web analytics

Budaya Baru Tiga Singa

clockJumat, 9 Juli 2021 12:17 WIB user-groupNetizen Hikmat Gumelar
Netizen, Budaya Baru Tiga Singa, tiga singa,piala dunia,Piala Eropa 2020,Sepatu Emas,inggris

Ilustrasi logo Euro 2020. (Wikimedia Commons)

AYOBANDUNG.COM--Apakah sepak bola akan pulang? Belum ada jawaban pasti sampai peluit akhir pertandingan final Piala Eropa 2020 pada Minggu, di Stadion Wembley, London. 

Namun para pecandu sepak bola sudah melihat dan mendengar orang-orang Inggris menegas-negaskan bahwa sepak bola adalah olahraga yang berasal dari negara mereka.

Meski demikian, Tim Tiga Singa (TTS) --- yang telah mengikuti kejuaraan internasional sejak 1872 --- baru sekali meraih prestasi, ketika menjadi juara Piala Dunia 1966. Tentulah prestasi ini sejarah yang sungguh membanggakan. Namun sejarah itu belum pula berulang.

Lazimlah, jika sejak sehabis meraih juara Piala Dunia itu setiap TTS mengikuti kejuaran baik Piala Dunia maupun Piala Eropa, orang-orang Inggris selalu gemuruh mendengung-dengungkan bahwa itu adalah usaha membuat sepak bola “coming home”. Dan kepulangan itu adalah sejarah baru.

Tidak ada satu pun TTS yang berbalik memunggunginya. Setiap TTS terjun ke setiap kejuaraan internasional bahkan dengan penuh gairah memanggul mimpi bangsa Inggris yang tahun ke tahun semakin menggunung itu. Ingatlah, misalnya, sehabis TTS mengalahkan Ukraina 4-0 di Roma, pelatihnya Garet Soutghate mengatakan, 

“Perjalanan kami masih panjang dan kami belum puas. Malam ini adalah malam yang amat menyenangkan bagi semua orang, tapi aku harus berkata bahwa aku sudah memikirkan tantangan berikutnya sebelum akhir pertandingan.” Tantangan Itu adalah “kami belum pernah ke final Kejuaraan Eropa. Ini adalah kesempatan lain untuk membuat sejarah.”

Hal senada dilontar Soutghate pada Piala Dunia 2018, “Sebagai tim dan skuat, Anda ingin menulis cerita dan sejarah Anda sendiri.” Harry Kane, kapten tim Inggris dan kapten klub Totenham Hotspur, berucap sehaluan, “Kami berkata kami ingin menulis sejarah kami sendiri.” Dele Alli pun berucap sama, “Kami ingin menulis sejarah kami sendiri sekarang.”

Namun Rusia bukan tempat TTS menulis sejarah. Dengan enam gol, Kane memang mendapat Sepatu Emas. Namun, di semi final melawan Kroasia, saat Inggris unggul 1-0, Kane gagal memanfaatkan dua peluang emas berturut-turut; pertama, bola yang ditendangnya dari jarak cuma sekitar tiga depa ditepis  kiper; kedua, bola yang ditendangnya dari jarak sekitar sedepa saja membentur tiang gawang. Kegagalan ini berkontribusi pada sukses Krosia masuk final, dengan gol Ivan Perisic pada menit ke-68, dan gol Mario Mardzukic pada babak perpanjangan waktu, tepatnya menit ke-109.

Daniel Taylor, yang menonton langsung di Stadion Luzhniki, menulis, “Rasanya seperti menyaksikan lukisan indah yang dirobek di depan mata Anda.” Dia tahu “impian Inggris untuk mencapai final Piala Dunia pertama mereka selama lebih dari setengah abad telah berakhir.” Dan di saat-saat putus asa setelah peluit akhir, Taylor menegaskan, “para pemain yang kalah berkeliaran tanpa tujuan di sekitar lapangan, hampir seperti zombie dalam kesedihan mereka.” (The Guardian, 11 Juli 2018)

Sebelumnya, setelah kalah dari Jerman Barat lewat adu penalti pada semifinal Piala Dunia 1990, TTS bertanding kembali dengan Jerman --- yang telah melakukan unifikasi --- pada semifinal Piala Eropa 1996. Stadion Wembley, London, 26 Juni 1996, yang penuh itu bergemuruh begitu Alan Shearer mencetak gol pada menit ketiga. Namun, tiga belas menit kemudian Stefan Kuntz menyamakan skor. Skor 1-1 ini bertahan hingga akhir babak kedua perpanjangan waktu. Dalam adu penalti, enam penembak Jerman sukses, sementara penembak keenam TTS gagal. Dan itu adalah pemain bernomor punggung 6: Southgate.

Ketika menerima permintaan untuk melatih TTS, tentu Southgate ingat itu. Tentu pula ia tahu TTS mungkin akan kembali bertanding melawan Jerman, Kroasia, dan tim-tim lain yang pernah mengalahkannya. Dan pertandingan dengan tim-tim itu bukanlah untuk mengulang kekalahan, tapi untuk “memulangkan” sepak bola, untuk menulis sejarah. Untuk itu, 55 tahun yang menyakitkan harus diubah dari sarang hantu menjadi buku pemandu.

Mewujudkannya tentulah tak mudah. Namun Southgate tidak sendirian. Staf pelatih yang bersamanya sehaluan dengannya. Begitu pula para pemain yang dipilihnya. Marcus Rasford misalnya. Bintang Manchester United (MU) yang masa lalunya kelam karena kemiskinan ini tegas berkata, “Untuk apa takut terhadap masa lalu? Inggris harus mencatatkan namanya dalam sejarah.”

