web analytics

CERITA PENDEK: Aku Mencintai Tokoh Ceritaku dan Cemburu kepada Kekasihnya

clockSabtu, 5 Juni 2021 07:53 WIB userHermawan Aksan
Bandung Baheula - Bandungan, CERITA PENDEK: Aku Mencintai Tokoh Ceritaku dan Cemburu kepada Kekasihnya, cerpen,Cerita Pendek,cerita pendek Hermawan Aksan,Bahasa dan Sastra Indonesia,Sastra,Seni dan Budaya

Ilustrasi cerita pendek Aku Mencintai Tokoh Ceritaku dan Cemburu kepada Kekasihnya (Heindry Kurniawan)

AKU tergila-gila kepada Nay, tokoh ceritaku sendiri, dan aku cemburu setengah mati kepada Yus, kekasih Nay. Tak ada jalan lain, aku harus menyingkirkan Yus.

Nay perempuan berusia 29 tahun, bertubuh semungil Yuni Shara, berambut sependek Demi Moore di film Ghost, bermata sebening mata bayi, dan mampu menulis puisi yang menyihir seperti mantra. Agak hiperbolis memang, tapi secara bawah sadar Nay adalah perwujudan mantan pacarku, Yan, yang pergi meninggalkanku dengan alasan yang tidak masuk akal. Memang kami berpisah baik-baik—atau kami menyebutnya baik-baik. Tak ada perpisahan yang baik-baik. Perpisahan pasti menyebabkan luka. Memang awalnya aku menganggap baik-baik saja. Tapi bertahun-tahun aku merasakan luka yang tidak kunjung sembuh.

Kami berpisah karena dia, sebagai perempuan Jawa, tidak mendapat restu orang tuanya menikah dengan lelaki Sunda, Setidaknya, begitulah yang dia katakan. “Jawa lebih tua daripada Sunda,” katanya. “Jadi, tidak mungkin perempuan Jawa, sebagai kakak, menikah dengan lelaki yang lebih muda.”

“Omong kosong,” sergahku. “Kerajaan tertua berada di tanah Sunda. Kerajaan Salakanagara sudah berdiri di ujung barat Tatar Sunda pada tahun 130-an Masehi. Setelah itu….”

“Aku tidak mau berdebat soal itu, Kang,” potong Yan dengan mata berkaca-kaca sebelum membalikkan badannya dan melangkah pergi.

Itu yang pertama. Yang kedua, apa salahnya perempuan menikah dengan lelaki yang lebih muda? Tak terhitung jumlahnya pasangan yang seperti itu dan mereka baik-baik saja. Bahkan Nabi pun menikah dengan Khadijah yang lebih tua 15 tahun.

Kami benar-benar tidak pernah berkomunikasi lagi. Aku tidak bisa menghubunginya karena nomor teleponnya yang kusimpan tidak aktif lagi. Mungkin ia sudah ganti nomor. Aku tidak tahu ia di mana—ia tidak mau menjadi penyair meskipun bakatnya sangat besar. Aku juga tidak tahu ia menikah dengan siapa—kalau sudah menikah.

Kutulis cerita dengan tokoh bernama Nay, boleh jadi, sebagai perwujudan kerinduan kepadanya. Aku masih mencintainya. Memang, seperti sudah kutulis, Nay lebih hiperbolis: lebih cantik, lebih lembut.

Yus sendiri sebetulnya perwujudan keinginan bawah sadarku juga: Yus adalah aku dalam sekian bagian yang juga dalam beberapa hal lebih dari aku. Yus lebih ganteng—dan kaya.

Yus mengenal nama Nay sebagai penyair muda yang berbakat. Sesekali ia juga menulis cerpen. Namanya beberapa kali terpampang di halaman sastra media massa. Nay juga mengenal nama Yus sebagai penulis cerpen yang sedang produktif-produktifnya dan sesekali menulis puisi. Namanya berkali-kali muncul menyertai karyanya yang dimuat di media massa.

