web analytics

Koresponden Bintang Hindia

clockRabu, 16 Juni 2021 13:07 WIB user-groupNetizen ATEP KURNIA
Netizen, Koresponden Bintang Hindia, kartawinata,raden kartawinata,koresponden bintang hindia,pers,wartawan

Di situ, Kartawinata tercatat sebagai salah seorang korespondennya di Hindia. (Kotak redaksi Bintang Hindia dalam iklan di De Preanger-bode (22 April 1904))

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYOBANDUNG.COM--Pada Maret 1897, Letnan Satu H.C.C. Clockener Brousson dari batalyon cadangan kedua (van het 2e reservebataljon) mengajukan cuti sakit ke Sukabumi selama sebulan. Kepergiannya ke selatan Priangan tersebut antara lain diberitakan dalam Java-bode (25 Maret 1897) dan Soerabaijasch handelsblad (29 Maret 1897). Namun, muncul lagi berita, cutinya diperpanjang sebulan lagi, sehingga total tetirahnya jadi dua bulan (Bataviaasch nieuwsblad, 10 April 1897). 

Namun, Brousson sendiri mengakuinya bahwa cuti tersebut terjadi pada 1896, sebagaimana yang terbaca dalam “Indische Penkrassen, CXXVI” (Arnhemsche Courant, 21 Oktober 1905). Di situ, antara lain, ia menulis, “Saat cuti sakit ke Sukabumi pada 1896, saya bertemu dengan Pamekas dan ayahnya kala liburan panjang, sungguh menyenangkan untuk memulihkan keadaan saya” (“Toen ik in 1896 met ziekteverlof op Soekaboemi was, had ik Pamekas met de groote vacantie reeds ontmoet bij zijn vader en het was me werkelijk 'n waar genoegen de kennismaking te hernieuwen”).

Dalam tulisan yang dibuat di Bogor itu, yang disebut Pamekas adalah anak Raden Kartawinata, sementara ayahnya tentu saja merujuk kepada Kartawinata sendiri. Pengalaman Brousson bertemu Kartawinata didedahkan pada seri tulisan sebelumnya, yakni pada “Indische Penkrassen, XLV” yang ditulisnya di Sukabumi (Arnhemsche courant, 23 Januari 1904). Mengapa ia keliru menuliskan tahun pertemuannya? Saya duga dia terlupa, karena sudah berjarak delapan tahun dari kunjungannya. 

Yang pasti, saat berkunjung ke Sukabumi pada 1897, Brousson masih berstatus tentara aktif. Setahun sebelumnya, 1896, diberitakan Letnan Dua Brousson bersama Letnan Dua H. Dijkstra baru tiba ke Batavia. Brousson berasal dari resimen infanteri keenam dan Dijkstra dari resimen keempat pasukan cadangan di Nijmegen yang berangkat ke Hindia pada 25 April, untuk berdinas dalam KNIL selama lima tahun (Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 11 April 1896). Mereka menumpang kapal laut Gedeh dari pelabuhan Wilhelminakade (De Maasbode, 26 April 1896). Di Batavia, mereka ditempatkan pada batalyon cadangan kedua (De locomotief,16 Juni 1896).

Dengan keterangan tersebut, saya pikir ada baiknya melihat sekilas riwayat hidup Brousson hingga masa cutinya ke Sukabumi. Melalui pencarian pelbagai fakta dari beberapa sumber (openarch.nl, humanitarisme.nl, dan Ahmat Adam, Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, 1855-1913, 2003: 159), saya menemukan bahwa nama lengkap Brousson adalah Henri Constant Claude Clockener Brousson (1871-1923) dan disingkat H.C.C. Clockener Brousson. Ia lahir di 's Gravenhage pada 12 April 1871 sebagai anak sulung pasangan Gerrit Clockener Brousson (l. 1838) dan Johanna Cornelia van Rijn (1850-1937). Brousson mempunyai seorang adik perempuan: Anne Christine Claudine (l. 1874). 

Dalam usia 21 tahun, Brousson lulus ujian tahun keempatnya (Eind-examens cadetten 4e studiejaar) sebagai taruna di Akademi Militer Breda (Bataviaasch nieuwsblad, 15 Juli 1892). Setelah lulus ujian dengan pangkat letnan dua, ia ditempatkan pada resimen infanteri ketujuh di Amsterdam, lalu pada Desember 1893 dipindahkan ke garnisun resimen infanteri keenam di Geertruidenberg (Provinciale Noordbrabantsche en 's Hertogenbossche courant, 8 Desember 1893).

