web analytics
  

Sejarah Masjid Cipaganti dan Jejak Wolff Schoemaker di Bandung

Kamis, 10 Juni 2021 13:45 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Bandung Baheula - Baheula, Sejarah Masjid Cipaganti dan Jejak Wolff Schoemaker di Bandung, Sejarah Masjid Cipaganti,Wolff Schoemaker,Bandung,Masjid Cipaganti

Masjid Cipaganti yang dibangun berdasarkan rancangan arsitek Wolff Schoemaker. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Sebenarnya, sejarah Masjid Cipaganti dan jejak Wolff Schoemaker di Bandung, sama-sama kompleks. Deskripsi keduanya berkelok cukup rumit.

Siapa Wolff Schoemaker dan apa kaitannya dengan Masjid Cipaganti? Nama lengkapnya Charles Prosper Wolff Schoemaker. Lahir di Banyubiru, Ambarawa, Jawa Tengah pada 25 Juli 1882. Dan ia belajar arsitek di Breda, Belanda. Pada gilirannya, ia jadi sosok penting di balik pembangunan Masjid Cipaganti.

Perjalanan hidup Wolff Schoemaker cukup kompleks. Terutama jika bicara soal agamanya. 

Salah satu buku penting tentang Schoemaker ditulis oleh sejarawan seni C.J. van Dullemen. Buku berjudul Tropical Modernity: Life and Work of C.P. Wolff Schoemaker ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berupa esai 152 halaman mengenai hidup dan karya Schoemaker sedangkan bagian kedua menceritakan perkembangan desainnya secara kronologis.

Dalam buku itu disebutkan Schoemaker menjalani kehidupan yang tidak biasa. Dia memelihara macan kumbang dan ular di rumahnya. Dia menikah lima kali. Dua perkawinan di antaranya berlangsung sangat singkat sehingga anak pertama dari istri keempatnya lahir sebelum anak terakhir dari istri ketiganya lahir.

Schoemaker dikabarkan kurang disukai oleh komunitas orang Eropa. Bisa jadi karena kehidupannya itu. Bisa juga karena persahabatannya yang kelewat erat dan langgeng dengan bekas muridnya, Soekarno. Namun, bisa pula karena kabar Schoemaker masuk Islam.

Ada dua versi mengenai kapan Schoemaker masuk Islam. Dua-duanya tidak menyebutkan tanggalnya secara jelas. Versi pertama, Schoemaker masuk Islam pada Januari 1934. Informasi itu disampaikan Dr. Khalid Scheldrake saat berkunjung ke Bandung.

Informasi itu disusul dengan berita tanggal 13 Januari 1934 mengenai Schoemaker yang melaksanakan salat Jumat pertamanya setelah masuk Islam. Saat itu tiga orang Eropa, Schoemaker, Dr. Khalid Scheldrake, dan Mr. Simson (sekretaris Dr. Khalid), untuk pertama kalinya salat Jumat di Masjid Agung.

Ketiganya salat dengan mengenakan pantolan, sesuatu yang tidak biasa pada masa itu. Tentu saja kedatangan ketiganya membuat heboh seisi Masjid Agung.

Versi kedua, Schoemaker masuk Islam saat berada di Kairo, Mesir, beberapa tahun sebelumnya. Versi pertama tampaknya lebih masuk akal. Melihat pengetahuan agamanya, Schoemaker tampaknya sudah mempelajari Islam beberapa tahun sebelumnya tapi baru memutuskan masuk Islam pada Januari 1934 itu.

Setelah masuk Islam, kata "Kemal" ditambahkan pada namanya jadi "Kemal Wolff Schoemaker". Kata Kemal diambil dari nama presiden pertama Republik Turki, Mustafa Kemal Atatürk.

Masjid Cipaganti dibuat Sebelum Wolff Schoemaker Masuk Islam

Jika kabar soal Wolff Schoemaker Masuk Islam itu benar, berarti ia merancang pembangungan Masjid Cipaganti saat masih berstatus non-Muslim.

Masjid Cipaganti yang berdiri pada 1933 di Jalan Cipaganti, Kota Bandung, sekarang menjadi salah satu bangunan cagar budaya. Masih berfungsi dengan baik pula sebagai tempat ibadah.

Beberapa bagian bangunan masjid masih mempertahankan desain lama saat pertama kali diarsiteki oleh arsitek Belanda Wolff Schoemaker.

Kebanyakan tulisan tentang sejarah Masjid Cipaganti merujuk pada plakat yang terpasang di salah satu dinding masjid. Dalam plakat itu tertulis, Masjid Cipaganti mulai dibangun 11 Syawal 1351 (7 Februari 1933) dan diresmikan pada 11 Syawal 1352 (27 Januari 1934). 

