web analytics
  

Menjadi Tangan Kanan Pangeran Suriaatmaja

Rabu, 12 Mei 2021 16:53 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Menjadi Tangan Kanan Pangeran Suriaatmaja, raden kartawinata,belanda,suriaatmaja,kabupaten sumedang

Pangeran Suriaatmaja, kerabat, teman sekolah, sekaligus menjadi atasan Raden Kartawinata. S (umber: KITLV 91211)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYOBANDUNG.COM--Bataviaasch Handelsblad dan Java-Bode edisi 8 Mei 1883 antara lain memuat kabar pelelangan barang-barang milik Raden Kartawinata. Pelaksanaan penjualannya akan dilakukan pada Senin-Selasa, 14-15 Mei 1883 oleh J.R. De Vries & Co. di rumah Kartawinata yang baru saja diangkat menjadi patih Sumedang.

Barang-barang yang dilelangnya berupa lahan seluas 15.475,88 meter yang sudah ditanami dengan 8.000 pohon kopi; rumah bergenting yang mempunyai 8 kamar, istal kuda dari kayu dan bergenting serta dapat memuat 6 kuda; rumah batu dengan kolam renang serta bangunan kayu di dekat Kweekschool, yang dihuni Kartawinata; rumah batu ala Belanda dan bangunan di tanah pemerintah seluas 1 bau dan ditanami dengan buah-buahan dan pohon kelapa, yang tadinya dihuni Coenraad, arsitek kelas satu; dan rumah berlantai batu yang semula dihuni Keijzer.

Selain lahan dan rumah, turut dilelang pula antara lain Americaine baru yang bersofa dua; kereta kuda bertenda ala Inggris; kuda sandel yang telah memenangi dua kali perlombaan dalam pameran dan tingginya 4 kaki serta berumur 8 tahun;  dua anak kuda Arab, 10 sapi Benggali dengan anaknya; seekor sapi perah; dan lain-lain.

Bila membaca berita di atas, betapa kita akan terkesiap pada jumlah kekayaan yang dikumpulkan oleh Kartawinata selama bekerja di Bandung sebagai adjunct kemudian juru bahasa dan penerjemah bahasa Sunda antara 1874-1883 itu. Betapa kaya. Terutama uraian mengenai lahan yang ditanami kopi, kuda dan hewan-hewan lain-lainnya mengingatkan saya pada sosok menak dalam salah satu percakapan yang ditulis Kartawinata dalam Pagoeneman Soenda djeung Walanda atau Soendasch-Hollandsche Samenspraken (1883). Pengetahuan dan kegemaran Kartawinata terhadap kopi dan kuda jadi sejajar antara kenyaatan dan cerminannya dalam buku karyanya.

Yang jelas, seperti yang disebutkan dalam iklan di atas, pelelangan tersebut berkaitan dengan pengangkatan Kartawinata sebagai patih Sumedang. Menurut Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indie 1884 [Tweede Gedeelte: Kalender en Personalia] (1883: 150), secara resmi Kartawinata diangkat menjadi patih Sumedang pada 29 April 1883 atau dua minggu sebelum pelelangan. Sementara koran-koran melaporkan pengangkatannya pada 5 Mei 1883, misalnya yang terdapat dalam De Locomotief, yang tentu saja berarti lima hari setelah terbitnya keputusan pelantikan atau tiga hari sebelum iklan pelelangan.

Dalam Regerings-Almanak yang sama disebutkan patih Sumedang sebelumnya yakni R.R. Marta Nagara, bersamaan dengan Kartawinata, diangkat sebagai patih Afdeeling Sukapurakolot (Mangunreja). Marta Nagara mulai menjabat sebagai patih Sumedang sejak 9 Februari 1881, menjabat sebagai pelaksana tugas bupati Sumedang setelah Pangeran Soeria Koesoema Adi Nata alias Pangeran Sugih meninggal pada 19 September 1882 hingga pengangkatan R.T. Suriaatmaja pada 30 Desember 1882. Suriaatmaja sendiri sebelumnya menjabat sebagai patih Afdeeling Sukapurakolot sejak 23 Oktober 1880 yang nantinya digantikan oleh Marta Nagara.

