web analytics
  

Menlu Mochtar Kusumaatmadja dalam Kenangan

Senin, 7 Juni 2021 11:29 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Menlu Mochtar Kusumaatmadja dalam Kenangan, Mochtar Kusumaatmadja,Mochtar Kusumaatmadja wafat,dubes ri

Mochtar Kusumaatmadja (wikipedia)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM--Kecemasan mulai menyeruak beberapa bulan lalu. Agustinus Sumartono, Dubes RI untuk Namibia dan Angola  ada Januari 2012 hingga Januari 2016, memberitahu mantan Menlu Mochtar Kusumaatmadja terbaring sakit. Segera terbayang wajah pejabat dengan latar belakang akademisi yang mumpuni dan semangat nasionalisme yang tinggi.

Kecemasan itu menjadi kenyataan. Minggu pagi, 6 Juni 2021, pak Mochtar pulang ke Rahmatullah dalam usia 92 tahun. Indonesia kehilangan lagi seorang putra bangsa yang layak menjadi teladan. Almarhum berperan dalam mengupayakan dunia pengakuan atas konsep Indonesia sebagai Negara Kepulauan. Berkat kegigihannya dunia mengakui hak Indonesia merealisasikan konsep itu yang berisi batas laut teritorial, batas darat dan batas landas kontinen Indonesia.  

Tentu saja pak Mochtar tidak sendiri. Adalah Perdana Menteri Ir H. Djoeanda Kartawidjaja yang awalnya mencanangkan batas laut Indonesia sejauh 12 mil dari garis pantai Indonesia, ditambah dengan laut di antara kepulauan Indonesia, terlepas dari  jaraknya dari garis pantai. Deklarasi Djoeanda, begitulah nama resminya yang dicanangkan pada 13 Desember 1957.

Sebelum ada Deklarasi Djoeanda, wilayah perairan Indonesia hanya tiga mil dari garis pantai. Selepas tiga mil dianggap bukan wilayah kedaulatan Indonesia, melainkan perairan internasional. Bayangkan juga, Indonesia juga tidak berdaulat atas sebagian besar luas laut laut di antara Kalimantan-Sulawesi sebagian akan menjadi  

 Kalau tak ada Deklarasi Djoeanda, rakyat Indonesia hanya bisa termangu menyaksikan kapal-kapal asing berbagai jenis wira-wiri menguras ikan komersial, unjuk kekuatan, mengeksplorasi migas dan mineral lain.

Mochtar muda,yang pada 1958 menamatkan studi hukum di Fakultas Hukum  Universitas Indonesia, yang saat itu berlokasi di Bandung, tentu sudah tahu tentang Deklarasi Djoeanda bahkan disebut turut serta merumuskannya. Bukankah selain kedekatan subyek, saat itu  jumlah intelektual masih bisa dihitung dengan jari?

Saat diangkat menjadi Menlu pada 1978-1988, maka posisi itu membuatnya seperti sumbu ketemu tutup dengan perjuangan mensukseskan Deklarasi Djoeanda, yang kemudian menjadi Konsep Indonesia sebagai Negara Kepulauan di berbagai forum internasional, regional dan bilateral. Akhirnya konsep tersebut diakui secara internasional ketika diambil sebagai bagian dari tatanan kodifikasi hukum internasional pada konvensi hukum laut PBB  (UNCLOS) di Montego Bay, Jamaika pada 10 Desember 1982.

Keberhasilan mewujudkan pengakuan dunia atas Konsep Indonesia sebagai Negara Kepulauan itu tidak dipungkiri  berkat kerjasama antar departemen dan prestasi Indonesia pada saat itu. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, pertumbuhan ekonomi rata-rata 6-7% per tahun, terlepas sebab ada peran pinjaman luar negeri yang belakangan membuat pertumbuhan itu rapuh. Indonesia juga sangat berpengaruh dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), Gerakan Non-Blok, ASEAN dan perundingan bilateral.

Dalam departemen luar negeri sendiri (sebutan saat itu), Menlu Mochtar didukung tim diplomat  yang andal. Mulai dari Anwar Sani, Ali Alatas hingga Hasyim Djalal. Mereka tak kenal lelah meyakinkan negara lain termasuk Malaysia dan Singapura yang cemas Indonesia bakal mendominasi selat Malaka.

Sebelumnya, Indonesia juga bersama-sama negara berkembang menyetujui Konsep Zona Eksklusif Ekonomi (ZEE)  yang diajukan Kenya. ZEE luasnya 200 mil laut dari garis dasar pantai. Dalam zona tersebut sebuah negara pantai mempunyai hak atas kekayaan alam di dalamnya, dan berhak menggunakan kebijakan hukumnya, kebebasan bernavigasi, terbang di atasnya, ataupun melakukan penanaman kabel dan pipa. Konsep ini diterima mayoritas negara-negara peserta Konvensi Internasional Hukum Laut PBB (UNCLOS)1975.

