web analytics
  

Menurunkan Angka Kematian Ibu

Kamis, 10 Juni 2021 17:15 WIB Netizen -Khairunnisa-
Netizen, Menurunkan Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Ibu,AKI,Ibu

Ilustrasi ibu dan anak. (Pixabay/Ratna Fitry )

-Khairunnisa-

Statistisi Ahli Muda.

Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini berkaitan dengan kaum ibu adalah masih tingginya angka kematian ibu (AKI) saat mereka hamil, melahirkan, atau nifas.

Tingginya AKI ini ditekankan pula oleh Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, dalam webinar pada Kamis 4 Februari 2021 tentang “Implikasi Hasil Sensus Penduduk 2020 terhadap Kebijakan Pembangunan Kependudukan”. Angka ini merujuk data Survei Penduduk Antarsensus (Supas) 2015, yaitu 305 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Meskipun sebenarnya telah menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan angka Supas pada tahun 2010 sebesar 346/100.000 kelahiran hidup, AKI tahun 2015 ini masih dianggap tinggi.

Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya,  menurut  Sekretariat  ASEAN, Indonesia tercatat sebagai negara dengan AKI tertinggi kedua setelah Laos. Adapun Malaysia menjadi negara dengan AKI paling rendah.

Ada lima penyebab masih tingginya kematian ibu di Indonesia menurut penelitian yang dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI). Penelitian ini mengungkapkan bahwa 75% kematian ibu disebabkan oleh pendarahan parah (sebagian besar terjadi pascapersalinan), infeksi, tekanan darah tinggi saat kehamilan, partus macet, dan aborsi yang tidak aman. Selain itu, ada penyebab lain kematian ibu, yaitu komplikasi kebidanan (penanganan yang tidak baik dan tidak tepat waktu).

Di sisi lain, bangsa kita mencanangkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Indonesia ke-3, yaitu Menjamin Kehidupan yang Sehat dan Meningkatkan Kesejahteraan Seluruh Penduduk Semua Usia dengan target 3.1 pada tahun 2030, yaitu menekan angka kematian ibu hingga kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini tentu menjadi tantangan yang berat. Merujuk pada Pilar Pembangunan Sosial (BKKBN, 2020), selama ini angka kematian ibu yang didapat belum akurat dan tergolong sulit diperoleh karena belum tersedia sistem data yang lengkap tentang angka kematian ibu dan penyebabnya. Untuk itu, pemerintah berupaya dengan menjadikan akselerasi penurunan angka kematian ibu sebagai salah satu fokus pengentasan masalah kesehatan yang tertuang dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2020—2024.

Untuk mengukur keberhasilan pemerintah dalam mencapai target ini, digunakanlah data proporsi kaum ibu-pernah kawin dalam rentang usia 15—49 tahun yang proses kelahiran terakhirnya ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih atau dilakukan di fasilitas kesehatan. Proporsi ini digunakan sebagai proksi indikator target 3.1 dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Indonesia. Indikator ini akan digunakan untuk menilai kemampuan manajemen program kesehatan ibu dan anak (KIA) dalam menyelenggarakan pelayanan persalinan yang profesional.

Berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, salah satu faktor yang memengaruhi penurunan angka kematian ibu adalah pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan. Angka tingkat pemeriksaan kehamilan kaum ibu oleh tenaga kesehatan di Indonesia telah naik dari 94% pada tahun 2012 menjadi 97,5% pada tahun 2017. Relevansinya adalah pemeriksaan yang memadai oleh tenaga kesehatan dapat mendeteksi sejak dini masalah kehamilan pada ibu. Dengan demikian, munculnya masalah kehamilan pada ibu dapat segera ditangani oleh tenaga medis dengan melakukan tindakan yang diperlukan. Adapun faktor lain yang memengaruhi penurunan angka kematian ibu adalah pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih (dokter, bidan, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya) di fasilitas kesehatan (puskesmas, puskesmas pembantu, atau rumahsakit). Hal ini mengurangi risiko kematian ibu saat melahirkan dan secara langsung menunjukkan meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan.

Dalam lingkup yang lebih kecil, permasalahan tingginya angka kematian ibu terjadi pula di Provinsi Jawa Barat. Sebagai provinsi dengan penduduk terbanyak, yaitu 48,27 juta orang (Sensus Penduduk 2020), 16,19 juta penduduk Jawa Barat adalah perempuan berusia 15—49 tahun. Dengan jumlah penduduk perempuan usia 15—49 tahun sebanyak itu, ternyata AKI di provinsi ini pada 2020 sebesar 745. Angka ini disampaikan oleh dr. Siska Gerfianti selaku Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), Provinsi Jawa Barat, dalam webinar “Kiprah Perempuan dalam Pembangunan”, 6 Mei 2021. Angka ini bahkan sangat jauh di atas AKI nasional pada tahun 2015, yaitu 305 per 100.000 kelahiran hidup. Artinya, sebagai penyumbang AKI yang besar terhadap AKI nasional, upaya menurunkan AKI di Jawa Barat tentu akan besar pengaruhnya pada AKI nasional.

Menariknya, menurut data Badan Pusat Stastistik (BPS), persentase jumlah ibu-pernah kawin dengan rentang usia 15—49 tahun yang persalinan terakhirnya mendapat bantuan tenaga kesehatan terlatih atau dilakukan di fasilitas kesehatan mengalami peningkatan dalam periode 2015—2020. Pada 2015, persentase kaum ibu dengan kriteria tersebut di di provinsi Jawa Barat adalah sebesar 88.82%. Adapun pada 2020, persentasenya meningkat menjadi 92.56% meskipun masih ada sekitar 7,44% ibu yang melahirkan tanpa mendapat bantuan tenaga kesehatan terlatih atau dilakukan di fasilitas kesehatan. Salah satu faktornya adalah masih ada 27,48% kaum ibu di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang melahirkan hanya dibantu oleh dukun beranak/paraji. Hal ini menjadikan Kabupaten Garut sebagai kabupaten dengan persentase tertinggi dengan kaum ibu yang melahirkan tanpa mendapat bantuan tenaga kesehatan terlatih atau dilakukan di fasilitas kesehatan.

