web analytics

Pasifik Selatan Ajang Persaingan Baru: Amerika Serikat cs - China

clockJumat, 28 Mei 2021 08:50 WIB user-groupNetizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Pasifik Selatan Ajang Persaingan Baru: Amerika Serikat cs - China  , laut china selatan,Amerika,china

Bendera Amerika Serikat. (Pixabay)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM--Laut China Selatan luasnya kira-kira 3,5 juta km persegi. Membentang dari ujung utara Selat Taiwan sampai ke Selat Malaka.

Pemerintah China mengklaim dua pertiganya karena secara tradisional merupakan wilayah penangkapan nelayan sejak kekaisaran Ming. Bila sekarang,  puluhan ribu nelayan China beroperasi di kawasan tersebut maka dapat diartikan sebagai kelanjutan kebiasaan masa lalu. Selain merupakan bentuk kesiapan perang hibrida melawan negara lain.

Laut China Selatan sangat strategis lantaran menjadi  jalur pelayaran niaga dari belahan dunia Timur ke Barat dan sebaliknya. Laut ini menyimpan cadangan minyak dan gas yang amat besar. Laut China Selatan juga menyumbang 12 persen  kebutuhan ikan dunia. Jadi barang siapa menguasai maka akan memperoleh ketiganya. 

Kontribusi tangkapan ikan dari laut China Selatan dikabarkan terus menurun dari waktu ke waktu. Hasil riset Universitas British Columbia  mengungkapkan hasil tangkapan ikan turun hingga 30 persen dibandingkan tahun 1950. Kemungkinan persentase kemerosotan itu lebih tinggi akibat penangkapan secara ilegal atau tidak dilaporkan. Meskipun demikian jumlah tangkapan masih tergolong banyak sebab Laut China Selatan menjadi tuan rumah lebih dari tiga ribu jenis ikan lokal dan migrasi.

Sebagaimana diketahui penangkapan ikan selain dilakukan nelayan-nelayan China dan negara Asia Tenggara, nelayan-nelayan Taiwan juga meluruk sampai ke kawasan yang dipertikaikan bahkan hingga ke laut Jawa. Tak jarang awaknya adalah tenaga-tenaga migran Indonesia.  Masalahnya adalah siapa yang paling banyak menangkap ikan?

Armada penangkapan China diketahui selama bertahun-tahun menangkap ikan lebih banyak dari negara lain. Pada tahun lalu, China memiliki sekitar 200 ribu-800 ribu kapal nelayan yang tersebar di seluruh dunia.  

Menurut laman Statistik, penangkapan di seluruh dunia terus meningkat. Pada 2019 jumlahnya mencapai 177,8 juta metrik ton. Naik dari 177,7 pada 2018 dan 172,6 juta metrik ton setahun sebelumnya. Padahal pada 2002 jumlah tangkapan berjumlah 127,8 juta metrik ton. Lonjakan penangkapan disebabkan kapal-kapal nelayan makin efisien berkat dukungan satelit penjejak pergerakan ikan. 

Uni Eropa mengekspor ikan dan produk ikan sebanyak US$36,2 miliar, China di urutan kedua dengan US$22,7 milyar , Norwegia di tempat ketiga dengan US$11,9 miliar. Indonesia sebanyak US$4,4 miliar. Kalah dibandingkan dengan Vietnam US$9,5 miliar dan Thailand US$5,7 milyar.  

Prioritas Utama

Sepertinya untuk saat ini penangkapan ikan merupakan prioritas penting dibandingkan mengeksplorasi migas karena tak memerlukan biaya besar, tak ada jedah waktu dan SDM sudah tersedia. Apalagi kebutuhan terhadap ikan dan produknya terus meningkat.  

Bank Dunia memperkirakan setiap penduduk China akan mengkonsumsi lebih dari 41 kilogram ikan dan produk ikan pada 2030, yang berarti akan melampaui produksi ikan tangkapan maupun budidaya China. Atas dasar itu, China harus memperluas wilayah tangkapan, termasuk kawasan laut yang jauhnya ribuan kilometer dari China Daratan.  

Kawasan Pasifik Selatan sudah dijamah China setidaknya sejak sepuluh tahun terakhir. Tujuan menyingkirkan kehadiran Taiwan dan menangkap ikan. Caranya adalah memberi pinjaman lunak antara lain untuk pembangunan infrastruktur.  Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Kepulauan Fiji dan Vanuatu selain memperoleh bantuan juga peningkatan perdagangan dua arah. 

Jumlah pinjaman dan hibah China dari 2013-2017 untuk negara-negara di atas telah mencapai US$1,8 miliar atau negara donor ketiga terbesar. Mitra dagang kedua terbesar serta mulai muncul sebagai investor dengan dana yang signifikan.  

Presiden Xi Jinping selain melawat ke PNG dalam rangka KTT APEC pada November 2018. Xi juga melawat ke Fiji yang sejauh ini sudah menerima bantuan senilai US$123 juta dan Vanuatu US$100 juta.

Ekspansi China ke Pasifik Selatan menggusarkan Amerika Serikat, Prancis, Selandia Baru dan Australia. Keempatnya secara tradisional menjadikan Pasifik Selatan sebagai halaman belakang, sebagaimana Amerika Selatan bagi Washington. Keempat negara menganggap perluasan pengaruh dan kehadiran China sebagai ancaman. 

Kehadiran China yang disertai pemberian hibah, diplomasi, pinjaman, perdagangan dan membina hubungan pribadi dengan para petinggi di negara-negara Pasifik Selatan disangka akan membuka jalan bagi pendirian pangkalan militer, misalnya di Fiji dan Vanuatu. China juga dikhawatirkan merusak tata kelola pinjaman dari negara-negara Barat kepada negara-negara kecil itu.

Haruskah Konflik?

AS dan sekutu-sekutunya mencurigai kehadiran China  karena akan mengurangi dominasinya di Pasifik Selatan. Meskipun Australia jauhnya .4.758 km , maka kehadiran basis militer China di Fiji akan dianggap sebagai ancaman. Demikian pula dengan Hawaii yang jauhnya 11.027 km.

Negara-negara Pasifik Selatan menerima kehadiran China sebab memberi tawaran  dengan persyaratan yang lebih menarik. Cepat cair, persyaratan mudah dan karena berkolaborasi dengan salah satu kekuatan ekonomi dunia. Sementara AS dan sekutu-sekutunya tidak memprioritaskan kawasan Pasifik Selatan. 

Seandainya AS cs tidak mengubah pendekatan maka Pasifik Selatan akan menjadi kawasan ketegangan baru. Padahal, Kepulauan Fiji, Solomon, Vanuatu, Samoa, Tonga, Palau, Tuvalu, Kiribati, Nauru dan lainnya merupakan negara-negara yang sumber daya alamnya terbatas, jauh dari pasar-pasar dunia, rawan terhadap goncangan dari luar seperti pandemi COVID-19 dan menjadi langganan bencana alam.

Kribati misalnya merupakan negara  termiskin dengan peringkat sebelas karena PDB per kapita hanya US$2.200.  Kepulauan Solomon di peringkat  ke 23 dengan US$2.455. Vanuatu di nomor ke 25 dengan PDB US$2.586. Kepulauan Marshall di peringkat 40 dengan US$3.786. Tuvalu ke 46 dengan US$4.497. PNG peringkat  42 dengan US$4.833 . Fiji di tempat ke 89   dengan US$ US11.567. Palau di peringkat 46 dengan US$14.309.

Global Finance Magazine  per 21 Mei 2021 juga mengungkapkan, sepuluh negara termiskin di dunia diduduki negara Afrika. Burundi di urutan pertama dengan 1 dengan US$760, disusul Sudan Selatan US$791, Somalia US$925, Republik Afrika Tengah U$979, Malawi US$993, Republik Demokratik Kongo US$1.106 Niger US$1.259, Mozambik US$1.277 dan Liberia US$1.557. Ironis negara-negara tersebut merupakan jajahan negara-negara Eropa seperti Prancis, Italia, Jerman dan Inggris.   

Terkait dengan kemiskinan serta kerawanan di Pasifik Selatan, kiranya China dan AS cs layak bekerja sama membawa kawasan tersebut. Bukan meningkatkan ketegangan yang menguntungkan industri persenjataan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

GARUDA SHIELD 2021: Indonesia Bermain Cantik!

Netizen Rabu, 28 Juli 2021 | 20:15 WIB

Indonesia-Amerika Serikat telah membuat sejarah panjang dalam latihan militer bersama atau pertukaran perwira militer.

Netizen, GARUDA SHIELD 2021: Indonesia Bermain Cantik!, GARUDA SHIELD,Militer,Indonesia,Amerika Serikat

Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?

Netizen Selasa, 27 Juli 2021 | 17:35 WIB

Vaksin dianggap menjadi penyelamat dari serangan virus Corona yang diperkirakan lebih mematikan dari virus flu lainnya.

Netizen, Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?, Seruan Berpartisipasi,Mengatasi Covid-19,COVID-19,Virus Corona

Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

Netizen Selasa, 27 Juli 2021 | 09:02 WIB

Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

Netizen, Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI), UNI,sidolig,Persib,sepakbola,bandung,Teddy Kessler,Wim Kuik

Mengungkap Fakta Kandungan Susu Bear Brand

Netizen Senin, 26 Juli 2021 | 23:00 WIB

Alasannya, karena susu Bear Brand diyakini dapat meredakan paparan Covid-19.

Netizen, Mengungkap Fakta Kandungan Susu Bear Brand, Fakta,Susu,Bear Brand,COVID-19,Sehat,Hoaks

Inggris Melibatkan Diri Dalam Perang Ideologi di Asia

Netizen Sabtu, 24 Juli 2021 | 15:24 WIB

Media-media internasional secara luas memberitakan pelayaran satuan tugas gabungan Inggris, Amerika Serikat dan Belanda...

Netizen, Inggris Melibatkan Diri Dalam Perang Ideologi di Asia, Inggris,Pengaruh Inggris,kebudayaan Asia,Pengaruh Inggris di Asia

510 Hari Minus Sentuhan

Netizen Jumat, 23 Juli 2021 | 21:35 WIB

Kesakralan sentuhan tak lagi ada selama masa pandemi Covid-19.

Netizen, 510 Hari Minus Sentuhan, sentuhan,Pandemi Covid-19,Jaga Jarak,Sosial,Dampak Pandemi Covid-19

Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan...

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:30 WIB

Di Cekungan Bandung, sedikitnya ada 8 nama geografi yang berhubungan dengan harimau.

Netizen, Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan dengan Harimau, Toponimi,Harimau,cekungan bandung,Kota Bandung

Jangan Berhenti pada Kata Maaf

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB

Akhirnya ada perwakilan pemerintah yang menyampaikan permintaan maaf kepada publik terkait dengan penanganan pandemi Cov...

Netizen, Jangan Berhenti pada Kata Maaf, Kata Maaf,Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan,PPKM Jawa-Bali,pemerintah Indonesia

artikel terkait

dewanpers
arrow-up