Mengenai pergantian tersebut dengan jelas disebutkan dalam memoar Marta Nagara, Babad Raden Adipati Aria Marta Nagara, Regent Pansioen Bandoeng, di Soemedang (1923: 31). Di situ tertulis, “Toean assisten-resident ngadawoehan jen badan pribadi koedoe djadi waarnement Bopati Soemedang. Sanggeus meunang 4 boelan datang katangtoean, jen anoe diangkat djadi Boepati Soemedang Raden Soeriaatmadja, Patih Afdeeling Mangoenredja” (Tuan asisten residen mengungkapkan bahwa saya harus menjadi pelaksana tugas bupati Sumedang. Setelah empat bulan berjalan tibalah keputusan bahwa yang diangkat menjadi bupati Sumedang adalah Raden Suriaatmaja, Patih Afdeeling Mangunreja).

Yang menarik di antara ketiga orang tersebut terjalin suatu kekerabatan. Mengenai hal ini dapat dibaca dalam memoar Marta Nagara, Wawatjan Tjarios Raden Ajoe Radjapamerat (1923), ditambah keterangan dari “Silsilah Pangeran Santri (Gen.01-13) (2014-05-27)” yang dimuat dalam silsilah-ernimuthalib.blogspot.com.

Dari sumber-sumber tersebut dapat diungkapkan sebagai berikut. Marta Nagara adalah anak dari N.R. Tedjamirah yang merupakan kakak kandung ibunya Kartawinata, yakni R.A. Perbatamirah. Alhasil, Marta Nagara dan Kartawinata adalah saudara misan melalui ibunya masing-masing. Selanjutnya Marta Nagara adalah keponakan dan menantu Pangeran Soeria Koesoema Adi Nata alias Pangeran Sugih. Ayah Marta Nagara, R. Koesoemajoeda, adalah adik dari Pangeran Sugih. Keduanya merupakan anak bupati Sumedang ke-11, Dalem Koesoemajoeda. Sementara hubungan antara Kartawinata dengan Soeria Atmadja alias Pangeran Suriaatmaja adalah ipar, karena kakak Kartawinata, R.A. Lasminingrat, menikah dengan Raden Tamtu, yang merupakan kakak Suriaatmaja. Dengan demikian pula, R.H. Moehamad Moesa dengan Pangeran Sugih adalah besan.

Apalagi dengan Suriaatmaja, Kartawinata terbilang sangat dekat sejak sama-sama belajar di Sekolah Kabupaten yang didirikan oleh Pangeran Sugih. Keduanya bisa jadi pernah menjadi teman sekelas, meskipun waktu masuk sekolahnya berbeda. Suriaatmaja mulai belajar sejak 1867, sementara Kartawinata baru masuk pada 1868. Namun, sebagaimana yang dapat dibaca dari Verslag van het inlandsch onderwijs in Nederlandsch-Indie over 1869 (1872: 118-132), Suriaatmaja yang semasa remaja bernama Raden Sadeli setelah diangkat menjadi kaliwon di Kabupaten Sumedang sejak 1 Agustus 1869, masih tetap belajar dengan jalan menghadiri kelas sore.

Mengenai hal ini juga diperkuat dengan surat yang dikirimkan Moesa kepada Bupati Blora R.A. Tjakranagara (dalam Serat Sinerat Djaman Djoemenengna Raden Hadji Moehamad Moesa, 1929: 58). Moesa antara lain menyatakan bahwa Kartawinata yang semula penerjemah diangkat menjadi patih Sumedang seraya tetap merangkap menjadi juru bahasa dan diberi asisten penerjemah seorang bangsa Belanda (“Lan poen paman ngatoeri hoedani, reh rajinta poen Kartawinata hing roemihin pakarjane, inggih dados translatoer, tahoen wingking djinoengdjoeng malih, dados Patih Soemedang, ngiras lan translatoer, taksih tjinangking kewala; moeng sinoengan adjoen kang minangka kanti, inggih bangsa Walanda”).

