web analytics
  

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Kamis, 6 Mei 2021 15:00 WIB Netizen Naufal Hilmi Mubarok
Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Ilustrasi rumah. (Pixabay/Free-Photos)

Naufal Hilmi Mubarok

Saat ini tengah menjalani studi Jurnalistik di Universitas Padjadjaran.

Sudah lebih dari satu tahun Indonesia bergulat dengan pandemi Covid-19. Kegiatan masyarakat pun lebih banyak dilakukan di rumah.

Namun, apakah rumah memang tempat yang aman? Berdiam diri di rumah memang salah satu bentuk usaha preventif agar tidak menjadi korban dari bencana pandemi, namun sayangnya diam di rumah bisa jadi “bencana” baru bagi kaum perempuan Indonesia dan kaum perempuan di berbagai belahan dunia lainnya.

Catatan Kelam Perempuan Selama #DiRumahAja

Berlangsungnya ‘bencana’ baru bagi kaum perempuan tersebut dibuktikan melalui laporan dari Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perempuan (UN Women) yang menyatakan bahwa adanya peningkatan dalam jumlah kekerasan selama pandemi.

Catatan Tahunan (Catahu) yang dibuat oleh Komnas Perempuan juga menunjukkan jika memang terjadi peningkatan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di tengah pandemi Covid-19 di Indonesia. Hasil tersebut didapat setelah melangsungkan survei terhadap 2.285 responden perempuan dan laki-laki.pada April hingga Mei 2020.

Data dari Lembaga Badan Hukum (LBH) Apik yang merupakan satu dari sekian banyak LBH di Jakarta. Pada tahun 2019 mereka menerima 60 kasus per bulan. Sedangkan selama pandemi, laporan kasus per bulan menyentuh angka 90. Artinya, terdapat peningkatan sebanyak 30% di masa pandemi. Miris. Ketika pintu mall dan hiburan tertutup, pintu kekerasan di dalam rumah pun semakin terbuka. Ketika di luar rumah diterapkan social distancing, di dalam rumah malah kena punching.

Stress Sebagai Dalang di Balik KDRT

Dari Catahu 2021 milik Komnas Perempuan, tercatat bahwa adanya peningkatan pengaduan kasus KDRT selama pandemi. Yakni yang semula dari 1960 kasus di tahun 2019, meningkat menjadi 2686 kasus di tahun 2020. Jumlah pengaduan langsung ini naik dari 134 kasus bulan Februari 2020, menjadi 181 pada bulan Maret dan 235 pada bulan April. Hal ini bertepatan dengan dimulainya karantina. Kok, bisa?

Dalam jurnal ilmiahnya yang berjudul “The COVID‐19 pandemic and mental health impacts”, Kim Usher dkk menyatakan jika ketakutan dan stress merupakan faktor utama yang berperan besar di balik kasus kekerasan selama pandemi.

Lalu, Amber Peterman dkk melalui jurnalnya yang berjudul “Pandemics and violence against women and children” mengungkap dampak dari media massa selama pandemi dan dengan luar biasa mengaitkannya dengan KDRT. Peterman menyatakan jika berita yang muncul dan menjadi bahan konsumsi masyarakat selama pandemi cenderung negatif dan berdampak kepada keharmonisan rumah tangga.

Berita negatif ini menimbulkan histeria, atau kembali lagi seperti hasil temuan yang sudah dijelaskan Usher di atas, yakni ketakutan. Ketakutan mendorong manusia untuk melampiaskan perasaannya kepada suatu hal. Sayangnya, 1.404 masyarakat Indonesia di tahun 2020 memilih orang yang seharusnya mereka paling cintai sebagai pelampiasan.

Kemudian, ada Marianna Mazza dkk yang menyatakan melalui jurnalnya, “Danger in danger: Interpersonal violence during Covid-19 quarantine,” bahwa krisis ekonomi yang terjadi akibat pandemi membuat banyak orang hidup dibawah kondisi stress. Dengan adanya kondisi stress ini, terbukalah kotak pandora berisi mimpi-mimpi buruk bagi kaum perempuan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjabarkan penyebab stress menjadi berbagai macam, salah duanya adalah beban mengasuh anak dan beban mata pencaharian. Untuk wanita karir, tanggung jawab mereka bertambah dikarenakan harus membimbing anak mereka dalam melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sebagaimana yang dijelaskan Samantha S. Brown dalam Stress and parenting during the global Covid-19 pandemic”.

KDRT Secara Seksual

Merujuk dari tinjauan umum oleh Fransisca F yang berjudul “Kekerasan dalam Rumah Tangga”, KDRT terbagi ke dalam empat bentuk kekerasan, yaitu fisik, psikologis, ekonomi, dan seksual. Dalam kasus KDRT secara seksual, korban mengalami pemaksaan dalam penuntutan hubungan seksual, atau tidak dipenuhi kebutuhan seksualnya.

