web analytics

Hilangnya Insulindepark dan Sejarah Taman Lalu Lintas di Bandung

clockSelasa, 4 Mei 2021 15:00 WIB userAris Abdulsalam
Bandung Baheula - Baheula, Hilangnya Insulindepark dan Sejarah Taman Lalu Lintas di Bandung, Taman Insulinde,Insulindepark,Taman Lalu Lintas,Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution,Taman Nusantara,Bandung,Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL),Hindia Belanda

Taman Insulinde dengan Gedung Paleis Legercommandant pada awal abad ke-20. (Wikimedia Commons/Boekhandel Visser & Co (CC))

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Suatu ketika, Wali Kota Bandung pernah mengakui dirinya memiliki kehidupan masa kecil yang dekat dengan Taman Insulinde. Tempat itu bahkan jadi lokasi favoritnya, saat bolos sekolah.

Tentunya, Wali Kota Bandung itu tak menyebutnya dengan nama "Taman Insulinde", melainkan dengan sebutan yang lebih modern: Taman Lalu Lintas.

"Saya anak Bandung yang dekat dengan Taman Lalu Lintas. Saya menduga tidak ada orang dewasa di Bandung yang tidak pernah ke taman lalu lintas," ujar Ridwan Kamil, sebelum dirinya menjadi Gubernur Jawa Barat, pada tahun 2017.

Sekarang, kita pun mengenal taman di Jalan Belitung No.1 itu dengan nama yang lebih panjang: Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution. Jauh hari sebelum sebutan resmi ini diterima, rupanya sudah ada tiga nama yang mendahuluinya.

Petugas menyemprotkan cairan desinfektan serta mempersiapkan penerapan protokol kesehatan di Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution, Jalan Belitung, Kota Bandung, Senin (29 Maret 2021). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Melalui bukunya, Sudarsono Katam mendeskripsikan Insulindepark (Taman Insulinde) sebagai taman yang indah, asri, dan unik di Kota Bandung. Sejak awal dibangun suasana sejuknya sudah terasa nyaman. 

"Semula, Insulindepark pernah difungsikan untuk lapangan militer, taman kota, lalu menjadi taman tropis hingga zaman kolonial berakhir," tulis ulasan tentang buku Sudarsono Katam yang berjudul Insulinde Park.

Sementara itu, dipaparkan oleh Her Suganda, dalam buku Jendela Bandung, dahulu tempat itu pernah dijadikan pusat komando pertahanan Hindia Belanda di Nusantara. Buktinya masih dapat kita lihat saat ini, dengan Gedung Paleis Legercommandant yang sudah berubah fungsi jadi gedung Detasemen Markas Komando Daerah Militer III/Siliwangi. 

Di Insulindepark, para serdadu Belanda latihan berbaris, ketika Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) masih aktif di Hindia Belanda. Tetapi, setelah dibangun lapangan baru (yang sekarang jadi lapangan Stadion Siliwangi), lahan terbuka itu ditinggalkan. Dan sejak ditinggalkan oleh para prajurit, Insulindepark menjadi taman seutuhnya.

"Sebagai taman tropis, di dalam areanya tumbuh berbagai jenis pohon tropis yang kini tergolong langka, seperti pohon sosis, sepatu dewa, samolo, dan sebagainya," lanjut ulasan tentang buku Sudarsono Katam.

Tentang namanya, "Insulinde", jika merujuk pada istilah yang pernah dikemukakan Eduard Douwes Dekker (Multatuli), ini berarti "Kepulauan Hindia". Penduduk setempat percaya, penamaan tersebut diambil karena Insulindepark dikelilingi oleh jalan-jalan yang memakai nama daerah-daerah di Hindia Belanda (seperti dari Aceh, Kalimantan, dll.).

Karena alasan itu pula, setelah tidak lagi dipakai tempat latihan prajurit KNIL, Insulindepark kemudian berubah nama jadi "Taman Nusantara". Pada tahun 1958, ia pun berubah nama lagi, saat diresmikan oleh Ajun Komisaris Polisi Nazaruddin sebagai "Taman Lalu- Lintas".

Tetapi, perubahan nama dan fungsi itu bukan tanpa sisi buruk. Disebutkan, masih dalam buku Sudarsono Katam, "Setelah diubah menjadi Taman Lalu Lintas (diresmikan pada 1958) ... kebutuhan arena bermain bagi anak-anak dan kebutuhan sejumlah bangunan penunjang 'memaksa' banyak jenis tumbuhan tropis ditebang. Citra sebagai taman tropis yang asri dan unik pun memudar."

Mungkin itu harga yang harus dibayarkan untuk taman yang diniatkan sebagai pendidikan berlalu lintas bagi anak-anak di Kota Bandung. Sisi positifnya, pada awal 1960-an, minat untuk memahami aturan berlalu lintas warga Bandung kian meningkat.

"[Dengan pembangunan itu] Bandung akan menjadi kota pertama di Asia Tenggara yang memiliki apa yang disebut 'Taman Lalu Lintas', sebuah taman lalu lintas di mana kaum muda akan diberi kesempatan untuk mengenal peraturan lalu lintas dengan cara yang menyenangkan," tulis Dimas Wahyu Indrajaya, sejarawan muda lulusan UI, mengutip dari De Preangerbode.

Beberapa tahun berselang, ditambahkan nama "Ade Irma Suryani Nasution" pada Taman Lalu Lintas, untuk mengenang putri Jenderal A.H. Nasution yang tewas oleh Gerakan 30 September 1965. Nama inilah yang masih bertahan hingga sekarang. [*]

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Hotel Swarha yang Kini Usang, Tempat Mengabarkan KAA ke Penjuru Dunia

Baheula Kamis, 5 Agustus 2021 | 19:20 WIB

Hotel Swarha menjadi saksi bisu era keemasan Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955.

Bandung Baheula - Baheula, Hotel Swarha yang Kini Usang, Tempat Mengabarkan KAA ke Penjuru Dunia, Hotel Swarha,Usang,KAA,Konferensi Asia-Afrika,Kota Bandung,Sejarah,Gedung

Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru

Baheula Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:20 WIB

Pasar Baru Trade Center merupakan salah satu pusat perbelanjaan tertua yang masih eksis hingga saat ini.

Bandung Baheula - Baheula, Kisah Huru-hara di Balik Berdirinya Pasar Baru, Kisah,Huru-hara,Pasar Baru,Trade Center,Sejarah,Kota Bandung,Hindia Belanda,Pasar Baharoe,Pasar Baroeweg

Museum Pos Indonesia Menginjak Usia 101 Tahun, Ini Sejarah dan Koleksi...

Baheula Rabu, 4 Agustus 2021 | 18:20 WIB

Tahun ini, Museum Pos Indonesia telah menginjak umurnya yang ke 101 tahun.

Bandung Baheula - Baheula, Museum Pos Indonesia Menginjak Usia 101 Tahun, Ini Sejarah dan Koleksi Uniknya, Museum Pos Indonesia,Usia 101 Tahun,Koleksi Unik,Sejarah,Kota Bandung

Tekad Mohammad Natsir Melawan Penjajah Lewat Pendidikan di Bandung

Baheula Selasa, 3 Agustus 2021 | 16:35 WIB

Mohammad Natsir, sang perdana Menteri kelima Republik Indonesia, pernah bersekolah di Bandung semasa mudanya.

Bandung Baheula - Baheula, Tekad Mohammad Natsir Melawan Penjajah Lewat Pendidikan di Bandung, Mohammad Natsir,Melawan Penjajah,Pendidikan,Bandung,Republik Indonesia

Asal Nama Jalan ABC, Berawal dari 3 Etnis Utama di Kota Bandung

Baheula Minggu, 1 Agustus 2021 | 10:40 WIB

Toponimi Jalan ABC berawal dari tempat bermukimnya 3 etnis utama, yakni Arabieren (A), Boemipoetra (B), Chineezen (C).

Bandung Baheula - Baheula, Asal Nama Jalan ABC, Berawal dari 3 Etnis Utama di Kota Bandung, Asal Nama,Sejarah,Toponimi,Jalan ABC,Kota Bandung,Arabieren,Boemipoetra,Chineezen

Meneropong Sejarah Observatorium Bosscha, Dahulu Bernama Bosscha Sterr...

Baheula Minggu, 1 Agustus 2021 | 08:00 WIB

DDahulu, Observatorium Bosscha bernama Bosscha Sterrenwacht dan dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Veren...

Bandung Baheula - Baheula, Meneropong Sejarah Observatorium Bosscha, Dahulu Bernama Bosscha Sterrenwacht, Sejarah,Observatorium Bosscha,Bosscha Sterrenwacht,NISV,Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda,Karel Albert Rudolf Bosscha,Institut Teknologi Bandung,ITB,astronomi

Stasion Tjimahi, Saksi Sejarah Jalur Kereta Zaman Belanda

Baheula Kamis, 29 Juli 2021 | 08:36 WIB

Wilayah Priangan di Jawa Barat merupakan tumpuan pemeritahan Kolonial Belanda semasa berkuasa. Jalur "kalung besi" pun...

Bandung Baheula - Baheula, Stasion Tjimahi, Saksi Sejarah Jalur Kereta Zaman Belanda, Stasion Tjimahi,Stasiun Cimahi,Cimahi,Bangunan bersejarah Cimahi,Bandung Baheula

Nostalgia: Perbedaan Suasana Alun-Alun Lembang Dahulu dan Sekarang

Baheula Selasa, 27 Juli 2021 | 19:05 WIB

Jika dibandingkan dalam bentuk dan sarana, Alun-Alun Lembang dahulu lebih banyak fasilitas yang mengundang masyarakat un...

Bandung Baheula - Baheula, Nostalgia: Perbedaan Suasana Alun-Alun Lembang Dahulu dan Sekarang, Alun-Alun Lembang,Perbedaan Suasana,Sejarah,Fasilitas Umum,destinasi wisata

artikel terkait

dewanpers
arrow-up