web analytics
  

Jalan Katapang, Jalan Pusaka Kota Bandung

Kamis, 3 Juni 2021 14:15 WIB Netizen T Bachtiar
Netizen, Jalan Katapang, Jalan Pusaka Kota Bandung, Jalan Katapang,Jalan Pusaka Kota Bandung,Kota Bandung,Sejarah,Peta

Situasi Jalan Katapang dan sekitarnya pada tahun 2021 pada Citra satelit. (Citra: Google)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Ada jalan yang cukup pendek dan tersohor di Kota Bandung, yaitu Jl Katapang, yang panjangnya 140 meter. Meski sebenarnya ada yang lebih pendek lagi, yaitu Jl. Pelana, yang panjangnya hanya 120 m.

Untuk ukuran jalan di Kota Bandung saat ini, lebar Jl. Katapang terasa sangat sempit, sehingga lalu-lintas kendaraannya diatur satu arah, dari utara, dari Jl. A Yani (B), keluar di Jl. Gatot Jenderal Gatot Subroto (C).

Dari batas Kota Bandung paling timur di Kaca-kaca Wetan (A) Ada A Yani ke arah Kosambi. Pada jarak 250 m, ada belokan jalan ke selatan, itulah Jl. Katapang (B-C), yang menjadi jalan penghubung antara Jl. Veteran di utara dengan Jl. Gatot Jenderal Subroto di selatan.

Selain kendaraan roda empat milik para penghuni, tidak ada kendaraan lain yang diperkenankan masuk. Hanya kendaraan (motor) berroda dua yang dapat melintas di jalan ini. Di ujung selatan Jl. Katapang ada besi yang sangat kuat, kokoh, dan tinggi yang ditancapkan berjajar dari tepi jalan ke tepi jalan lainnya. Jarak antara tiang besi itu hanya cukup untuk kendaraan bermotor roda dua.

Situasi Jl. Katapang dan sekitarnya pada Peta Topografi tahun 1905. (Istimewa)

Pada Peta Topografi yang terbit tahun 1905, lebar Jl. Katapang digambarkan sama ukurannya dengan jalan utama lainnya, seperti jalan (sekarang) Jl. A Yani, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jl. Veteran, Jl. Lengkong Kecil, Jl. Sunda, Jl. Naripan, dan jalan-jalan lainnya.

Bila mengacu pada instruksi Gubernur Jenderal Daendels tanggal 5 Mei 1808, yang menjadi landasan dalam pembuatan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels, Pada Pasal 2 dituliskan, “Jalan ini di semua tempat di mana lahan itu memungkinkan harus memiliki lebar 7,5 meter dan dilapisi dengan lapisan batu yang memadai pada kedua sisinya dengan tujuan agar jalan ini tidak terkikis oleh air yang mengalir, dengan demikian bisa ditunjukan bahwa pada setiap saat dalam perubahan musim bisa digunakan untuk pengangkutan dengan kereta kudan dan gerobak.” Seperti dikutip Imam Gunarto (2012), dalam bukunya Infrastruktur Ekonomi Abad XIX: Pembangunan Jalan Raya Daendels Sebagai Media Integrasi Ekonomi di Wilayah Priangan.

Pada mulanya Jl. Jenderal Sudirman, Jl. Asia Afrika, Jl. Jenderal A Yani yang dibangun mulai tahun 1808 sampai tahun 1810, lebar Jalan Raya Pos itu hanya 7,5 meter. Ketika jalan-jalan lainnya terus ditingkatkan kualitasnya, dan diperlebar, sementara Jl. Katapang tetap seperti pada saat jalan ini dibuat.

Situasi Jl. Katapang dan sekitarnya pada Peta Topografi tahun 1910. (Istimewa)

Pada Peta Bandung dan Sekitarnya yang terbit tahun 1910, keadaan jalan masih seperti pada peta tahun 1905. Di sebelah timur Kaca-kaca Wetan masih berupa lahan basah, ranca atau rawa, situ, dan persawahan yang luas. Dalam peta ini sudah terlihat jalan-jalan yang digambarkan dengan warna merah, ukurannya sudah lebih lebar bila dibandingkan dengan Jl. Katapang dan Jl. Jenderal Gatot Subroto yang garis pinggir jalannya berwarna hitam. Di belokan selatan Jl. Katapang atau di sebelah timur perempatan Kacakaca Wetan, masih berbatasan dengan ranca dan situ yang luas.

Situasi Jl. Katapang dan sekitarnya pada Peta Kota Bandung Tahun 1926. (Istimewa.)

Perubahan atau pembangunan jalan sudah tergambar pada Peta Kota Bandung Tahun 1926. Antara ujung timur Jalan Asia Afrika dengan ujung selatan Jl. Katapang sepanjang 210 meter, pada peta ini sudah tersambung. Saat itu namanya Jl. Papandayan, kini Jl. Jenderal Gatot Subroto.

