web analytics

Memasuki Masa Pensiun

clockRabu, 23 Juni 2021 10:41 WIB user-groupNetizen ATEP KURNIA
Netizen, Memasuki Masa Pensiun, raden kartawinata, sejarah sunda,tempo dulu

Dengan bantuan pengusaha perkebunan A. Massink, Kartawinata mendirikan perhimpunan balap kuda di Sukabumi, Renvereeniging Katoeranggan. Organisasi tersebut biasanya menyelenggarakan pertandingan balap kuda di Sunia Wenang. ( Sumber: Preanger-bode, 5 Agustus 1897.)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYOBANDUNG.COM--Secara resmi, Raden Kartawinata dihentikan sebagai zelfstandig patih Sukabumi pada tanggal 8 Oktober 1905. Alhasil secara keseluruhan, ia menjadi kepala afdeeling di wilayah Keresidenan Priangan paling barat tersebut selama 13 tahun, terhitung sejak 1892.

Namun, berita mengenai pengunduran dirinya sudah diumumkan oleh Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (20 Juli 1905), De Preanger-bode (21 Juli 1905), Soerabaijasch handelsblad (24 Juli 1905), dan De Locomotief (25 Juli 1905). Alhasil, ada jeda tiga bulan sejak pengumuman pengunduran diri Kartawinata dan pengangkatan patih Sukabumi yang baru. 

Dari sisi usia, sebenarnya Kartawinata masih terbilang muda untuk ukuran pejabat tinggi dalam tata birokrasi kolonial untuk pribumi. Ia baru berusia 53 tahun saat itu. Padahal tidak jarang pejabat berpangkat bupati dan patih yang masa kerjanya habis hanya karena ajal belaka. Oleh karena itu, agak kurang wajar saja bila Kartawinata mengundurkan diri, sementara umumnya pejabat pribumi enggan melepaskan kedudukan tinggi yang dijabatnya. Lantas, kira-kira apa yang menjadi latar belakang sehingga Kartawinata memutuskan untuk mengundurkan diri? Apakah murni karena keinginannya atau ada hal-hal lain yang menjadi bahan pertimbangannya? 

Alasan yang diajukan oleh Kartawinata sendiri adalah karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan dirinya melanjutkan karier sebagai pamongpraja pribumi tertinggi di Sukabumi. Mengenai hal ini dapat disimak dari berita pengunduran dirinya serta riwayat kesehatannya sebelum dia memutuskan untuk mengundurkan diri.

Berita awal mengenai pengunduran diri Kartawinata beserta alasannya dapat disimak dari Land en Volk edisi 27 Juli 1905. Agar gambarannya lebih rinci, saya akan mengulangi lagi berita tersebut di bawah ini.

Dalam Land en Volk disebutkan bahwa Kartawinata dengan sengaja meminta pensiun, mengingat kondisi kesehatannya yang terganggu, sehingga takkan lagi dapat menunaikan berbagai tugasnya sebagai patih.

Sebagai gantinya, ia meminta agar pemerintah kolonial sudi mengangkat salah seorang anak laki-lakinya untuk menggantikannya. Atas permohonan tersebut, Residen Priangan G.A.F.J. Oosthout (diangkat 7 April 1903) nampaknya tidak buru-buru mengabulkannya. Alih-alih, ia lebih menjagokan patih Bandung, Raden Soemapradja (sic!), yang juga menjabat sebagai juru bahasa dan penerjemah Sunda di sana. 

Di sisi lain, Bupati Cianjur Raden Adipati Aria Prawira di Redja (diangkat 24 Agustus1864) mengajukan calon pengganti bagi Kartawinata dengan jaksa dari daerahnya, Raden Mas Said. Pertimbangan bupati tersebut adalah sang jaksa sudah lama dan berhasil menunaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, terutama saat dia meniti karier sebagai asisten wedana pada masa asisten residen W.P.D. de Wolff van Westerrode. Oleh bupati Cianjur, Raden Mas Said dinilai berhasil saat turut melakukan penyelidikan ketika kasus Gedangan terjadi. 

Kondisi kesehatan Kartawinata memang nampaknya menjadi alasan yang kuat, karena menilik riwayatnya ia juga sempat mengajukan cuti selama sebulan tiga tahun sebelum memutuskan mengundurkan diri.

Mengenai hal ini, dalam Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie edisi 15 Mei 1902 terbaca bahwa pemerintah kolonial mengabulkan permohonan patih Afdeeling Sukabumi Raden Aria Soerja Nata Legawa agar diizinkan cuti sakit selama sebulan di sana. 

