web analytics

Ironi Tanggal Merah Saat Pandemi

clockMinggu, 20 Juni 2021 09:00 WIB user-groupNetizen Jessy Febriani
Netizen, Ironi Tanggal Merah Saat Pandemi, Tanggal Merah,Pandemi,Libur

Ilustrasi persiapan liburan saat ada kesempatan tanggal merah. (Freepik)

Jessy Febriani

Saat ini, saya adalah mahasiswa semester 6 Jurnalistik Unpad.

Belum lama ini, pemerintah resmi mengubah dua hari libur nasional dan menghapus satu hari cuti bersama. Beberapa hari libur yang diubah adalah seperti libur tahun baru islam yang digeser ke 11 Agustus 2021, libur Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi 20 Oktober 2021, dan libur cuti bersama Hari Natal 24 Desember 2021 yang dihapuskan.

Keputusan ini diambil dengan alasan terus adanya peningkatan kasus harian Covid-19 di Indonesia.

Sejak Mei 2021, tren kenaikan Covid-19 di Indonesia terus mengalami kenaikan yang signifikan hingga saat ini. Jika melihat data statistik yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bentuk grafiknya terus menjulang ke atas. Bahkan kasus hariannya saat ini mencapai lebih dari 12 ribu kasus perhari. Mengerikan.

Sementara itu, sekitar satu bulan kemudian, tepatnya 20 Juli 2021, masyarakat muslim di Indonesia akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Banyak kegiatan masyarakat yang biasanya dilakukan pada hari itu, mulai dari salat id, menyembelih hewan kurban, hingga mungkin liburan wara-wiri.

Sama seperti ketika Hari Raya Idul Fitri sebelumnya, masyarakat masih antusias untuk melakukan salat id secara berjamaah di masjid hingga lapangan terbuka. Dengan begitu, tentunya kesempatan masyarakat untuk berkerumun menjadi semakin besar. Meski kita tahu, ketika salat, sebagian sudah mengatur jarak dan menggunakan masker. Namun, bagaimana dengan pintu masuk? Tempat wudhu? Dan tempat lainnya yang dapat diakses oleh banyak orang.

Rasanya, pemerintah perlu juga selektif dalam memberikan perizinan untuk kegiatan yang berpeluang meningkatkan kerumunan. Khususnya bagi zona-zona merah yang saat ini terus menyumbang besar angka kasus harian. Juga, informasi tersebut harus tersampaikan dengan baik kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kecemburuan.

Bagi mereka yang sudah merencanakan bepergian, kenaikan kasus dan munculnya varian baru dirasa menjadi alasan yang cukup untuk menata ulang rencana liburannya. Akan mengecewakan, tetapi tetap diam di rumah menjadi solusi yang paling diandalkan. Namun, saya yakin masih banyak masyarakat yang akan tetap pergi liburan di tanggal merah ini dengan embel-embel tetap menjaga protokol kesehatan.

Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang masih belum percaya bahwa virus ini ada dan mampu mengancam jiwa. Rasanya miris ketika mengetahui masyarakat masih dalam krisis kepercayaan terhadap fenomena ini. Masih banyak menemukan komentar-komentar yang ‘menyerang’ orang-orang yang menyerukan protokol kesehatan, khususnya kepada masyarakat umum. Mereka akan menggunakan informasi-informasi yang menguatkan argumen mereka, seperti kematian warga sehabis divaksin, hingga pembongkaran makam Covid-19.

Terlalu percaya diri

Entah bosan atau memang terlalu percaya diri sehingga setiap tanggal merah, jalan menuju tempat wisata tak pernah sepi. Tempat nongkrong ramai kembali, Puncak Bogor dipadati muda mudi. Destinasi wisata sudah banyak yang dibuka kembali tanpa kelayakan protokol kesehatan mereka percaya ini akan memperbaiki ekonomi.

Betul, roda ekonomi tetap perlu berputar. Pengurangan tenaga kerja yang berimplikasi pada meningkatnya jumlah pengangguran perlu dihentikan. Namun, hal ini perlu dibarengi dengan kelayakan dan pemenuhan protokol kesehatan di tempat wisata. Aturannya harus tegas ditegakkan, bukan hanya dipasang di spanduk ukuran besar saja.