Pada peta ini pun Jl. Katapang tidak digambarkan ada perubahan yang meyakinkan. Jl. Naripan ujung timur yang pada peta 1910 sampai Jl. Sunda, pada peta ini sudah dibuat rencana jalan sampai di Jl. A Yani. Ke arah selatan dari ujung timur Jl. Lengkong Kecil sudah dibangun jalan. Jl. Malabar dan Jl. Emong belum tergambar dalam peta ini.  

Situasi Jl. Katapang dan sekitarnya pada Peta Kota Bandung Tahun 1934 dan Peta Kota Bandung Tahun 1945 masih sama seperti pada Peta Kota Bandung Tahun 1926. Perubahan atau pembangunan jalan baru tergambar pada Peta Kota Bandung Tahun 1950, seperti Jl. Burangrang sudah dibangun, tapi pembangunan jalan antara ujung timur Jl. Naripan yang sampai Jl. Sunda, masih seperti yang digambarkan pada peta-peta sebelumnya.

Jl. Katapang di Kota Bandung dapat menjadi contoh, yang lebar jalannya dapat dikategorikan jalan yang masih sesuai dengan lebar jalan pada saat jalan-jalan di kota ini dibangun, seperti yang tercantum dalam instruksi Gubernur Jenderal Daendels. Inilah contoh jalan raya yang berusia lebih dari 50 tahun, dengan tidak mengalami perubahan lebar jalan yang berarti, dan memiliki arti khusus bagi kemanusiaan dan sejarah perkembangan kota.

Atas dasar pertimbangan itulah, maka Jl. Katapang di Kota Bandung sudah sepantasnya menjadi Jalan Pusaka Kota. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Pandemi, Pendidikan Secara Daring, Lupa Sejarah

Netizen Kamis, 24 Juni 2021 | 11:02 WIB

Pandemi, Pendidikan Secara Daring, Lupa Sejarah

Netizen, Pandemi, Pendidikan Secara Daring, Lupa Sejarah , Pendidikan,Pandemi,COVID-19

Almarhum Markis Kido, Christian Eriksen, dan Buaian Indeks Pembangunan...

Netizen Kamis, 24 Juni 2021 | 09:35 WIB

Beberapa saat sebelum Markis Kido menghembuskan nafas terakhir, terdengar kabar kolapsnya Christian Eriksen.

Netizen, Almarhum Markis Kido, Christian Eriksen, dan Buaian Indeks Pembangunan Manusia, Markis Kido,Christian Eriksen,Indeks Pembangunan Manusia,IPM,Henti Jantung,Cardiac Arrest

Gelembung Renang Ikan Tuna Sirip Kuning: Bermanfaat untuk Manusia?

Netizen Kamis, 24 Juni 2021 | 09:25 WIB

Ikan Tuna begitu populer dikalangan masyarakat, karena memiliki banyak manfaat bagi kelangsungan hidup manusia.

Netizen, Gelembung Renang Ikan Tuna Sirip Kuning: Bermanfaat untuk Manusia?, Gelembung Renang,Ikan Tuna Sirip Kuning,Kesehatan,asam amino

Trend Minum Kopi di Indonesia dan Manfaat Gizinya

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 15:39 WIB

Eksistensi kopi di Indonesia bermula dari budaya minum kopi pada masa kedatangan bangsa Belanda pada abad ke-17, ke Ind...

Netizen, Trend Minum Kopi di Indonesia dan Manfaat Gizinya, Minum Kopi,manfaat  minum kopi,sejarah kopi,trend minum kopi

Perokok Terburuk Adalah yang Orang Merokok Saat Berkendara

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 13:05 WIB

Banyak orang masih melakukan tindakan yang mengganggu orang disekitarnya. Salah satunya dengan merokok saat mengendarai...

Netizen, Perokok Terburuk Adalah yang Orang Merokok Saat Berkendara, Rokok,Merokok,Perokok,Berkendara,mengendarai sepeda motor,pasal 283 UU Nomor 22 Tahun 2009

Memasuki Masa Pensiun

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 10:41 WIB

Secara resmi, Raden Kartawinata dihentikan sebagai zelfstandig patih Sukabumi pada tanggal 8 Oktober 1905.

Netizen, Memasuki Masa Pensiun, raden kartawinata, sejarah sunda,tempo dulu

Begini Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 08:00 WIB

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita.

Netizen, Begini Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh, Daya Tahan Tubuh,Kesehatan,Tips,Gaya Hidup,Pola Makan

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen Selasa, 22 Juni 2021 | 10:21 WIB

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen, Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati, limbah,Jatinangor,desa cisempur,Kahatex,kebersihan lingkungan

artikel terkait

dewanpers