web analytics
  

Buku Percakapan Sunda-Belanda

Rabu, 21 April 2021 13:25 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Buku Percakapan Sunda-Belanda, Buku Percakapan Sunda-Belanda,Raden Kartawinata,K.F. Holle,Literasi,Bahasa,Bahasa Sunda,Bahasa Belanda,Sunda,Belanda

Buku "Soendasch-Hollandsche Samenspraken", yang disusun oleh Raden Kartawinata dan diisi kata pengantar oleh K.F. Holle. (Google Books)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

Pada 24 Juni 1883, dari perkebunannya yang ada di lereng Gunung Cikuray, Waspada, K.F. Holle menulis pengantar bagi buku yang disusun oleh muridnya terkasih, Raden Kartawinata: Soendasch-Hollandsche Samenspraken. Ia mengawali tulisannya dengan semboyan, “Taal is macht” (bahasa adalah kekuatan). Semboyan tersebut memang terbukti dari kiprahnya selama menggeluti khazanah literasi Sunda, dari pengumpulan dan pembacaan naskah, prasasti, tradisi lisan, hingga pengenalan dan pengusahaan tradisi cetak.

Holle berharap buku tersebut menjadi semacam wahana untuk mempelajari bahasa Sunda. Dia selanjutnya mengungkapkan metode penulisan Kartawinata yang mengambil bahasa lisan (“spreektaal”) sepersis percakapan sehari-hari orang Sunda, seraya kemudian menegaskan bahwa objek-objek yang dibicarakannya memang diambil dari kehidupan sehari-hari, tetapi untuk orang-orang yang terlibat dalam percakapan, seperti para pegawai kolonial dan para pemuka pribumi sepenuhnya adalah fiktif.

Holle menerangkan bahwa Kartawinata menyertakan pula lampiran yang berisi tanda-tanda seru dan kata-kata seru yang merupakan bukti betapa kayanya bahasa Sunda sekaligus memberikan nuansa percakapan sebenarnya. Maksudnya tentu saja agar orang asing yang berbicara bahasa pribumi (baca: Sunda) dapat menggunakan aksen yang benar dan cengkok yang nyata. Dan segera kita menemukan bukti semboyannya dengan menyatakan bahwa bila orang (Eropa) dapat berbicara fasih dengan bahasa pribumi akan segera dapat mempengaruhi pribumi tersebut.

Buku yang disusun oleh muridnya tersebut, menurut Holle sangat penting bagi kalangan orang Eropa, mengingat betapa akan jarang sekali orang Eropa dapat menjumpai orang-orang Belanda di daerah pegunungan Tatar Sunda (“Eenige Europeanen bezochten eens een bergstreek in de Soendalanden, waar men zoo goed als geen Hollanders had gezien”).

Dengan demikian, dari pengantar Holle tersebut jelas sudah bahwa Soendasch-Hollandsche samenspraken ditujukan bagi para pembaca dari kalangan orang Belanda khususnya dan umumnya orang Belanda yang akan bekerja di Tatar Sunda. Dengan menguasai bahasa Sunda dengan baik, dapat terjalin komunikasi yang baik baik dengan kalangan pemuka maupun rakyat kebanyakan orang Sunda.

Kini giliran menengok isi bukunya. Di dalamnya tersaji sembilan bab dan satu lampiran (“Aanhangsel”). Sembilan bab tersebut berturut-turut adalah: “Gesprekken met Bedienden” (percakapan dengan pembantu), “Gesprek van een Kontroleur met Inlandsche Hoofden” (kontrolir dengan pemuka pribumi), “Gesprek met een Timmerman” (dengan tukang kayu), “Gesprek op een Terechtzitting” (di pengadilan), “Gesprek over de Jach” (mengenai berburu), “Gesprek van een Regent met zijne mindere” (bupati dengan bawahannya), “Gesprek over Ziekten en Medicijnen” (mengenai penyakit dan pengobatan), “Gesprek tusschen een Kontroleur, Hoofdpanghoeloe, Wadana en Thee-planter” (kontrolir, penghulu kepala, wadana, dan tuan kebun), dan “Gesprek betreffende een Landbouwonderneming” (mengenai perkebunan).