Jika dilihat dari penggunaan fasilitas kesehatan oleh kaum ibu untuk melahirkan, persentasenya di Provinsi Jawa Barat sudah menunjukkan hasil yang signifikan karena ada peningkatan penggunaan fasilitas tersebut dalam rentang waktu 2015—2020. Pada 2015, sebanyak 79,57% kaum ibu melahirkan di fasilitas kesehatan. Angka ini meningkat menjadi 86.88% pada 2020. Artinya, masih ada sekitar 13,12% kaum ibu yang melahirkan tidak menggunakan fasilitas kesehatan yang ada. Kabupaten Garut masih menjadi kabupaten yang menyumbangkan angka terbesar seprovinsi Jawa Barat, yaitu sebesar 44,15%.

Dari sisi fasilitas kesehatan, BPS mencatat adanya peningkatan jumlah fasilitas kesehatan berupa rumahsakit, rumahsakit bersalin, poliklinik, puskesmas, dan puskesmas pembantu. Pada 2011, fasilitas kesehatan yang tersedia sebanyak 1.030. Jumlah ini meningkat menjadi 6.774 fasilitas kesehatan pada 2019. Artinya, dengan semua data BPS itu, fasilitas sudah memadai karena ada peningkatan hampir enam kali lipat.

Salah satu misi RPJMD Provinsi Jawa Barat tahun 2018 – 2023 adalah “melahirkan manusia yang berbudaya, berkualitas, bahagia dan produktif. Dengan tujuan Renstra 2018-2023 meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dimana salah satu targetnya adalah menurunkan angka kematian ibu menjadi 183 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2024.

Untuk mengejar target yang sudah ditetapkan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mencanangkan gerakan menurunkan angka kematian ibu, yaitu Stopan Jabar (Setop Perkawinan Anak di Jawa Barat). Stopan Jabar merupakan gerakan bersama mencegah cegah perkawinan anak di Jawa Barat dengan melibatkan sinergi lintas sektoral. Stopan Jabar bertujuan menurunkan angka perkawinan anak di Jawa Barat sebagai salah satu upaya menurunkan angka kematian ibu dan anak, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta angka perceraian dan stunting.

Semua ini akan menjadi tantangan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai dan mengedukasi masyarakat agar mau melahirkan di fasilitas kesehatan yang ada sehingga mendapat pelayanan/bantuan dari tenaga kesehatan yang terlatih. Hal ini diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu sehingga tercapai AKI yang ditargetkan baik oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2024 maupun target 3.1 TPB pada tahun 2030. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Masa Kecil Anak Zaman Now!

Netizen Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:40 WIB

Masa kecil merupakan pengalaman atau peristiwa yang terjadi saat masih anak- anak. Masa ini biasanya hanya datang satu k...

Netizen, Masa Kecil Anak Zaman Now!, Permainan Tradisional,anak zaman now

Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat

Netizen Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:32 WIB

Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat

Netizen, Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat, fesyen lambat,Fesyen,Kerusakan Lingkungan

Interpretasi dalam Geowisata

Netizen Kamis, 17 Juni 2021 | 19:40 WIB

Daya tarik geowisata Jawa Barat adalah jawaranya.

Netizen, Interpretasi dalam Geowisata, Interpretasi,geowisata,Jawa Barat

Akankah Bandung Jadi Kota Gurun?

Netizen Kamis, 17 Juni 2021 | 10:00 WIB

Sekitar 50 tahun terakhir ini, Kota Bandung telah kehilangan banyak pohon.

Netizen, Akankah Bandung Jadi Kota Gurun?, Bandung,Kota Gurun,degradasi lahan,Banjir Bandang

Koresponden Bintang Hindia

Netizen Rabu, 16 Juni 2021 | 13:07 WIB

Koresponden Bintang Hindia

Netizen, Koresponden Bintang Hindia, kartawinata,raden kartawinata,koresponden bintang hindia,pers,wartawan

Peran Psikolog Forensik dalam Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Netizen Senin, 14 Juni 2021 | 22:15 WIB

Lalu apa saja peran yang dapat dilakukan oleh Psikolog Forensik saat melakukan pendampingan anak korban kekerasan seksua...

Netizen, Peran Psikolog Forensik dalam Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak, Psikolog Forensik,Kasus,kekerasan seksual,Anak,anak di bawah umur

Menolak Lupa, Paket Album Super Junior Mamacita yang Dicurigai Berisi...

Netizen Jumat, 11 Juni 2021 | 13:05 WIB

Pada Oktober 2014, sebuah laporan menyatakan ada penemuan paket diduga bom di Jatinegara, Jakarta Timur.

Netizen, Menolak Lupa, Paket Album Super Junior Mamacita yang Dicurigai Berisi Bom, Paket Album Super Junior,Mamacita,Bom,Super Junior,ELF

Menurunkan Angka Kematian Ibu

Netizen Kamis, 10 Juni 2021 | 17:15 WIB

Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini berkaitan dengan kaum ibu adalah masih tingginya angka kematian ibu...

Netizen, Menurunkan Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Ibu,AKI,Ibu

artikel terkait

dewanpers