web analytics

Kunjungan Singkat Rajapermat

clockRabu, 19 Mei 2021 10:25 WIB user-groupNetizen ATEP KURNIA
Netizen, Kunjungan Singkat Rajapermat, Rajapermat,raden kartawinata,Wawatjan Tjarios Raden Ajoe Radjapermat

Halaman judul buku "Wawatjan Tjarios Raden Ajoe Radjapermat "(1923). ( lib.ui.ac.id.)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

Hidji waktoe kaoela teh ngiring, sareng iboe ka na ngaben koeda, di Bandoeng anoe geus tangtos, reh dina oenggal taoen saban-saban di sasih Juli, di Bandoeng ngaben koeda, tempatna noe tangtoe, njaeta di Tegallega, harita teh ngadjoegdjoeg ka Bandjarsari, ka ama Djoeroebasa” (Suatu saat, saya turut dengan ibu ke acara balap kuda di Bandung. Karena memang setiap Juli berlangsung acara balap kuda di Tegallega. Saat itu kami menuju ke Banjarsari, ke rumah Ama Juru Bahasa), demikian kata R.A. Rajapermat dalam Wawatjan Tjarios Raden Ajoe Radjapermat, Garwa Raden Adipati Aria Soeria di Poetra Boepati Lebak (1923: 7-8).

Kutipan ini mengetengahkan salah satu pengalaman hidup Rajapermat yang notabene anak sulung R.A. Lasminingrat dari suaminya, Raden Tamtoe. Dalam kutipan di atas, Rajapermat diajak ibunya untuk menonton balap kuda di Bandung yang biasa diselenggarakan setiap Juli. Selama tiga hari di Bandung, Rajapermat menginap di rumah Raden Kartawinata, adik Lasminingrat atau paman Rajapermat.

Ini terbukti dengan adanya sebutan “Ama Jurubasa” yang berasal dari kata “rama” dan “jurubasa” dan secara harfiah bermakna bapak atau ayah juru bahasa. Artinya, Rajapermat menganggap Kartawinata sebagai orang tua laki-laki yang dikenali dengan profesinya sebagai juru bahasa dan penerjemah.

Selain itu, dari kutipan di atas, kita jadi mengetahui tempat tinggal Kartawinata selama menjabat sebagai pegawai pemerintah kolonial di Bandung antara 1874 hingga 1883. Kartawinata diketahui menetap di daerah Banjarsari, yang kini berada di sekitar Jalan Merdeka, Kelurahan Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung. Tentu saja, dari tempatnya tinggal ke lapang Tegallega, tempat penyelenggaraan balap kuda, dapat dibilang tidak terlalu jauh.

Soalnya kemudian, kira-kira kapan Rajapermat bertandang ke rumah Kartawinata? Mari kita lihat saja dari buku yang ditulis oleh Rajapermat antara 17 Mei 1914 hingga 18 Maret 1915 itu. Sekaligus saya akan menggali informasi terkait riwayat Lasminingrat yang belum banyak diketahui. Bahkan saya akan memulai dulu dari riwayat ibunya Rajapermat itu.

Pada awal buku, Rajapermat menyebutkan bahwa semula ia tidak tahu siapa bapak dan ibunya yang asli, karena seingatnya dia sudah tinggal di rumah kakek-neneknya, disusui dan diurus oleh seorang babu (“Saawitna koela jatim, teu terang di indoeng bapa, ngan djeung nini aki bae, dipiara ti boeboedak, nepi kana hidengna, nja njoesoe koela ka baboe, eta anoe ngaropea”, 1923: 1). Namun, suatu malam babu tersebut mengisahkan riwayat sebenarnya kepada Rajapermat. Konon, saat ia masih dalam kandungan ibunya, ayahnya meninggal dunia. Karena sebelumnya tidak mengetahui bahwa Lasminingrat adalah ibunya, Rajapermat sejak kecil menyapanya sebagai “Ceuk Ami”, kependekan dari “Aceuk Ami” atau kakak Ami.

Sepeninggal suaminya, Ami atau Lasminingrat yang baru melahirkan sempat mengalami sakit lumpuh dan tidak kuat lama-lama berada di Sumedang. Dia ingin kembali ke tengah-tengah keluarga besar ayahnya, R.H. Moehamad Moesa di Garut. Namun, mertuanya, yaitu Pangeran Sugih, tetap tidak mengizinkannya pergi.

Bupati Sumedang tersebut tetap mengasihi mantan istri anaknya itu dan semasa hidup Raden Tamtoe digadang-gadang akan menggantikan posisinya (“Tapi weleh henteu idin, amit ka kandjeng pangeran, teu kersa papisah bae, wantoening mantoe kanjaah, poetra sapirang-pirang, rama agan noe dioegoeng, digadang ngagentos rama”, 1923: 2).