Dengan demikian, fakta-fakta tersebut, saya kira, dapat juga dibaca bahwa permohonan pengunduran diri Kartawinata nampaknya sudah agak lama dilayangkan kepada pemerintah kolonial, sehingga memungkinkan para pejabat Belanda dan pribumi lainnya punya kesempatan untuk membuat pertimbangan mengenai calon-calon yang kemungkinan dapat menggantikan posisi Kartawinata.

Dapat dimengerti bila kemudian menimbulkan semacam intrik politik yang sarat kepentingan di antara para pejabat tinggi baik kalangan Eropa maupun pribumi demi menempatkan orang yang dinilai tepat untuk mengisi posisi yang akan ditinggalkan oleh Kartawinata. Terbukti Kartawinata, residen Priangan, dan bupati Cianjur mempunyai jagonya masing-masing. Kemudian, siapa di antaranya yang berhasil mewujudkan keinginannya?

Kartawinata ternyata yang menang. Barangkali memang lobi Kartawinata terbilang berhasil, mengingat anak lelaki yang diajukan untuk menggantikannya punya jejaring kuat baik di kalangan pribumi maupun Belanda. Anak yang dipilihnya adalah R. Pandji Soeria Nata Pamekas.

Meskipun sebelum diangkat menjadi patih Sukabumi, jabatan Nata Pamekas hanyalah adjunct-djaksa di Bogor, tetapi yang patut diingat, ia dan ayahnya punya jaringan yang kuat. Pamekas adalah cucu penghulu besar Garut R.H. Moeh. Moesa yang meskipun sudah meninggal tetapi masih punya pengaruh besar di Priangan. Pamekas juga adalah menantu dari bupati Lebak, Soeria Nata Ningrat, yang notabene juga pamannya dari pihak ayah.

Selain dari sisi keluarga, Pamekas dikenal sebagai salah seorang murid Snouck Hurgronje, saat dia menuntut ilmu di Gymnasium Willem III, Batavia. Hal ini dikemukakan oleh H.H. Clockener Brousson dalam tulisannya (“Indische Penkrassen. CXXVI”, Arnhemsche courant, 21 Oktober 1905), sekaligus membuktikan kedekatan Pamekas dengan pemilik salah satu media yang dapat mempengaruhi opini publik saat itu: Bintang Hindia. Di sisi lain, nampaknya Brousson mengagumi sekali sosok Kartawinata dan Pamekas. 

Khusus mengenai Pamekas, Brousson yang menulis dari Bogor mengatakan dalam segalanya Pamekas mempunyai keistimewaan sebagai pejabat tinggi di lingkungan ambtenar Batavia saat-saat ini, yang kemungkinan besar karena ayahnya memang punya pikiran lain dibandingkan kebanyakan orang umum, karena Dr. Snouck tertarik pada pemuda tersebut. Ia mengatakan bahwa jarang sekali menemui pegawai pribumi yang tekun seperti Pamekas, menak yang rendah hati, sehingga tentu akan dirayakan bila dia diangkat menjadi patih Patih. Pamekas menikah dengan Raden Ajoe Permana Ningrat yang rupawan, anak pamannya Adipati Soerja Nata Ningrat, bupati Lebak dan itu adalah pernikahan karena ... cinta, yang tidak umum terjadi di kalangan menak pribumi. Raden ayu yang muda itu juga sempat mengenyam pendidikan Belanda dan hidup bersama suaminya ala Eropa. 

Tulisan Brousson tersebut dimuat setelah 13 hari Pamekas diangkat sebagai patih Sukabumi, untuk menggantikan ayahnya. Tanggal pengangkatannya dapat dilihat dari Regeerings Almanak voor Nederlands-Indie 1906, deel 2. Di situ tertulis Pamekas diangkat pada 8 Oktober 1905. Sementara pemberitaan di dalam koran-koran sudah terjadi sejak 11 hingga 23 Oktober 1905, sebagaimana yang terlihat dari De Preanger-bode (11 Oktober 1905), De locomotief (14 Oktober 1905), dan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (23 Oktober 1905).

