web analytics
  

Kenangan Pahit Sejarah Pasar Cihapit

Senin, 26 April 2021 13:57 WIB Aris Abdulsalam
Bandung Baheula - Baheula, Kenangan Pahit Sejarah Pasar Cihapit, Sejarah Pasar Cihapit,Pasar Cihapit,Kenangan Pahit,Pemerintah Kolonial,Hindia Belanda,Batavia,Bandung,pendudukan Jepang,Belanda

Aktivitas warga di Pasar Tradisional Cihapit, Jalan Cihapit, Kota Bandung, pada Jumat, 23 April 2021. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Di Pasar Cihapit, orang-orang datang dan pergi sesuai kebutuhannya. Hiruk pikuk perniagaan berputar sepenuh hari. 

Tidak terbayangkan, jika di tempat yang ramai itu, kenangan pahit warga Bandung tertancap dengan jelas. Sejarah Pasar Cihapit yang jauh dari kesan suka cita.

Bersumber pada penjelasan Alex Ari, wakil dari Komunitas Aleut, dari awal, area Cihapit sebenarnya berupa pemukiman untuk para pegawai Belanda. Tetapi, bukan untuk mereka yang kelas atas, melainkan golongan lebih rendah.

"Kawasan Cihapit, sebagai perumahan untuk pegawai menengah rendah, tahun 1921 sudah dibangun sekitar 127 rumah dilengkapi dengan 12 bangunan toko," ungkap Ari, saat mengisi acara live Instagram bersama akun @kulturlokal.id dengan tema "Sejarah Pasar Cihapit Bandung".

Dipaparkan Ari, bangunan awal itulah yang kemudian jadi bagian depan Pasar Cihapit saat ini. 

Selain itu, eksistensi Pasar Cihapit juga tidak bisa dilepaskan dari rencana pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang ingin memindahkan ibu kota dari Batavia ke Bandung.

"Pasar Cihapit ga bisa dilepaskan dari perkembangkan wilayah tersebut. Wilayah tersebut (kawasan Cihapit) dibangun sebagai bagian perpindahan ibu kota Hindia Belanda, dari Batavia ke Bandung," lanjut Ari.

Bagaimanapun, rencana besar Hindia Belanda itu terkendala oleh resesi besar dunia, yang dikenal dengan Malaise. Rencana pembangunan pusat pemerintahan pun tertunda. Buktinya, meurut Ari, bangunan-bangunan yang telah direncakanan sebelumnya tidak terealisasi sepenuhnya.

Sementara itu, para pegawai kelas menengah ke bawah pun kesulitan membayar harga sewa rumah di area Cihapit. Mereka mulanya mesti membayar sekitar 10 gulden, tetapi sebab pembayaran mayoritas tidak lancar, harga disesuaikan kembali.

Kesulitan pembayaran itu menunjukkan kondisi ekonomi rerata warga Cihapit, pada masa Hindia Belanda, tidak dapat dikatakan sejahtera. Selain ditindas kolonialisme, mereka pun tergilas oleh roda ekonomi.

Aktivitas warga di Pasar Tradisional Cihapit, Jalan Cihapit, Kota Bandung, pada Jumat, 23 April 2021. Dahulu, area Cihapit berfungsi sebagai pemukiman untuk para pegawai Belanda kelas menengah ke bawah. Lalu pada masa pendudukan Jepang, kawasan ini jadi kamp Interniran terbesar di Bandung, untuk menawan orang Eropa dan perempuan Pribumi. Setelah Perang Dunia berakhir, kamp interniran dihilangkan, pemukiman warga dan pasar tradisional berkembang lagi. ( Ayobandung.com/Kavin Faza)

Derita sejarah Pasar Cihapit tidak berhenti sampai di situ. Kawasan ini kemudian diubah oleh pemerintah Jepang menjadi kamp Interniran terbesar di bandung, untuk menawan perempuan dan lainnya.

"Kawasan Cihapit pernah memiliki masa-masa kelam, tepatnya ketika kawasan tersebut difungsikan sebagai salah satu lokasi Interniran terbesar di Bandung," tulis M. Ryzki Wiryawan, di situs resmi Komunitas Aleut.

"Dikenal juga sebagai kamp Bunsho II, Kamp Tjiapit ditujukan untuk menampung tawanan wanita, orang-orang tua, dan anak-anak Belanda. Pada saat dibuka pada 17 November 1942 penghuninya sekitar 14.000 orang, dan ketika ditutup pada Desember 1944 penghuninya sekitar 10.000 orang dipindahkan ke berbagai kamp di Jakarta, Bogor dan Jawa tengah," ungkap Ryzki.

Tercatat, sekitar 243 korban pernah meninggal di Kamp Tjiapit. Pada zaman pendudukan Jepang, kawasan Cihapit dibatasi dengan kawat berduri dan bilik bambu. Jauh berbeda dengan kondisinya saat ini.

