web analytics
  

Sinetron Televisi Indonesia: Antara Impian dan Kenyataan Masyarakat Kita

Selasa, 8 Juni 2021 15:15 WIB Netizen Taufiq Sudjana
Netizen, Sinetron Televisi Indonesia: Antara Impian dan Kenyataan Masyarakat Kita, Sinetron Televisi Indonesia,Sinetron,Badan Pusat Statistik (BPS),Garis Kemiskinan (GK),Hasil survei BPS,Impian,Kenyataan

Ilustrasi Sinetron Televisi Indonesia. ( Dok. Pribadi)

Taufiq Sudjana

Penulis adalah anggota Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB).

Kalau kita amati, dalam sinetron di televisi kita, akan kita temukan dua hal. Pertama, sinetron adalah impian tertinggi masyarakat kita. Kedua, sinetron adalah gambaran realitas yang ada di masyarakat.

Sinetron adalah Impian Tertinggi Masyarakat

Hal pertama yang akan saya bahas mengenai impian tertinggi masyarakat yang tercermin dalam sinetron. Apa saja impian-impian tersebut?

  1. Keluarga kecil. Dalam sinetron, jarang sekali ada sebuah peran yang diceritakan berasal dari keluarga besar. Kebanyakan sinetron kita menggambarkan keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan satu anak atau dua anak saja.
  2. Keluarga dengan kelas ekonomi menengah ke atas. Kehidupan dalam sinetron kita lebih banyak diwarnai oleh keluarga dengan tingkat ekonomi yang bisa disebut keluarga kaya.
  3. Profesi pengusaha. Banyak sinetron kita menyematkan peran kepada tokoh-tokohnya adalah sosok pengusaha, pegawai kantoran, atau wirausaha. Meski sering kali kita disuguhkan cerita yang tidak menjelaskan tokoh dalam cerita itu bekerja di mana dan sebagai apa. Namun kebanyakan menceritakan tokoh-tokoh yang pergi-pulang kerja dengan pakaian berdasi.

Setidaknya tiga hal tersebut menjadi gambaran impian besar masyarakat kita. Impian itu tercermin dari suguhan tayangan sinetron. Lantas apakah kenyataan masyarakat kita seperti itu?

Realitas masyarakat kita mayoritas adalah individu-individu atau keluarga yang -meski tidak sepenuhnya- bertolak belakang dengan gambaran tersebut di atas. Justru ada beberapa kontradiksi yang tampak. Bagaimana gambaran riilnya?

Pertama, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Hasil Sensus Penduduk tahun 2020. Jumlah penduduk Indonesia sampai bulan September 2020 sebanyak 270,20 juta jiwa. Laju pertumbuhan penduduk naik 1,25%.

Adapun dari total penduduk Indonesia per akhir tahun lalu, mayoritas berjenis kelamin perempuan yakni sebanyak 137.119.901 jiwa. Sementara penduduk laki-laki berjumlah 137.119.901 jiwa. Sedangkan, jumlah kartu keluarga yang tercatat mencapai 86.437.053 kartu keluarga. Jika dirata-rata dalam satu KK terdapat 3 anggota keluarga.

Kedua, tingkat ekonomi masyarakat secara umum dapat mencermati data statistik BPS. Persentase Penduduk Miskin September 2020 naik menjadi 10,19 persen, ini yang dirilis oleh BPS pada tanggal 12 Februari 2021 lalu.

Dalam Berita Resmi Statistik No. 16/02/Th. XXIV, 15 Februari 2021, pada periode Maret 2010–September 2020, tingkat kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan, baik dari sisi jumlah maupun persentase, perkecualian pada September 2013, Maret 2015, Maret 2020, dan September 2020. Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode September 2013 dan Maret 2015 dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai akibat dari kenaikan harga bahan bakar minyak. Sementara itu, kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode Maret 2020 dan September 2020 disebabkan oleh adanya pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia.

Angka terbesar jumlah penduduk miskin berada di wilayah Provinsi Jawa Timur (4.585,97 jiwa), Jawa Barat (4.188,52 jiwa), dan Jawa Tengah (4.119,93 jiwa). Namun jika dilihat dari persentase penduduk miskin yang paling tinggi berada di wilayah Provinsi Papua (26,80%), Papua Barat (21,70%), dan Nusa Tenggara Timur (21,21%).

Ketiga, penghasilan rata-rata penduduk Indonesia yang termasuk kategori miskin. BPS menyebutnya Garis Kemiskinan. Garis kemiskinan atau batas kemiskinan adalah tingkat minimum pendapatan yang dianggap perlu dipenuhi untuk memperoleh standar hidup yang mencukupi di suatu negara.

Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.

Hasil survei BPS tentang Garis Kemiskinan per Kapita diperoleh gambaran penghasilan per kapita penduduk paling rendah berada di wilayah Sulawesi Barat (Rp 352.874), Sulawesi Selatan (Rp 362.031), dan Sulawesi Tenggara (Rp 368.529). Secara nasional GK per Kapita berada pada angka Rp 458.947.

Kemudian data Garis Kemiskinan per Rumah Tangga Miskin terendah berada di wilayah Sulawesi Selatan (Rp 1.770.332), Nusa Tenggara Barat (Rp 1.782.982), dan Jawa Timur (Rp 1.798.330). Rata-rata dari keseluruhan wilayah nasional berada pada angka Rp 2.216.714.

Jadi, menurut angka itu dapat dikatakan bahwa batas kemiskinan adalah penduduk yang berpenghasilan di bawah 450 ribu dan keluarga yang memiliki penghasilan di bawah 2,2 juta. Apa pun itu profesinya, jika penghasilannya berada di ambang batas Garis Kemiskinan termasuk kategori penduduk miskin.