Bila dilihat lekat-lekat, saya pikir, kesembilan bab tersebut merupakan perwujudan dari adanya “undak-usuk” sebagaimana yang diterangkan oleh Blusse dan Kartawinata di dalam pengantar  Hollandsch-Soendaasch Woordenboek (1876). Keduanya membedakan bahasa Sunda menjadi empat tingkat, yaitu kasar (“kasar-woorden”), sedang (“sedeng-woorden”), halus (“lemes-woorden”), dan sopan (“adab-woorden”).

Realisasinya antara lain terlihat dari tujuh bagian yang tersaji dalam bab kesatu. Di situ ada percakapan antara seorang menak dengan Ali yang hendak melamar pekerjaan; percakapan menak dengan tukang kuda, yang memperlihatkan pengetahuan luas sang menak terhadap urusan mengenai kuda, sehingga saya mencurigai menak tersebut merupakan cerminan dari diri Kartawinata sendiri yang memang menaruh minat besar kepada kuda, karena nanti pada tulisan selanjutnya akan saya buktikan mengenai hobinya tersebut; percakapan antara seorang tuan Belanda dengan pembantunya Samun; tuan Belanda dengan pembantunya Naya; seorang nyonya Belanda dengan koki; nyonya dengan Saca; dan tuan Belanda dengan tukang kebun.

Pada bab pertama tersebut dapat dibilang orang yang diajak bercakap posisinya lebih rendah daripada orang yang mengajak bicara. Dengan demikian, orang yang mengajak bicara bahasa Sunda kasar, sedangkan orang yang diajak bicara berbahasa halus. Pada bagian kesatu misalnya ada percakapan begini: “Menak: Iraha maneh rek asoep?” (Kapan kau akan masuk kerja?) yang dijawab oleh “Ali: Manawi taja pambengan, pageto djisim abdi bade lebet” (Bila tidak halangan, esok lusa saya akan masuk kerja). Atau bagian kelima ada percakapan demikian: “Njonja: Naha meri teh mana karoeroe teuing! Sabraha koe maneh dibeulina sahidjina?” (Mengapa itiknya kurus-kurus? Berapa kau beli per ekornya?” dan jawaban “Koki: Eta noe panggedena lima welas baroe, ijeu noe rada leutik salapan baroe …” (Itu yang besar harganya lima belas baru, ini yang agak kecil sembilan baru …).

Kandungan teks-teks kesembilan bab percakapan tersebut juga mengetengahkan implementasi dari kebijakan Reorganisasi Priangan (Preanger Reorganisatie). Menurut A. Sobanana Hardjasaputra (Perubahan Sosial di Bandung, 1810-1906, 2002: 86, 136-137, 151, 164, 168), rencana reorganisasi tersebut dibahas dalam “Preanger Bestuursreorganisatie-Conferentie” (Konferensi Reorganisasi Pemerintahan di Priangan) di Bandung (31 Juli 1866). Reorganisasinya sendiri mulai efektif diberlakukan sejak 1 Juni 1871. Oleh pribumi, kebijakan tersebut disebut sebagai “aturan baru” karena memang hakikatnya mengubah peraturan-peaturan lama menjadi peraturan-peraturan baru, terutama dalam bidang pemerintahan, keamanan, dan ekonomi.