Bukan tidak mungkin untuk suatu pasutri melakukan kekerasan seksual kepada pasangannya. Catahu 2021 dari Komnas Perempuan yang mencatat bahwa terjadi 2686 kasus di ranah relasi personal atau privat, 689 di antaranya adalah kekerasan seksual (26%). Angka ini naik hampir 2 kali lipat, dari 349 di tahun sebelumnya.

Bentuk-bentuk kekerasan seksual dalam ranah relasi personal ini mencakup berbagai hal, seperti:

  1. Pemaksaan aborsi;
  2. Percobaan perkosaan;
  3. Perkosaan;
  4. Pencabulan;
  5. Persetubuhan;
  6. Eksploitasi seksual;
  7. Pelecehan seksual;
  8. Marital rape; dan
  9. Inces.

Kekerasan-kekerasan diataslah yang perempuan alami selama pandemi. Rumah menjadi sebuah perangkap.  Rasanya sesak, rasanya seperti disekap.

Rasa takut, cemas, letih, stress, perasaan post traumatic, serta gangguan makan dan tidur merupakan beberapa contoh dari dampak buruk yang dapat dialami perempuan sebagai korban. Tidak hanya berhenti di situ, masalah kesehatan reproduksi pun mengintai para korban yang mengalami kekerasan seksual, misalkan gangguan menstruasi atau bahkan menopause dini. Hal tersebut selaras dengan yang van Gelder nyatakan dalam jurnal ilmiahnya yang berjudul “Covid-19: Reducing the risk of infection might increase the risk of intimate partner violence”.

Namun, terkadang saat berbicara tentang KDRT secara seksual, kita terlalu fokus dengan bagaimana dampaknya kepada korban. Padahal, masih ada pihak lain yang dirugikan, yaitu orang-orang di sekeliling korban. Tidak jarang mereka luput dari perhatian publik, tidak jarang juga kita lupa mencoba memahami bagaimana dampak dari tragedi yang terjadi di lingkungan mereka.

Anak, Saksi Sekaligus Peniru Ulung

KDRT yang berlangsung di ranah relasi personal, seperti rumah tangga, dapat dirasakan dampaknya oleh pelaku, korban, dan orang-orang di sekitar mereka. Dalam “Children Behind Closed Doors Due to Covid-19 Isolation: Abuse, Neglect and Domestic Violence” yang ditulis oleh Mia Roje Đapić dkk, berlangsungnya KDRT pada akhirnya akan berdampak terhadap anak. Anak yang sebagai saksi langsung atas KDRT yang terjadi di rumah mereka, sangat mungkin jika perkembangan mental mereka terpengaruh. Bahkan tidak menutup kemungkinan juga bagi anak untuk meneruskan perilaku keji ini di kemudian hari.

Orang tua adalah guru pertama bagi anak. Proses interaksi yang terjadi di antara mereka merupakan proses pembelajaran primer. Anak menjadikan orang tua sebagai figur panutannya. Mereka merekam gerak-gerik, perkataan, dan sikap orang tuanya untuk mereka jadikan referensi dalam berperilaku di kemudian hari. Maka, sangat jelas jika perilaku orang tua adalah kunci bagi pembentukan karakter anak. Albert Bandura melalui teori kognitif sosialnya mengemukakan bahwa dalam pembelajaran anak, terdapat faktor-faktor yang berperan penting, yaitu faktor sosial, kognitif, dan perilaku.

Perceraian sebagai Buntut dari KDRT

Selain itu, KDRT secara seksual dapat meningkatkan kemungkinan untuk sebuah pasangan bercerai. Kembali ke Catahu 2021, ditemukan bahwa penyebab perceraian terbesar adalah ketidakharmonisan terus menerus dengan angka 176.683 dan 3.271 di antaranya disebabkan oleh KDRT. Data dari Catahu 2021 ini tidak menjelaskan bahwa apakah kekerasan seksual berkontribusi terhadap ketidakharmonisan tersebut. Akan tetapi, Komnas Perempuan curiga jika kekerasan seksual terlibat di dalamnya.

Ibarat kata sudah jatuh, tertimpa tangga, para anak ini mesti melihat perceraian kedua orang tuanya setelah sebelumnya mereka menjadi saksi atas KDRT yang terjadi di antara keduanya.

Solusi yang Dapat Ditawarkan

"The future is not something we enter. The future is something we create." begitulah menurut Leonard I. Sweet. Mudahnya, kita memiliki kontrol untuk apa yang akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu salah satu caranya adalah mencegah agar generasi depan tidak melakukan hal yang sama. Upaya preventif tersebut di antaranya:

  1. Konseling Pra Nikah

Pernikahan merupakan peristiwa penting dalam hidup seseorang dan diharapkan terjadi sekali seumur hidup. Maka dari itu, ketika memilih pasangan untuk bersama menghadapi masa depan, sangat perlu menyiapkan segalanya dengan baik dan sematang mungkin. Bukan hanya membekali diri dengan aspek materi, namun juga aspek psikologis. Salah satu cara untuk mempersiapkan psikologis untuk menghadapi pernikahan yakni adalah konseling pra nikah.

