web analytics
  

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Kamis, 6 Mei 2021 15:36 WIB Netizen Maulida Fairuz Amalia
Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ilustrasi Pendidikan Seksual. (Freepik/@vectorjuice)

Maulida Fairuz Amalia

Mahasiswi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif untuk dibicarakan, di Indonesia sendiri masih dipandang sebagai hal yang tidak layak dibicarakan.

Masyarakat menganggap seks merupakan hal yang tabu dan tidak patut dibicarakan, terlebih dengan anak-anak. Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari stereotip yang masih dimiliki masyarakat terkait dengan pendidikan seks yang dianggap seperti  sesuatu yang vulgar. 

Jurnal Eksplorasi Persepsi Ibu tentang Pendidikan Seks untuk Anak menyebutkan bahwa orang tua di Indonesia masih enggan untuk memberikan pemahaman mengenai seks itu sendiri. Mereka berpikiran bahwa anak-anak nantinya akan tahu dengan sendirinya.

Membicarakan tentang seks sepertinya selalu menjadi  momok yang menyeramkan untuk dibicarakan. Misalnya saja di Indonesia, dengan budaya yang cenderung konservatif dan melihat seksualitas sebagai hal tabu.

Sebagian masyarakat masih menilai pendidikan seks ini sama halnya dengan memberikan atau mengajarkan perbuatan asusila. Kekhawatiran orang tua terlihat dari cara mereka berpikir jika anak-anak diberikan pengetahuan seksualitas maka akan menimbulkan kemungkinan sang anak melakukan hal tersebut.

Seperti beberapa remaja yang masih duduk di bangku SMA, mereka hampir semuanya mendapat informasi tentang seks dari sekolah dan juga internet. Jika bertanya pada orang tua mereka merasa malu untuk membicarakannya, sehingga mereka mencari jalan sendiri. Vinka Rise (18) satunya, ia tidak pernah bertanya seputar seks pada orang tua karena merasa malu untuk bertanya. Pengetahuan remaja mengenai seks sendiri hanya berdasar pada hubungan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan bersifat pribadi,

“Yang aku tau seks itu adalah hubungan antara wanita dan laki-laki yang untuk menunjukan pola ketertarikan satu sama lainnya, atau ketertarikan emosional dalam dirinya atau juga kalo misalkan yang udah nikah mah mungkin untuk menambah keturunan”ujar Vinka

Istilah pendidikan seks sering kita dengar, namun tak banyak orang yang berpendapat mengenai makna pendidikan seks, maknanya menjadi kabur. Pada dasarnya untuk memahami pendidikan seks, terdapat dua kata kunci yang harus benar-benar kita pahami yaitu dimulai dengan pengertian pendidikan dan seks itu sendiri.

Seperti yang dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik. sementara itu pengertian seks bermakna jenis kelamin atau yang berkaitan dengan alat kelamin.

Moh. Rasyid dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Seks, Mengubah Seks Abnormal Menuju Seks yang lebih Bermoral” menjelaskan pendidikan seks bukan hanya dari dimensi fisik, namun juga dari psikis serta sosial. Saat ini di lingkungan sekitar, makna pendidikan seks disempitkan menjadi aspek pembelajaran dalam hubungan seks saja. Akibatnya pendidikan seks menjadi salah satu hal yang tabu untuk dibicarakan.

Padahal Pendidikan seks begitu penting diberikan kepada anak sejak dini sampai remaja untuk melindungi sang anak dari pelecehan seksual seperti yang dijelaskan oleh Halodoc.com.

Askia, salah satu pelajar yang duduk di bangku SMP mengungkapkan suaranya untuk mendukung adanya pendidikan seks agar anak bisa menjaga diri dan tahu bahwasanya seks bebas sangat dilarang.

“Perlu banget karena agar anaknya bisa menjaga diri tau kalo seks bebas itu dilarang banget” kata Askia

Perempuan yang berusia 15 tahun tersebut mengeluhkan bahwa di Indonesia masih tidak ada pelajaran khusus untuk seks edukasi, menyebabkan banyaknya orang-orang yang mengalami kehamilan di usia dini. ia juga mengungkapkan peran orang tua sangat penting dalam mengajarkan pendidikan seks pada anaknya.

Selain berbicara pendidikan seks bisa diperoleh dalam lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah pun pendidikan seks sangat diperlukan. Seperti yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 pasal 136-137 Tentang Kesehatan Remaja, menjelaskan kewajiban pemerintah menjamin agar remaja memperoleh edukasi agar terbebas dari gangguan yang menghambat berlangsungnya kehidupan reproduksi yang sehat.

Sayangnya lagi-lagi masih banyak sekolah yang belum memenuhi kriteria yang diinginkan bagi kebanyakan siswa untuk memberikan pendidikan seks sesuai dengan Undang-undang. Hal ini juga didukung dengan banyaknya penolakan dari masyarakat.

