web analytics
  

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Rabu, 5 Mei 2021 10:18 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Tulisan Raden Kartawinata yang bertajuk “Formulieren in Gebruik bij het Afsterven en het Begraven in de Desa Bengang Afdeeling Soemedang”. (Istimewa)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

Salah satu informasi yang saya dapatkan saat menyelidiki jejak-langkah Raden Kartawinata adalah keterlibatannya dalam Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW) atau Perhimpunan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan.

Kartawinata tercatat sebagai anggota perkumpulan ilmiah tersebut sejak 1879, saat dia menjabat sebagai juru bahasa dan penerjemah Sunda di Bandung hingga masa pensiunnya sebagai Zelfstandig Patih Sukabumi pada 1905.

Namun, sebelum lebih jauh membahas kiprah Kartawinata untuk BGKW, tampaknya perlu pula membahas keterlibatan orang Sunda yang lebih dulu menjadi anggota perhimpunan yang didirikan oleh Radermacher di Batavia pada 1778 itu. 

Menurut Hans Groot (Van Batavia naar Weltevreden: Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 1778-1867, 2009), dua orang pribumi pertama yang menjadi anggota BGKW adalah Panembahan Sumenep Noto Kusumo dan Bupati Semarang Adimongolo (sic!) pada 1820. Selanjutnya Panembahan Sumenep Noto Kusumo dan Bupati Basuki Raden Adipati Aria Prawiera Adie Ningrat diajukan kembali kepada dewan BGKW oleh Von Siebold dalam suratnya yang bertitimangsa 10 Februari 1825 (Groot, 2009: 229).

Lalu, siapa orang Sunda pertama yang menjadi anggota BGKW? Jawabannya menurut Groot (2009: 355) adalah Bupati Bandung Raden Toemengong Soeria Karta Adi Negoro (sic!) yang dimasukkan saat  peringatan ulang tahun BGKW ke-75 (1853). Saat itu sang bupati Bandung diangkat bersamaan dengan Bupati Demak Pangeran Aria Tjondro Adi Negoro dan Bupati Bojonegoro Raden Adhipati Tirto Noto. Tetapi karena bupati Basuki mengundurkan diri pada 1855, sehingga orang pribumi yang menjadi anggota BGKW tetap empat orang.

Lantas, siapakah R.T. Soeria Karta Adi Negoro? Dari hasil penelusuran pustaka, saya yakin dialah Raden Soeria Kertadiningrat alias Raden Adipati Aria Wiranatakusumah IV atau Dalem Bintang, bupati Bandung antara 1846 hingga 1874. Kaitan antara bupati tersebut dengan Perhimpunan Batavia adalah karena dia dan keluarganya berperan dalam penyerahan sejumlah naskah Sunda kuno yang ditemukan dari Kabuyutan Cilegon, Timbanganten.

Mengenai hal ini, kita dapat sama-sama menyimaknya dari tulisan E. Netscher, “Iets over enige in de Preanger Regentschappen gevonden Kawi Handschriften” yang dimuat dalam Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap 1 (TBG, 1853: 469-479). Netscher antara lain menyebutkan bahwa selama gubernur jenderal Hindia Belanda turne ke Bandung pada Juli 1852, Radhen Toemenggoong Soeria Kerta Adhi Ningrat memperlihatkan naskah-naskah kuno dari Desa Cilegon, Kecamatan Timbanganten, Kabupaten Bandung. Ada 15 naskah yang ditunjukkan, antara lain naskah (Msc) I dan III (Mani Batangan), Msc. VI dan VII (Bhoewana Pitoe), Msc IX. (Sabdopadesdnoegraha), Msc. I. b. dan IV (Sewaka Darma), dan Msc. V (Ardjoena Wiwaha).

Orang Sunda lainnya yang menjadi anggota BGKW adalah Hadjie Moehamad Moesa, hoofdpanghoeloe van Limbangan, yang menjadi anggota luar biasa (buitengewoon lid) pada 1863; Radhen Adhipatie Soerio Koesoema Adi Noto (sic!), regent van Soemedang, pada 1864, sebagai anggota biasa (gewoon lid); Radhen Adipati Aria Koesoema Diningrat, regent van Galoe, pada 1865, sebagai anggota biasa; dan Toemenggong Wira Adek Daha (sic!), regent van Soekapoera, pada 1866 sebagai anggota biasa (Groot, 2009: 440).

Tentu saja, para pejabat dari Tatar Sunda tersebut masing-masing memiliki kontribusi bagi Perhimpunan Batavia atau bagi kepentingan penyebaran peradaban barat ke tengah-tengah masyarakat Sunda. R.H. Moehamad Moesa atas dorongan sahabat karibnya, K.F. Holle, turut memulai tradisi citak dalam kebudayaan Sunda. Bahkan pada 1866, mereka berdua mendirikan Kweekschool di Bandung. Demikian pula R.A.A. Soerio Koesoema Adi Nata alias Pangeran Sugih yang menjadi bupati Sumedang antara 1836-1882 mendirikan Sekolah Bupati di Sumedang pada 1867.

Bahkan, R.A.A. Koesoema Diningrat selain mendirikan Sekolah Bupati di Galuh, juga menyerahkan naskah-naskah Sunda kuno kepada BGKW melalui Raden Saleh, pelukis Kerajaan Belanda, serta naskah lainnya sebagaimana yang tercatat dalam Erste vervolg catalogus der bibliotheek en catalogus der Maleische, Javaansche en Kawi handschriften van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (1872) susunan A.B. Cohen Stuart. Di situ dinyatakan ada 21 naskah Sunda kuno, yaitu kropak nomor 406 hingga 426, sebagai pemberian dari Koesoema Diningrat untuk BGKW (“No 406-426 geschenken van de Regent van Galoeh: Not. IV, 237 (25/9, 66, II, j), alwaar echter slechts no 406 vermeld is”).

Demikian penelusuran ihwal para pejabat pribumi dari Tatar Sunda yang menjadi anggota BGKW. Sekarang saatnya, saya beralih untuk menjejaki kiprah Kartawinata yang juga menjadi anggota Perhimpunan Batavia. Salah satu yang membuat saya menarik adalah fakta bahwa ada bapak dan anak yang sama-sama menjadi anggota BGKW.

Bila R.H. Moehamad Moesa, sebagaimana yang terbaca dari Notulen van de Algemeene en Directie-vergaderingen van het BGKW Deel 1 (Sept. 1862 tot Dec. 1863) mulai diangkat jadi “Buitengewone Leden” (anggota luar biasa) sejak 27 Maret 1863, sedangkan Kartawinata, menurut Notulen van de algemeene en directie-vergaderingen van het BGKW, deel XVII-1879 (1880) diputuskan dalam rapat pengurus BGKW tanggal 2 Desember 1879. Saat itu, Kartawinata baru dua tahun menjabat sebagai juru bahasa dan penerjemah Sunda yang berdinas di Bandung (“Tot buitengewoon lid wordt benoemd RADEN KARTA WINATA, translateur voor de Soendasche taal te Bandong”).

Namun, yang jelas, baik Moesa maupun Kartawinata, tidak terlepas dari pengaruh K.F. Holle. Moesa dan Holle sudah bermitra sejak 1857, ketika Holle bekerja sebagai administratur perkebunan teh di Cikajang. Sedangkan Kartawinata adalah murid terkasih Holle, karena sejak berumur 12 tahun (pada 1864) Kartawinata sudah diajari bahasa Belanda oleh Holle di sekitar tempat tinggalnya, yakni di perkebunan teh yang baru diselenggarakan dua tahun sebelumnya (1862): Waspada. Alhasil, pantas belaka bila Kartawinata taat, turut, dan bersetia kepada gurunya. Dengan demikian pula, pantas bila Holle menempatkan murid terkasihnya tersebut agar memiliki jabatan penting dalam jajaran pemerintahan kolonial.

Selanjutnya, apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia? Salah satunya adalah karangan Kartawinata yang dimuat dalam majalah ilmiah terbitan BGKW, TBG deel XXXII (1889). Di situ dimuat tulisan Kartawinata yang bertajuk “Formulieren in Gebruik bij het Afsterven en het Begraven in de Desa Bengang Afdeeling Soemedang” (1889: 211-216).

Dalam tulisan yang bertitimangsa Soemedang, Oktober 1887, saat Kartawinata sudah menjabat sebagai patih Sumedang, ia menyebutkan bahwa karya tulisnya tersebut terilhami atau terdorong inisiatif oleh K.F. Holle untuk menyelenggarakan penyelidikan mengenai adat menguburkan orang yang meninggal di Desa Bengang, Buahdua, Sumedang, sebelum kebiasaan tersebut musnah (“Langzamerhand zal deze wijze van begraven in de desa Bengang, waarop ik door den Heer K. F. HOLLE werd attent gemaakt, wel uitsterven, en daarom achtte ik het niet ondienstig er aanteekening van te houden, om ze aan de vergetelheid te ontrukken”).

Sebagaimana yang terbaca dari judulnya, tulisan tersebut membahas mengenai adat kebiasan yang ditemui Kartawinata di Desa Bengang terutama berkaitan dengan saat-saat menghadapi orang yang akan melepaskan nyawa hingga dikuburkan. Dalam adat istiadat tersebut, bila ada orang yang hendak menemui ajal, maka diupayakan untuk mendatangkan seorang dukun. Orang pintar tersebut diminta untuk menuntun orang yang akan melepaskan nyawa dengan mantra-mantra. Dengan demikian, untuk memperkuatnya, Kartawinata menyertakan mantra-mantra berbahasa Sunda beserta terjemahannya dalam bahasa Belanda.

