web analytics

Sebagian Orang yang Terima Vaksin Covid-19 Tak Bentuk Antibodi

clockSelasa, 1 Juni 2021 15:52 WIB userRepublika.co.id
Gaya Hidup - Sehat, Sebagian Orang yang Terima Vaksin Covid-19 Tak Bentuk Antibodi, Vaksinasi Covid-19,Vaksin Covid-19,vaksin corona,COVID-19

Sejumlah pengendara ojek online (ojol) melakukan vaksinasi secara drive thru di Monumen Perjuangan (Monju), Dipatiukur, Kota Bandung, Kamis, 27 Mei 2021. Vaksinasi tersebut dilakukan sebagai upaya percepatan penanggulangan pandemi Covid-19 oleh Pemerintah Kota Bandung bagi pelayan publik juga lansia. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Sebagian orang yang telah divaksin Covid-19 ternyata tidak bisa membentuk antibodi untuk tubuhnya sendiri.

Dilansir dari Republika.co.id, sama seperti virus corona, vaksin yang melindungi dari Covid-19 dapat memengaruhi setiap orang secara berbeda. Beberapa orang tidak memiliki efek samping, tetapi yang lain harus terbaring di tempat tidur selama beberapa hari.

Sementara beberapa orang membangun kekebalan kuat setelah mendapatkan suntikan, yang lain tidak seberuntung itu. Meskipun sulit memprediksi bagaimana Anda akan merespons, para ahli medis  memperingatkan orang dengan gangguan autoimun, atau mereka yang menggunakan penekan kekebalan mungkin tidak memiliki respons kuat.

Sebuah studi baru menemukan satu kelompok orang cenderung mengalami penurunan kekebalan setelah divaksinasi. Faktanya, setengah dari mereka tidak memiliki antibodi setelah vaksinasi.

Sebuah studi yang diterbitkan Journal of American Medical Association menemukan 46 persen pasien transplantasi yang mendapat dua dosis vaksin Moderna atau Pfizer tidak menghasilkan antibodi Covid-19.

Kabar baiknya adalah bahwa 40 persen dari 658 pasien transplantasi yang diteliti tidak memiliki antibodi setelah vaksinasi pertama mereka, tetapi mengembangkan antibodi setelah suntikan kedua. Namun, masih menyisakan sebagian besar pasien tanpa perlindungan apa pun terhadap Covid-19.

"Ini benar-benar jauh lebih kontras dari yang kami perkirakan," kata seorang ahli bedah transplantasi di Rumah Sakit Johns Hopkins, Dorry Segev dilansir Best Life, Selasa, 1 Juni 2021.

Penelitian di Mayo Clinic, yang diterbitkan dalam American Journal of Transplantation, juga menimbulkan kekhawatiran bahwa pasien transplantasi tampaknya memiliki respons kekebalan yang berkurang dari vaksin Covid-19.

Studi kecil mengamati tujuh penerima transplantasi organ yang didiagnosis dengan Covid-19 di Mayo Clinic di Florida, setelah mendapatkan salah satu vaksin mRNA, dari Pfizer atau Moderna.

Dua pasien telah diberi satu dosis, dan lima telah divaksinasi penuh. Lima dari pasien dirawat di rumah sakit, tiga di antaranya membutuhkan oksigen setelah mereka keluar. Hanya satu pasien yang memiliki antibodi melawan Covid-19.

Karena itu, tim peneliti memperkirakan tingkat infeksi pada penerima transplantasi organ padat yang divaksinasi adalah 10 kali lebih tinggi daripada populasi umum. "Studi ini membuka mata bagi komunitas transplantasi," ujar ketua peneliti dan seorang nephrologist Pusat Transplantasi Klinik Mayo, Hani Wadei.

Semua individu, terutama pasien transplantasi, harus terus mengikuti langkah-langkah perlindungan, seperti jarak sosial, pemakaian masker, dan kebersihan tangan secara teratur. Studi lain, yang diterbitkan awal bulan ini di jurnal Annals of the Rheumatic Diseases, mengamati dua kelompok orang yang divaksinasi Covid-19.

Sebanyak 84 pasien dengan penyakit autoimun (seperti rheumatoid arthritis, penyakit radang usus, psoriasis, dan jenis penyakit tertentu) dan 182 peserta sehat. Pada kelompok terakhir, semua kecuali satu pasien mengembangkan antibodi terhadap Covid-19. Dalam kasus pertama, sebanyak satu dari 10 orang gagal mengembangkan antibodi apa pun.

Secara khusus, penelitian menunjukkan pasien yang menggunakan methotrexate (dijual sebagai Rheumatrex, Trexall, Otrexup, Rasuvo) dan rituximab (Rituxan) untuk penyakit autoimunnya merespon buruk terhadap vaksin. Itu karena obat-obatan tersebut menekan sistem kekebalan sehingga gangguan, yang menyebabkan sistem kekebalan Anda menjadi terlalu aktif, tetap terkendali.

Seperti Wadei, Pusat Penyakit dan Pencegahan (CDC) memperingatkan orang-orang dengan sistem kekebalan yang terganggu, termasuk mereka yang melakukan transplantasi organ, harus terus mengenakan masker meskipun telah divaksinasi penuh.

"Jika Anda memiliki kondisi atau sedang mengonsumsi obat yang melemahkan sistem kekebalan, Anda mungkin tidak terlindungi sepenuhnya, bahkan jika Anda telah divaksinasi penuh," ujarnya.

Bahkan setelah vaksinasi, CDC menulis orang dengan gangguan sistem kekebalan mungkin perlu terus melakukan semua tindakan pencegahan. Direktur CDC Rochelle Walensky menyampaikan panduan itu selama penampilan di Meet the Press NBC pada 16 Mei.

"Kami tahu bahwa  jika Anda tidak memiliki sistem kekebalan yang kompeten penuh dari kemoterapi, dari transplantasi, dari agen modulasi kekebalan lainnya, bahwa vaksin itu mungkin tidak bekerja dengan baik untuk Anda. Jadi, tolong, sebelum Anda melepas masker, konsultasikan dengan dokter,” kata Walensky.

Editor: Rizma Riyandi

terbaru

Petroleum Jelly dan Segudang Manfaat Baik untuk Kulit

Sehat Rabu, 4 Agustus 2021 | 18:45 WIB

Petrolatum atau petroleum jelly merupakan produk yang terbuat dari campuran wax dan mineral oil.

Gaya Hidup - Sehat, Petroleum Jelly dan Segudang Manfaat Baik untuk Kulit, Petroleum Jelly,Manfaat Baik,Kulit,petrolatum,pelembab bibir,Mengatasi kulit kasar,mengatasi ruam

Tenang! 5 Efek Samping Vaksin Covid Ini Lumrah Terjadi

Sehat Rabu, 4 Agustus 2021 | 16:46 WIB

Salah satu penyebabnya ialah rasa takut yang menghantui masyarakat akan efek samping vaksin covid yang akan terjadi nant...

Gaya Hidup - Sehat, Tenang! 5 Efek Samping Vaksin Covid Ini Lumrah Terjadi, efek samping vaksin Covid-19,efek samping vaksinasi,Vaksin Covid-19,Vaksinasi Covid-19

8 Manfaat Joging bagi Kesehatan, Jarang Diketahui!

Sehat Rabu, 4 Agustus 2021 | 16:00 WIB

Kegiatan joging termasuk olahraga yang tidak terlalu membebani tubuh dan menguras energi yang banyak.

Gaya Hidup - Sehat, 8 Manfaat Joging bagi Kesehatan, Jarang Diketahui!, Manfaat Joging,Kesehatan,Olahraga,joging,kesehatan jantung,Mengurangi Stres,Kekuatan Tulang,Melatih Otot,Mengurangi Penuaan,Kekebalan Tubuh

Kolesterol, Hipertensi, hingga Diabetes Minggat dengan Kacang Ini, Mud...

Sehat Rabu, 4 Agustus 2021 | 13:46 WIB

Kacang kapri menjadi salah satu jenis kacang yang banyak diolah sebagai masakan. Selain lezat, kacang ini ternyata menye...

Gaya Hidup - Sehat, Kolesterol, Hipertensi, hingga Diabetes Minggat dengan Kacang Ini, Mudah Diolah!, Kacang Kapri,Manfaat Kacang Kapri,Khasiat Kacang Kapri,Nutrisi Kacang Kapri,Obat Kolesterol,obat alami kolesterol,obat hipertensi,obat alami hipertensi,Obat Diabetes,Obat Alami Diabetes,makanan penderita kolesterol,Makanan penderita diabetes

Kolesterol hingga Diabates Musnah dengan Mi Ini, Aman Dikunsumsi Rutin...

Sehat Rabu, 4 Agustus 2021 | 13:23 WIB

Mi soba adalah makanan khas Jepang yang terbuat dari buckwheat Jepang atau sejenis biji-bijian bernama latin Fagopyrum...

Gaya Hidup - Sehat, Kolesterol hingga Diabates Musnah dengan Mi Ini, Aman Dikunsumsi Rutin!, Mi soba,Manfaat Mi soba,Khasiat Mi soba,Nutrisi Mi soba,Obat Kolesterol,obat alami kolesterol,makanan penderita kolesterol,Obat Diabetes,Obat Alami Diabetes,Makanan penderita diabetes

Kolesterol, Diabetes, hingga Kanker Musnah dengan Makan Ini, Jarang Di...

Sehat Rabu, 4 Agustus 2021 | 12:18 WIB

Pernahkah tebersit dalam benak Anda untuk makan hidangan dari kaktus? Tumbuhan yang biasa dijadikan tanaman hias ini ter...

Gaya Hidup - Sehat, Kolesterol, Diabetes, hingga Kanker Musnah dengan Makan Ini, Jarang Diketahui!, Kaktus,Manfaat Kaktus,Khasiat Kaktus,Nutrisi Kaktus,Obat Kolesterol,obat alami kolesterol,Obat Diabetes,Obat Alami Diabetes,Obat Kanker,Obat Alami Kanker,Tips mengkonsumsi Kaktus

Simak! Ini Cara Mengatasi Keracunan Jengkol Menurut Dokter

Sehat Rabu, 4 Agustus 2021 | 11:42 WIB

Selama ini jengkol memang dianggap bisa mengangkat nafsu makan. Namun, makan jengkol berisiko karena jengkol mengandung...

Gaya Hidup - Sehat, Simak! Ini Cara Mengatasi Keracunan Jengkol Menurut Dokter, jengkolan,cara mengobati jengkolan,tips mengobati jengkolan,Keracunan Jengkol,Cara Mengobati Keracunan Jengkol,Cara Menyembuhkan Keracunan Jengkol,Mengatasi Keracunan Jengkol

Diabetes Kabur dengan Tanaman Ini, Jarang Diketahui!

Sehat Rabu, 4 Agustus 2021 | 11:28 WIB

Tanaman putri malu telah lama digunakan sebagai salah satu pengobatan alami untuk membantu mengatasi diabetes.

Gaya Hidup - Sehat, Diabetes Kabur dengan Tanaman Ini, Jarang Diketahui!, Tanaman Putri Malu,Manfaat Tanaman Putri Malu,Khasiat Tanaman Putri Malu,Obat Diabetes,Obat Alami Diabetes,herbal obat diabetes,tanaman obat diabetes

artikel terkait

dewanpers
arrow-up