Tapi mereka belum pernah bertemu muka karena tinggal di kota yang berbeda: Yus di Bandung dan Nay di Yogya.

Acara sastralah yang mempertemukan mereka.

Kalau ada kisah manusia yang jatuh cinta pada pandangan pertama dan banyak orang yang tidak percaya, percayalah, Yus benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Tepatnya pada saat saling pandang yang pertama. Kronologinya begini:

Sebelum acara sastra itu, Yus beberapa kali mengontak Nay melalui Facebook. Keduanya kemudian saling bertukar nomor telepon dan kerap berhubungan melalui WhatsApp. Mereka berjanji bertemu di acara itu.

Saat bertemu dua atau tiga langkah dari pintu masuk, mereka langsung saling tahu. Sebelum berkata-kata, Yus dan Nay saling pandang dalam hitungan tiga atau empat. Yus merasakan ada pancaran hangat dari matanya menuju mata Nay dan merasakan pancaran hangat dari mata Nay ke mata Yus. Nay juga merasakan pancaran hangat dari matanya ke mata Yus dan merasakan pancaran mata Yus yang hangat ke matanya. Kedua pancaran hangat itu beradu di udara menciptakan cahaya bebintang khayali yang menghangatkan dada keduanya. Keduanya saling menunduk sejenak, lalu saling memandang lagi sambil sama-sama tersenyum.

Adakah di zaman sekarang momen jatuh cinta seperti itu?

“Nay, ya?” kata Yus.

“Yus, ya?”

Yus memilih duduk di kursi deretan paling belakang. Nay duduk di sebelah Yus.

Acara sastra itu berlangsung dua hari dan waktu dua hari hari cukup bagi Yus untuk menyatakan cinta dan bagi Nay untuk menerima cinta Yus.

“Tapi kita berjauhan, Kang.”

“Bukankah cinta butuh pengorbanan?”

Yus dan Nay menjalani cinta jarak jauh.

Di sinilah aku mulai bermain. Aku tidak rela cinta Yus dan Nay benar-benar  bersemi dan berbunga. Cinta jarak jauh zaman sekarang bukan hal yang gampang. Jarangnya berhubungan akan membuat hubungan mereka renggang. Yus akan sibuk dengan kegiatannya. Begitu juga Nay. Yus akan bertemu dengan perempuan lain. Nay juga bertemu dengan laki-laki lain.

Tapi ternyata bagi Yus jarak bukan masalah. Yus masih bisa menemui Nay setidaknya sebulan sekali. Malah lebih sering dua kali. Kereta api Bandung-Yogya selalu setia mengantarkan Yus membawa cinta buat Nay. Jika kehabisan biaya, ia masih bisa mengandalkan orang tuanya untuk membeli tiket kereta.

Yus ini tak mudah menyerah.

Tapi sebagai penulis cerita, aku lebih berkuasa. Mudah bagiku untuk menciptakan kecelakaan kereta. Bukankah di negeri ini kecelakaan kendaraan apa pun merupakan hal yang biasa?

Jadi, aku membuat plot baru. Seperti biasa, Yus memesan tiket kereta api Bandung-Yogya yang sore hari. Itu kereta kelas eksekutif dan bisnis dan Yus memilih yang eksekutif. Ia memilih tempat duduk nomor 1. Alasannya dua. Pertama, ia lebih suka duduk sendiri. Ia benar-benar mencintai Nay dan sepanjang jalan ia akan saling berkirim pesan WA dengan Nay. Jika hari sudah malam, ia akan mengkhayalkan pertemuan dengan Nay, lalu tidur dengan mimpi yang juga berisi pertemuan dengan Nay. Kedua, ia agak beser sehingga harus dekat dengan toilet.

Kereta berangkat tepat waktu dan, supaya cerita lebih cepat selesai dengan kematian Yus, saat itu turun hujan lebat di sepanjang jalan dan sebuah bukit longsor menutupi rel kereta yang dilewati kereta yang ditumpangi Yus. Masinis tidak tahu ada tanah longsor sehingga kereta terguling. Besoknya diketahui puluhan orang tewas.