Saat menuntun orang yang menemui ajalnya, sang dukun akan merapalkan mantara demikian: “Tobat Allah. Eling-eling kai djisim; Boeboehan oerang kakolotan. Toemoeroeb tjahjaning Allah. Tobat Allah, wali oellah, tobat Allah, toewan toehan. Nja toewan pangeran isoen//Mikaloeloe sipat woloe. Dikamoedi iman tohid, dibosehan koe maripat, tihang lajar pantjering iman. Soekma moelih, badan poelang, nja moelang ti alam doenja, nja moelih ti dalem boemi, koelintjér di lemah soetji, datangna ka rachmat-oellah, lantas ka djati sampoerna. Ja hoe, ja Allah. Ja hoe, ja Allah”.

Bila yang sekarat tersebut melepaskan nyawa, si dukun merapalkan lagi mantra sebagai berikut: “Sang ratoe Pangeran Hantaroem, Sang ratoe noer gaib. Dat ing iman. Rat ing iman. Meh mat. Sah mat. Dal, al. Rel, lés, Kang pasti”. Sanggeus éta ditéma ku babacaan: “Boel koekoes ka noe Agoeng, ka noe woegas, ka noe ligas. Pangdatangkeun, pangdoengkapkeun, ka nagara toendjoeng sampoerna. Badan sampoerna; Sri Toenggal sampoerna. Serahaken ka malaikat Intjer poetih”.

Agar mayat tidak kaku, si dukun akan memperdengarkan mantra ke telinga mayat tersebut sebagai berikut: “Laj-eloj. Las-les”. Kemudian agar mayat tidak menimbulkan bau, dukun akan membacakan mantra berikut: “Tes poetih, tes herang, poelang ka nagara moesna”.

Setelah itu, mayat diletakkan pada tempat yang agak lapang yang ada di dalam rumah. Orang-orang yang memulasara akan datang melingkungi mayat, sementara dukun yang ada di sekitar kepala mayat akan membacakan, sambil bersenandung dengan nada pantun Sunda, yang disebut bacaan “Saliasih”: Eling-eling: astagah firoellah hal adlim, Astagah-firoellah hal adlim, Astagal-firoellah hal adlim. Kang lalip koeboer kang aloes, manoeroen, manoek manoeroen, nitih lawang sawarega.  Djabarail lagi nangis. Parahoe pakoening lajar, djoeroebatoe iman tiloe, djoeroemoedi iman tohid. Diboehan koe maripat. Loek ngakoe badan moelia, moelia badan sampoerna, moelia koe panarima. Astagah-firoellah hal adlim. Astagah-firoellah hal adlim. Astagah-firoellah hal adlim”.

Selain menulis dalam TBG, Kartawinata terlibat dalam proses ditemukannya Prasasti Bantarmuncang, di Cibadak, Sukabumi, pada 1898, saat dia sudah menjabat sebagai Zelfstandig Patih Sukabumi. Dalam Notulen van de algemeene en directie-vergaderingen van het BGKW, deel XXXVII, 1899 (1900) dinyatakan bahwa asisten residen Sukabumi pada 27 Januari 1899 telah bersurat dan mengirimkan gambar Prasasti Bantarmuncang.

Dr. Brandes yang mewakili BGKW menghaturkan terima kasih kepada asisten residen tersebut. Tetapi karena salinan prasasti terlalu kecil sehingga tidak terbaca atau terpahami isinya, sehingga Brandes memohon agar Raden Rangga Soeria Nata Legawa, Patih Soekaboemi yang menjadi anggota luar biasa BGKW, untuk menyalin lagi dua prasasti disertai keterangan dimensi batu-batunya,  demi pertimbangan apakah kedua batu tersebut dapat dibawa atau tidak (“de hulp in te roepen van ’s Genootschaps Buitengewoon lid Raden Rangga Soeria Nata Legawa, Patih van Soekaboemi, ter verkrijging van een papierafdruk der beide opschrif ten en van eene opgave van de afmetingen der beide steenen, ten einde te beoordeelen, of opzending dier steenen al of niet zal worden geprovoceerd”).

Saya pikir, keterlibatan Kartawinata alias R.A.A. Soeria Nata Legawa dalam urusan adat istiadat serta efigrafi Sunda memperlihatkan bayang-bayang gurunya, Holle, yang memang memiliki minat yang luas dalam lapangan kebudayaan Sunda.

Kartawinata, dalam hal ini, dapat dikatakan adalah perwujudan semangat pencerahan Barat yang diajukan Holle untuk “memperadabkan” pribumi (Tom van den Berge, Puisi Sunda Zaman Belanda, 2021: 13, 25). [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?
dewanpers