web analytics

Jalan Lintas Klasik di Ci Tarum Tersempit

clockJumat, 25 Juni 2021 15:28 WIB user-groupNetizen T Bachtiar
Netizen, Jalan Lintas Klasik di Ci Tarum Tersempit, Ci Tarum,jalan sempit,guha pawon,Sejarah Bandung

Cukangrahong, tebing tegak yang kokoh dengan sungai di dasarnya. (T. Bachtiar)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

AYOBANDUNG.COM--Nama geografi Ci Tarum menjadi isu penting di Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh pada abad ke-7, ketika aliran sungai ini dijadikan pembatas wilayah kedua kerajaan itu. Ini merupakan cara untuk mengakhiri perselisihan, dan selesai dengan diadakan pembagian wilayah. Mulai Ci Tarum ke timur menjadi wilayah Kerajaan Galuh, dan dari Ci Tarum ke barat masuk ke dalam wilayah Kerajaan Sunda.

Nama sungai ini diambil dari nama tumbuhan tarum, yang saat itu menjadi tumbuhan yang bernilai ekonomi, dan “Jawa Barat” menjadi penghasil daun tarum areuy yang utama. Banyak nama geografi yang bersumber dari nama tumbuhan ini, dan yang berhubungan dengan pewarna nila serta proses pembuatan pewarna. 

Tujuh abad sejak perjanjian itu, nama geografi Ci Tarum masih abadi, dan dicatat oleh Bujangga Manik, generasi terakhir dari Kerajaan Sunda, yang berkelana dari perguruan ke perguruan, dan melakukan lakupuja di ketinggian gunung. Dalam perjalanan pulang dari ekspedisi suci kedua mengelilingi Pulau Jawa dan Pulau Bali, Bujangga Manik melintasi Cekungan Bandung, dan mengunjungi tempat suci di Gunung Wayang.

Sistem jalan setapak itu terus dipergunakan dari waktu ke waktu, sejak zaman paleolitikum sampai zaman cor logam. Perlintasan-perlintasan berupa jalan setapak yang digunakan oleh komunitas-komunitas manusia itu meninggalkan jejak berupa jalan-jalan setapak.

Manusia prasejarah yang ditemukan di Guha Pawon, Kabupaten Bandung Barat, diketahui umurnya 9.500 tahun yang lalu. Jalan-jalan setapak yang dirintisnya terus digunakan oleh generasi-generasi berikutnya. Jalan-jalan setapak di suatu kawasan, dipakai juga oleh nenek moyang pendukung kebudayaan megalitik 4.000 tahun yang lalu. Peninggalannya berupa batu-batu besar yang abadi di puncak-puncak bukit dan gunung di sekeliling Cekungan Bandung.

Keadaan jalan setapak ini belum banyak berubah ketika Priangan diserahkan kepada Mataram mulai 20 April 1641, sebagai dampak adanya permohonan Sumedang kepada Mataram untuk ikut menahan serangan dari barat dan utara. Demikian juga pada saat VOC masuk Priangan pada Oktober 1677, setelah perjanjian antara Amangkurat II dengan kompeni, yang isinya memuat: Mataram menyerahkan Priangan Tengah: Bandung, Sumedang, dan Parakanmuncang kepada VOC yang telah berjasa membantu Mataram dalam menghadapi Trunojoyo. 

VOC tidak membangun jalan-jalan penghubung antar sentra kopi. Pada tahun 1720 tanam paksa kopi di Priangan mulai diwajibkan, dengan hasil yang sangat menguntungkan setelah kopi itu berbuah. Hasil panen yang berlimpah di Priangan itu dipikul dari kebun-kebun kopi di kaki gunung yang sangat jauh ke gudang-gudang penampungan dan penjemuran. Kopi kering dipikul lagi dan sebagian diangkut menggunakan pedati ke dermaga sungai di Cikaobandung, di pinggir Ci Tarum di (sekarang) Purwakarta. Baru pada pada tahun 1808-1809 jalan raya pos dibangun di Priangan  atas prakarsa Daendels. 

Sebelum jalan raya pos dibangun, jalan setapak dan jalan sedepa yang dapat dilalui pedati inilah yang menjadi jalur lintasan yang menghubungkan satu pusat pemerintahan dengan pusat pemerintahan lainnya, atau antara pusat perdagangan dengan pusat-pusat kegiatan masyarakat.  

Bagaimana warga yang berada di barat Ci Tarum dapat berhubungan dengan dengan warga yang berada di timur Ci Tarum? Di bagian-bagian yang tenang, ada yang membuat rakit penyebrangan yang diikat di antara dua batang pohon. Tempat itu kemudian dinamai Pameuntasan ata Eretan. 

Pada masa awal penghunian Cekungan Bandung, lebar Ci Tarum antara 40 m - 75 m, dalam, dan deras. Sungai ini menjadi penghalang bagi yang bepergian, sehingga dalam proses pencarian itu akhirnya menemukan ruas Ci Tarum yang paling sempit serta tidak terlalu jauh dari pusat-pusat kegiatan warga, yaitu di ruas sungai yang kemudian oleh warga dinamai Cukangrahong. Lebarnya hanya 11 meter, dengan dinding batuan 15 meter. Dengan meneban beberapa batang bambu atau pohon, yang dirancang agar jatuhnya ke arah seberang, sehingga dapat menjadi jembatan kecil untuk melintas. 