Namun, ketika kecelakaan itu muncul di berita-berita, baik di berita daring, televisi, maupun surat kabar, tidak ada nama Yus di daftar korban meninggal. Bagaimana mungkin? Aku sudah membuat plot bahwa Yus akan mati dalam kecelakaan itu.

Yang lebih absurd, tahu-tahu Yus sudah ada di Yogya dan sudah bertemu dengan Nay. Mereka berkeliling Kota Yogya dengan hati yang sama-sama bahagia. Aku benar-benar cemburu buta tak terkira. Dua hari mereka mereguk indahnya cinta sebelum Yus kembali ke kotanya.

Selanjutnya aku berhenti menulis cerpen ini sampai di situ. Aku biarkan dulu beberapa minggu untuk menyusun plot baru. Tujuannya cuma satu: aku harus menggagalkan cinta mereka. Keduanya harus bernasib sama dengan kami, aku dan Yan. Mereka harus terpisah apa pun alasannya.

Cling! Bukankah alasan yang sama dengan kami bisa juga dipakai untuk mereka?

Jadi, aku biarkan Yus berangkat lagi ke Yogya untuk bertemu dengan Nay.

Setelah seharian mereguk cinta di sekeliling Yogya, Nay mempertemukan Yus dengan orang tuanya.

Rumah Nay ibarat keraton dalam format mini.

Rumah itu berbentuk limasan. Di tengah bubungan terpasang lambang dengan di kedua sisinya sayap membentang dan di atasnya mahkota yang cemerlang. Ada tiga pilar kayu jati di deretan depan, masing-masing berderet tiga ke belakang, menopang atap yang menaungi beranda berlantai keramik warna putih susu. Ada satu meja dan empat kursi rotan di bagian kanan. Pintu-pintunya yang dicat kuning dengan motif kotak hijau terbuka.

Dari halaman menuju beranda, ada empat lapis undakan memanjang dari tepi ke tepi. Keempat undakan itu pun dilapisi keramik putih. Ada lima atau enam vas bunga model Kasongan. Satu di antaranya ditanami palem dengan tangkai daunnya yang melengkung. Sisanya bermacam jenis tanaman anthurium.

“Kau tidak pernah bercerita bahwa kau keturunan keraton,” kata Yus agak tersendat, sebelum ia masuk ke rumah Nay.

“Bagiku bukan soal.”

“Tapi akan menjadi soal bagi ayahmu. Romo-mu.”

Yus tidak berani menatap ayah Nay. Lelaki itu tinggi, gagah, berpakaian khas lelaki keraton, dengan kumis yang setebal ibu jari. Yus pernah membaca cerita silat Api di Bukit Menoreh dan ayah Nay mengingatkannya kepada tokoh Ki Tambak Wedi. Ia benar-benar wedi, takut.

“Siapa namamu, Nak?” Suaranya bariton, berat, seakan-akan mengandung tenaga dalam yang kuat.

Yus menyebutkan nama lengkapnya.

“Asal?”

Yus menjawab.

“Pekerjaan?”

Yus sempat diam tiga detik. “Penulis.”

Ki Tambak Wedi, maksudku ayah Nay, mengerutkan keningnya.

“Begini, Nak Yus.” Suaranya tetap berat tapi lembut. “Saya tidak bisa menentang catatan sejarah. Kerajaan di Jawa lebih tua daripada kerajaan di Sunda. Maka kami orang Jawa adalah saudara tua orang Sunda. Lelaki Jawa sangat cocok jika berjodoh dengan perempuan Sunda. Mereka akan menjadi pasangan yang serasi dan akan berbahagia untuk selama-lamanya. Ah, itu kenyataan, bukan dongeng.”

Yus masih diam menunggu.

“Sebaliknya, perempuan Jawa tidak cocok berjodoh dengan lelaki Sunda. Jika terjadi perkawinan, mereka akan menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh duri dan badai. Bisa saja pernikahan mereka awet hingga tua, tapi selama itu penuh dengan pertengkaran. Orang Sunda bilang awet rajet. Betul, kan?”

