web analytics
  

Menikahkan Anak

Rabu, 9 Juni 2021 13:55 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Menikahkan Anak, Raden Kartawinata,Raden Kartawinata mulai menikahkan anak-anaknya,Raden Soeria Karta Negara,Soeria Karta Legawa

Pelantikan menantu Kartawinata, Soeria di Ningrat, sebagai bupati Cianjur pada tahun 1920. (KITLV 6373)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

Dua tahun setelah diangkat menjadi zelfstandig patih Sukabumi, Raden Kartawinata mulai menikahkan anak-anaknya. Anak pertama yang dinikahkannya adalah sulungnya, yaitu Raden Soeria Karta Negara atau Trenggana, sesuai dengan nama pada undangan khitanan tujuh tahun sebelumnya.

Dalam Java-bode (8 Maret 1894) disebutkan bahwa Soeria Karta Negara menikahi Raden Adjeng Modjaningrat (“Getrouwd RADEN SOERJA KARTA NAGARA en RADEN ADJENG MODJANINGRAT”), anak Bupati Garut R.A.A. Wiratanudatar VIII di Garut, pada 1 Maret 1894. Ini mengandung arti Kartawinata menikahkan anaknya dengan anak kakak iparnya, mengingat Kartawinata menikahi adiknya Wiratanudatar VIII, yakni Ny.Rd. Alkiyah alias Ny. R. Rajakusumah alias Nyi. Rd. Rajaretna. Sekaligus pula mengandung arti bahwa Kartawinata menikahkan anaknya dengan anak tiri saudarinya, karena Lasminingrat menikah dengan Wiratanudatar VIII.

Pada tahun yang sama, Kartawinata menikahkan anak lelakinya yang kedua, Soeria Karta Legawa atau Mamoer dengan anak mantan patih Sukabumi Raden Demang Kartadikoesoemah. Pernikahan tersebut berlangsung di Sukabumi pada 14 Desember 1894 (Java-bode, 20 Desember 1894). Dalam “stamboom” dan tulisan “Garut Era Kepemimpinan  Bupati R.A.A. Soeria Kertalegawa (1915-1929)” karya Maman Darmansyah (dalam Jurnal  Renaissance Vol 3 No. 02, Agustus 2018) disebutkan bahwa Soeria Karta Legawa menikah dengan Nyi Raden Tedjamirah pada 10 Desember 1894. Pasangan tersebut dikaruniai anak, yaitu Rd. Moehammad Moesa Kertalegawa (Bupati Garut setelahnya dan pendiri negara Pasundan pada 4 Mei 1947), Nyi Raden Ajeng Siti Hadidjah, dan Raden Doelkarnaen (bupati Lebak).

Saya pikir ini juga merupakan pernikahan antarkerabat. Disebut demikian mengingat ada kemungkinan Kartadikoesoemah masih punya pertalian keluarga dengan R.H. Moehamad Moesa (1822-1886). Dugaan tersebut bisa dibaca dari berita tentang kematian Moesa pada 10 Agustus 1886 (Java-bode, 4 September 1886). Ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah berbela sungkawa atas kematian ayah dan ayah mertua (“onzen beminden vader en behuwdvader”) diberi keterangan oleh Soeria Nata Ningrat (Regent van Lebak) sebagai anak, Aria Wira Tanoe Datar (Regent van Limbangan) sebagai menantu, Karta Winata (Patih van Soemedang) sebagai anak, dan Karta di Koesoema (Patih van Soekaboemi).

Dari keterangan tersebut, saya lebih cenderung menganggap Kartadikoesoemah atau Karta di Koesoema adalah menantu Moesa. Karena dalam daftar anak-anak Moesa tidak terdapat nama Kartadikoesoemah sebagai anaknya, sehingga kemungkinannya ia menikahi salah seorang anak perempuan Moesa. Sebagai tambahan, Kartadikoesoemah agaknya juga berasal dari Kabupaten Limbangan seperti Moesa, karena sebelum menjabat sebagai patih Sukabumi, ia sempat menjabat sebagai wedana Panembong (Kabupaten Limbangan) hingga 1878 lalu patih Limbangan sejak Desember 1878 (Java-bode, 4 Desember 1878) atau sejak 29 November 1878 menurut Regeerings-Almanak voor Nederlandsch Indie 1880 (1879: 187). Dengan demikian, Kartawinata menikahkan anaknya dengan anak dari kakak atau adiknya.

