web analytics
  

Suara dari Surau Kala Pandemi

Senin, 17 Mei 2021 18:25 WIB Netizen Loga Prity Dewi
Netizen, Suara dari Surau Kala Pandemi , Pandemi,Pendidikan Agama,Al-Qur'an,Islam

Ilustrasi seorang lelaki sedang beribadah di Surau. (Pixabay/nikolasc62)

Loga Prity Dewi

Mahasiswa Manajemen Produksi Media Universitas Padjadjaran. Suka menulis dan fotografi.

Pandemi berdampak pada banyak hal dan berbagai sektor, salah satunya adalah pendidikan. Dalam sektor pendidikan, banyak sekolah ditutup dan dialihkan dengan pertemuan daring mulai dari jenjang SD bahkan perguruan tinggi.

Bagi sejumlah pelajar, kelas daring ternyata memberikan waktu luang tambahan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Relawan menjadi salah satu pilihan.

Mufti Lathif, anak muda berusia 20 tahun asal Purwakarta memanfaatkan situasi ini dan memilih untuk menjadi relawan. Mahasiswa UIN Pekalongan jurusan Ilmu Tafsir Al-Qur'an ini secara sukarela mengajar mengaji bagi anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Selama pandemi, ia tinggal bersama dengan orang tuanya di Purwakarta, Jawa Barat.

Baginya, memilih menjadi pengajar mengaji sukarelawan bagi anak-anak di tengah situasi pandemi adalah hal yang menarik. Mufti menceritakan awal mula kegiatan tersebut berangkat dari inisiatif Deni (warga Komplek Perumahan Puskopad Purwakarta) ketika melihat anak-anak yang bercanda di masjid hingga sempat dikeluhkan jamaah yang tengah beribadah. Deni mengusulkan mengadakan pengajian agar anak-anak dapat lebih terarah dan dikondisikan dengan baik.

Selama mengajar, Mufti ditemani Ardi yang juga menjadi pengajar mengaji sukarelawan di Perum Puskopad. Kegiatan mengajar dilakukan empat kali seminggu yakni Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat mulai pukul 16.30 WIB hingga sebelum azan Maghrib. Setiap pertemuan dihadiri kurang lebih 20-25 anak dari rentang kelas 2-6 SD dan SMP.

“Karena rata-rata anak yang datang berasal dari rentang SD maka materi yang disampaikan pun menyesuaikan. Akan sulit jika materi yang ada dipukul sama rata,” tutur Mufti.

Materi yang disampaikan pun tidak hanya berfokus pada membaca Al-Qur’an melainkan mengenal dan memahami hadis, tata cara beribadah, lagu-lagu dalam membaca kitab suci dan adab. Menurut Mufti, adab merupakan materi yang paling penting karena ketika orang berilmu, tetapi tidak beradab akan percuma. Mufti menjadwal materi yang akan disampaikan. Senin irama lagu bacaan Al-Qur’an, Selasa hadis, Kamis tata cara beribadah, dan Jumat biasanya selingan seperti kuis agar anak-anak tidak jenuh.

Beragam Tantangan

Mufti mengakui terdapat kesulitan dalam proses mempersiapkan materi bagi anak-anak. Hal yang menyulitkan adalah menyederhanakan bahasa karena lawan bicaranya anak-anak yang merasa sulit jika bahasanya ilmiah atau terlalu tinggi. Oleh karena itu, ia sangat mempertimbangkan penyampaian dan gaya bahasa seperti apa yang bisa dicerna agar mudah dipahami oleh anak-anak.

Pendidikan selama di pesantren membantunya dalam menghadapi kesulitan tersebut. Ketika menemukan kebingungan saat mengambil referensi dari kitab, Mufti akan kembali mengingat pembelajaran yang ia dapat selama di pesantren. Ia juga akan meminta bantuan kepada ayah serta gurunya ketika sudah sangat bingung dalam mempersiapkan materi.

Selain persiapan materi, Mufti juga menemukan kendala saat kegiatan belajar mengajar. Daya fokus anak-anak, tata krama, dan budi pekerti yang kurang menjadi tantangan tersendiri. Namun, ia mencoba memaklumi kondisi tersebut karena merasa anak-anak masih dalam tahap pembelajaran dan mencoba sabar dalam menghadapinya.

Rasa malas juga sempat ia rasakan, tetapi Mufti mengatasinya dengan kembali mengingat tujuan awalnya yaitu, mengajar sebagai bentuk beribadah dan pengabdian. Selain itu, di tengah kesibukan kuliah daring, ia tetap menjaga semangatnya untuk mengajar sebagai bentuk mengamalkan ilmu dan upaya memperluas wawasan anak-anak di lingkungan sekitar rumahnya agar mereka memiliki pemikiran yang luas. 

Kesabaran serta kegigihannya cukup membuahkan hasil. Anak-anak menunjukkan adanya perubahan perilaku sedikit demi sedikit. Ketika awal-awal kegiatan, anak-anak tidak kondusif dan sulit untuk dikondisikan, tetapi sekarang ada sedikit perubahan. Seperti ketika Mufti sedang menyampaikan materi, mereka diam memperhatikan dan lebih sopan ketika berkomunikasi dan berperilaku kepada orang yang lebih tua.