Dalam aturan tersebut antara lain mewujud pada dihapuskannya hak bupati untuk memungut pajak berupa uang dan barang dari rakyat dan sebagai gantinya digaji oleh pemerintah. Demikian pula pejabat di bawah bupati memperoleh gaji dari pemerintah yang didasarkan pada tinggi-rendah jabatannya masing-masing. Kemudian dalam bidang pemerintahan, realisasinya berupa pembagian wilayah administratif, yang berdampak pada kekuasaan bupati atas kabupaten beralih ke pihak pemerintah keresidenan (residen dan asisten residen). Dalam bidang ekonomi, tujuan utama reorganisasi adalah untuk meningkatkan pendapatan pemerintah, baik dari produksi kopi maupun dari berbagai jenis pajak. Dan memang produksi kopi meningkat pesat sejak pemerintah melaksanakan reorganisasi tersebut. Selain itu, pemeliharaan kesehatan menjadi salah satu tujuan reorganisasi tersebut.

Dengan kata lain, dengan adanya Reorganisasi Priangan pada 1871 tersebut saya pikir mendorong lahirnya birokrasi modern yang mengurangi bahkan menghapuskan hak istimewa bupati dan bawahannya, dengan jalan digaji oleh pemerintah kolonial. Hal ini terlihat dalam bab dua buku karya Kartawinata. Di dalam bab ini ada dua bagian. Mengenai gambaran betapa sewenang-wenangnya para bupati dan menak bawahannya digambarkan dalam percakapan sebagai berikut:

Kontrolieur. Leres nja kitoe, harita katjida leuwih senang baris amtenar-amtenar djeung kapala-kapala, tapi koemaha baris noe leutik?” (Kontrolir: Betul demikian, waktu itu para amtenar kolonial dan kepala-kepala pribumi sangat senang, tetapi bagaimana keadaan masyarakat kecil?)

Patih. Eta mah ripoeh koe disakama-kamakeun. Kapala-kapala loemrahna sakawgnang-wenang pisan.” (Patih: Mereka susah karena diperlakukan semena-mena. Kepala-kepala pribumi umumnya sangat sewenang-wenang).

Kontrolir kemudian bertanya kepada seorang kakek-kakek mengenai pengalaman di masa sebelum diterapkannya aturan baru. Menurut si kakek, sekarang pemerintahan kolonial kian memperhatikan kepada rakyat kebanyakan. Sementara dahulu sangat sibuk dipekerjakan oleh berbagai kewajiban yang dibebankan oleh menak-menak. Kontrolir menambahi mengenai kewajiban tanam kopi yang biasanya jauh dari perkampungan sehingga meninggalkan kewajiban lainnya.

Sementara wadana menambahkan istilah “lanang wadon tjawetanna” yang mengandung arti baik bagi laki-laki maupun perempuan haruslah bekerja sama kerasnya bila ada pekerjaan yang dibebankan kepada mereka. Kemudian lurah kolot menambahi betapa beratnya membuka perkebunan kopi yang baru dengan istilah “kebon baroe patjeklik, baroe seda sareng baroe ejar”. Terutama istilah “baroe ejar” menandakan perempuan yang baru melahirkan pun diharuskan membawa bayinya ke perkebunan kopi. Kata “ejar” merupakan tiruan suara bayi menangis. Wadana dan lurah kolot menyebutkan hukuman bagi lurah-lurah yang warganya berkurang jumlahnya saat bekerja di kebun kopi karena kabur, sehingga dikenal istilah “baroe talek” yaitu kebun kopi yang rakyatnya lebih dahulu disumpah agar tidak kabur.

Dengan Reorganisasi Priangan, kata kontrolir sekarang diizinkan untuk menanam kopi dekat rumah, rakyat kebanyakan kian suka, padahal dulu mereka membenci kopi). Demikian pula, gudang-gudang kopi letaknya berdekatan, tidak ada kewajiban untuk memelihara pedati dan kerbaunya untuk membawa kopi, sebab sekarang dibiayai oleh gupernemen dan harga kopinya dinaikkan.

Si kakek, haji, pensiunan camat, patih kemudian menerangkan ihwal kebiasaan “poepoendoetan” yang dilakukan oleh para menak, terutama bupati. Apa pun yang diinginkan oleh mereka, rakyat kebanyakan tidak boleh menolaknya. Bila menolak, mereka diancam dapat diusir ke distrik atau kabupaten lain (“Lamoen henteu disanggakeun, noe gadoeh ditoendoeng kedah pindah ka distrik atawa kaboepaten sanes”). Oleh karena itu, agar tidak “disanggrah” atau diminta oleh menak, maka barang-barang, hewan, dan apapun yang bagus harus disingkirkan dahulu. Termasuk gadis-gadis cantik suka diminta oleh bupati atau para kepala pribumi. Untuk menghindarinya, rakyat biasanya berpura-pura mengawinkan terlebih dahulu anak-anak gadisnya ketimbang “disanggrah”.

Dengan aturan baru, bila bupati turni ke lapangan hanya membawa dua orang pengiring dan menjadi contoh kepada bawahannya, tanaman kopi demikian maju dan tidak ada paksaan; amtenar Belanda yang dulu ke lapangan baru sedikit dan tidak mengerti bahasa Sunda sekarang mereka bertambah banyak; dulu orang kebanyakan termasuk amtenar Eropa sering ditipu oleh para pemuka tetapi sekarang tidak. Dengan demikian, kontrolir menyimpulkan “Leres nja mimper-mimper kana kitoe djaman baheula mah, samemeh atoeran baroe” (Betul demikianlah kira-kira yang terjadi di masa lalu, sebelum adanya aturan baru).

Tentu saja Reorganisasi Priangan yang pada hakikatnya birokrasi modern tersebut sejalan dengan projek pencerahan yang dibawa oleh orang Belanda (baca: Barat) untuk “memperadabkan” pribumi Priangan. Projek pencerahan ala Barat tersebut memang menjadi cita-cita terbesar bagi K.F. Holle, dan bukan kebetulan pula, ia terlibat di balik lahirnya aturan baru di Priangan tersebut. Projek pencerahan yang seiring atau bahkan menjadi tujuan Reorganisasi Priangan adalah bidang pendidikan dan kesehatan. 

Hal tersebut nampak dari bab keenam, yang mengetengahkan percakapan seorang bupati dengan mantan patih terkait rencana pernikahan anak gadisnya yang sudah diminta oleh bupati lainnya untuk dinikahkan dengan anaknya. Menurut pertimbangan mantan patih, ada baiknya anak gadis jangan segera dinikahkan bila umurnya belum cukup.

Pada bab ketujuh disajikan percakapan mengenai penyakit dan pengobatannya. Dalam bab ini ditegaskan kontras antara pengobatan secara tradisional oleh dukun dan oleh dokter Eropa. Di sini, dukun sangat dijelek-jelekkan. Katanya bila berobat ke dukun akan sangat memakan biaya besar, bahkan hingga habis seekor kerbau; dukun hanya mengandalkan omongan dan air liur. Demikian pula kepercayaan terhadap makhluk halus penyebab penyakit disingkirkan dan menekankan pentingnya vaksinasi (“kasakit tjara kasakit sedjen bae, toel tel lain koe ti djoerig, koe tepa bae, aja peurahna; mana di tjatjaran oge, soepaja leungit peurahna”).

Demikian pula isi dari percakapan bab kedelapan. Di dalamnya ditekankan mengenai pentingnya pemberantasan penyakit dan pengobatan modern ala Barat dan memupus kepercayaan terhadap dukun. Sebagai tambahannya, dalam bab ini digarisbawahi mengenai pentingnya pendidikan atau kampanye kesehatan dengan menggunakan bahasa pribumi serta dibagikan kepada kepala-kepala pribumi (“Pisaeeun pisan soepami ngadamel saroepi pangadjarannana koe basa priboemi serta dibagikeun ka kapala-kapala”). Dalam hal tersebut, termasuk mengenai pentingnya dukun beranak yang memperoleh didikan Barat.