Setahun kurang setelah menikahkan Soeria Karta Legawa, Kartawinata dianugerahi gelar “demang”, sehingga yang semula bernama Raden Rangga Soeria Nata Legawa menjadi  Raden Demang Soeria Nata Legawa. Pemberian gelar tersebut berbarengan dengan anugerah “rangga” bagi Raden Prawira Atmadja (“ondercollecteur van het regentschap Limbangan”) dan Mas Nangaredja (“wedono van Kandangwesi, regentschap Soekapoera”) (Bataviaasch handelsblad, 25 September 1895, dan De locomotief, 27 September 1895).

Sekitar tiga tahun kemudian, Kartawinata punya hajatan lagi terkait dengan anaknya. Kali itu bukan pernikahan, melainkan pertunangan. Dalam Bataviaasch nieuwsblad (7 Juni 1898) disebutkan bahwa Pamekas alias Raden Pandji Soeria Nata Pamekas anak laki-laki Kartawinata yang keempat dipertunangkan dengan Raden Adjeng Parmananingrat, anak Bupati Lebak R.A. Soeria Nata Ningrat. Resepsi pertunangannya dilangsungkan di pendopo kabupaten di Rangkasbitung pada 7 Juni 1898 jam 21.00. Untuk keperluan ini, Kartawinata mengajukan cuti meninggalkan Sukabumi menuju Rangkasbitung, selama sepuluh hari (De Preanger-bode, 6 Juni 1898).

Sudah jelas, pertunangan ini pun dilandasi oleh hubungan kekerabatan, karena Soeria Nata Ningrat adalah kakak kandung Kartawinata. Mereka sama-sama anak Moesa dari istrinya Raden Ajoe Perbata Mirah. Menurut keterangan dari obituarinya (Bataviaasch handelsblad, 21 Januari 1908), Soeria Tanoe Ningrat meninggal di Rangkasbitung pada 28 November 1907 dalam usia 63 tahun, yang berarti tahun kelahirannya adalah 1844, terpaut sekitar 8 tahun usianya dengan Kartawinata. Soeria Tanoe Ningrat berturut-turut sempat menjabat sebagai asisten wedana Limbangan (1862), hoofdmantri Limbangan (1864), jaksa Cianjur (1868), patih Sukapura Kolot (1871), dan bupati Lebak sejak 23 Oktober 1880. Selama menjabat sebagai bupati, ia dianugerahi gelar “adipati” pada 17 Oktober 1890, “kleine gouden ster van Trouw en Verdienste” pada 5 November 1898, mendapatkan songsong (payung kebesaran) pada 20 Agustus 1901, “officier in de orde van Oranje Nassau” pada 27 Agustus 1904, dan gelar “aria” pada 5 Oktober 1905.

Di sisi lain, saat ditunangkan, Soeria Nata Pamekas masih kelas tiga di Gymnasium Willem III, Batavia (Bataviaasch nieuwsblad, 15 Mei 1897). Pada 1899, dia dipromosikan untuk naik ke kelas lima (Bataviaasch nieuwsblad, 13 Mei 1899). Keterangan ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Clockener Brousson (“Indische Penkrassen. CXXVI” dalam Arnhemsche courant, 21 Oktober 1905). Dalam tulisannya, Brousson antara lain menyatakan bahwa Soeria Nata Pamekas mula-mula belajar di instituut Kok van Diggelen, Weltevreden, lalu lulus kelas lima Gymnasium Willem III. Saat sekolah, ia di bawah pengawasan dan arahan Dr. C. Snouck Hurgronje.

Setahun lebih kemudian, lagi-lagi Kartawinata dan Soeria Nata Ningrat sama-sama punya hajat. Mereka mempertunangkan anaknya lagi. Kali ini acaranya dilangsungkan di Sukabumi pada 2 November 1899 (Bataviaasch nieuwsblad, 6 November 1899). Ini mengandung arti yang menjadi pribumi atau bapak dari anak perempuannya adalah Kartawinata, sementara pihak laki-lakinya dari keluarga Soeria Nata Ningrat.

