web analytics
  

Tinjauan Eskatologis tentang Gerakan Literasi

Kamis, 29 April 2021 21:30 WIB Netizen Taufiq Sudjana
Netizen, Tinjauan Eskatologis tentang Gerakan Literasi, Tinjauan Eskatologis,eskatologi,Bahasa,Gerakan Literasi Nasional (GLN)

Ilustrasi buku sebagai salah satu sumber literasi. (Pixabay/Michal Jarmoluk)

Taufiq Sudjana

Penulis adalah anggota Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB).

Pertanyaan pertama yang muncul terutama pada definisi eskatologi. Istilah ini sengaja diambil untuk mewakili perspektif tulisan ini. Mengingat bahwa Gerakan Literasi Nasional (GLN) sedang terus digeliatkan oleh pemerintah. Serta, dalam rangka menyambut Ramadhan tahun ini, mari kita tinjau gerakan literasi dari perspektif eskatologis.

Definisi Eskatologi

Kata “eskatologi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi V), es·ka·to·lo·gi /éskatologi/ n ajaran teologi mengenai akhir zaman seperti hari kiamat, kebangkitan segala manusia, dan surga.

Secara etimologis, eskatologi berasal dari Bahasa Yunani eschaton artinya “yang terakhir”, “yang selanjutnya”, “yang paling jauh”, dan logos artinya “pengetahuan”. Secara umum eskatologi merupakan keyakinan yang berkaitan dengan kejadian-kejadian akhir hidup manusia, seperti kematian, hari kiamat, berakhirnya dunia, saat akhir sejarah, dan lain-lain.

Begitu juga dalam Ensiklopedia Indonesia (1987: 963), telah diterangkan arti eskatologi (eschatology) merupakan ajaran yang menguraikan secara teratur semua soal dan pengetahuan tentang akhir kehidupan manusia, seperti mati, neraka, surga, hukuman dosa dan pahala untuk kebaikan manusia, hari kiamat, pengadilan pada hari itu dan sebagainya.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa eskatologi merupakan suatu pengetahuan yang berkaitan dengan hal-hal yang “terakhir” dan ia merupakan bagian dari agama dan filsafat yang berkaitan dengan kejadian-kejadian akhir hidup manusia seperti kematian, hari kiamat, kebangkitan, dan sebagainya.

Hubungan Eskatologi dengan Literasi

Lantas apa hubungannya dengan gerakan literasi? Mengapa literasi disandingkan dengan eskatologi?

Baiklah, seperti uraian definisi di atas, eskatologi sama sekali tidak terkait dengan literasi. Bahkan literasi secara harfiyah sangat jauh dengan kajian teologis. Sementara teologi ini sangat erat kaitannya dengan masalah-masalah dalam cakupan eskatologi. Justru sengaja tulisan ini hendak mendekatkan literasi dengan teologi sehingga bisa ditinjau secara eskatologis.

Literasi sementara ini menjadi simbol gerakan membaca dan menulis. Pada tahap ini pemerintah memperluas arti literasi yang dituangkan dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN). GLN terbagi ke dalam 6 (enam) jenis aspek literasi dasar; yaitu (1) literasi baca-tulis, (2) literasi numerasi, (3) literasi sains, (4) literasi finansial, (5) literasi digital, dan (6) literasi budaya dan kewargaan.

Pembagian jenis literasi ini tentu bukan untuk memecah fokus gerakan membangun keterampilan literasi kita. Malah sebaliknya, GLN membuatnya lebih nyata dan lebih terarah.

Untuk menguatkan pandangan eskatologis terhadap GLN ini tidak serta merta dapat dilekatkan begitu saja. Mari kita runut.

Pertama, Islam pertama kali ditandai dengan turun wahyu iqra kepada Muhammad bin Abdullah. Sejak itu beliau dinobatkan sebagai Nabi dan Rasul pembawa ajaran literat.

Kenapa saya sebut ajaran literat? Literasi itu bukan terhenti pada kegiatan membaca dan menulis. Gerakan ini mengarahkan pada sebuah pemahaman yang utuh tentang sesuatu. Bukan pada kata atau kalimat yang tersurat saja. Namun, perlu dilanjutkan pencarian makna dan hikmah dari setiap naskah yang kita baca.

Al-Qur’an menyebut 24 (dua puluh empat) ayat terkait anjuran berpikir (ta’qilun). Berpikir tentang banyak hal. Dari fenomena dan nomena, yang kemudian mengantar pada sebuah pengetahuan. Hakikat epistemologi adalah pencarian pengetahuan sehingga absah menurut metodenya. Melahirkan keyakinan bahkan ilmu pengetahuan.

Logika berpikir bayani, burhani, dan irfani, adalah istilah yang dipinjam dari pemikiran Al-Jabiri untuk mewakili epistemologi dalam kajian studi yang dilakukannya, yang sebelumnya ia gunakan sebagai kritik atas nalar Arab. Proses itu dapat menjadi pijakan kita dalam berliterasi. Bagaimana penggalian pengetahuan kita dapatkan, bagaimana dalil-dalil logika menjelaskannya, bahkan pengetahuan yang kita peroleh tanpa memerlukan dalil logika sama sekali.

Kedua, teologi meniscayakan keyakinan tanpa keraguan. Dalam hal ini erat kaitan dengan dogma keimanan. Sebuah keyakinan akan suatu kebenaran diperoleh tidak secara an sich. Seperti tubuh menerima vaksin anti virus, ia akan bereaksi sehingga efek muncul sampai berhenti pada kesimpulan tubuh seseorang dinyatakan sehat dan kebal terhadap penyakit yang ditimbulkan virus tersebut.

Begitulah proses literasi semestinya mengantarkan pada sebuah pengetahuan yang membawa keyakinan akan kebenaran suatu informasi. Penanaman akidah literasi tidak cukup hanya dengan modal sosialisasi dan gembar-gembor kegiatan seremoni. Sebagaimana dakwah punya misi membentuk dan menguatkan keyakinan. Keyakinan yang tumbuh dan mengakar logis berdasar pada argumen-argumennya.

Ketiga, literasi akan semakin berarti dengan menunjukkan hasil berupa produk-produk karya. Karya sebagai hasil perenungan dan pengejawantahan pengetahuan tentang sesuatu yang diharap membawa manfaat bagi semua penikmat karyanya.

Muatan edukasi, informasi, dan penanaman benih pengetahuan yang dilakukan dengan gaya dan ciri khas genre karya itu sendiri. Baik dalam karya ilmiah, terlebih sastra untuk memanusiakan manusia. Alhasil, proses ini diharapkan akan melahirkan generasi literat. Generasi yang peka terhadap perubahan zaman, bukan malah tergerus dalam arusnya, melainkan menjadi penerus generasi yang senantiasa mengawal perubahan. Tentu dengan fondasi hakiki, kebenaran tanpa keraguan. Informasi tiada bias, bukan sekadar luapan emosi sesaat apalagi ujaran kebencian.

Berawal dari ayat-ayat literasi yang disebutkan di atas, bukan saja mengantarkan kita untuk mencari kandungan ayat-ayat qauliyah, melainkan pula menuntun generasi literat untuk mencari makna dari ayat-ayat kauniyah. Secara sederhana, generasi literat adalah generasi yang mampu menyelami apa yang tersurat dan apa-apa yang tersirat.

Tidak mustahil, generasi yang akan datang menjadi generasi emas seperti dambaan tujuan pembangunan bangsa. Pasalnya adalah, mereka hidup bukan untuk hari ini saja, melainkan memiliki tujuan nyata karena secara eskatologis, manusia akan mengalami kehidupan di alam kelak. Alam setelah dunia ini berakhir. Maka, tatanan kehidupan yang lebih baik di dunia sekarang tentu bukanlah isapan jempol belaka, sebab generasi literat senantiasa memiliki fondasi kuat dan visi yang mantap dalam menatap masa depan.

Sekelumit pencarian tautan eskatologis dengan gerakan literasi ini patut dipertimbangkan, sebab kehidupan akan berlanjut setelah akhir kehidupan itu sendiri. Kehidupan fana untuk menyongsong kehidupan abadi. Di alam sana, di hadapan Mahkamah Agung Konstitusi Literasi Sejati. Karya agung literasi seyogyanya mendayagunakan segenap keagungan Tuhan sebagai Sang Pencipta Maha Karya. Semoga tulisan singkat ini dapat mengawali upaya menautkan literasi dengan eskatologi. Paling tidak karya kita abadi di kehidupan anak-cucu kita, kelak. Abadi dalam karya atau hilang di balik meja sidang penilaian baik, buruk, bermanfaat, atau hanya menjadi seonggok sampah sejarah.

Allahu a’lam bishshawab. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?
dewanpers