web analytics
  

Kapan Mulai Ada dan Hilangnya Balong Gedé?

Jumat, 23 April 2021 19:38 WIB Netizen T Bachtiar
Netizen, Kapan Mulai Ada dan Hilangnya Balong Gedé?, Balong Gedé,cekungan bandung,Alun-alun Kota Bandung,Bandoeng/Topographisch Bureau,Bandoeng en omstreken/Topographische Inrichting,Bandoeng-Zuid,Kelurahan Balonggedé

Peta Balong Gede. (T. Bachtiar)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Di Cekungan Bandung, nama-nama geografi banyak yang berhubungan dengan air, seperti yang memakai kata situ, ranca, beber, nambo, bojong, teluk, dan balong.

Di pusat Kota Bandung, di selatan alun-alun, ada juga nama geografi Balonggedé, balong gedé, kolam yang besar, yang luas.   

Pertanyaan sering saya diajukan kepada warga kota Bandung, kalau nama geografi Balonggedé itu bersumber pada keadaan alam, yang pada masa lalu terdapat kolam yang luas, masa lalu itu kapan, tahun berapa? Kolam yang luas itu berapa meter persegi? Di mana letak balong gedé itu persisnya?    

Peta yang menggambarkan adanya balong gedé, kalau ditumpang-tindihkan atau ditampalkan pada peta digital tahun 2021, kolam yang luas itu berada di antara ruas Jl Kautamaan Istri di selatan, dan di utaranya sampai jalan tembus antara Jl Dewi Sartika dengan Jl Balonggede. Di sebelah barat Jl Dewi Sartika, dan sebelah timur Jl Balonggedé.

Berapa luasnya, sampai kolam itu disebut balong gedé oleh masyarakat Bandung pada abad ke-19?

Kapan kolam itu mulai ada, dan warga Bandung menyebutnya balong gedé, kolam yang luas? Kolam yang luas ini berada di selatan, di pungkur, di belakang pendopo dan kantor Bupati Kabupaten Bandung, yang berada di selatan alun-alun. Nama geografi ini tidak lepas dari kepindahan ibu kota Kabupaten Bandung. Kepindahan ibu kota nyatanya tidak bisa lepas dari pembuatan jalan raya pos di Bandung oleh Daendels pada tahun 1808-1809. Pada tahun 1810, Daendels sudah memaksa bupati Bandung, RA Wiranata Kusumah II agar segera memindahkan ibu kota kabupaten ke pinggir jalan raya pos yang baru selesai dibangun.

Pemindahan ibu kota ini tiada maksud lain kecuali agar rentang kendali pemerintah pusat lebih pendek, sehingga kontrol pusat terhadap pemerintahan kabupaten menjadi jauh lebih mudah.

Paksaan untuk memindahkan ibu kabupaten itu disusul dengan mengirimkan surat bertanggal 25 Mei 1810. Akhirnya bupati mulai memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung dari Karapyak ke lokasi di selatan jalan raya pos, di selatan alun-alun, yang saat ini menjadi Alun-Alun Kota Bandung. Dapat diperkirakan, sebutan balong gedé untuk menyebut kolam yang luas itu mulai tahun 1810.

Berapa luas kolam itu sehingga warga Bandung menyebutnya balong gedé? Apakah disebut demikian karena sakin luas kolam tersebut, atau karena kolam itu milik panggedé, pejabat pemerintah, sehingga nama kolamnya disebut balong gedé?

Ternyata balong gedé itu memang luas, digambarkan dalam Bandoeng/Topographisch Bureau, herzien in het jaar yang terbit tahun 1904. Peta itu diperbaiki lagi ketika khusus membuat peta untuk lembar Bandung, yaitu Peta Bandoeng en omstreken/Topographische Inrichting yang terbit tahun 1910. Luas lahan kolam mencapai 6.989,76 m persegi, kurang sedikit dari luas lapangan bola yang luasnya 7.140 m persegi. Di tengah kolam itu ada pulau seluas 1.323,28 m persegi. Jadi kolam yang diisi air luasnya 5.666,48 m persegi. Bila kolam itu dalamnya 1 m, maka air yang terkumpul di kolam ini sebanyak 5.666,48 m persegi, atau sama dengan 5.666.480 liter.   

Sampai kapan balong gedé ini ada? Pada Kaart van Bandoeng terbitan tahun 1926, kolam seluas lapangan bola itu sudah tak tergambarkan lagi. Demikian juga pada peta Bandoeng-Zuid yang diterbitkan tahun 1934, namanya diabadikan menjadi nama ruas jalan, Jl. Balonggede, persis yang mengelilingi kolam sisi utara dan sisi timur.  

Kini, Balonggede sudah menjadi nama geografi untuk Kelurahan Balonggedé di Kecamatan Regol, Kota Bandung, yang luasnya 55 km persegi. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers