web analytics

Beda Nasib Kurir Tahun 1949 dengan Kurir Tahun 2021

clockMinggu, 18 Juli 2021 13:40 WIB user-groupNetizen Yoggi Bagus Christianto
Netizen, Beda Nasib Kurir Tahun 1949 dengan Kurir Tahun 2021, Nasib Kurir,Tahun 1949,Tahun 2021,Kurir,Online Shop,Renungan,Sejarah

Ilustrasi kurir terhalang penutupan jalan. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Yoggi Bagus Christianto

Mahasiswa FKIP UNS

Di tengah pandemi, dunia sedang dilanda kebingungan. Ingin keluar rumah membeli barang dan makanan tentu di ada aturan yang melarang atau diam di rumah dengan memanfaatkan gofood nanti dikira pemalas atau tidak mandiri. Memang sangat susah menjadi manusia yang manusia di tengah pandemi. Perilaku yang buruk dihakimi, perilaku yang baik dicurigai.

Di bulan Mei 2021 telah beredar banyak video amatir yang memperlihatkan perilaku kasar customer online shop terhadap kurir/pengantar produk online shop. Perilaku kasar menunjukan atas dasar barang yang diterima tidak sesuai dengan ekspektasinya. Perilaku kasar biasanya dilakukan dengan mencaci, melempar barang, marah-marah bahkan hingga mengguyurkan air kepada seorang kurir. Betapa malangnya kurir yang bekerja seperti tidak ada harga dirinya bahkan dianggap layaknya babu bahkan babi. Mereka rela menggowes sepeda motornya dengan sisi kanan dan sisi kiri penuh dengan paketan barang orang. Kepercayaan ini sangat besar yang di tanggung oleh kurir, belum lagi masih hidup diantara Covid-19 yang merebak. Kalimat, "misi, pakeeet.." manis di telinga customer, namun ketika paket di buka, apa daya seorang kurir di caci karena barang tidak rekomended.

Kurir di era sekarang memang memiliki tingkat derajat yang sangat rendah di atas pengangguran. Namun berbeda kurir-kurir di zaman penjajahan dan sekitar kemerdekaan.

Mereka sangat disanjung-sanjung karena tugasnya yang begitu mulia. Para kurir berbondong-bondong membawa pesan-pesan kemerdekaan bahkan melompati pagar dan melewati para tentara yang sedang bertukar peluru. Sangat menegangkan hidup di masa peperangan, apalagi tugas para kurir. Jika tertangkap, hukuman penjara patut disyukuri daripada peluru menyasar di dalam tubuh kurir.

Peristiwa Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta mengingatkan pentingnya tugas kurir dalam mempertahankan kemerdekaan RI karena mengingat bahwa negara Indonesia kala itu baru lahir. Pada tahun 1949, serdadu Belanda telah mengepung kota Yogya di segala penjuru serta kekuasaan Hamengku Buwono IX terbatas hanya di dalam Keraton saja, lantas bagaimana hubungan Hamengku Buwono IX atau yang masa kecilnya bernama Dorojatun dengan tokoh-tokoh negara seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta dan yang lainnya. Tentu menggunakan kurir yang gesit melewati medan peperangan. Pihak luar terutama para pejuang dan gerilyawan sangat menunggu komando dari mahasiswa alumni Univesitas Leiden (HB IX).

Peran kurir sangat besar termasuk melalui mereka komunikasi ke dan dari luar kota dapat berjalan dengan gesit dari pos yang satu ke pos yang lainnya. Melalui para kurir, Hamengku Buwono IX dapat mengirim pikirannya melalui tulisan kepada para menteri-menteri lainnya seperti Kusnan, Ir. Dr. Juanda, dr. Halim dan juga para pemimpin militer bahkan hingga Panglima Perang Sudirman. Keadaan Yogya pada kala itu memang menegangkan, pada siang hari keadaan seperti tentram dan para serdadu Belanda berani untuk berada di pos-pos penjagaan, namun ketika malam tiba para serdadu Belanda tak berani berkeluyuran karena ada "hantu-hantu bersenjata" yang ada untuk menembaki tentara Belanda kemudian beberapa waktu akan lenyap seperti hantu. Kemudian para serdadu Belanda berani membalas dendam keesokan harinya dengan menerobos kampung-kampung untuk membabati jiwa tak bersalah.