“Tapi….” Yus ragu-ragu. “Tapi saya sangat mencintai Nay. Kami saling mencintai.”

“Cinta bukan jaminan langgengnya pernikahan.”

Yus tak mampu berkata-kata. Ia tak berdaya.

Alasan ayah Nay, kupikir, sangat masuk akal sebagai penghalang cinta.

Yus pulang dengan hati separuh hancur.

Namun, tanpa kusadari sepenuhnya, beberapa minggu kemudian Yus sudah duduk di kursi nomor 1A dalam kereta menuju Yogya. Apa yang akan dia lakukan? Bukankah ia sudah ditolak ayah Nay? Sebagaimana seorang raja, ayah Nay adalah pemegang kuasa tunggal di rumahnya dan kata-katanya adalah undang-undang. Nay mesti menuruti titah sang ayah: bahwa Yus bukan level bagi jodoh Nay.

Diam-diam rupanya Yus mengumpulkan bukti-bukti—setidaknya menurut Yus itu adalah bukti-bukti—bahwa dia keturunan Prabu Siliwangi. Ia menelusurinya ke leluhurnya dan berhasil menyusun semacam pohon silsilah mulai dari Prabu Niskala Wastukancana, Prabu Dewata Niskala, Sri Baduga Maharaja, dan seterusnya berselisih puluhan nama, hingga sampai ke bapak Yus dan Yus sendiri: Yus Wiradireja.

Yus juga membawa salinan kitab-kitab lama, dengan tulisan Sunda kuna, bahwa kerajaan di tatar Sunda jauh lebih dulu ada dibandingkan dengan kerajaan di tanah Jawa. Yus menunjukkan di salinan naskah yang sudah ia tandai bahwa Kerajaan Salakanagara sudah berdiri di ujung barat Pulau Jawa pada abad kedua Masehi.

“Lagi pula, yang menjadi penyebab kepercayaan tentang hubungan Jawa dan Sunda adalah konflik antara Kerajaan Sunda dan Majapahit, bukan Sunda dengan Mataram,” kata Yus di hadapan ayah Nay.

Ayah Nay mengangguk-angguk sambil meraba janggutnya yang mulai diwarnai garis-garis putih.

Di balik tirai di ruang dalam rumah itu, Nay bergumam “yes!” seraya mengepalkan tangannya.

Apakah Yus akan berhasil mempersunting Nay? Kalau ceritanya kuhentikan di sini, barangkali jawabnya ya.

Tapi akulah yang menulis cerita ini. Aku bersumpah akan menggagalkannya. Sedang kususun plot yang baru. Aku tidak ingin mengakhiri cerita dengan membunuh salah satu tokoh utamanya. Itu terlalu gampang. Aku harus membuat unhappy ending secara elegan.

Tunggu saja.***

 

Hermawan Aksan lahir di Brebes, Jawa Tengah, menulis sejumlah cerpen dan novel. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul Keiko, Dara Plumeria, dan Kisah-Kisah Lainnya (NAD Publishing, Maret 2021).

Editor: Dudung Ridwan

terbaru

Disaté, Digulé, Digepuk … Daging Kurban Dikumaha Deui Nya? Geus Nyobaa...

Bandungan Jumat, 23 Juli 2021 | 11:32 WIB

Saté koyor dijieunna tina gajih sapi, teu maké daging pisan. Di Yogyakarta, saté koyor sohor pisan.

Bandung Baheula - Bandungan, Disaté, Digulé, Digepuk … Daging Kurban Dikumaha Deui Nya? Geus Nyobaan Saté Koyor?, Sate Koyor,masak daging kurban,Iduladha,sate,gule,gepuk,Daging Kurban

Anthony Ginting Siap Makalangan di Olimpiade Tokyo 2020

Bandungan Rabu, 21 Juli 2021 | 14:49 WIB

Dina anceran mah, Ginting nu jadi unggulan kalima di Olimpiade ieu, bakal sanggup ngeléhkeun lawan-lawanna.

