web analytics
  

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Jumat, 7 Mei 2021 14:30 WIB Netizen T Bachtiar
Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Peta tahun 1905 masih berupa persawahan yang luas, sejauh mata memandang. Peta koleksi Leiden University. (Istimewa)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Pembuatan jalan raya pos yang melintasi Bandung atas instruksi Daendels pada tahun 1808-1810, menjadi titik awal perkembangan kota ini. Untuk memperpendek rentang kendali kepada para bupati, maka pada tanggal 25 Mei 1810 Daendels mengirim surat kepada Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang, agar segera memindahkan ibukota kabupatennya ke pinggir Jalan Raya Pos.

Kantor pemerintahan Kabupaten Bandung dipindahkan ke selatan Alun-Alun Kota Bandung (sekarang), dan ibu kota Kabupaten Parakanmuncang dipindahkan ke Anawadak, Tanjungsari sekarang. Karapyak, ibu kota Kabupaten Bandung yang berada di tempuran Ci Kapundung dengan Ci Tarum, menjadi kota yang ditinggalkan, sehingga menjadi Dayeuhkolot, kota tua.

Bandung terus berkembang menjadi dayeuh, kota impian banyak orang. Penduduk mulai berdatangan ke Bandung. Daerah yang asalnya berupa ranca, rawa, situ, mulai ditimbuni (disaeur). Terbentuklah lahan yang kemudian dihuni, daerahnya dinamai Situsaeur, di selatan Tegalega.

Banyak lahan basah yang diurug, sehingga ketika terkena air hujan, jalanan masih licin (leueur) yang dapat menggelincirkan orang (tisoledat) yang melewatinya. Dinamailah tempat itu Sukaleueur dan Soledat. Walau menyebabkan banyak orang sering terjatuh, tetapi kawasan itu sangat indah, membuat orang menyukainya. Lahan-lahan basah terus dibuka untuk persawahan atau dibuat balong, kolam.

Tempat itu kemudian disebut bebedahan, tanah yang dibuka. Ketika tempat itu dihuni, nama kampungnya Bebedahan. Ketika menjadi persawahan, nama tempatnya menjadi Pasawahan, Lembur-sawah, atau menjadi balong, kolam, dinamailah Balonggede.

Motif kepindahan warga ke Kota Bandung itu sangat beragam, seperti alasan  pekerjaan, karena keamanan di kampung asal. Ketika orang terus berdatangan ke Bandung, sekeliling Cekungan Bandung keadaan alamnya masih terjaga, sehingga air hujan ditangkap oleh hutan dan diserapkan melalui akar-akarnya, lalu dikeluarkan secara teratur di mataair, yang oleh penduduk disebut seke.

Para pendatang banyak yang bermukim di dekat sumber air, sehingga nama permukimannya kemudian memakai kata seke, seperti: Seke, Ciseke, Sekeangkrih, Sekebulu, Sekeburuy, Sekegawir, Sekejati, Sekekondang, Sekelimus.

Penduduk dari luar Bandung terus berdatangan. Bandung semakin padat, daerahnya banyak yang terus dihuni, hal ini tercermin dengan nama-nama geografi yang diawali dengan kata babakan, yang berarti permukiman baru di suatu daerah.

Ada yang nama geografinya memakai daerah asal penduduk yang bermukim di sana, atau berdasar pada nama tempat yang dijadikan permukiman tersebut, seperti: Babakan Biru, Babakan Cikalama, Babakan Cimahi, Babakan Cintawangi, Babakan Cinta Wetan, Babakan Dano, Babakan Dunguslembu, Babakan Gandok, Babakan Harja, Babakan Irigasi, Babakan Kertajaya, Babakan Laksana, Babakan Bandung, Babakan Ciamis, Babakan Garut, Babakan Priangan, Babakan Surabaya, Babakan Betawi, Babakan Cianjur, Babakan Leles, Babakan Sumedang, Babakan Tasikmalaya.

Ada juga nama babakan, permukiman baru, yang hanya dinamai Babakan, seperti: yang terdapat di Cibaduyut Kidul, di Cibeureum, di Cibiruhilir, di Ciburial, di Cihanjuangrahayu, di Cihideung, di Cijerah, di Cikole, di Cileunyi Wetan, di Cimenyan, di Gempolsari, di Kayuambon, di Lagadar, di Leuwigajah, di Mekarmanik, di Mekarwangi, di Melong, di Rancaekek Kulon, di Rancamanyar, di Sangkanhurip, di Sekarwangi, di Utama, di Warungmuncang, di Cirangrang, di Sukapada.

Permukiman yang mengelompok berdasarkan keterampilan atau pekerjaan, seperti: Paledang (tukang membuat perlengkapan rumahtangga dari logam), Panjunan (tukang membuat gerabah), Kamasan (tukang membuat perhiasan emas), dan cinta (tukan yang secara khusus membuat perlengkapan dari tembaga). Saat ini, untuk menyebut suatu kawasan yang memiliki ciri masyarakat dengan pekerjaan yang sama itu dengan sebutan blok, seperti: Blok Aci (pembuat kanji), Blok Kupat (pembuat cangkang ketupat), Blok Pareman (pegawai swasta), Blok Ragaji (pembuat mebel), Blok Topi (pembuat topi), Blok Beas (penjual beras), dan Blok Kasur (pembuat kasur). Bisa juga berdasar pada keadaan lingkungannya, baik alami atau pun buatan, seperti: Blok Jambu, Blok Sakola, Blok Sawah, Blok Sinyar, Blok Situ, Blok SMP, dan Blok Desa.