Sebagai wartawan yang bertahun-tahun meliput kegiatan Menlu Mochtar, saya sedikit paham beban tugasnya. Selain memperjuangkan Konsep Negara Kepulauan, Deplu juga ketimpa beban masalah Timor Timur. Bagaimana mungkin negara yang mendukung penghapusan penjajahan dari muka  bumi, mengirim tentara ke Timor Timur untuk mencegah kelompok komunis  berkuasa. Pada awalnya Amerika Serikat dan Australia mendukung, namun di ujung cerita malah berbalik.    

Diantara kesibukannya yang padat, pak Mochtar hobi bermain catur. Turun langsung dalam pertandingan catur antar karyawan Deplu. Malahan juga memenuhi undangan kantor media.

Henk Edward Saroinsong, mantan Konjen di Houston, Texas, bercerita redaksi Harian Sinar Harapan mengundang bertanding tim pecatur Deplu di kantor redaksi di Cawang. Sebagai juara Deplu, Henk berada di papan kedua sedangkan Menlu Mochtar di papan pertama.

Pertandingan dimulai setelah makan nasi bungkus masakan Padang. Sepanjang pertandingan, para wartawan sengaja menggoda pak Mochtar agar tak bisa berkonsentrasi.

‘Wah, raja bapak mau dirudal Exocet."

Pertandingan berakhir dengan kekalahan tim Deplu.

Di balik kaca mata tebal, berwajah serius, komentar menohok karena kelewat pintar dan paham masalah, pak Mochtar punya rasa humor yang tidak terduga.

Suatu malam di Golden Ballroom Hotel Hilton, Jakarta, dia mendatangi saya dan sedang berbincang dengan seorang kawan. Keluarlah, cerita humornya. 

Di China, seorang lelaki yang berusia 60 tahun akan menikah lagi.

Syaratnya, wanita yang bersangkutan harus berusia separuh dari 60 ditambah sembilan.

Di bawah jumlah itu, kita tak kuat. Di atas umur 39 tahun, kita dapat apa?

Saya ceritakan hal ini ke ibu. Ibu marah, kata pak Mochtar dengan suara yang khas.

Kepergian pak Mochtar menyebabkan kehilangan bagi keluarga dan bangsa Indonesia. Namanya harus diabadikan, dikenang dalam konteks keilmuan maupun kenegaraan. Jasa-jasanya harus dikenang dalam khazanah sejarah Indonesia. 

Kang Mumu, panggilan bisik-bisik di kalangan wartawan, adalah contoh pejabat yang langka apalagi bila diukur kondisi saat ini. Ketika kebenaran, kejujuran dan kesetiaan kepada negara menjadi barang langka.

Semoga dharma bakti almarhum memperoleh imbalan jannah! Aamiin. YRA!

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Trend Minum Kopi di Indonesia dan Manfaat Gizinya

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 15:39 WIB

Eksistensi kopi di Indonesia bermula dari budaya minum kopi pada masa kedatangan bangsa Belanda pada abad ke-17, ke Ind...

Netizen, Trend Minum Kopi di Indonesia dan Manfaat Gizinya, Minum Kopi,manfaat  minum kopi,sejarah kopi,trend minum kopi

Perokok Terburuk Adalah yang Orang Merokok Saat Berkendara

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 13:05 WIB

Banyak orang masih melakukan tindakan yang mengganggu orang disekitarnya. Salah satunya dengan merokok saat mengendarai...

Netizen, Perokok Terburuk Adalah yang Orang Merokok Saat Berkendara, Rokok,Merokok,Perokok,Berkendara,mengendarai sepeda motor,pasal 283 UU Nomor 22 Tahun 2009

Memasuki Masa Pensiun

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 10:41 WIB

Secara resmi, Raden Kartawinata dihentikan sebagai zelfstandig patih Sukabumi pada tanggal 8 Oktober 1905.

Netizen, Memasuki Masa Pensiun, raden kartawinata, sejarah sunda,tempo dulu

Begini Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 08:00 WIB

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita.

Netizen, Begini Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh, Daya Tahan Tubuh,Kesehatan,Tips,Gaya Hidup,Pola Makan

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen Selasa, 22 Juni 2021 | 10:21 WIB

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen, Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati, limbah,Jatinangor,desa cisempur,Kahatex,kebersihan lingkungan

Modus Pelecehan Seksual Baru di Media Sosial

Netizen Senin, 21 Juni 2021 | 07:00 WIB

Pelecehan seksual di Indonesia merupakan salah satu kasus yang sering meningkat setiap tahunnya.

Netizen, Modus Pelecehan Seksual Baru di Media Sosial, Pelecehan Seksual,Media Sosial,Indonesia,Twitter

Diam di Rumah Namun Tetap Punya Penghasilan? Coba Bidang Ini

Netizen Senin, 21 Juni 2021 | 06:25 WIB

Berdiam diri di rumah saat pandemi, namun tetap dapat penghasilan akan menjadi suatu angan–angan bagi setiap orang.

Netizen, Diam di Rumah Namun Tetap Punya Penghasilan? Coba Bidang Ini, Diam di Rumah,Penghasilan,Industri Kreatif,Desain Grafis

Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu

Netizen Minggu, 20 Juni 2021 | 10:40 WIB

Kegagalan akan selalu ada, namun tidak berarti kegagalan ini akhir dari segalanya.

Netizen, Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu, SBMPTN,karier,Pendidikan
dewanpers