Sinetron adalah Gambaran Kenyataan Masyarakat

Belakangan kita mendengar kabar sinetron Suara Hati Istri: Zahra dihentikan. Pihak stasiun televisi yang menayangkannya beserta rumah produksi sinetron itu sudah dipanggil Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Apa yang menuai kritik adalah mencakup jalan cerita dan kesesuaiannya dengan klasifikasi program siaran yang telah ditentukan (R) serta penggunaan artis yang  masih berusia 15 tahun untuk berperan sebagai istri ketiga. Setidaknya itu menurut KPI. Sinetron itu memiliki muatan yang berpotensi melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) KPI 2012.

Lantas, bagaimana gambaran yang ada di masyarakat? Mari kita kembali mengamati data BPS terkait proporsi perempuan umur 20-24 yang berstatus kawin sebelum umur 18.

Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan angka perempuan menikah sebelum usia 18 tertinggi di Indonesia yaitu 21,2%. Selanjutnya Kalimantan Tengah (20,2%), dan Sulawesi Barat (19,2%).

Angka pernikahan dini di pulau Jawa sendiri yang penduduknya padat diperoleh data tertinggi sebesar 12,3% di Jawa Barat. Selanjutnya Jawa Timur (11,1%), Jawa Tengah (10,2%), Banten (6,0%), DKI Jakarta (3,1%), dan DI Yogyakarta (3,1%). Secara nasional, angka pernikahan dini adalah 10,82%.

Data yang mengejutkan justru terletak pada data penduduk laki-laki di Indonesia saat ini lebih banyak (136,66 juta orang) dibanding penduduk perempuan (133,54 juta orang).

Terlepas dari hasil sinkronisasi BPS terhadap data Sensus dengan data Adminduk Ditjen Dukcapil Kemendagri, ada dua pertanyaan yang muncul. Apakah keadaan ini penyebab semakin mencuatnya pelaku LGBT? Kedua, apakah ini memicu impian pria untuk berpoligami?

Nyatanya, sinetron kita menyuguhkan impian-impian tersebut. Akan tetapi, tidak bijak jika kita menyimpulkan dengan gegabah. Toh, sinetron adalah cerita fiktif. Meski ada di antaranya yang diangkat dari kisah nyata, ia tetap dibungkus sedemikian rupa. Hal yang disayangkan adalah mereka membungkusnya hanya demi rating, promo, dan barangkali alasan mencari pemain muda karena tidak harus membayar sejumlah besar dana seperti artis senior.

Langkah KPI perlu kita dukung untuk terus mengawal konten-konten siaran televisi. Sebab, tidak jarang di antara kita terbawa hanyut alur cerita, meniru, hingga terobsesi oleh tokoh-tokoh dalam cerita di dalamnya. Sejauh hal itu positif dan tidak menimbulkan dampak negatif, kita pun perlu mendukung kreativitas sineas pertelevisian kita. Namun, seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, alangkah perlu juga memantau konten-konten tayangan selain yang ada di layar televisi. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Trend Minum Kopi di Indonesia dan Manfaat Gizinya

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 15:39 WIB

Eksistensi kopi di Indonesia bermula dari budaya minum kopi pada masa kedatangan bangsa Belanda pada abad ke-17, ke Ind...

Netizen, Trend Minum Kopi di Indonesia dan Manfaat Gizinya, Minum Kopi,manfaat  minum kopi,sejarah kopi,trend minum kopi

Perokok Terburuk Adalah yang Orang Merokok Saat Berkendara

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 13:05 WIB

Banyak orang masih melakukan tindakan yang mengganggu orang disekitarnya. Salah satunya dengan merokok saat mengendarai...

Netizen, Perokok Terburuk Adalah yang Orang Merokok Saat Berkendara, Rokok,Merokok,Perokok,Berkendara,mengendarai sepeda motor,pasal 283 UU Nomor 22 Tahun 2009

Memasuki Masa Pensiun

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 10:41 WIB

Secara resmi, Raden Kartawinata dihentikan sebagai zelfstandig patih Sukabumi pada tanggal 8 Oktober 1905.

Netizen, Memasuki Masa Pensiun, raden kartawinata, sejarah sunda,tempo dulu

Begini Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 08:00 WIB

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita.

Netizen, Begini Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh, Daya Tahan Tubuh,Kesehatan,Tips,Gaya Hidup,Pola Makan

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen Selasa, 22 Juni 2021 | 10:21 WIB

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen, Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati, limbah,Jatinangor,desa cisempur,Kahatex,kebersihan lingkungan

Modus Pelecehan Seksual Baru di Media Sosial

Netizen Senin, 21 Juni 2021 | 07:00 WIB

Pelecehan seksual di Indonesia merupakan salah satu kasus yang sering meningkat setiap tahunnya.

Netizen, Modus Pelecehan Seksual Baru di Media Sosial, Pelecehan Seksual,Media Sosial,Indonesia,Twitter

Diam di Rumah Namun Tetap Punya Penghasilan? Coba Bidang Ini

Netizen Senin, 21 Juni 2021 | 06:25 WIB

Berdiam diri di rumah saat pandemi, namun tetap dapat penghasilan akan menjadi suatu angan–angan bagi setiap orang.

Netizen, Diam di Rumah Namun Tetap Punya Penghasilan? Coba Bidang Ini, Diam di Rumah,Penghasilan,Industri Kreatif,Desain Grafis

Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu

Netizen Minggu, 20 Juni 2021 | 10:40 WIB

Kegagalan akan selalu ada, namun tidak berarti kegagalan ini akhir dari segalanya.

Netizen, Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu, SBMPTN,karier,Pendidikan
dewanpers