Banyaknya sekolah yang masih belum melaksanakan program pendidikan seks, tidak menyurutkan salah satu Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta untuk melaksanakan konseling pendidikan seks seperti talk show disertai tanya jawab untuk memperoleh suara dari siswa terkait pendidikan seks. Siswa dilibatkan secara aktif terhadap usaha memperkenalkan pendidikan seks di sekolah tersebut dan menuai respon positif.

Tabu dan perasaaan tidak nyaman seringkali menjadi alasan seseorang untuk menutup diri dan tidak mau membahas soal seks, tradisi dan kepercayaan di Indonesia yang masih kental juga sangat berperan besar dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Sulitnya mengakses pendidikan seks membuat sang anak seperti mempunyai dukungan untuk mengakses jalan alternatif dalam teknologi internet masa kini. Seperti mengakses pornografi atau menelusuri Google.

Informasi dalam internet yang tidak difilter dan tingkat literasi yang rendah serta kurangnya pengawasan orang tua dapat menimbulkan dampak yang negatif, bukannya mendapatkan informasi yang akurat soal reproduksi dan relasi sang anak malah bisa jadi kian tersesat. Oleh karena itu pendidikan seks sangat diperlukan pada anak, agar mereka tidak mendapatkan informasi yang keliru. Terlebih ketika anak memasuki masa puber mereka cenderung memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi tentang banyak hal.

Santelli dkk.(2017) dalam penelitiannya menemukan bahwa abstinence-only education atau pendidikan seksual yang secara eksklusif hanya mengajarkan kepada remaja untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai menikah dan penularan penyakit menular seksual pada remaja.  Dalam artian hal ini tidak membuat anak atau remaja untuk tidak melakukan hubungan seksual, malah mereka tetap penasaran terhadap seks dan pada akhirnya konsekuensinya adalah melakukan hubungan seksual dengan cara yang tidak aman, berbeda dengan anak yang mendapatkan pendidikan seksual secara komprehensif atau melibatkan pengetahuan mengenai kontrasepsi dan akses untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan seksual.

Inez Kristanti. M.Psi. Seorang Psikolog Klinis Dewasa mengatakan bahwa ketika ia bertanya pada mahasiswa yang dia ajar dalam mata kuliah Human Sexuality (Seksualitas Manusia) di salah satu universitas swasta Jakarta.

“Siapa yang di sekolahnya mendapatkan pendidikan seksualitas (sex education)” tanya Inez.

Dari sekitar tiga puluh mahasiswa yang ada, setiap semesternya ia hanya melihat tiga sampai lima orang saja yang angkat tangan, lalu ketika ia bertanya kembali,  apakah dengan materi sex education yang diajarkan dengan memberitahu untuk tidak melakukan sebelum menikah atau akan menularkan penyakit yang berbahaya membuat mereka tidak melakukan hubungan seksual. Mahasiswanya hanya terkekeh dan menjawab “Enggak. Mba tetep penasaran lah.”

Remaja yang mendapatkan pendidikan seksualitas secara komprehensif dapat membuat keputusan yang bertanggung jawab dengan seksualitasnya sendiri. Jika mereka memutuskan untuk melakukan hubungan seksual, mereka akan menggunakan pengaman dan memeriksakan kesehatan seksual mereka secara rutin.

Komponen Pendidikan Seksualitas yang Komprehensif

Komponen pendidikan seksualitas yang komprehensif antara lain:

1. Pendidikan seksualitas perlu diberikan sesuai dengan usia anak atau remaja

2. Informasi yang akurat terkait abstinence atau pilihan untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah dan juga kontrasepsi.

3. Pencegahan penularan infeksi seksual menular dan kehamilan yang tidak direncanakan.

4. Keterampilan komunikasi dalam hal penolakan dan negosiasi seksual.

Pendidikan seks ini sudah seharusnya diberikan pada anak, peran orang tua juga sangat penting sebab masalah ini sangat krusial dan sensitif, ini juga supaya mereka tidak mendapatkan informasi yang keliru mengenai pendidikan seks. Orang tua seharusnya bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan seksualitas pada anak, mulai dari bagian tubuhnya bagaimana cara kerjanya, jenis kelamin, ekspresi seksual dan nilai lainnya yang mendukung.

Lalu bagaimanakah cara menyampaikan pendidikan seksual berdasarkan umur mereka?

Usia 0-3 tahun

Pada usia ini sebagai orang tua sudah bisa memberi tahu nama-nama bagian tubuh yang sebenarnya. Mulai dari kepala, tangan, kaki hingga alat kelaminnya dengan nama asli organ kelaminnya. Selain itu dapat mengajari perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan baik dirumah maupun di tempat umum, seperti mengajarkan untuk menggunakan handuk ketika keluar dari kamar mandi atau menggunakan pakaian ketika di tempat umum.

Usia 4-5 tahun

Pada usia 4-5 tahun, orang tua sudah bisa mengajarkan nama-nama bagian internal dan eksternal. Seperti bagian-bagian reproduksi. Bagaimana bayi bisa berada di dalam rahim seorang ibu dengan penggunaan bahasa yang disesuaikan dengan usianya dalam artian tidak vulgar.