Selama berdinas di Belanda, minat besar Brousson dalam dunia kepenulisan mulai nampak. Sebelum dipindahkan ke Hindia, Brousson menulis buku Liederen Bundel voor Janmaat en soldaat (Kumpulan Lagu untuk Kelasi dan Prajurit) dan De Oranjebloem: 45 Nationale Liederen voor School en Volk. Keduanya disusun pada 1895, dengan catatan yang pertama ditulis di Geertruidenberg pada bulan Februari dan yang kedua ditulis di Nijmegen pada bulan Juli. Selain itu, kerap menulis untuk majalah Neerlandia dan menjadi koresponden Soldatenkrant.

Kemudian, menurut Adam (2003: 159) pada 1896 ia berangkat ke Hindia Belanda dan naik pangkat menjadi letnan satu di Divisi Cadangan, Garnisun Batalion di Aceh. Pada 1900 ia ditempatkan di Padang, dan mengunjungi Batavia beberapa kali untuk memprakarsai penerbitan majalah serdadu dengan kerja sama dengan firma Albrecht & Co.

Kita kembali ke perjalanan Brousson ke Sukabumi pada 1897. Mengapa dia memilih Sukabumi sebagai tempat memulihkan dirinya, alih-alih kembali ke Belanda? Sudah pasti alasannya karena bila pulang ke negeri kelahirannya akan memakan waktu berbulan-bulan dan kontraknya belum mencapai lima tahun. Ditambah fakta bahwa sejak paruh kedua abad ke-19, Sukabumi sudah dikenal sebagai tempat peristirahatan. 

Hal ini, misalnya, terungkap dalam tulisan berseri “Indische Schetsen” karya M.B. yang dimuat dalam Java-Bode. Dalam tulisan bertajuk “Soekaboemi en Zijn Gezondheids-Etablissement” (Java-Bode, 7 November 1887), M.B. antara lain menyatakan pada 1880, Sukabumi masih sedikit dikenal oleh orang Eropa sehingga disebut sebagai “luatoord der wereld”. Padahal menurutnya, tempat ini dianugerahi keindahan alam, iklim sejuk, dan kondisi tanahnya cocok untuk kesehatan penduduknya. 

Oleh karena itu, misalnya, saya mendapati tentang orang Eropa bernama Musch, pemilik hotel di Kedung Badak, mengajukan izin untuk mendirikan tempat penginapan atau peristirahatan di Sukabumi pada 1881 (Opregte Haarlemsche Courant, 19 Oktober 1881) atau pensiunan tentara berpangkat mayor, Heijligers, berencana membuka tempat peristirahatan di Sukabumi pada 1883 (De locomotief, 20 Januari 1883). Jenis gezondheids-etablissement di Sukabumi terus dilakukan kalangan swasta, bahkan hingga awal abad ke-20, sebagaimana lahirnya keputusan pemerintah kolonial nomor 6254 pada 31 Desember 1905. Dengan demikian, Sukabumi kian dikenal sebagai tempat beristirahatnya kalangan militer dan sipil Eropa yang berdinas di Pulau Jawa umumnya, khususnya dari Batavia. 

Lalu, apa yang dilakukan oleh Brousson selama di Sukabumi pada 1897? Selama di sana nampaknya Brousson tidak hanya diam, tidak hanya tetirah memulihkan keadaan tubuhnya yang sakit. Nampaknya, nalurinya untuk menulis bangkit. Oleh karena itu, kesempatan tersebut digunakannya untuk berkeliling Sukabumi, demi mengenal keadaan alam sekitarnya dan para pemuka masyarakat di sana. Nah, dalam konteks itulah agaknya Brousson menemukan keistimewaan pada diri Kartawinata dan keluarganya. Apa saja dan bagaimana pertemuan tersebut terjadi? Tentang hal ini, kita dapat kembali kepada dua tulisan Brousson, “Indische Penkrassen, XLV” (1904) dan “Indische Penkrassen, CXXVI” (1905).