Akan tetapi, tanpa diduga oleh para penghuninya, penderitaan itu akhirnya berakhir jua. Seiring kekalahan Jepang pada Perang Dunia II.

"Jadi ketika perang dunia berakhir, dengan menyerahnya Jepang, si batas-batas itu menghilang, kemudian kembali lagi menjadi kawasan pemukiman," pungkas Ari. [*]

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Mengintip Lagi Kelamnya Penjara Banceuy di Bandung Tahun 1930-an

Baheula Senin, 10 Mei 2021 | 17:35 WIB

Tak jauh dari keramaian Jalan Braga dan Asia Arfrika, di pusat Kota Bandung, tersisa situs sejarah terpencil.

Bandung Baheula - Baheula, Mengintip Lagi Kelamnya Penjara Banceuy di Bandung Tahun 1930-an, penjara banceuy,Bandung,Tahun 1930-an,Soekarno,Sejarah

Tewasnya Laksda Udara dalam Kecelakaan Pesawat di Tegalega

Baheula Kamis, 6 Mei 2021 | 16:25 WIB

Sang jenius berusaha untuk mendarat darurat di Lapangan Tegalega, Bandung, namun gagal.

Bandung Baheula - Baheula, Tewasnya Laksda Udara dalam Kecelakaan Pesawat di Tegalega, Nurtanio Pringgoadisuryo,Tegalega,Kota Bandung,Pesawat,Kecelakaan,Kerusakan Mesin,Jokowi

Dari Rebocco Sampai Red Fox, Urat Nadi Sejarah Bisbol Bandung 

Baheula Rabu, 5 Mei 2021 | 16:40 WIB

Di samping kultur sepak bola yang sudah mendarah daging, Bandung sebetulnya punya klub bisbol legendaris yang layak diba...

Bandung Baheula - Baheula, Dari Rebocco Sampai Red Fox, Urat Nadi Sejarah Bisbol Bandung , Sejarah Bisbol Bandung,Rebocco,Red Fox,Perserikatan Bisbol dan Sofbol Amatir Seluruh Indonesia,Perbasasi Bandung

Hilangnya Insulindepark dan Sejarah Taman Lalu Lintas di Bandung

Baheula Selasa, 4 Mei 2021 | 15:00 WIB

Namanya berubah-ubah, dari Insulindepark sampai Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution, begitu pula fungsinya.

Bandung Baheula - Baheula, Hilangnya Insulindepark dan Sejarah Taman Lalu Lintas di Bandung, Taman Insulinde,Insulindepark,Taman Lalu Lintas,Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution,Taman Nusantara,Bandung,Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL),Hindia Belanda

Di Bandung 1961, Debut Perdana Indonesia dalam Piala Davis

Baheula Senin, 3 Mei 2021 | 15:20 WIB

Ini merupakan debut perdana Indonesia di Piala Davis bersama dengan Maroko dan Ekuador.

Bandung Baheula - Baheula, Di Bandung 1961, Debut Perdana Indonesia dalam Piala Davis, Bandung,1961,Piala Davis,Tenis,Indonesia,Petenis Indonesia,Tan Liep Tjiauw,Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PELTI)

Mengenang Kejayaan Radio Unasko Cimahi di era Orde Baru

Baheula Senin, 3 Mei 2021 | 11:00 WIB

Mengenang Kejayaan Radio Unasko era Orde Baru di Cimahi

Bandung Baheula - Baheula, Mengenang Kejayaan Radio Unasko Cimahi di era Orde Baru, Radio Unasko,Radio bersejarah Cimahi,Radio Cimahi,Radio bersejarah Bandung

Di Tegalega, Annie Salamun Memulai Kejayaan Atletik Indonesia

Baheula Jumat, 30 April 2021 | 22:00 WIB

Annie Salamun, perwakilan atlet dari Bandung, merajai cabang olahraga lempar cakram putri tahun 1950-an.

Bandung Baheula - Baheula, Di Tegalega, Annie Salamun Memulai Kejayaan Atletik Indonesia, Tegalega,Bahder Djohan,Dimas Wahyu Indrajaya,Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI),Annie Salamun,cabang olahraga lempar cakram,Bandung,atlet dari Bandung

Ingar Bingar Peresmian Stadion Terbagus Pertama di Bandung

Baheula Kamis, 29 April 2021 | 20:50 WIB

Stadion Siliwangi mulai dibangun pada 1 Januari 1954 dan biaya pembangunannya mencapai Rp6 juta pada tahun 1950-an.

Bandung Baheula - Baheula, Ingar Bingar Peresmian Stadion Terbagus Pertama di Bandung, Peresmian Stadion Siliwangi,Stadion Siliwangi,Bandung,Stadion Terbagus Pertama di Bandung,Komando Daerah Militer (Kodam),Jawa Barat

artikel terkait

dewanpers