Bandung Baheula - Bandungan, Anthony Ginting Siap Makalangan di Olimpiade Tokyo 2020, Anthony Ginting,Pebulutangkis Anthony Sinisuka Ginting,Olimpiade 2020 Tokyo,tunggal putra anthony sinisuka ginting,Bulu Tangkis

Cerpen: TRUK MENUJU KOTA

Bandungan Sabtu, 17 Juli 2021 | 07:49 WIB

Seharusnya aku takut kepada Brenda. Dia cukup jangkung dan suaranya terdengar berat. Brenda adalah perempuan yang terjeb...

Bandung Baheula - Bandungan, Cerpen: TRUK MENUJU KOTA, Cerita Pendek,cerpen,Cerita pendek Ken Hanggara,Sastra,Bahasa dan Sastra Indonesia

Vidéo Doni Salmanan nu keur Ngabagi-bagi Duit Viral. Saha Doni Salmana...

Bandungan Jumat, 16 Juli 2021 | 13:12 WIB

Wakil Bupati Bandung, Sahrul Gunawan, nga-repost vidéo Doni Salmanan. Atuh, meunang mangpirang koméntar.

Bandung Baheula - Bandungan, Vidéo Doni Salmanan nu keur Ngabagi-bagi Duit Viral. Saha Doni Salmanan téh?, Doni Salmanan,doni salmanan bagi-bagi duit,Youtuber Doni Salmanan,Sahrul Gunawan,Dadang Supriatna-Sahrul Gunawan (Bedas)

Korona dina Carpon Sunda: Catetan tina Pasanggiri Ngarang Carpon Pakar...

Bandungan Selasa, 13 Juli 2021 | 20:16 WIB

Catetan tina Pasanggiri Ngarang Carpon Korona di Komunitas Pakarangan

Bandung Baheula - Bandungan, Korona dina Carpon Sunda: Catetan tina Pasanggiri Ngarang Carpon Pakarangan, Carpon Sunda,pasanggiri ngarang carpon,pakarangan,pasanggiri ngarang carpon Pakarangan,Hadi AKS,Bahasa dan Sastra Sunda,seni dan sastra sunda,Sastra Sunda

Sastra Sunda: ÉLÉGI PANDEMI

Bandungan Sabtu, 10 Juli 2021 | 10:47 WIB

Saban kuring rék miang sakola di TK Bustanul Athfal, buuk kuring nu panjang, diuntun dua. Dipitaan. Dibajuan. Disoléndan...

Bandung Baheula - Bandungan, Sastra Sunda: ÉLÉGI PANDEMI, Carpon Sunda,Carpon Komala Sutha,Carita pondok Sunda,Cerita pendek Sunda,Cerita pendek bahasa Sunda,Cerita Pendek,Sastra Sunda

Beurat Mayar Denda Rp5 Juta, Tukang Bubur nu Ngalanggar PPKM Ditulunga...

Bandungan Jumat, 9 Juli 2021 | 13:46 WIB

Sawa cumarita, yén bubur Biasa Malam mimiti buka tabuh 5 soré nepi ka tabuh 6 isuk-isuk.

Bandung Baheula - Bandungan, Beurat Mayar Denda Rp5 Juta, Tukang Bubur nu Ngalanggar PPKM Ditulungan Hamba Allah, Pelanggar PPKM Darurat,tukang bubur didenda 5 juta,tukang bubur langgar ppkm darurat,ppkm darurat di tasikmalaya

Béntang Persija, Marc Anthony Klok, Milih Gabung jeung Persib

Bandungan Senin, 5 Juli 2021 | 14:04 WIB

Teu tanggung-tanggung Persib wani masang kontrak 4 taun ka pamaén nu kungsi maén di PSM Makassar.

Bandung Baheula - Bandungan, Béntang Persija, Marc Anthony Klok, Milih Gabung jeung Persib, Marc Klok,Marc Anthony Klok,Persib,Persija,Pelatih Persib Bandung Robert Alberts,Persib bandung
dewanpers
arrow-up