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Bupati Bandung Raden Tumenggung Hassan Soemadipradja dengan diiringi oleh Patih Bandung Rg. Wirijadinata, dan Kepala Penghulu Bandung Raden Haji Abdoel Kadir.

Tertera tulisan perancang Masjid Cipaganti di bagian bawah prasasti itu, yakni Wolff Schoemaker. Pemborongnya adalah Anggadibrata dengan dibantu oleh Keramisch Laboratorieum (sekarang Balai Besar Keramik).

Prasasti Masjid Cipaganti. (Istimewa)

Meski begitu, tulisan tentang sejarah Masjid Cipaganti juga terkadang dilengkapi sumber lisan dengan tak mengoroborasikannya dengan keterangan lain. Pendeknya, tulisan tentang sejarah Masjid Cipaganti pada umumnya tanpa dinamika.

Masjid Cipaganti tidak dibangun dengan proses pembangunan biasa. Butuh setidaknya enam tahun, dari 1926-1932, sebelum masjid bisa dibangun lagi. 

"Dibangun lagi", frasa itulah yang mesti digarisbawahi. Karena dalam tulisan yang berasal dari investigasi pengurus Masjid Cipaganti, disebutkan bahwa Masjid Cipaganti sudah berdiri sekitar 100 tahun sebelumnya. Berarti bukan tahun 1933, tetapi sekitar tahun 1830-an.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Cipaganti Mochamad Zaenal Muttakin mengonfirmasi pernyataan tersebut. Ia menegaskan Masjid Cipaganti di wilayah Utara Kota Bandung ini sudah ada dan berdiri sejak 1800-an. Tetapi, saat itu masjid masih dibangun dengan material bilik dan bernama Masjid Kaum Cipaganti.

Ia menuturkan, pada 1930-an pemerintah Belanda hendak mengubah kawasan Cipaganti menjadi perumahan elite bagi warganya. Masjid pun hendak dibongkar sebab akan dijadikan jalan oleh pemerintah saat itu.

Namun, para kaum Muslimin keberatan dengan hal tersebut dan menginginkan masjid tetap ada. Seiring waktu, pemerintah Belanda mempersilakan masjid tetap berdiri, namun dengan persyaratan harus dibangun permanen.

"Ditulis di media massa tempo dulu, penghulu Bandung dan masyarakat protes setelah (masjid) diruntuhkan dan mau dijadikan jalan. Pemerintah Belanda akhirnya mempersilakan mau dibikin masjid harus permanen karena di sekeliling mau dibuat perumahan Belanda," ujarnya dikutip dari Republika (jaringan Ayobandung.com).

Menurutnya, masyarakat saat itu akhirnya membangun masjid yang berdiri di tanah wakaf dengan menggunakan dana swadaya dan diarsiteki oleh Wolff Schoemaker. 

Masjid Cipaganti sebelumnya, yang berbahan bilik, memiliki luas area mencapai 8.000 meter persegi. Namun akhirnya menyusut menjadi 2.675 meter persegi setelah jadi Masjid Cipaganti baru yang berbahan permanen.

Polemik historis inilah yang jarang diungkap dalam sejarah Masjid Cipaganti. Sedikit yang menjelaskan bahwa bangunan masjid tahun 1933 itu sebetulnya bangunan baru, mengingat bangunan sebelumnya dirobohkan Gemeenteraad sekitar enam tahun sebelumnya.

Wolff Schoemaker pindah agama lagi

Sebuah tulisan pendek di koran De Tribune, ”Is dit ook Politiek?” (terbit 3 Maret 1934), berspekulasi bahwa masuknya Schoemaker ke Islam lebih berkaitan dengan kepentingan politik ketimbang karena keyakinannya.

Schoemaker masuk Islam agar keberadaannya lebih diterima penduduk pribumi mengingat sentimen terhadap penjajah saat itu terus menguat. Apa yang dilakukan Schoemaker kurang lebih sama dengan yang pernah dilakukan Christiaan Snouck Hurgronje. Sayang, tak ada yang bisa memastikan kebenaran informasi itu.

Yang jelas, kalau melihat makamnya, Schoemaker jelas bukan Islam. Dia dimakamkan Pemakaman Kristen Pandu, tepatnya di Blok CB Kelas I Nomor 1086. Menurut van Dullemen, Schoemaker memang balik lagi menjadi penganut Katolik beberapa saat sebelum dia meninggal dunia dalam interniran Jepang pada 22 Mei 1949.