Namun, akhirnya, pada suatu malam sekitar pukul sebelas, secara diam-diam, saat orang banyak sudah terlelap, Lasminingrat mengatakan kepada babu untuk cepat berkemas, karena akan ada yang menjemput dari Garut (“Hidji mangsa tengah peuting, dikira poekoel sabelas, djelema geus djempe kabeh, iboe harewos ka ema, saoerna geuwat dangdan, papakean agan boengkoes, ti Garoet aja noe mapag”). Lasminingrat dijemput oleh K.F. Holle yang membawa kereta kuda dari Garut dan menunggu di jalan (“Tidjero kota geus bidjil, ngaliwat djalan paseban, didinja kareta nangoh, noe noenggangan toewan Hola, toeloej iboe didjajak, koe ema djeung koe ma Ijoen, agan dipangkon koe toewan”).

Sebagai keterangan tambahan, disebutkan Lasminingrat baru genap setahun menikah dengan Tamtoe saat suaminya tersebut meninggal dunia (“Wantoe eukeur pada asih, waktoe ditinggalkeun wapat, tegesna masih panganten, enja ge kagoengan poetra, da nikah tatjan lila, kakara djangkep sataoen, kaboedjeng ditilar wapat”, 1923: 2).

Selanjutnya, sekembali dari Sumedang, dalam usia 15 tahun, Lasminingrat menikah dengan yang kelak menjadi bupati Garut R.A.A. Wiratanudatar VII (1871-1913) (“Kotjapna geus lami-lami, iboe teh geus damang pisan, wantoe keur meudjeuhna anom, enggeus kersa tjarogean, tidinja aja kadar, joeswa lima welas taoen, nikah ka rama ajeuna”). Suami barunya saat itu masih bekerja sebagai kumetir. Lasminingrat menjadi istri kedua dan sama-sama menjadi istri padmi (“Rama keur djadi koemetir, waktoena ka iboe nikah, boelana ema geus polio, njakitoe deni taoenna, aktoe rama di angkat, garwa doewanana madjoe, di angkat padmi sadaja”, 1923: 3).

Sebelum dilanjutkan, saya ingin mengetengahkan informasi tentang pernikahan Wiratanudatar VII dengan Lasminingrat. Dalam Java-bode (8 Juli 1896) ada berita peringatan 25 tahun masa jabatannya sebagai bupati Garut sekaligus 25 tahun pernikahannya dengan Lasminingrat (“dat hij den 16en dezer zal geven ter viering van zijn 25 jarig regentschap en 25 jarig huwelijk met de Raden Ajoe Lasminingrat”).

Ini berarti bahwa pernikahan tersebut terjadi pada 1871 sebelum diangkat jadi bupati, sekaligus bila dihitung mundur, Lasminingrat yang saat itu berusia 15 tahun berarti tahun kelahirannya adalah 1856. Bila benar, maka usia Lasminingrat lebih muda dari Kartawinata yang lahir pada 1851 atau 1852. Sehingga dengan demikian, semestinya Lasminingrat adalah adik bagi Kartawinata, bukan kakaknya. Atau mungkinkah Rajapermat keliru menghitung atau menyimak kisah ibunya dari babu yang mengurusnya sejak bayi?

Kita kembali kepada kisah Rajapermat. Setelah Lasmingrat minggat ke Garut dengan bantuan K.F. Holle, Pangeran Sugih marah besar. Ia menuntut agar cucunya yang masih bayi, dikembalikan ke Sumedang dan melarang cucunya untuk ke Garut lagi, meski diminta sekalipun oleh penghulu bintang Moesa (“Tjarios kandjeng pangeran, bendoena kawanti-wanti, ka iboe miwah ka ejang, ka rama pon kitoe deui, agan dipoendoet deui, koe ejang koesabab bendoe, ejang panghoeloe Bintang, teu kenging ngoekoehan deui, ladjeng bae teu lami aja noe mapag//Waktoe moelih ka Soemedang, agan keur ijasa tjalik, tidinja mah salawasna, teu meunang ka Garoet deui, malah sababraha kali, ejang panghoeloe teh moendoet, agan sina sakola, tapi weleh henteu idin, kadjeun bodo atawa sapotong sewang”, 1923: 3-4).