Bila melihat-lihat sekaligus membandingkan susunan para pejabat di Afdeeling Sukabumi pada 1905 dan 1906 sebagaimana yang terbaca dari Regeerings Almanak voor Nederlands-Indie 1905 dan 1906, terlihat perubahannya. Bila pada 1905, saat Kartawinata menjabat sebagai patihnya, asisten residen Sukabumi masih dijabat H. C. A. Muller (yang diangkat pada 18 Oktober 1902); kepala distriknya antara lain wedana Gunung Parang (Raden Ganda Koesoema, 27 Nov. 1901), Cimahi (Raden Widjaja Atmadja, 28 Juni 1901), Cicurug (Raden Wira Hadi Nagara, 11 Sept. 1896), Ciheulang (Mas Karta di Nata, 19 Sept. 1903), Pelaboehan (Raden Warga di Prana, 25 Jan. 1904), Jampang Tengah (Mas Wiria Nata, 18 Nov. 1902), Jampang  Kulon (Mas Marta Pradia, 12 Aug. 1900); Hoofd der Chineezen atau kepala bangsa Tionghoanya Sim Keng Koen (7 Feb. 1892); dan Fd. Rooimeester-nya adalah C. J. Evers.

Sedangkan pada 1906, terutama sebulan kurang setelah Pamekas diangkat menjadi patih, asisten residen Sukabumi diganti oleh J. A. van der Breggen, yang diangkat pada 9 November 1905. Sementara wedana distrik-distrik, Hoofd der Chineezen, dan Fd. Rooimeester-nya masih sama. Perubahan asisten residen tersebut tentu saja menarik, karena saya jadi mengaitkannya dengan perbedaan pandangan Muller terhadap pilihan untuk menggantikan Kartawinata. Apakah ada tangan-tangan yang tak terlihat yang mempengaruhi penggantian Muller sebagai asisten residen Sukabumi, padahal jabatannya di afdeling tersebut baru saja berjalan tiga tahun? 

Kemudian, apa saja yang dilakukan oleh Kartawinata untuk mengisi hari-hari di masa pensiunnya? Untuk menjawabnya saya kembali melakukan penelusuran pada kliping koran berbahasa Belanda terbitan 1905 hingga 1907, bahkan ke tahun-tahun sebelumnya saat Kartawinata diangkat menjadi patih Sukabumi. Dari penelusuran tersebut, saya jadi tahu bahwa selama hari-harinya sebagai pensiunan patih, Kartawinata antara lain mengikuti pelbagai kegiatan olahraga balap kuda. Kegemarannya terhadap kuda memang sudah nampak sejak dia menjabat sebagai asisten juru bahasa dan penerjemah Sunda di Bandung pada 1872 dan pengetahuannya tentang kuda membayang dalam karya tulisnya, Soendasch-Hollandsche Samenspraken (1883).

Lalu bagaimana ketika dia menjadi patih Sukabumi? Kartawinata merintis pendirian perkumpulan khusus untuk menyelenggarakan balapan kuda di Sukabumi. Perkumpulan tersebut dinamakan sebagai “Renvereeniging Katoeranggan Soenia-Wenang” atau organisasi balap Katuranggan Sunia Wenang. Berita paling lama yang menyebutkan keberadaan perkumpulan tersebut berasal dari tahun 1897 atau lima tahun setelah Kartawinata diangkat menjadi patih Sukabumi. Namun, benih-benih pendiriannya sudah ada sejak 1894 dan 1895, sebagaimana yang terbaca dari De locomotief (28 Juni 1894) dan Java-bode (8 dan 21 Oktober 1895). 

Dari De locomotief terbaca bahwa pada 8 Juli 1894 akan diselenggarakan balap kuda pribumi di Sunia Wenang, yang berlokasi di antara Stasiun Cibadak dan Parung Kuda. Dari Java-bode edisi 8 Oktober 1895 terbaca bahwa A. Massink dan Raden Soeria Nata Legawa akan menyelenggarakan balap kuda untuk dan oleh pribumi di Sunia Wenang, yang terletak di dekat Stasiun Parung Kuda, sekaligus untuk memicu agar para pribumi lebih memperhatikan budidaya dan pemeliharaan kuda ras asli Hindia Belanda. 

A. Massink atau Aart Massink (1854-1899) sendiri menurut beberapa sumber (Zutphensche courant, 31 Januari 1899;  De Preanger-bode dan De locomotief, 3 Maret 1899; geni.com dan genealogieonline.nl, diakses 23 Juni 2021) adalah orang yang terkenal di kalangan pebisnis kina di Jawa. Ia juga merupakan komisaris Cultuurmaatschappij Ngadiredja di Madiun, komisaris Cultuurmaatschappij Daoelat di Surabaya, komisaris Preanger Volks-Apotheek dan adminstratur Cultuurmaatschappij Pandan Aroem di Sukabumi. Di Sukabumi, Massink mendirikan pabrik pengolahan kina secara murni yang dikirimkan kepada pemerintah. Atas jasa-jasanya di bidang budidaya kina, dia diangkat menjadi anggota kehormatan Soekaboemische Landbouwvereeniging pada 20 Januari 1898. 