Selama hidupnya, Schoemaker sudah membuat 62 karya, baik karya sendiri maupun dengan dibantu orang lain. Ada 52 rancangan lainnya yang diduga dibuat Schoemaker tapi van Dullemen tak bisa memastikannya. [*]

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Sejarah Masjid Cipaganti dan Jejak Wolff Schoemaker di Bandung

Baheula Kamis, 10 Juni 2021 | 13:45 WIB

Sebenarnya, sejarah Masjid Cipaganti dan jejak Wolff Schoemaker di Bandung, sama-sama kompleks. Deskripsi keduanya berke...

Bandung Baheula - Baheula, Sejarah Masjid Cipaganti dan Jejak Wolff Schoemaker di Bandung, Sejarah Masjid Cipaganti,Wolff Schoemaker,Bandung,Masjid Cipaganti

Dari Bambu ke Menara, Kronologi Perubahan Masjid Raya Bandung

Baheula Jumat, 21 Mei 2021 | 20:00 WIB

Keberadaan alun-alun senantiasa jadi satu kesatuan dengan masjid raya dan bangunan pemerintahan lainnya.

Bandung Baheula - Baheula, Dari Bambu ke Menara, Kronologi Perubahan Masjid Raya Bandung, Kronologi Perubahan Masjid Raya Bandung,Masjid Raya Bandung,Alun-alun,Kota Bandung,Sejarah

Nostalgia: Perubahan Jalan Braga dari Masa ke Masa

Baheula Kamis, 20 Mei 2021 | 19:05 WIB

Jalan Braga memang tidak terlalu panjang secara fisik, tetapi uraian sejarahnya sama sekali tidak pendek.

Bandung Baheula - Baheula, Nostalgia: Perubahan Jalan Braga dari Masa ke Masa, Perubahan Jalan Braga dari Masa ke Masa,Jalan Braga,Sejarah,Kota Bandung,Jalan Culik,Jalan Pedati,Jalan Wanayasa,Karrenweg,Bragaweg

Mengintip Lagi Kelamnya Penjara Banceuy di Bandung Tahun 1930-an

Baheula Senin, 10 Mei 2021 | 17:35 WIB

Tak jauh dari keramaian Jalan Braga dan Asia Arfrika, di pusat Kota Bandung, tersisa situs sejarah terpencil.

Bandung Baheula - Baheula, Mengintip Lagi Kelamnya Penjara Banceuy di Bandung Tahun 1930-an, penjara banceuy,Bandung,Tahun 1930-an,Soekarno,Sejarah

Tewasnya Laksda Udara dalam Kecelakaan Pesawat di Tegalega

Baheula Kamis, 6 Mei 2021 | 16:25 WIB

Sang jenius berusaha untuk mendarat darurat di Lapangan Tegalega, Bandung, namun gagal.

Bandung Baheula - Baheula, Tewasnya Laksda Udara dalam Kecelakaan Pesawat di Tegalega, Nurtanio Pringgoadisuryo,Tegalega,Kota Bandung,Pesawat,Kecelakaan,Kerusakan Mesin,Jokowi

Dari Rebocco Sampai Red Fox, Urat Nadi Sejarah Bisbol Bandung 

Baheula Rabu, 5 Mei 2021 | 16:40 WIB

Di samping kultur sepak bola yang sudah mendarah daging, Bandung sebetulnya punya klub bisbol legendaris yang layak diba...

Bandung Baheula - Baheula, Dari Rebocco Sampai Red Fox, Urat Nadi Sejarah Bisbol Bandung , Sejarah Bisbol Bandung,Rebocco,Red Fox,Perserikatan Bisbol dan Sofbol Amatir Seluruh Indonesia,Perbasasi Bandung

Hilangnya Insulindepark dan Sejarah Taman Lalu Lintas di Bandung

Baheula Selasa, 4 Mei 2021 | 15:00 WIB

Namanya berubah-ubah, dari Insulindepark sampai Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution, begitu pula fungsinya.

Bandung Baheula - Baheula, Hilangnya Insulindepark dan Sejarah Taman Lalu Lintas di Bandung, Taman Insulinde,Insulindepark,Taman Lalu Lintas,Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution,Taman Nusantara,Bandung,Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL),Hindia Belanda

Di Bandung 1961, Debut Perdana Indonesia dalam Piala Davis

Baheula Senin, 3 Mei 2021 | 15:20 WIB

Ini merupakan debut perdana Indonesia di Piala Davis bersama dengan Maroko dan Ekuador.

Bandung Baheula - Baheula, Di Bandung 1961, Debut Perdana Indonesia dalam Piala Davis, Bandung,1961,Piala Davis,Tenis,Indonesia,Petenis Indonesia,Tan Liep Tjiauw,Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PELTI)

artikel terkait

dewanpers