Harry Maguire lebih terang lagi. Bek tengah tangguh yang pula kapten MU ini berkata bahwa kehidupan keseharian dan permainan di lapangan saling mempengaruhi. Maka menjalani hidup keseharian dengan tanggung-jawab, jujur, empati, dan disiplin merupakan jalan menuju permainan di lapangan yang tangguh, tenang, nyaman, kompak, dan kreatif. Maguire sampai memeluk pemahaman demikian berkat jernih, gigih, dan tabah menahankan perih mempelajari masa-masa kelam hidup kesehariannya dan permainannya di lapangan, juga bentangan kelam pengalaman TTS.

Demikianlah etos TTS dalam kepelatihan Southgate. Kecuali itu, seperti ditulis Shaista Aziz, seorang juru kampanye anti-rasisme dan anggota Jaringan Sepak Bola Pengungsi Suaka FA, TTS Southgate adalah tim inklusif, yang karenanya “memenangkan begitu banyak hati. Dengan bertekuk lutut (sebelum pertandingan --- HG), dengan berdiri melawan homofobi dan fanatisme, tim ini bermain untuk kita semua.”

Namun, apa TTS akan memenangi final melawan Italia? Apa sepak bola akan pulang? Apa TTS akan menulis sejarah? Saya bukan juru ramal. Saya hanya berani berkata bahwa TTS telah mengalahkan Kroasia yang mengalahkannya dalam semifinal Piala Dunia 2018, telah mengalahkan Jerman yang mengalahkannya dalam semifinal Piala Eropa 1996, serta di semi final telah mengalahkan Denmark yang bermain solid, kreatif, dan dengan ingatan akan Christian Erikson, bintang mereka yang jatuh karena serangan jantung ketika mereka melawan Finlandia. Semua itu, hemat saya, buah dari budaya baru TTS yang memungkinkan sepak bola terasa sebagai permainan humanis.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Distrik Tasikmalaya Awal Abad ke-19

Netizen Rabu, 4 Agustus 2021 | 16:30 WIB

Dalam peta awal abad ke-19 yang berjudul D: Tassikmalaya, sudah dengan jelas menggambarkan penyebaran perkampungan denga...

Netizen, Distrik Tasikmalaya Awal Abad ke-19, Distrik,Tasikmalaya,Abad ke-19,Geografis,Sejarah

Hotel Luar Angkasa akan Semakin Menjamur

Netizen Selasa, 3 Agustus 2021 | 20:30 WIB

Beberapa dekade yang akan datang, wisata luar angkasa diproyeksikan akan kian populer.

Netizen, Hotel Luar Angkasa akan Semakin Menjamur, Hotel Luar Angkasa,wisata luar angkasa,Unik,Masa Depan

Wim Kuik, Pegawai Kereta Api Pendiri UNI

Netizen Selasa, 3 Agustus 2021 | 09:49 WIB

Wim Kuik, Pegawai Kereta Api Pendiri UNI

Netizen, Wim Kuik, Pegawai Kereta Api Pendiri UNI, Wim Kuik,Olahraga,sepakbola,PSIB,uni,Persib

Nonton Drakor Juga Ada Manfaatnya: Meredakan Stres, Meningkatkan Imun...

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 22:00 WIB

Ya, nonton drama korea. Salah satu alternatif refreshing masa pandemi. Begitu banyak sekali drama bagus yang wajib Anda...

Netizen, Nonton Drakor Juga Ada Manfaatnya: Meredakan Stres, Meningkatkan Imun Tubuh, nonton drakor,Meredakan Stres,Meningkatkan Imun Tubuh,refreshing,Drama Korea,Hiburan

Hustle Culture, Gaya Hidup para Pekerja Keras

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 21:15 WIB

Semakin sibuk, maka semakin cepat untuk meraih kesuksesan. Fenomena ini disebut dengan budaya “Hustle Culture”.

Netizen, Hustle Culture, Gaya Hidup para Pekerja Keras, Hustle Culture, gaya hidup,Pekerja Keras,Pekerjaan,karier,Kesehatan Mental,burnout syndrome,toxic postivity

[Ayo Netizen] 6 Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com Edisi Juli 2...

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 16:30 WIB

Selamat untuk 6 netizen yang tulisannya terpopuler di Ayobandung.com edisi Juli 2021.

Netizen, [Ayo Netizen] 6 Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com Edisi Juli 2021, Ayo Netizen,6 Tulisan Terpopuler,netizen,Ayobandung.com,Juli 2021

Medali Emas Polii dan Rahayu, Pengorbanan Demi Martabat

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 16:15 WIB

Sungguh perjalanan Polii dan Rahayu menggambarkan perjuangan dengan pengorbanan yang tidak kecil.

Netizen, Medali Emas Polii dan Rahayu, Pengorbanan Demi Martabat, Medali Emas,Greysia Polii,Apriani Rahayu,Olimpiade Tokyo 2020

Tips Menghindari Berita Hoax Yang Sangat Meresahkan Warga

Netizen Minggu, 1 Agustus 2021 | 19:53 WIB

Berita hoax merupakan suatu berita yang disampaikan oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan...

Netizen, Tips Menghindari Berita Hoax Yang Sangat Meresahkan Warga, Tips Menghindari Berita Hoax,Berita hoaks

artikel terkait

dewanpers
arrow-up