Orang tua di Perum Puskopad juga memberikan respon yang sangat positif karena merasa waktu anak-anaknya terisi dengan hal positif dan tidak terbuang dengan sia-sia ketika pandemi. Serta ada juga yang datang untuk menitipkan anaknya ketika mengikuti pengajian. Sementara anak-anak cukup aktif dan merasa senang karena adanya kegiatan belajar mengaji.

Keinginannya untuk memahami Al-Qur’an bukan hanya secara teks melainkan konteks membuatnya memilih jurusan Ilmu Tafsir Al-Qur’an.

“Karena banyak umat Islam yang memahami Al-Qur’an hanya dari teks saja sehingga bermunculan paham radikal dan terorisme. Hal tersebut menjadi motivasi bagi saya dan ingin memahami teks dan konteks serta memadukan keduanya. Agar dapat berpikir sesuai dengan keadaan zaman dan tidak terpaku dengan teks yang ada di Al-Qur’an.”

Selain itu, Mufti juga mengungkapkan peran apa saja yang bisa dilakukan oleh remaja dan dewasa dalam menghadapi paham radikalisme. Dimulai dengan hal sederhana, merubah diri sendiri dan mengajak sebisa mungkin untuk memahami agama secara benar dan baik. Sebab, menurutnya konsep syukur itu memaksimalkan potensi, berkontribusi, dan menyebarkan manfaat seluas mungkin.

Membangun Generasi dengan Budi Pekerti Tinggi

Selama perjalanannya mengajar, Mufti juga menjadi murid yang terus belajar dan berlatih. Ia belajar bagaimana menghadapi dan mengembalikan fokus anak-anak ketika bercanda dan manajemen emosional agar anak-anak tidak dimarahi karena kurang baik juga. Hal tersebutlah yang membedakan ilmu dengan harta bagi Mufti. Ketika harta diberikan sudah tidak akan ada lagi di saku kita, berbeda dengan ilmu yang ketika disampaikan justru kita mendapatkan ilmu yang baru.

Kegiatan belajar mengaji diharapkan akan terus ada walaupun setelah pandemi. Jika pandemi selesai, Mufti akan kembali ke Pekalongan. Namun, ia mengungkapkan bahwa masih ada ayah serta Ardi yang akan mengisi kegiatan ini.

Bersama dengan kegiatan mengajar mengaji ini, Mufti berharap agar anak-anak bisa menjadi generasi yang memiliki budi pekerti tinggi karena ia menekankan adab, perilaku, dan etika. Sebab banyak orang yang berilmu seperti pejabat, profesor, dan doktor, bukan orang-orang sembarangan, tetapi berani untuk korupsi karena dalam dirinya tidak dihadirkan tuhannya. Oleh karena itu, Mufti mencoba menanamkan kepada anak-anak bahwa apa yang mereka lakukan akan dipertanggung jawabkan bersama tuhannya. Hal tersebut agar mereka menjadi anak yang berilmu, beretika, dan bertanggung jawab.

“Saya harap dimanapun mereka tinggal dapat memiliki tata krama yang baik sehingga negara ini menjadi negara yang hebat.”

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen Selasa, 22 Juni 2021 | 10:21 WIB

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen, Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati, limbah,Jatinangor,desa cisempur,Kahatex,kebersihan lingkungan

Modus Pelecehan Seksual Baru di Media Sosial

Netizen Senin, 21 Juni 2021 | 07:00 WIB

Pelecehan seksual di Indonesia merupakan salah satu kasus yang sering meningkat setiap tahunnya.

Netizen, Modus Pelecehan Seksual Baru di Media Sosial, Pelecehan Seksual,Media Sosial,Indonesia,Twitter

Diam di Rumah Namun Tetap Punya Penghasilan? Coba Bidang Ini

Netizen Senin, 21 Juni 2021 | 06:25 WIB

Berdiam diri di rumah saat pandemi, namun tetap dapat penghasilan akan menjadi suatu angan–angan bagi setiap orang.

Netizen, Diam di Rumah Namun Tetap Punya Penghasilan? Coba Bidang Ini, Diam di Rumah,Penghasilan,Industri Kreatif,Desain Grafis

Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu

Netizen Minggu, 20 Juni 2021 | 10:40 WIB

Kegagalan akan selalu ada, namun tidak berarti kegagalan ini akhir dari segalanya.

Netizen, Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu, SBMPTN,karier,Pendidikan

Ironi Tanggal Merah Saat Pandemi

Netizen Minggu, 20 Juni 2021 | 09:00 WIB

Entah bosan atau memang terlalu percaya diri sehingga setiap tanggal merah, jalan menuju tempat wisata tak pernah sepi.

Netizen, Ironi Tanggal Merah Saat Pandemi, Tanggal Merah,Pandemi,Libur

Masa Kecil Anak Zaman Now!

Netizen Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:40 WIB

Masa kecil merupakan pengalaman atau peristiwa yang terjadi saat masih anak- anak. Masa ini biasanya hanya datang satu k...

Netizen, Masa Kecil Anak Zaman Now!, Permainan Tradisional,anak zaman now

Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat

Netizen Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:32 WIB

Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat

Netizen, Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat, fesyen lambat,Fesyen,Kerusakan Lingkungan

Interpretasi dalam Geowisata

Netizen Kamis, 17 Juni 2021 | 19:40 WIB

Daya tarik geowisata Jawa Barat adalah jawaranya.

Netizen, Interpretasi dalam Geowisata, Interpretasi,geowisata,Jawa Barat

artikel terkait

dewanpers