Mengenai Sunia Wenang digambarkan agak rinci dalam Java-bode edisi 21 Oktober 1895. Di sana disebutkan bahwa Sunia Wenang adalah tempat elok yang ada di lembah antara Gunung Salak dan Gede dan mudah dijangkau dari Stasiun Parung Kuda dan Cibadak. Sebagaimana namanya, Sunia Wenang adalah tempat yang sunyi dan bebas. Di sinilah, A. Massink memiliki lintasan balapan kecil untuk melatih kuda-kuda miliknya. Suatu saat ia berkeinginan memperkenalkan olah raga tersebut ke tengah-tengah orang pribumi terkemuka di Sukabumi. Gagasan Massink kemudian bergayung sambut dengan kehendak para administatur perkebunan di sana, G. Mundt dan E.J. Kerkhoven. Mereka berdua menawarkan hadiah untuk mendukung balapan serta bersedia mengikuti balapan tersebut. Akhirnya gagasan Massink juga dikembangkan oleh patih Sukabumi hingga menjadi pesta rakyat dan diikuti oleh sekian banyak orang Sunda.

Pada 1897, kata “Renvereeniging Katoeranggan” baru terbaca dalam koran.  Dalam De Preanger-bode edisi 21 dan 24 Juni 1897 disebutkan bahwa organisasi tersebut akan menyelenggarakan balap kuda pada Minggu, 18 Juli 1897, bazar kuda pada Sabtu, 17 Juli 1897, dan pasar ternak pada Jum’at, 16 Juli 1897. Sebulan kemudian, organisasi yang sama menyelenggarakan balap kuda di Sunia Wenang pada hari Minggu, 13 Agustus 1899, sementara pendaftaran kudanya harus dilakukan pada Minggu, 6 Agustus 1899 (Preanger-bode, 5 Agustus 1897).

Agaknya perhimpunan “Katoeranggan” terus ada dan menyelenggarkan pelbagai balap kuda di Sukabumi, khususnya di Sunia Wenang. Bahkan, bila membaca Java-bode (21 Juni 1897), De Preanger-bode (10 Oktober 1904) dan Bataviaasch nieuwsblad (11 Oktober 1904), Kartawinata diangkat menjadi presiden perhimpunan tersebut. Dalam Java-bode, disebutkan bahwa untuk kategori “President Beker” dalam balap kuda di Sunia Wenang pada 18 Juli 1897, hadiahnya diberikan oleh presiden Katuranggan (“president dezer wedloop-societeit”) Raden Demang Soerja Nata Legawa sebesar 20 gulden dan 10 gulden premi. 

Sementara dari De Preanger-bode dan Bataviaasch nieuwsblad disebutkan bahwa pada malam tanggal 9 Oktober 1904 di Societeit Pamitran diselenggarakan perayaan para pemenang balap kuda yang diselenggarakan “Katoeranggan”. Dalam perayaan itu, selain dihadiri para anggota perhimpunan, hadir pula asisten residen Sukabumi dan tentu saja Kartawinata sebagai presidennya yang membuka perayaan tersebut.

Namun, ternyata aktivitas Kartawinata dalam rangka menyalurkan hobinya pada balap kuda tidak terbatas di Sukabumi. Balap kuda yang rutin diselenggarakan di Tegallega, Bandung, oleh Preanger Wedloop Societeit, kemudian di Bogor oleh Buitenzorgsche Wedloop Societeit, termasuk di Batavia sering diikuti oleh Kartawinata. Sebulan lebih sebelum meninggal dunia pada Rabu, 25 September 1907, ia juga masih mengikuti balap kuda. Dalam De Preanger-bode (29 Juli 1907) dan Bataviaasch nieuwsblad (31 Juli 1907), Kartawinata yang disebut sebagai “patih pensioen Soekaboemi” memasang kudanya yang bernama Little Bairn pada kelas “Kina-prijs” pada hari ketiga lomba balap kuda di Tegallega. Demikian pula dalam De Preanger-bode (5 Agustus 1907) dan De locomotief (6 Agustus 1907) disebutkan bahwa patih pensioen Soekaboemi tetap memasang Little Bairn pada kelas “Kina-prijs” di Tegallega. 

