web analytics

Pandemi, Pendidikan Secara Daring, Lupa Sejarah

clockKamis, 24 Juni 2021 11:02 WIB user-groupNetizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Pandemi, Pendidikan Secara Daring, Lupa Sejarah , Pendidikan,Pandemi,COVID-19

Sejumlah siswa saat mengikuti simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) di masa pandemi Covid-19 di SD Santo Yusuf, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin, 7 Juni 2021. Uji coba simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang dilaksanakan pada Senin, 7 Juni 2021 ini dilakukan selama dua pekan. Satuan Petugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kota Bandung mengungkapkan sekitar 319 sekolah dari 3.000 lebih sekolah berbagai tingkat melakukan simulasi PTM di masa pandemi Covid-19 (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM--Penghentian program pendidikan tatap muka sejak dua tahun lalu  akan berdampak serius dalam jangka pendek maupun panjang. Ironisnya, sampai hari ini pun belum diketahui kapan program serupa itu akan dibuka kembali. 

Program pendidikan secara daring banyak kekurangannya. Di antaranya mempengaruhi pendalaman terhadap kualitas materi yang diajarkan. Sebelum wabah Covid-19 saja sudah memprihatinkan, apalagi  setelah berbulan-bulan tanpa tatap muka secara langsung dengan pengajar.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah susutnya hubungan emosi antara pelajar/mahasiswa dengan lembaga pendidikannya. Padahal sebelum wabah saja, hubungan itu hanya sekedar datang dan pulang. Hubungan emosional yang relatif kental, baru muncul ketika wisuda.

Penyebabnya lantaran manajemen kurang peduli dengan kegiatan yang memberi kebanggaan. Tak heran bila terdapat aspek lupa akan sejarah. Mahasiswa abai bila guru besarnya ternyata perancang kebijaksanaan pemerintah.  

Tidak semua begitu. Ada universitas yang peduli dengan membangun kebanggaan terhadap almamater. Mempopulerkan alumninya atau prestasi ilmiah.   Universitas Cambridge diasosiasikan dengan Isaac Newton, Stephen Hawking, David Attenborough, produser film Sam Mendes, artis Tilda Swinton dan banyak lagi. Adapun Universitas Harvard, punya Kennedy, George Bush, Obama  serta para pemenang hadiah Nobel.

Entah benar atau tidak, universitas dengan tangan terbuka menerima ‘kehadiran’ keluarga kerajaan atau keturunan orang top. Mereka seolah dianggap endorser.

Tak heran yang kepincut tidak hanya generasi muda Inggris atau Amerika Serikat, melainkan juga dari negeri-negeri yang jauh.

Jebakan Halus

Negara lain sejak dulu kala sudah mengincar Indonesia yang lokasinya strategis, apalagi kini kawasan Indo-Pasifik menjadi pusat pertarungan baru. Punya pasar domestik dengan sekitar 265 juta konsumen. Memiliki beragam sumber daya alam. Posisi geografis yang unik membuat jenis  tanaman komersial tertentu, panen lebih cepat dibandingkan dengan di negara lain.

Memang Indonesia tidak akan diinvasi karena negara-negara lain telah belajar dari sejarah. Betapa sulitnya menguasai Indonesia sebab rakyatnya tiba-tiba menjadi serdadu dengan kemampuan yang sukar ditakar nalar. 

Penguasaan Indonesia dilakukan dengan cara lain. Penguasaan itu sudah terjadi di berbagai bidang. Halus Logis. Tidak disadari.

Mengapa menggunakan kata...aware,...culinary,..outfit,,..t-shirt,..hand phone,..endorser...charger.. padahal ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Alasan tidak dipakai? Tak modern. Kurang gaul. Nasionalisme sempit dan seterusnya.

Jepang baru di ujung 1990-an memasukkan bahasa asing sebagai bagian dari public services. Sebelumnya orang asing kalang kabut bila ingin memesan taksi. Tersesat di stasiun kereta.

Dianggap kuno? Mungkin ya. Tapi taksinya modern. Pintu mobil tak perlu dibanting. Ia akan otomatis menutup sendiri        

 Jiwa dan semangat nasionalisme ditakuti bangsa-bangsa penjajah, maka dari itu dipakai berbagai jargon untuk melemahkannya. Nasionalisme, yang notabene  penghalang globalisasi, dicerca dan akhirnya tidak disukai bangsa sendiri.