Adapun pertemanan antara Kartawinata dengan Suriaatmaja disebutkan demikian, “Hingkang dados sroe soekaning galih, dene hingkang djoemeneng boepatya, pradjeng Soemedang samangke, hing wahoe toenggil goeroe, hing sekola temboeng Welandi, lawan Kartawinata, toer mitra satoehoe, hing mangke langkoeng sihira, kalihipoen ekapraja toenggil kapti, soeka mamangoen wirja”. Menurut terjemahan teman saya dari Yogyakarta, Abdi (13 Februari 2021), kutipan tersebut berarti, “Yang menjadi kebahagiaan di hati adalah bahwa yang menjadi bupati Sumedang sekarang, dulunya satu guru di sekolah bahasa Belanda dengan Kartawinata, pun mereka berteman baik. Sekarang akan lebih senang. Bersatu tekad dalam membangun kekuasaan”.

Namun, di balik itu, ternyata hubungan antara Suriaatmaja dan Kartawinata tetap pelik. Kepelikan ini dapat disimak dari keterangan yang diberikan oleh Tom van den Berge dalam Karel Frederik Holle, Theeplanter in Indie, 1829-1896 (1998). Menurut Berge (1998: 211-212), pada akhir Mei 1881 menjadi jelas bahwa akhir riwayat Pangeran Sugih sudah menjelang. Calon pengganti yang dipilih Residen Priangan Van Vleuten membuat Holle naik pitam. Karena residen tersebut tidak berkonsultasi dulu dengan Holle, sekaligus Holle tidak menyukai sama sekali pilihan residen. Oleh karena itu, Holle meminta kepada Gubernur Jenderal s’ Jacob untuk memilih calon bupati Sumedang yang setia kepada pemerintah.

Pilihan Van Vleuten adalah Suriaatmaja yang menjadi patih Mangunreja. Holle tidak menyukai pilihan tersebut, mengingat dalam penilaiannya Suriaatmaja adalah sosok yang kikir dan yang memiliki kecenderungan dekat dengan kelompok fanatisme Islam. Oleh karena itu, Holle mengusulkan agar memilih anak tertua Pangeran Sumedang yang menjadi patih Tasikmalaya. Namun, di atas itu semua, Holle menginginkan agar “murid terkasihnya”, Kartawinata, mendapatkan gelar pangeran yang hanya ada di Sumedang. Namun, Van Vleuten bergeming dan Holle tidak mendapatkan dukungan dari gubernur jenderal, sehingga ia sangat sakit hati. Luka Holle tersebut pasti baru terobati saat Kartawinata diangkat menjadi patih merdeka (zelfstandig) di Sukabumi. 

Kini tiba gilirannya membahas peran seorang patih. Menurut Hardjasaputra (Perubahan Sosial di Bandung 1810-1906, 2002: 41), patih yang juga diangkat oleh gubernur jenderal biasanya kerabat dekat bupati: adik, paman, keponakan, dan sebagainya. Patih merupakan pejabat struktural di bawah bupati, yang terdiri atas patih patih dalam dan patih luar. Patih dalam adalah wakil bupati yang bertugas mengatur urusan pemerintahan di pusat kabupaten. Ia mendapat sebutan “pangarang” dan dapat mewakili kepala distrik kota. Sebutan “pangarang” - sebagai jabatan - juga digunakan menjadi nama kampung tempat tinggalnya.

Dengan demikian, menurut Jan Breman (Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa, 2014), patih menjadi sosok penting. Ia merupakan poros organisasi perekonomian kabupaten karena berfungsi sebagai pelaksana utama perintah bupati memimpin kerja atau menjadi koordinator para bawahan bupati lainnya yang berada di ibu kota kabupaten. Itu sebabnya sejak 1706, patih diangkat dan diberhentikan oleh VOC, bukan oleh bupati.      