Dalam “Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan” yang dikarang oleh Achmad Juntika Nurihsan, bimbingan atau konseling pernikahan merupakan upaya pemberian bantuan kepada individu, baik itu sebagai pemimpin atau anggota keluarga. Melalui konseling ini, diharapkan dapat membantu individu agar dapat menyesuaikan diri dengan norma keluarga. Selain itu, upaya ini dilangsungkan dengan harapan mereka mampu menjalankan kehidupan pernikahan yang utuh, harmonis, dan produktif demi mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.

  1. Edukasi Seksual pada Anak

Tidak ada yang salah dengan mencoba berdialog perihal seks kepada anak sejak dini. Sebab menurut Nugraha dan Wibisono dalam “Adik Bayi Datang dari Mana?: A-Z Pendidikan Seks Usia Dini”, anak laki-laki perlu mengetahui lebih jauh tentang lawan jenisnya. Hal yang sama pun berlaku untuk anak perempuan.

Nugraha dan Wibisono pun menjelaskan jika pendidikan seks dapat dikenalkan melalui hal yang sederhana. Semisal, orang tua dapat meminta izin kepada anaknya ketika hendak membuka baju atau mengganti popoknya. Orang tua juga dapat membiasakan untuk mengganti atau memakaikan baju anaknya dalam ruangan tertutup.

Setelah itu ketika anak sampai di usia remaja, pendidikan seksual yang sangat krusial. Pendidikan seksual di tahap ini lebih mudah dikarenakan anak mulai mengerti dan mulai merasakan sendiri perubahan dan perkembangan yang terjadi kepada dirinya. Leafio Rinta dalam artikelnya, “Pendidikan Seksual dalam Membentuk Perilaku Seksual Positif pada Remaja dan Implikasinya terhadap Ketahanan Psikologi Remaja”, menyarankan untuk memberikan informasi seksualitas yang vital pada usia ini.

Implikasi pendidikan seksual dapat membantu dalam pembentukan remaja tangguh. Dengan pembekalan pendidikan seksual, remaja dapat menghindarkan dirinya dari perilaku seksual dini, pergaulan bebas, dan dampak-dampak negatifnya. Selain itu, dengan pendidikan seksual pun dapat membentuk remaja dengan empati, inisiatif, dan kemampuan untuk menemukan sekaligus menyelesaikan masalah. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen Selasa, 22 Juni 2021 | 10:21 WIB

Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati

Netizen, Kerja Bakti Selalu Menenangkan Hati, limbah,Jatinangor,desa cisempur,Kahatex,kebersihan lingkungan

Modus Pelecehan Seksual Baru di Media Sosial

Netizen Senin, 21 Juni 2021 | 07:00 WIB

Pelecehan seksual di Indonesia merupakan salah satu kasus yang sering meningkat setiap tahunnya.

Netizen, Modus Pelecehan Seksual Baru di Media Sosial, Pelecehan Seksual,Media Sosial,Indonesia,Twitter

Diam di Rumah Namun Tetap Punya Penghasilan? Coba Bidang Ini

Netizen Senin, 21 Juni 2021 | 06:25 WIB

Berdiam diri di rumah saat pandemi, namun tetap dapat penghasilan akan menjadi suatu angan–angan bagi setiap orang.

Netizen, Diam di Rumah Namun Tetap Punya Penghasilan? Coba Bidang Ini, Diam di Rumah,Penghasilan,Industri Kreatif,Desain Grafis

Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu

Netizen Minggu, 20 Juni 2021 | 10:40 WIB

Kegagalan akan selalu ada, namun tidak berarti kegagalan ini akhir dari segalanya.

Netizen, Tidak Lulus SBMPTN Bukan Akhir dari Kariermu, SBMPTN,karier,Pendidikan

Ironi Tanggal Merah Saat Pandemi

Netizen Minggu, 20 Juni 2021 | 09:00 WIB

Entah bosan atau memang terlalu percaya diri sehingga setiap tanggal merah, jalan menuju tempat wisata tak pernah sepi.

Netizen, Ironi Tanggal Merah Saat Pandemi, Tanggal Merah,Pandemi,Libur

Masa Kecil Anak Zaman Now!

Netizen Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:40 WIB

Masa kecil merupakan pengalaman atau peristiwa yang terjadi saat masih anak- anak. Masa ini biasanya hanya datang satu k...

Netizen, Masa Kecil Anak Zaman Now!, Permainan Tradisional,anak zaman now

Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat

Netizen Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:32 WIB

Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat

Netizen, Wujudkan Lingkungan Selamat Melalui Fesyen Lambat, fesyen lambat,Fesyen,Kerusakan Lingkungan

Interpretasi dalam Geowisata

Netizen Kamis, 17 Juni 2021 | 19:40 WIB

Daya tarik geowisata Jawa Barat adalah jawaranya.

Netizen, Interpretasi dalam Geowisata, Interpretasi,geowisata,Jawa Barat

artikel terkait

dewanpers