Peta tahun 1905, menggambarkan lintasan jalan setapak yang melintasi Cukangrahong. Peta Topografi (Koleksi Leiden University)

Bila berjalan dari Cianjur, sebelum aliran Ci Tarum, ada jalan yang berbelok ke selatan. Bila terus berjalan akan melewati Cihaurwangi, Kulina, Cipetir, dan Bantarhonje. Di Cihea berbelok ke arah tenggara, searah dengan aliran Ci Nongnang, melewati Cicurug dan Cacaban. Setelah menuruni jalan setapak yang curam. Di atas Ci Tarum ada cukang, jembatan kecil dari bambu. Karena berada di daerah Rahong, maka disebutlah Cukang Rahong. 

Dari Cukang Rahong perjalanan dilanjutkan meniti lereng yang terjal ke arah timur. Setelah melewati Cikentit, Cibogo, Cibanteng, Cikuda, Cijengkol, Cibodor, Baranangsiang, menerus ke Cililin dan Batujajar. Jalan lintas klasik ini menjadi sangat penting dan strategis. 

Cukangrahong, cukang, jembatan kecil dari bambu atau pohon. Dalam Kamus Bahasa Sunda yang disusun Jonathan Rigg (1816), rahong berarti “tebing terjal yang menancap hingga di dasar sungai. Air dengan deras melintas di celah birai batu yang curam.” 

Masyarakat saat itu sudah mengetahui di mana jembatan harus didirikan dengan sangat efisien. Cukang dibangun persis di atas birai batu yang sangat kokoh, kuat, dan tegak lurus. Lebar sungainya hanya 11 meter, sangat sempit bila dibandingkan dengan lembah Ci Tarum, sehingga cukang dapat dengan mudah dibentangkan. 

Cukang inilah yang berjasa ratusan tahun, membantu masyarakat melintasi Ci Tarum, mengubungkan dua wilayah utama. Bila melihat data peninggalan sejarah klasik di kawasan itu, sangat kuat dugaan jalur ini merupakan jalur yang sangat ramai dilalui. Setelah jembatan Ci Tarum dibangun pada zaman kolonial, fungsi jalan tintas ini sangat berkurang, kecuali oleh masyarakat antara Cihea dengan Cililin.

Perannya benar-benar menghilang dan ditinggalkan orang, hingga akhirnya ambruk, setelah bendungan Saguling selesai dibangun, dan jalan menghubungkan daerah-daerah di sekitar danau ini. Bagi mereka yang akan melacak sejarah bumi Bandung, tempat ini menjadi daya tarik yang wajib dikunjungi.

Perjalanan harus menurun curam hingga di lembah Ci Tarum, yang saat ini mudah diloncati karena airnya sudah dibendung menjadi Danau Saguling. Oleh Pemerintah Hindia Belanda, Cukang Rahong sudah dijadikan daerah tujuan wisata, seperti yang ditulis dalam buku panduan wisata tahun 1927, Gids van Bandoeng en Midden-Priangan, door S.A. Reitsma en W.H. Hoogland.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

510 Hari Minus Sentuhan

Netizen Jumat, 23 Juli 2021 | 21:35 WIB

Kesakralan sentuhan tak lagi ada selama masa pandemi Covid-19.

Netizen, 510 Hari Minus Sentuhan, sentuhan,Pandemi Covid-19,Jaga Jarak,Sosial,Dampak Pandemi Covid-19

Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan...

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:30 WIB

Di Cekungan Bandung, sedikitnya ada 8 nama geografi yang berhubungan dengan harimau.

Netizen, Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan dengan Harimau, Toponimi,Harimau,cekungan bandung,Kota Bandung

Jangan Berhenti pada Kata Maaf

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB

Akhirnya ada perwakilan pemerintah yang menyampaikan permintaan maaf kepada publik terkait dengan penanganan pandemi Cov...

Netizen, Jangan Berhenti pada Kata Maaf, Kata Maaf,Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan,PPKM Jawa-Bali,pemerintah Indonesia

Mengatasi Over Kapasitas Lapas

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 21:15 WIB

Hukuman penjara, meskipun menjadi mekanisme yang penting untuk menghukum pelaku, bukanlah merupakan “obat”.

Netizen, Mengatasi Over Kapasitas Lapas, Over Kapasitas,Lapas,Hukuman Penjara,Masalah Kejahatan,Kriminalitas

Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyel...

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 20:00 WIB

Masyarakat dunia menghadapi dua masalah yang sangat menganggu.

Netizen, Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyelamat?, Politik Bebas Aktif,Indonesia,Politik Luar Negeri,Ketergantungan,dependent

Kesehatan Anak Indonesia

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 18:15 WIB

Mengkhawatirkan, 1 dari 8 pasien Covid-19 di Indonesia ternyata anak-anak.

Netizen, Kesehatan Anak Indonesia, Kesehatan,Anak,Indonesia,pasien Covid-19,Case fatality rate,Hari Anak Nasional

Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi

Netizen Selasa, 20 Juli 2021 | 22:30 WIB

Kata-kata “Memanusiakan Manusia” nampaknya sangat berkaitan erat dengan kondisi pandemic yang saat ini kita alami.

Netizen, Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi, Memanusiakan Manusia,Pandemi,Renungan,Sosial,Si tou timou tumou tou

Anak Punk Juga Manusia

Netizen Selasa, 20 Juli 2021 | 22:15 WIB

Anak punk merupakan fenomena sosial yang kerap kali masih kita temui di pinggir jalan.

Netizen, Anak Punk Juga Manusia, Anak Punk,Sosial,identitas bangsa,Krisis Identitas

artikel terkait

dewanpers
arrow-up