Siapakah anak perempuan Kartawinata itu? Untuk menjawabnya, kita dapat membaca keterangan dari De Preanger-bode (14 Desember 1900). Dalam koran tersebut disebutkan bahwa pada 12 Desember 1900, Kartawinata dan Soeria Nata Ningrat mengumumkan rasa terima kasih atas terselenggaranya pernikahan anak-anak mereka, yaitu Raden Soeria di Ningrat dengan Raden Adjeng Radja Kantjana dan Raden Soeria Nata Pamekas dengan Raden Adjeng Permana Ningrat. Alhasil, anak Kartawinata yang ditunangkan pada 1899 dan dikawinkan dengan Soeria di Ningrat adalah Radja Kantjana. Sementara Soeria Nata Pamekas nampaknya baru dinikahkan setelah dia lulus kelas lima dari Gymnasium Willem III.

Sedangkan anak laki-laki kelima Kartawinata, Abas Suria Nata Atmadja baru bertunangan setelah tujuh tahun Kartawinata meninggal. Abas bertunangan (“verloofd”) dengan Raden Adjeng Ratna Poernama atau Djoeag Nana pada 2 Juli 1914 (De Expres, 2 Juli 1914). Bila menilik riwayat hidupnya dalam Orang Indonesia yang Terkemuka di Jawa (1986: 94), saat itu Abas baru setahun menamatkan sekolah di HBS V (1913) dan berusia 21 tahun.

Dari uraian di atas, dapat saya simpulkan bahwa seperti umumnya kalangan menak atas, Kartawinata cenderung menikahkan anak-anaknya dengan anak-anak keluarganya juga. Sudah pasti alasannya adalah demi mempertahankan terah kebangsawanannya sekaligus mempertahankan posisi-posisi strategis di puncak birokrasi kolonial yang dapat dicapai kalangan pribumi.

Contohnya adalah menantunya, Soeria di Ningrat anak kakaknya, nanti diangkat menjadi bupati Cianjur antara 1920-1932, sebagai pengganti R.T. Wiranatakoesoemah V. Saat Soeria di Ningrat dilantik dari posisinya yang semula sebagai patih Serang, ia ditemani Bupati Lebak R.A.A. Soeria di Poetra (diangkat 4 Maret 1908) yang notabene kakaknya dan suami dari R.A. Radjapamerat atau menantu R.A. Lasminingrat (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27 Desember1920, dan Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indie 1921, tweede deel, 1921: 195). [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen Selasa, 22 Juni 2021 | 10:21 WIB

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen, Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati, limbah,Jatinangor,desa cisempur,Kahatex,kebersihan lingkungan

Modus Pelecehan Seksual Baru di Media Sosial

Netizen Senin, 21 Juni 2021 | 07:00 WIB

Pelecehan seksual di Indonesia merupakan salah satu kasus yang sering meningkat setiap tahunnya.

Netizen, Modus Pelecehan Seksual Baru di Media Sosial, Pelecehan Seksual,Media Sosial,Indonesia,Twitter

Diam di Rumah Namun Tetap Punya Penghasilan? Coba Bidang Ini

Netizen Senin, 21 Juni 2021 | 06:25 WIB

Berdiam diri di rumah saat pandemi, namun tetap dapat penghasilan akan menjadi suatu angan–angan bagi setiap orang.

Netizen, Diam di Rumah Namun Tetap Punya Penghasilan? Coba Bidang Ini, Diam di Rumah,Penghasilan,Industri Kreatif,Desain Grafis

Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu

Netizen Minggu, 20 Juni 2021 | 10:40 WIB

Kegagalan akan selalu ada, namun tidak berarti kegagalan ini akhir dari segalanya.

Netizen, Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu, SBMPTN,karier,Pendidikan

Ironi Tanggal Merah Saat Pandemi

Netizen Minggu, 20 Juni 2021 | 09:00 WIB

Entah bosan atau memang terlalu percaya diri sehingga setiap tanggal merah, jalan menuju tempat wisata tak pernah sepi.

Netizen, Ironi Tanggal Merah Saat Pandemi, Tanggal Merah,Pandemi,Libur

Masa Kecil Anak Zaman Now!

Netizen Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:40 WIB

Masa kecil merupakan pengalaman atau peristiwa yang terjadi saat masih anak- anak. Masa ini biasanya hanya datang satu k...

Netizen, Masa Kecil Anak Zaman Now!, Permainan Tradisional,anak zaman now

Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat

Netizen Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:32 WIB

Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat

Netizen, Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat, fesyen lambat,Fesyen,Kerusakan Lingkungan

Interpretasi dalam Geowisata

Netizen Kamis, 17 Juni 2021 | 19:40 WIB

Daya tarik geowisata Jawa Barat adalah jawaranya.

Netizen, Interpretasi dalam Geowisata, Interpretasi,geowisata,Jawa Barat
dewanpers