Ya, Kartawinata meninggal dunia pada Rabu, 25 September 1907. Salah satu surat kabar yang memberitakan kematiannya adalah De Preanger-bode edisi 26 September 1907. Di situ disebutkan bahwa Raden Aria Soerianatalegawa, pensiunan patih Sukabumi, meninggal kemarin malam (“Raden Aria Soerianatalegawa, de gepensioneerde patih van Soekaboemi, is gisteren-avond overleden”). Tanggal 26 September 1907 jatuh pada hari Kamis, sehingga dapat disimpulkan bahwa Kartawinata meninggal pada hari Rabu malam tanggal 25 September 1907. 

Namun, yang membuat saya heran adalah mengapa kematian orang sepenting Kartawinata tidak diliput banyak media berbahasa Belanda saat itu atau paling tidak menyiarkan kembali berita yang tertulis dalam De Preanger-bode. Apakah media berbahasa Melayu saat itu juga melakukan peliputan bahkan membuatkan obituarinya? Sayang, saya tidak dapat memastikannya, karena belum sempat mengakses media-media Melayu pada waktu yang berdekatan setelah kematian Kartawinata. Suatu saat nanti, mudah-mudahan saya dapat melakukannya.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Wim Kuik, Pegawai Kereta Api Pendiri UNI

Netizen Selasa, 3 Agustus 2021 | 09:49 WIB

Wim Kuik, Pegawai Kereta Api Pendiri UNI

Netizen, Wim Kuik, Pegawai Kereta Api Pendiri UNI, Wim Kuik,Olahraga,sepakbola,PSIB,uni,Persib

Nonton Drakor Juga Ada Manfaatnya: Meredakan Stres, Meningkatkan Imun...

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 22:00 WIB

Ya, nonton drama korea. Salah satu alternatif refreshing masa pandemi. Begitu banyak sekali drama bagus yang wajib Anda...

Netizen, Nonton Drakor Juga Ada Manfaatnya: Meredakan Stres, Meningkatkan Imun Tubuh, nonton drakor,Meredakan Stres,Meningkatkan Imun Tubuh,refreshing,Drama Korea,Hiburan

Hustle Culture, Gaya Hidup para Pekerja Keras

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 21:15 WIB

Semakin sibuk, maka semakin cepat untuk meraih kesuksesan. Fenomena ini disebut dengan budaya “Hustle Culture”.

Netizen, Hustle Culture, Gaya Hidup para Pekerja Keras, Hustle Culture, gaya hidup,Pekerja Keras,Pekerjaan,karier,Kesehatan Mental,burnout syndrome,toxic postivity

[Ayo Netizen] 6 Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com Edisi Juli 2...

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 16:30 WIB

Selamat untuk 6 netizen yang tulisannya terpopuler di Ayobandung.com edisi Juli 2021.

Netizen, [Ayo Netizen] 6 Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com Edisi Juli 2021, Ayo Netizen,6 Tulisan Terpopuler,netizen,Ayobandung.com,Juli 2021

Medali Emas Polii dan Rahayu, Pengorbanan Demi Martabat

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 16:15 WIB

Sungguh perjalanan Polii dan Rahayu menggambarkan perjuangan dengan pengorbanan yang tidak kecil.

Netizen, Medali Emas Polii dan Rahayu, Pengorbanan Demi Martabat, Medali Emas,Greysia Polii,Apriani Rahayu,Olimpiade Tokyo 2020

Tips Menghindari Berita Hoax Yang Sangat Meresahkan Warga

Netizen Minggu, 1 Agustus 2021 | 19:53 WIB

Berita hoax merupakan suatu berita yang disampaikan oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan...

Netizen, Tips Menghindari Berita Hoax Yang Sangat Meresahkan Warga, Tips Menghindari Berita Hoax,Berita hoaks

Ketika Rumah Sakit Menolak Pasien

Netizen Minggu, 1 Agustus 2021 | 11:00 WIB

Yang paling mirisnya penolakan terhadap pasien Covid-19 dengan alasan bisnis.

Netizen, Ketika Rumah Sakit Menolak Pasien, Rumah Sakit,Menolak Pasien,uang pendahuluan,Pandemi Covid-19

Lansia dan Covid-19

Netizen Minggu, 1 Agustus 2021 | 08:20 WIB

Lansia merupakan kelompok umur yang paling rentan terpapar virus Covid-19.

Netizen, Lansia dan Covid-19, Lansia,COVID-19,terpapar Covid-19,Virus Corona,Lanjut Usia
dewanpers
arrow-up