Secara khusus, tugas patih antara lain memegang administrasi persawahan (terutama milik bupati) di seluruh penjuru kabupaten, mengurus jalan raya dengan jembatan-jembatannya (baik yang besar maupun yang kecil), memelihara rumah atau bangunan lainnya milik kabupaten, rumah asisten residen, rumah kontrolir, penjara, gudang garam, dan gudang kopi. Pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh tenaga kerja wajib dan pembiayaannya dari para wedana yang memungutnya dari desa-desa di bawahnya (“Ari patih teh boga gawe pribadi, ka 1 sawah-sawah antero kaboepaten boekoena ditjangking koe patih, ka II ngoeroes djeung ngome djalan besar, nja eta djalan kareta djeung sasak-sasakna gede leutik, ka III boemi-boemi kaparabon, saperti boemi kaboepaten, boemi assisten-resident, imah controleur, boei nagri, goedang garem, goedang kopi, eta kabeh koedoe dipigawe djeung dikanjahokeun koe patih. Anoe migawena djalma heerendienst demi ongkosna ti wadana-wadana ragrag ka desa-desa)” (Marta Nagara, 1923: 19).

Nah, sebagai tangan kanan Suriaatmaja, apa saja yang dilakukan oleh Kartawinata? Bila berkaca dari Wawacan Kangjeng Pangeran Mekah (1988: 37) karya R.M. Abdullah Kartadibrata, salah satunya adalah bidang pertanian. Dikatakan bahwa Suriaatmaja membagikan buku Mitra nu Tani hadiah dari Moehamad Moesa kepada para lurah. Dengan kenyataan ini, saya pikir Kartawinata jelas memainkan peran yang penting demi perkembangan ekonomi rakyat di Sumedang saat dia menjabat sebagai patih. Selain yang diuraikan Marta Nagara, Kartawinata berperan dalam transfer ilmu pengetahuan terutama dalam bidang pertanian dalam kerangka pembangunan Sumedang, terutama dengan jabatan rangkapnya sebagai juru bahasa dan penerjemah Sunda. Ia yang menjadi penerjemah bagi buku seri pertanian Mitra nu Tani, yang diberikan ayahnya kepada Suriaatmaja di atas.

Setahun setelah anaknya menjabat sebagai patih di Sumedang, Moesa sangat memperhatikan Kartawinata. Bagaimana bentuk perhatiannya? Ini antara lain dapat disimak dalam surat jawaban istri almarhum Pangeran Sugih, yang bertitimangsa 13 April 1884, kepada Moesa. Di situ antara lain disebutkan bahwa “Sareng emang nitipkeun Den Patih, koe kang poetra nja kasoehoen pisan, sawangsoelna poetra oge, titip poetra djeung poetoe, babakoena Aom Bopati, Kangdjeng Dalem Soemedang, sareng Aom Djamoe, Raden Wadana di Djampang, kitoe deui di Mangoenredja Den Patih, soemawon poetra wajah” (dan paman menitipkan patih, oleh saya pasti akan diperhatikan, sebaliknya saya pun menitipkan putra dan cucu, terutama bupati Sumedang, dan Aom Djamoe, Raden Wadana di Jampang, demikian pula Patih Mangoenredja, yang juga merupakan putra saya). Patih Mangunreja adalah Marta Nagara yang notabene adalah menantu istri Pangeran Sugih.

Selain itu, istri Pangeran Sugih menyebut-nyebut hampir sama dengan ungkapan yang disampaikan oleh Moesa kepada bupati Blora, bahwa Sumedang akan sangat berkembang karena saat itu dipimpin oleh generasi muda, baik bupati maupun patihnya, yang sama-sama sebaya, kreatif, pandai, ibarat keris Majapahit yang terpilih bahan-bahannya (“Ajeuna teh di Soemedang nagri, rasa-rasa rek didaoen-ngora, reh tangkalna anom keneh, papatih sareng ratoe, anom-anom sami binangkit, palinter papantaran, saoepami doehoeng, Madjapait beusi koena, dibontosan koe tangkolo beunang milih, poeloeng landeanana” dalam Serat Sinerat Djaman Djoemenengna Raden Hadji Moehamad Moesa, 1929: 39).