Namun, dua tahun menjelang kematiannya (19 September 1882), Pangeran Sugih mengizinkan Rajapermat untuk bersatu dengan ibunya di Garut dan masuk sekolah. Oleh karena itu, ayah tirinya menjemput Rajapermat ke Sumedang. Saat itu, Rajapermat berusia sekitar sepuluh tahun (“Di Soemedang mama Garoet, koelemna meunang sawengi, isoek-isoek arek djengkar, koela ka Ejang geus pamit, baboe reudjeung mawa anak, anakna awewe hidji//Di djalan henteu katjatoer, wantoe enggeus lami teuing, koela loba anoe lepat, reudjeung masih keneh leutik, sapoeloeh tahoen harita, oemoer koela koerang leuwih”).

Perihal pentingnya sekolah untuk anak perempuan didengarnya dari kakeknya Moehamad Moesa. “Koe ejang njai didjoeroeng, dipiwarang ngoelik harti, njaeta koedoe sakola, wantoe awewe kiwari, sakadar koedoe diadjar, njoewat njongket njoelam njoengging//Noelis matja reudjeung ngitoeng, poma njai koedoe ngarti, soemawon basa walanda, sabab ajeuna geus galib, awewe sagala bangsa, koedoe radjin djeung binangkit//Kijeu awewe noe moeloes, nomer hidji manis boedi, kadoewana koedoe bisa, ngomong walanda djeung noelis, tiloe ngoeroes imah tangga, ka opat njoelam mandjait//Kalima keur soegoeh tamoe, njieun koeweh roepi-roepi, kagenepna koedoe bisa, masak keur nga- warah koki, tambah djeung getol ibadah, woewoeh sampoerna nja’ diri” (1923: 6), demikianlah kata Rajapermat seraya mengutip pernyataan kakeknya.

Beginilah terjemahannya, “Oleh kakek, saya disuruh menuntut ilmu, yaitu harus sekolah, karena termasuk perempuan masa kini, sekadar harus belajar, menyuwat, menyongket, menyulam, dan menyungging//Menulis, membaca, dan berhitung, kau cucuku haruslah faham, apalagi bahasa Belanda, sebab sekarang sudah menjadi kelaziman perempuan segala bangsa harus rajin dan kreatif//Beginilah gambaran perempuan yang mulus, pertama berbudi manis, kedua harus bisa berbicara bahasa Belanda dan menulis, ketiga mengurus rumah tangga, keempat menyulam dan menjahit //kelima untuk menyuguhi tamu, agar dapat membuat pelbagai kue, keeenam harus bisa memasak agar dapat mengajari koki, ditambah rajin beribadah, betapa sempurnanya diri.”

Demikianlah, Rajapermat menuntut ilmu di Garut. Kepada ibunya yang tetap dipanggilnya “Ceuk Ami”, kian dekat. Dalam keadaan demikianlah dia diajak bertandang ke rumah pamannya, Kartawinata, di Bandung. Menurutnya saat itu, dia sudah masuk masa akil balig, berusia 14 tahun.

Di rumah pamannya itu dia bertemu dengan pemuda yang masih ada pertalian keluarga, yakni saudara misannya, anak bupati Lebak (“Waktoe eta keur ngangkat birahi, oemoer koela djangkep opat welas, keur meudjeuhna baleg make, tidinja aja tatamoe, ti sekola ambtenaar soemping, bedjana doeloer misan, oerang Rangkasbetoeng, poetra kandjeng dalem Lebak, harita teh tepoengna di Bandjarsari, bet hate koela njeblak,” 1923: 8).

Akhirnya, Rajapermat menikah dengan pemuda tersebut dengan cara kawin gantung selama dua tahun. Rajapermat diresmikan sebagai pasangan pemuda yang bekerja sebagai juru tulis itu di Garut pada 1886, (“Dihadekeunnana koela teh di Garoet, engkang geus djadi djroetoelis, tahoen sareboe 'dlapan ratoes, dlapan poeloeh genep mashi eta anoe katjarios”).

Saat itu, ia berusia 16 tahun dan suaminya 20 tahun lebih (“Di hadekeun oemoer genep belas tahoen, engkang doewa poeloeh leuwih”). Pemuda tersebut, Soeria di Poetra, nantinya akan diangkat menjadi bupati Lebak pada 1908, menggantikan ayahnya, Soeria Nataningrat, yang meninggal pada 1907.