Nama geografi berdasarkan peruntukkan lahan, seperti: Pasanggrahan (tempat beristirahat), Parabon (tempat prabu, ataukah tempat perabuan/kremasi?), Pasantren, dan Blokpasantren (tempat santri menuntut ilmu).

Peta tahun 1945, kawasan yang sekarang bernama Sawahkurung itu masih berupa lahan (sawah) yang belum terbangun. Sumber peta: KITLV Heritage Collection. (Istimewa)

Perpindahan penduduk terus mengalir ke kota ini, tak terkecuali yang akan melanjutkan pendidikan, sehingga banyak ranca, situ, sawah, kebun, yang tak terhindarkan beralih fungsi menjadi kawasan permukiman, seperti yang kemudian dinamai Sawahkurung. Sawah yang sudah terkurung oleh desakan permukiman.

Kawasan yang sekarang bernama Sawahkurung itu pada peta tahun 1905 masih berupa persawahan, yang sangat luas, yang menerus ke selatan, ke timur, dan ke barat. Pada peta tahun 1945 masih belum banyak berubah, masih berupa lahan yang belum terbangun. Demikian juga pada peta tahun 1950, kawasan ini masih berupa lahan yang subur air berupa persawahan satungtung deuleu, sejauh mata memandang.

Sampai tahun 1950, belum terdapat jalan pada peta dari belokan Ciateul ke selatan, ke kawasan yang sekarang bernama Sawahkurung. (Istimewa)

Perubahan mulai terasa sejak tahun 1960-an, secara perlahan, persawahan di sana mulai beralih fungsi menjadi permukiman. Menurut Ir Oki Oktariadi, M.Sc, ahli Geologi Lingkungan, yang masa kecil sampai mahasiswa tinggal di Jl Padmadinata, dari tahun 1961 sampai tahun 1982. Selama sepuluh tahun antara 1960-1970 itulah yang semula persawahan mulai dikelilingi permukiman.

Persawahan itu lama kelamaan mulai terkurung permukiman, kemudian masyarakat dinamai Sawahkurung. Menurut Oki Oktariadi, awal tahun 1970-an itulah desakan permukiman menjadi sangat kuat. Akhirnya pemilik sawah melepaskan lahannya kepada para pembeli. Mulai tahun 1975 Jl Sawahkurung tersambung ke Jl Mohamad Ramdhan melalui permukiman Kota Baru. Walau kini sudah tidak ada lagi sisa sawah yang terkurung itu, dan semuanya sudah berubah menjadi permukiman, namun nama geografinya tetap sampai saat ini, Sawahkurung. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Trend Minum Kopi di Indonesia dan Manfaat Gizinya

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 15:39 WIB

Eksistensi kopi di Indonesia bermula dari budaya minum kopi pada masa kedatangan bangsa Belanda pada abad ke-17, ke Ind...

Netizen, Trend Minum Kopi di Indonesia dan Manfaat Gizinya, Minum Kopi,manfaat  minum kopi,sejarah kopi,trend minum kopi

Perokok Terburuk Adalah yang Orang Merokok Saat Berkendara

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 13:05 WIB

Banyak orang masih melakukan tindakan yang mengganggu orang disekitarnya. Salah satunya dengan merokok saat mengendarai...

Netizen, Perokok Terburuk Adalah yang Orang Merokok Saat Berkendara, Rokok,Merokok,Perokok,Berkendara,mengendarai sepeda motor,pasal 283 UU Nomor 22 Tahun 2009

Memasuki Masa Pensiun

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 10:41 WIB

Secara resmi, Raden Kartawinata dihentikan sebagai zelfstandig patih Sukabumi pada tanggal 8 Oktober 1905.

Netizen, Memasuki Masa Pensiun, raden kartawinata, sejarah sunda,tempo dulu

Begini Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Netizen Rabu, 23 Juni 2021 | 08:00 WIB

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita.

Netizen, Begini Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh, Daya Tahan Tubuh,Kesehatan,Tips,Gaya Hidup,Pola Makan

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen Selasa, 22 Juni 2021 | 10:21 WIB

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen, Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati, limbah,Jatinangor,desa cisempur,Kahatex,kebersihan lingkungan

Modus Pelecehan Seksual Baru di Media Sosial

Netizen Senin, 21 Juni 2021 | 07:00 WIB

Pelecehan seksual di Indonesia merupakan salah satu kasus yang sering meningkat setiap tahunnya.

Netizen, Modus Pelecehan Seksual Baru di Media Sosial, Pelecehan Seksual,Media Sosial,Indonesia,Twitter

Diam di Rumah Namun Tetap Punya Penghasilan? Coba Bidang Ini

Netizen Senin, 21 Juni 2021 | 06:25 WIB

Berdiam diri di rumah saat pandemi, namun tetap dapat penghasilan akan menjadi suatu angan–angan bagi setiap orang.

Netizen, Diam di Rumah Namun Tetap Punya Penghasilan? Coba Bidang Ini, Diam di Rumah,Penghasilan,Industri Kreatif,Desain Grafis

Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu

Netizen Minggu, 20 Juni 2021 | 10:40 WIB

Kegagalan akan selalu ada, namun tidak berarti kegagalan ini akhir dari segalanya.

Netizen, Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu, SBMPTN,karier,Pendidikan

artikel terkait

dewanpers