Usia 6-8 tahun

Pada usia 6-8 tahun, sudah dapat diajarkan mengenai apa saja yang akan terjadi ketika mereka mulai memasuki masa pubertas. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan anak ketika mengalami masa tersebut.

Usia 9-12 tahun

Pada usia 9-12 tahun, dapat membicarakan mengenai perubahan bentuk tubuh yang mereka lalui. Hal ini bertujuan agar anak tidak kaget dan memahami perubahan pada tubuhnya seperti menstruasi, ejakulasi dan ereksi merupakan hal yang normal. Selain itu pada masa ini orang tua perlu menanamkan betapa berharganya diri dan tubuh mereka.

Usia 13-18 tahun

Nah pada tahap ini anak sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya, oleh karena itu maka sah sah saja untuk membahas masalah cinta, keintiman dan cara mengatur batasan dalam berhubungan antara anak dan lawan jenisnya.

“Saya memahami bahwa mungkin muncul kekhawatiran pada orang tua maupun sekolah jika menerapkan hal ini. Seperti kalau anak atau remaja diberikan pendidikan seks malah akan terjerumus untuk mencoba” tambah Inez.

Hal ini memang sesuatu yang harus diluruskan bahwa memberikan pendidikan seksualitas kepada anak/remaja itu bukan sekedar memberikan pengertian seks dan kontrasepsi. Tapi hal ini bertujuan untuk menumbuhkan perasaan dan kemampuan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dalam membuat keputusan seksualnya berdasar pada informasi yang kredibel dan nilai-nilai yang dianut.

Pendidikan seksual ini juga harus didukung dengan perilaku orang tua atau pemberi informasi seperti, memiliki sikap yang tidak berjarak terhadap seksualitas, mau untuk berkomunikasi dua arah dengan anak/remaja bukan hanya berisi perintah yang sifatnya menyuruh tetapi harus bisa mendengarkan pendapat anak, dan mau memposisikan diri sebagai temannya dalam membuat keputusan seksual yang ia ambil.

Pada akhirnya, kita selaku pemberi informasi atau orang tua dapat menjadi sosok yang kredibel dan dapat didekati (approachable) dalam hal memberikan pendidikan seksualitas ini. Perspektif yang menakut-nakuti justru malah akan semakin membuat anak/remaja takut mencari informasi pada kita dan mereka lebih memilih mengambil jalan pintas untuk mendapatkan informasi tersebut dari sumber informasi seperti internet yang tidak difilter dan belum tentu kredibel misalnya pornografi. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu

Netizen Minggu, 20 Juni 2021 | 10:40 WIB

Kegagalan akan selalu ada, namun tidak berarti kegagalan ini akhir dari segalanya.

Netizen, Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu, SBMPTN,karier,Pendidikan

Ironi Tanggal Merah Saat Pandemi

Netizen Minggu, 20 Juni 2021 | 09:00 WIB

Entah bosan atau memang terlalu percaya diri sehingga setiap tanggal merah, jalan menuju tempat wisata tak pernah sepi.

Netizen, Ironi Tanggal Merah Saat Pandemi, Tanggal Merah,Pandemi,Libur

Masa Kecil Anak Zaman Now!

Netizen Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:40 WIB

Masa kecil merupakan pengalaman atau peristiwa yang terjadi saat masih anak- anak. Masa ini biasanya hanya datang satu k...

Netizen, Masa Kecil Anak Zaman Now!, Permainan Tradisional,anak zaman now

Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat

Netizen Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:32 WIB

Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat

Netizen, Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat, fesyen lambat,Fesyen,Kerusakan Lingkungan

Interpretasi dalam Geowisata

Netizen Kamis, 17 Juni 2021 | 19:40 WIB

Daya tarik geowisata Jawa Barat adalah jawaranya.

Netizen, Interpretasi dalam Geowisata, Interpretasi,geowisata,Jawa Barat

Akankah Bandung Jadi Kota Gurun?

Netizen Kamis, 17 Juni 2021 | 10:00 WIB

Sekitar 50 tahun terakhir ini, Kota Bandung telah kehilangan banyak pohon.

Netizen, Akankah Bandung Jadi Kota Gurun?, Bandung,Kota Gurun,degradasi lahan,Banjir Bandang

Koresponden Bintang Hindia

Netizen Rabu, 16 Juni 2021 | 13:07 WIB

Koresponden Bintang Hindia

Netizen, Koresponden Bintang Hindia, kartawinata,raden kartawinata,koresponden bintang hindia,pers,wartawan

Peran Psikolog Forensik dalam Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Netizen Senin, 14 Juni 2021 | 22:15 WIB

Lalu apa saja peran yang dapat dilakukan oleh Psikolog Forensik saat melakukan pendampingan anak korban kekerasan seksua...

Netizen, Peran Psikolog Forensik dalam Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak, Psikolog Forensik,Kasus,kekerasan seksual,Anak,anak di bawah umur

artikel terkait

dewanpers