Dengan dua kutipan di atas, saya jadi terpikir untuk menghitung mundur kelahiran Rajapermat, berikut pernikahan Lasminingrat dengan putra Pangeran Sugih. Bila dikatakan pada 1886, usia Rajapermat 16 tahun, berarti dia lahir pada 1870. Kemudian, karena di atas disebutkan bahwa usia pernikahan Lasminingrat-Tamtoe adalah genap setahun, berarti pernikahannya terjadi paling tidak tahun 1869 atau awal 1870 hingga akhir tahun 1870. Dan bila saat menikah dengan Wiratanudatar VII pada 1871 usia Lasminingrat 15 tahun, berarti Lasminingrat menikah dengan Tamtoe pada usia 13 atau 14 tahun, seperti saat Rajapermat kawin gantung.

Selanjutnya bila dikaitkan dengan kutipan pada awal tulisan, agaknya terjadi kekeliruan dalam perhitungan tahun yang dilakukan Rajapermat. Saat berkunjung ke rumah Kartawinata dikatakannya bahwa dia sudah genap berusia 14 tahun, yang tentu saja akan merujuk kepada tahun 1884.

Sementara pada tahun tersebut, Kartawinata sudah menjabat sebagai patih Sumedang selama setahun. Bila bergeser setahun pun, pada 1883, tetap tidak masuk akal, karena Kartawinata diangkat menjadi patih pada 29 April 1883, sementara balap kuda di Tegallega biasanya dilaksanakan setiap Juli.

Salah satu kemungkinannya adalah hingga 1884 Kartawinata masih memiliki rumah di Banjarsari, mengingat kegemarannya untuk memelihara kuda berikut mengikuti pelbagai balap kuda. Apalagi Bandung adalah tempat berdomisilinya perhimpunan balap kuda di Priangan saat itu.

Namun, sekali lagi, kemungkinan ini juga bisa gugur bila dikaitkan dengan iklan pelelangan harta benda (dalam Bataviaasch Handelsblad dan Java-Bode edisi 8 Mei 1883) milik Kartawinata saat dia diangkat menjadi patih Sumedang. Meski tetap saja terbuka kemungkinan bahwa tidak semua rumah Kartawinata yang ada di Bandung akhirnya jadi dijual. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?

Netizen Selasa, 27 Juli 2021 | 17:35 WIB

Vaksin dianggap menjadi penyelamat dari serangan virus Corona yang diperkirakan lebih mematikan dari virus flu lainnya.

Netizen, Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?, Seruan Berpartisipasi,Mengatasi Covid-19,COVID-19,Virus Corona

Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

Netizen Selasa, 27 Juli 2021 | 09:02 WIB

Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

Netizen, Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI), UNI,sidolig,Persib,sepakbola,bandung,Teddy Kessler,Wim Kuik

Mengungkap Fakta Kandungan Susu Bear Brand

Netizen Senin, 26 Juli 2021 | 23:00 WIB

Alasannya, karena susu Bear Brand diyakini dapat meredakan paparan Covid-19.

Netizen, Mengungkap Fakta Kandungan Susu Bear Brand, Fakta,Susu,Bear Brand,COVID-19,Sehat,Hoaks

Inggris Melibatkan Diri Dalam Perang Ideologi di Asia

Netizen Sabtu, 24 Juli 2021 | 15:24 WIB

Media-media internasional secara luas memberitakan pelayaran satuan tugas gabungan Inggris, Amerika Serikat dan Belanda...

Netizen, Inggris Melibatkan Diri Dalam Perang Ideologi di Asia, Inggris,Pengaruh Inggris,kebudayaan Asia,Pengaruh Inggris di Asia

510 Hari Minus Sentuhan

Netizen Jumat, 23 Juli 2021 | 21:35 WIB

Kesakralan sentuhan tak lagi ada selama masa pandemi Covid-19.

Netizen, 510 Hari Minus Sentuhan, sentuhan,Pandemi Covid-19,Jaga Jarak,Sosial,Dampak Pandemi Covid-19

Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan...

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:30 WIB

Di Cekungan Bandung, sedikitnya ada 8 nama geografi yang berhubungan dengan harimau.

Netizen, Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan dengan Harimau, Toponimi,Harimau,cekungan bandung,Kota Bandung

Jangan Berhenti pada Kata Maaf

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB

Akhirnya ada perwakilan pemerintah yang menyampaikan permintaan maaf kepada publik terkait dengan penanganan pandemi Cov...

Netizen, Jangan Berhenti pada Kata Maaf, Kata Maaf,Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan,PPKM Jawa-Bali,pemerintah Indonesia

Mengatasi Over Kapasitas Lapas

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 21:15 WIB

Hukuman penjara, meskipun menjadi mekanisme yang penting untuk menghukum pelaku, bukanlah merupakan “obat”.

Netizen, Mengatasi Over Kapasitas Lapas, Over Kapasitas,Lapas,Hukuman Penjara,Masalah Kejahatan,Kriminalitas
dewanpers
arrow-up