Dalam “Indische Penkrassen, XLV”, Brousson menyatakan bahwa Kartawinata merupakan pribumi sangat menarik (“een zeer belangwekkend Inlander”). Kemudian dia mengurai latar belakang kelahiran, keluarga, pendidikan, dan karier Kartawinata. Berikutnya ia menulis: “Patih selalu menulis dengan menggunakan nama samaran Kartawinata, dan sebagai pengarang Sunda dia memiliki reputasi besar di kalangan mereka. Karena majalah Bintang Hindia akan juga memasukkan esai-esai berbahasa Sunda pada 1904, maka dapat dimengerti bila saya sebagai pemimpin redaksinya sangat yakin untuk memulai kerja sama dengan penulis berbakat ini. Saya juga sangat bersuka cita saat dirinya menyatakan mau bertindak sebagai penasihat bahasa Sunda”.

Saya pikir, pernyataan Brousson tersebut menarik, sebab ternyata Kartawinata juga terlibat dalam penerbitan majalah Bintang Hindia. Dari tulisan tersebut saya dapat memastikan bahwa peristiwa pertemuan dan diskusi antara Brousson dengan Kartawinata paling tidak terjadi pada 1903. Mengenai hal tersebut dapat dimengerti bila melihat titimangsa dan media yang memuatnya, yaitu pada 23 Januari 1904 di Arnhemsche courant, yang berbasis di Arnhem, Gelderland, Belanda. Artinya ada jeda lama setelah artikel tersebut ditulis Brousson di Sukabumi dan tiba di Belanda. Barangkali butuh berbulan-bulan, tulisannya baru dapat dimuat di koran Belanda itu. 

Selanjutnya, agar punya gambaran mengenai Bintang Hindia, saya kira ada baiknya membaca keterangan dari Adam (2003: 167-182) dan Harry A. Poeze (Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950, 2008: 34-56). Dari kedua sumber tersebut, saya jadi tahu bahwa Brousson mula-mula menerbitkan Soerat Chabar Soldadoe di Batavia pada 18 April 1900. 

Di sisi lain, saat cuti ke Belanda pada November 1900, dia mendapati adanya Pewarta Wolanda yang diterbitkan kawan lamanya Abdul Rivai dari Medan di Amsterdam. Pertemuannya dengan Rivai di Amsterdam melahirkan gagasan fusi kedua media tersebut. Akhirnya gagasannya mewujud pada media bernama Bandera Wolanda yang terbit sejak 15 April 1901 hingga November 1903. Setelah Brousson dan Rivai mengundurkan diri dari Bandera Wolanda, mereka mengeluarkan Bintang Hindia pada Juli 1902 di Amsterdam. Sebelum terbit reguler sejak Januari 1903, Bintang Hindia sempat diterbitkan empat nomor contoh.

Pada awal 1903, Brousson berangkat ke Jawa untuk mengatur penyebaran Bintang Hindia dan mendirikan kantor pusat majalahnya. Kantor itu awalnya didirikan di Bogor pada 1 Juni 1903, tetapi pada akhir tahun dipindahkan ke Bandung. Keputusan tersebut disebabkan kesuksesan majalah dua mingguan itu karena adanya bantuan pemerintah kolonial dan dukungan jumlah pelanggan. Kesuksesan Bintang Hindia antara lain melahirkan rencana memperbesar format majalahnya dan menambah halaman berbahasa Jawa, Sunda, Minangkabau, dan Batak. Untuk itu dicari para redaktur yang tinggal di Indonesia. 

Barangkali dalam rangka mencari redaktur di Indonesia itulah, Brousson berkunjung ke Sukabumi dan menemui Kartawinata yang sudah dikenalnya sejak 1897 dan barangkali terus menjalin korespondensi jarak jauh. Sebagai bukti keseriusan Brousson untuk mengajak Kartawinata bergabung dapat dilihat dari lampiran iklan Bintang Hindia sebanyak empat halaman yang dipasang pada De Preanger-bode (22 April 1904) dan Soerabaijasch handelsblad (26 April 1904). 

Selain mengungkap bahwa Bintang Hindia sudah bermarkas di Bandung, dalam kotak redaksinya ditulis bahwa “Medewerkers in Indie” yang pertama adalah “Radhen Aria Soeria Nata Legawa, (Kartawinata) Patih van Soekaboemi”, selanjutnya Dja Endar Moeda, Jur. Mattheus, Radhen Adi Koesoemo (wedana Bawean), Radhen Soeparta (pangeran di lingkungan Mangkunegaran), dll. Saya pikir, penempatan Kartawinata sebagai koresponden di Hindia yang pertama merupakan salah satu tanda hormat yang diberikan Brousson kepada patih Sukabumi itu.