Dengan demikian, saya pikir pengangkatan Kartawinata sebagai tangan kanan Pangeran Suriaatmatja memang sangat menarik. Seperti yang sudah saya uraikan di atas, pemilihannya sebagai patih Sumedang bukan saja melibatkan urusan genetik dan kemampuan intelektual Kartawinata, tetapi juga berkaitan dengan intrik politik yang dimainkan oleh mentornya tercinta, K.F. Holle.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Menolak Lupa, Paket Album Super Junior Mamacita yang Dicurigai Berisi...

Netizen Jumat, 11 Juni 2021 | 13:05 WIB

Pada Oktober 2014, sebuah laporan menyatakan ada penemuan paket diduga bom di Jatinegara, Jakarta Timur.

Netizen, Menolak Lupa, Paket Album Super Junior Mamacita yang Dicurigai Berisi Bom, Paket Album Super Junior,Mamacita,Bom,Super Junior,ELF

Menurunkan Angka Kematian Ibu

Netizen Kamis, 10 Juni 2021 | 17:15 WIB

Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini berkaitan dengan kaum ibu adalah masih tingginya angka kematian ibu...

Netizen, Menurunkan Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Ibu,AKI,Ibu

Menyoal Penggantian Nama Jalan Tol Japek

Netizen Kamis, 10 Juni 2021 | 14:40 WIB

Penggantian nama jalan Tol Japek (Jakarta— Cikampek) jadi hal yang patut diperdebatkan.

Netizen, Menyoal Penggantian Nama Jalan Tol Japek, Penggantian Nama Jalan Tol Japek,Tol Japek,Tol Japek (Jakarta— Cikampek),Jalan Layang Syeikh Mohammed Bin Zayed,Jalan Tol Layang Japek

Menikahkan Anak

Netizen Rabu, 9 Juni 2021 | 13:55 WIB

Dua tahun setelah diangkat menjadi zelfstandig patih Sukabumi, Raden Kartawinata mulai menikahkan anak-anaknya.

Netizen, Menikahkan Anak, Raden Kartawinata,Raden Kartawinata mulai menikahkan anak-anaknya,Raden Soeria Karta Negara,Soeria Karta Legawa

Sinetron Televisi Indonesia: Antara Impian dan Kenyataan Masyarakat Ki...

Netizen Selasa, 8 Juni 2021 | 15:15 WIB

Sinetron adalah impian tertinggi masyarakat kita. Sinetron juga gambaran realitas yang ada di masyarakat.

Netizen, Sinetron Televisi Indonesia: Antara Impian dan Kenyataan Masyarakat Kita, Sinetron Televisi Indonesia,Sinetron,Badan Pusat Statistik (BPS),Garis Kemiskinan (GK),Hasil survei BPS,Impian,Kenyataan

Menlu Mochtar Kusumaatmadja dalam Kenangan

Netizen Senin, 7 Juni 2021 | 11:29 WIB

Menlu Mochtar Kusumaatmadja terbaring sakit. Segera terbayang wajah pejabat dengan latar belakang akademisi yang mumpun...

Netizen, Menlu Mochtar Kusumaatmadja dalam Kenangan, Mochtar Kusumaatmadja,Mochtar Kusumaatmadja wafat,dubes ri

Monyet Emas

Netizen Sabtu, 5 Juni 2021 | 17:42 WIB

Monyet Emas

Netizen, Monyet Emas, lutung,monyet emas,hewan,Hewan Langka

[Ayo Netizen] 6 Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com Edisi Mei 20...

Netizen Sabtu, 5 Juni 2021 | 12:10 WIB

Selamat untuk 6 netizen yang tulisannya terpopuler di Ayobandung.com edisi Mei 2021.

Netizen, [Ayo Netizen] 6 Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com Edisi Mei 2021, Ayo Netizen,6 Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com Edisi Mei 2021,Tulisan Terpopuler,netizen,Ayobandung.com,Mei 2021
dewanpers