disebut "spear phishing". Penipu juga memanfaatkan peningkatan ketergantungan pada ponsel pintar, dengan lebih banyak upaya phishing SMS (juga disebut "smishing").

Para penipu menggunakan berbagai cara untuk mengelabui korbannya, yang pertama mereka akan mencoba menggunakan nama atau logo merek terkenal untuk mendapatkan kepercayaan anda. Sebagian besar penipuan kemudian akan mencoba untuk mendapatkan respons emosional yang kuat yang menghentikan kita untuk berpikir secara logis. Itu mungkin janji hadiah langsung, atau ancaman potensial.

Dilansir dari BBC International, dalam beberapa skema, penipu berpura-pura menjadi pengacara atau dokter, mewakili anggota keluarga atau teman yang membutuhkan bantuan keuangan mendesak.

"Seringkali emosi negatif adalah yang paling efektif," kata Cleotilde Gonzalez, seorang profesor ilmu keputusan di Carnegie Mellon University di Pittsburgh, Pennsylvania.

Ketiga, sebagian besar penipuan menghadirkan situasi "batasan waktu" yang menuntut tanggapan segera. Ini penting, karena meningkatkan kemungkinan Anda akan bertindak sebelum Anda menggunakan keterampilan berpikir kritis anda. Anda terburu-buru untuk tidak melewatkan kesempatan, sehingga Anda melupakan kemungkinan penipuan.

Banyak penipuan melibatkan campuran kuat dari ketiga faktor tersebut. Pertimbangkan panggilan yang mengaku berasal dari otoritas pajak setempat atau badan kejahatan nasional, memperingatkan bahwa Anda akan menghadapi denda atau tindakan pengadilan kecuali tindakan diambil segera (yang biasanya melibatkan penyerahan rincian rekening bank). Dihadapkan dengan ancaman langsung itu, itu sangat sulit untuk berpikir jernih. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

510 Hari Minus Sentuhan

Netizen Jumat, 23 Juli 2021 | 21:35 WIB

Kesakralan sentuhan tak lagi ada selama masa pandemi Covid-19.

Netizen, 510 Hari Minus Sentuhan, sentuhan,Pandemi Covid-19,Jaga Jarak,Sosial,Dampak Pandemi Covid-19

Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan...

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:30 WIB

Di Cekungan Bandung, sedikitnya ada 8 nama geografi yang berhubungan dengan harimau.

Netizen, Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan dengan Harimau, Toponimi,Harimau,cekungan bandung,Kota Bandung

Jangan Berhenti pada Kata Maaf

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB

Akhirnya ada perwakilan pemerintah yang menyampaikan permintaan maaf kepada publik terkait dengan penanganan pandemi Cov...

Netizen, Jangan Berhenti pada Kata Maaf, Kata Maaf,Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan,PPKM Jawa-Bali,pemerintah Indonesia

Mengatasi Over Kapasitas Lapas

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 21:15 WIB

Hukuman penjara, meskipun menjadi mekanisme yang penting untuk menghukum pelaku, bukanlah merupakan “obat”.

Netizen, Mengatasi Over Kapasitas Lapas, Over Kapasitas,Lapas,Hukuman Penjara,Masalah Kejahatan,Kriminalitas

Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyel...

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 20:00 WIB

Masyarakat dunia menghadapi dua masalah yang sangat menganggu.

Netizen, Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyelamat?, Politik Bebas Aktif,Indonesia,Politik Luar Negeri,Ketergantungan,dependent

Kesehatan Anak Indonesia

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 18:15 WIB

Mengkhawatirkan, 1 dari 8 pasien Covid-19 di Indonesia ternyata anak-anak.

Netizen, Kesehatan Anak Indonesia, Kesehatan,Anak,Indonesia,pasien Covid-19,Case fatality rate,Hari Anak Nasional

Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi

Netizen Selasa, 20 Juli 2021 | 22:30 WIB

Kata-kata “Memanusiakan Manusia” nampaknya sangat berkaitan erat dengan kondisi pandemic yang saat ini kita alami.

Netizen, Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi, Memanusiakan Manusia,Pandemi,Renungan,Sosial,Si tou timou tumou tou

Anak Punk Juga Manusia

Netizen Selasa, 20 Juli 2021 | 22:15 WIB

Anak punk merupakan fenomena sosial yang kerap kali masih kita temui di pinggir jalan.

Netizen, Anak Punk Juga Manusia, Anak Punk,Sosial,identitas bangsa,Krisis Identitas

artikel terkait

dewanpers
arrow-up