Hal ini menunjukan peran penting seorang kurir dalam membawa pesan kepada para pemimpin lainnya untuk menyusun siasat dalam rangka menggusah Belanda. Di samping mereka berlarian bahkan kucing-kucingan, pernah para kurir ini benar-benar dalam keadaan menegangkan. Setelah Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, para serdadu Belanda masuk ke dalam Keraton menemui Hamengku Buwono IX untuk dimintai pertanggungjawaban. Kurang beruntungnya ketiga kurir Panglima Besar Sudirman berada di dalam Keraton yang membawa pesan mengenai peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk disampaikan ke Hamengku Buwono IX, namun kebetulan nyawa mereka selamat dikarenakan seragam yang mereka pakai menyerupai "abdi dalem" Keraton sehingga pandangan mata serdadu Belanda kurang mengawasi apalagi kondisi hati serdadu Belanda kala itu sedang panas hati.

Peristiwa tersebut menampilkan tugas dan tanggungjawab para kurir yang menegangkan dan memiliki tanggungjawab yang sangat besar, berbeda dengan keadaan saat ini, para kurir tidak di hargai oleh para customer. Sayang sekali, nasib kurir berbeda antara masa lalu dengan masa sekarang, padahal tanggungjawab yang dipikul sama namun bedanya respon pihak yang dituju. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

510 Hari Minus Sentuhan

Netizen Jumat, 23 Juli 2021 | 21:35 WIB

Kesakralan sentuhan tak lagi ada selama masa pandemi Covid-19.

Netizen, 510 Hari Minus Sentuhan, sentuhan,Pandemi Covid-19,Jaga Jarak,Sosial,Dampak Pandemi Covid-19

Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan...

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:30 WIB

Di Cekungan Bandung, sedikitnya ada 8 nama geografi yang berhubungan dengan harimau.

Netizen, Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan dengan Harimau, Toponimi,Harimau,cekungan bandung,Kota Bandung

Jangan Berhenti pada Kata Maaf

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB

Akhirnya ada perwakilan pemerintah yang menyampaikan permintaan maaf kepada publik terkait dengan penanganan pandemi Cov...

Netizen, Jangan Berhenti pada Kata Maaf, Kata Maaf,Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan,PPKM Jawa-Bali,pemerintah Indonesia

Mengatasi Over Kapasitas Lapas

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 21:15 WIB

Hukuman penjara, meskipun menjadi mekanisme yang penting untuk menghukum pelaku, bukanlah merupakan “obat”.

Netizen, Mengatasi Over Kapasitas Lapas, Over Kapasitas,Lapas,Hukuman Penjara,Masalah Kejahatan,Kriminalitas

Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyel...

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 20:00 WIB

Masyarakat dunia menghadapi dua masalah yang sangat menganggu.

Netizen, Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyelamat?, Politik Bebas Aktif,Indonesia,Politik Luar Negeri,Ketergantungan,dependent

Kesehatan Anak Indonesia

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 18:15 WIB

Mengkhawatirkan, 1 dari 8 pasien Covid-19 di Indonesia ternyata anak-anak.

Netizen, Kesehatan Anak Indonesia, Kesehatan,Anak,Indonesia,pasien Covid-19,Case fatality rate,Hari Anak Nasional

Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi

Netizen Selasa, 20 Juli 2021 | 22:30 WIB

Kata-kata “Memanusiakan Manusia” nampaknya sangat berkaitan erat dengan kondisi pandemic yang saat ini kita alami.

Netizen, Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi, Memanusiakan Manusia,Pandemi,Renungan,Sosial,Si tou timou tumou tou

Anak Punk Juga Manusia

Netizen Selasa, 20 Juli 2021 | 22:15 WIB

Anak punk merupakan fenomena sosial yang kerap kali masih kita temui di pinggir jalan.

Netizen, Anak Punk Juga Manusia, Anak Punk,Sosial,identitas bangsa,Krisis Identitas

artikel terkait

dewanpers
arrow-up