Padahal Amerika Serikat, pelopor globalisasi, terang-terangan bersikap nasionalis. Seperti kata Donald Trump...America First.

Generasi Muda 

Generasi muda, kendati tak semua,  cenderung melupakan sejarah sebab dari waktu ke dibombardir budaya asing. Akibatnya kultur bergeser. Jati diri yang asli lenyap. Muncullah pola berfikir dan bertingkah laku yang berbeda. Tercabut dari akarnya. 

Di Jepang, budaya lokal masih dipegang teguh. Saling berbungkuk sebagai tanda rasa hormat masih dapat ditemui di sembarang tempat. Di dalam kereta api  walaupun berdesakan, tapi senyap karena penumpang lebih banyak tidur atau membaca buku atau komik alias manga.

Melupakan sejarah sangat berbahaya. Mengingat sejarah antara lain berfungsi untuk menjelaskan tentang  kemungkinan adanya pola-pola ulangan. Seperti kembalinya penjajahan melalui perang asimetri. 

Mengabaikan sejarah mengakibatkan kita samar-samar ingat akan kehebatan Cut Nya Dien, Teuku Umar, Pattimura, pencetus Soempah Pemoeda, Muhammad Hatta, Sjahrir, Bung Karno, Ir.H.Djuanda, B.J Habibie, Prof.Dr. Mochtar Kusumaatmadja dan masih banyak lagi. 

Seyogyanya, wabah kali ini tidak benar-benar meruntuhkan elemen keutuhan bangsa.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

GARUDA SHIELD 2021: Indonesia Bermain Cantik!

Netizen Rabu, 28 Juli 2021 | 20:15 WIB

Indonesia-Amerika Serikat telah membuat sejarah panjang dalam latihan militer bersama atau pertukaran perwira militer.

Netizen, GARUDA SHIELD 2021: Indonesia Bermain Cantik!, GARUDA SHIELD,Militer,Indonesia,Amerika Serikat

Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?

Netizen Selasa, 27 Juli 2021 | 17:35 WIB

Vaksin dianggap menjadi penyelamat dari serangan virus Corona yang diperkirakan lebih mematikan dari virus flu lainnya.

Netizen, Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?, Seruan Berpartisipasi,Mengatasi Covid-19,COVID-19,Virus Corona

Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

Netizen Selasa, 27 Juli 2021 | 09:02 WIB

Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

Netizen, Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI), UNI,sidolig,Persib,sepakbola,bandung,Teddy Kessler,Wim Kuik

Mengungkap Fakta Kandungan Susu Bear Brand

Netizen Senin, 26 Juli 2021 | 23:00 WIB

Alasannya, karena susu Bear Brand diyakini dapat meredakan paparan Covid-19.

Netizen, Mengungkap Fakta Kandungan Susu Bear Brand, Fakta,Susu,Bear Brand,COVID-19,Sehat,Hoaks

Inggris Melibatkan Diri Dalam Perang Ideologi di Asia

Netizen Sabtu, 24 Juli 2021 | 15:24 WIB

Media-media internasional secara luas memberitakan pelayaran satuan tugas gabungan Inggris, Amerika Serikat dan Belanda...

Netizen, Inggris Melibatkan Diri Dalam Perang Ideologi di Asia, Inggris,Pengaruh Inggris,kebudayaan Asia,Pengaruh Inggris di Asia

510 Hari Minus Sentuhan

Netizen Jumat, 23 Juli 2021 | 21:35 WIB

Kesakralan sentuhan tak lagi ada selama masa pandemi Covid-19.

Netizen, 510 Hari Minus Sentuhan, sentuhan,Pandemi Covid-19,Jaga Jarak,Sosial,Dampak Pandemi Covid-19

Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan...

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:30 WIB

Di Cekungan Bandung, sedikitnya ada 8 nama geografi yang berhubungan dengan harimau.

Netizen, Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan dengan Harimau, Toponimi,Harimau,cekungan bandung,Kota Bandung

Jangan Berhenti pada Kata Maaf

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB

Akhirnya ada perwakilan pemerintah yang menyampaikan permintaan maaf kepada publik terkait dengan penanganan pandemi Cov...

Netizen, Jangan Berhenti pada Kata Maaf, Kata Maaf,Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan,PPKM Jawa-Bali,pemerintah Indonesia

artikel terkait

dewanpers
arrow-up