Bagaimana nasib halaman berbahasa Jawa, Sunda, Minangkabau, dan Batak itu? Menurut Poeze (2008: 50), sejak penerbitan tahun 1905, lembaran dalam bahasa-bahasa Indonesia itu secara resmi dihapuskan, kecuali yang berbahasa Melayu. Dengan demikian, ini jelas mengandung arti bahwa keterlibatan Kartawinata di majalah Bintang Hindia selesai pada akhir tahun 1904. Namun, yang membuat menyesal adalah saya belum menemukan Bintang Hindia edisi tahun 1904 agar dapat memeriksa dan membaca tulisan berbahasa Sunda yang ditulis oleh Raden Kartawinata. Makanya saya tetap memendam rasa penasaran: apa saja yang ditulis Kartawinata untuk majalah kawannya yang meninggal di Leiden, pada 22 September 1923 itu?

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Tren dan Perubahan Nilai Sepeda dalam Industri Budaya

Netizen Rabu, 4 Agustus 2021 | 23:00 WIB

Bersepeda dapat dikatakan sebagai kegiatan yang cukup populer bagi masyarakat di seluruh dunia sejak awal perkembanganny...

Netizen, Tren dan Perubahan Nilai Sepeda dalam Industri Budaya, Tren,Perubahan Nilai,Sepeda,Industri,Budaya,Olahraga,Gaya Hidup,transportasi

Urgensi Vaksinasi bagi Narapidana

Netizen Rabu, 4 Agustus 2021 | 22:15 WIB

Salah satu kunci utama pengendalian Covid-19 yakni menggenjot program vaksinasi bagi masyarakat luas tak terkecuali bagi...

Netizen, Urgensi Vaksinasi bagi Narapidana, Urgensi,Vaksinasi,Narapidana,Lapas,Lembaga Pemasyarakatan,COVID-19

Distrik Tasikmalaya Awal Abad ke-19

Netizen Rabu, 4 Agustus 2021 | 16:30 WIB

Dalam peta awal abad ke-19 yang berjudul D: Tassikmalaya, sudah dengan jelas menggambarkan penyebaran perkampungan denga...

Netizen, Distrik Tasikmalaya Awal Abad ke-19, Distrik,Tasikmalaya,Abad ke-19,Geografis,Sejarah

Hotel Luar Angkasa akan Semakin Menjamur

Netizen Selasa, 3 Agustus 2021 | 20:30 WIB

Beberapa dekade yang akan datang, wisata luar angkasa diproyeksikan akan kian populer.

Netizen, Hotel Luar Angkasa akan Semakin Menjamur, Hotel Luar Angkasa,wisata luar angkasa,Unik,Masa Depan

Wim Kuik, Pegawai Kereta Api Pendiri UNI

Netizen Selasa, 3 Agustus 2021 | 09:49 WIB

Wim Kuik, Pegawai Kereta Api Pendiri UNI

Netizen, Wim Kuik, Pegawai Kereta Api Pendiri UNI, Wim Kuik,Olahraga,sepakbola,PSIB,uni,Persib

Nonton Drakor Juga Ada Manfaatnya: Meredakan Stres, Meningkatkan Imun...

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 22:00 WIB

Ya, nonton drama korea. Salah satu alternatif refreshing masa pandemi. Begitu banyak sekali drama bagus yang wajib Anda...

Netizen, Nonton Drakor Juga Ada Manfaatnya: Meredakan Stres, Meningkatkan Imun Tubuh, nonton drakor,Meredakan Stres,Meningkatkan Imun Tubuh,refreshing,Drama Korea,Hiburan

Hustle Culture, Gaya Hidup para Pekerja Keras

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 21:15 WIB

Semakin sibuk, maka semakin cepat untuk meraih kesuksesan. Fenomena ini disebut dengan budaya “Hustle Culture”.

Netizen, Hustle Culture, Gaya Hidup para Pekerja Keras, Hustle Culture, gaya hidup,Pekerja Keras,Pekerjaan,karier,Kesehatan Mental,burnout syndrome,toxic postivity

[Ayo Netizen] 6 Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com Edisi Juli 2...

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 16:30 WIB

Selamat untuk 6 netizen yang tulisannya terpopuler di Ayobandung.com edisi Juli 2021.

Netizen, [Ayo Netizen] 6 Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com Edisi Juli 2021, Ayo Netizen,6 Tulisan Terpopuler,netizen,Ayobandung.com,Juli 2021

artikel terkait

dewanpers
arrow-up