Hal yang menakutkan bagi saya untuk berlibur saat pandemi adalah ‘bagaimana jika bertemu dengan orang tanpa gejala (OTG)?’ atau ‘bagaimana jika saya OTG dan saya menularkannya kepada orang lain?’. Menurut dr. Ivan Adrian M, MKKK dalam program gelar wicara di kanal YouTube BNPB Indonesia, bahwa OTG lebih berbahaya karena seseorang tidak dapat mengetahui bahwa ia terinfeksi karena tidak memiliki gejala. Bisa saja dengan percaya dirinya ia pergi kesana kemari, tanpa mengetahui dirinya telah terinfeksi.

Sangat sulit mengendalikan laju pertumbuhan Covid-19 di Indonesia jika bukan dari masyarakat sendiri yang tergerak untuk menahan diri dan taat protokol kesehatan. Sudah adanya program vaksinasi bukan berarti kita dapat wara-wiri saat ini. Belum waktunya, belum saatnya, saat ini bukan waktu yang tepat. Ayo, tahan sedikit lagi dan kita akan terbebas dari jeruji pandemi.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Inggris Melibatkan Diri Dalam Perang Ideologi di Asia

Netizen Sabtu, 24 Juli 2021 | 15:24 WIB

Media-media internasional secara luas memberitakan pelayaran satuan tugas gabungan Inggris, Amerika Serikat dan Belanda...

Netizen, Inggris Melibatkan Diri Dalam Perang Ideologi di Asia, Inggris,Pengaruh Inggris,kebudayaan Asia,Pengaruh Inggris di Asia

510 Hari Minus Sentuhan

Netizen Jumat, 23 Juli 2021 | 21:35 WIB

Kesakralan sentuhan tak lagi ada selama masa pandemi Covid-19.

Netizen, 510 Hari Minus Sentuhan, sentuhan,Pandemi Covid-19,Jaga Jarak,Sosial,Dampak Pandemi Covid-19

Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan...

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:30 WIB

Di Cekungan Bandung, sedikitnya ada 8 nama geografi yang berhubungan dengan harimau.

Netizen, Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan dengan Harimau, Toponimi,Harimau,cekungan bandung,Kota Bandung

Jangan Berhenti pada Kata Maaf

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB

Akhirnya ada perwakilan pemerintah yang menyampaikan permintaan maaf kepada publik terkait dengan penanganan pandemi Cov...

Netizen, Jangan Berhenti pada Kata Maaf, Kata Maaf,Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan,PPKM Jawa-Bali,pemerintah Indonesia

Mengatasi Over Kapasitas Lapas

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 21:15 WIB

Hukuman penjara, meskipun menjadi mekanisme yang penting untuk menghukum pelaku, bukanlah merupakan “obat”.

Netizen, Mengatasi Over Kapasitas Lapas, Over Kapasitas,Lapas,Hukuman Penjara,Masalah Kejahatan,Kriminalitas

Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyel...

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 20:00 WIB

Masyarakat dunia menghadapi dua masalah yang sangat menganggu.

Netizen, Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyelamat?, Politik Bebas Aktif,Indonesia,Politik Luar Negeri,Ketergantungan,dependent

Kesehatan Anak Indonesia

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 18:15 WIB

Mengkhawatirkan, 1 dari 8 pasien Covid-19 di Indonesia ternyata anak-anak.

Netizen, Kesehatan Anak Indonesia, Kesehatan,Anak,Indonesia,pasien Covid-19,Case fatality rate,Hari Anak Nasional

Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi

Netizen Selasa, 20 Juli 2021 | 22:30 WIB

Kata-kata “Memanusiakan Manusia” nampaknya sangat berkaitan erat dengan kondisi pandemic yang saat ini kita alami.

Netizen, Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi, Memanusiakan Manusia,Pandemi,Renungan,Sosial,Si tou timou tumou tou

artikel terkait

dewanpers
arrow-up