Apa pun kandungan percakapan dalam buku ini memang tidak terlepas dari pengaruh K.F. Holle, karena bukankah dalam judul disebutkan bahwa buku tersebut lahir di bawah arahannya sebagai penasihat kehormatan untuk urusan pribumi (“onder leiding van K.F. Holle, adviseur honorair voor inlandsche zaken”). Oleh karena itu, tidak mengherankan Holle pula yang kemudian membela mati-matian karya ini tatkala ada dua orang yang mengajukan tinjauan kritisnya atau resensi (“Critische Overzichten”).

Dua orang yang menulis ulasan tentang Soendasch-Hollandsche samenspraken adalah H. J. Oosting dan J.R.P.F. Gonggrijp. Keduanya menulis dalam De Indische Gids, Zesde Jaargang, I, 1884. Oosting (1884: 76-79) yang menulis dari Assen, Belanda, pada 23 November 1883 menyatakan pada awal tulisannya bahwa dia menerima satu eksemplar buku tersebut dari redaksi De Indische Gids disertai undangan untuk meresensinya. Selain memuji buku tersebut, ia juga mengajukan keberatan terutama menyangkut cara menerjemahkan ke bahasa Belanda yang kadang-kadang sangat bebas, bahkan kebablasan.

Sedangkan Gonggrijp yang menulis dari Delft, pada 2 Desember 1883, pada awal tulisannya menyatakan bahwa buku setebal 176 halaman yang dicetak di Batavia tersebut belum dipasarkan di Belanda dan bahasa Sunda masih jauh dari diminati di Belanda, tidak menghalanginya untuk menilai mengenai pentingnya buku tersebut sebagai perkakas untuk mempelajari bahasa Sunda yang telah demikian lama diabaikan. Dari daerah berpenutur bahasa Sunda itulahm menurut Gonggrijp, uang berdarah diperah dari penduduk yang ramah dengan jalan tirani, seperti orang Belanda yang harus menahan derita perlakuan orang-orang Spanyol beberapa abad yang lalu dan harus tetap disembunyikan. Dalam buku ini, misalnya halaman 55-57, pembaca akan mendapati contohnya. Sudah pasti, Gonggrijp hendak menegaskan perlakuan keras bupati dan bawahannya terhadap rakyat kebanyakan, sebagaimana yang sudah saya ulas di atas.

Kemudian dia menyatakan bahwa bila hendak membuka usaha swasta dengan potensi keberhasilannya tinggi dapat dilakukan dengan jalan mampu bercampur gaul dengan pribumi sekaligus menggunakan bahasa mereka. Gonggrijp mendapatinya pada sosok Holle yang 20 tahun sebelumnya sudah dikenal di antara orang Eropa sebagai orang Sunda, karena saat itu hampir tidak ada yang memperhatikan bahasa Sunda. Demikian pula, saat Gonggrijp sendiri menguji mahasiswa di Delft, sangat sedikit bahkan tidak ada perkakas bantu untuk mengajar bahasa Sunda.

Gonggrijp juga membandingkan Soendasch-Hollandsche samenspraken ini dengan buku sejenis dalam bahasa Melayu. Ia menilai banyak orang yang gampang saja menyusun buku panduan semacam itu dalam bahasa Melayu, dengan keyakinan bahwa tulisan populer lebih mudah daripada bahasa ilmiah dan pengetahuan bahasa Melayunya tidak mendalam. Tidak katanya, penulisan buku semacam ini harus ditimba dari percakapan sehari-hari orang pribumi, yang karenanya harus hidup bersama pribumi dan berpikir dengan bahasa mereka, tidak boleh berpikir dalam bahasa Belanda belaka dan menerjemahkannya ke dalam bahasa pribumi. Dengan demikian, dalam kaca mata Gonggrijp, Soendasch-Hollandsche samenspraken memenuhi kriteria tersebut karena bebas dari kekakuan dan akan menggunakannya sebagai bahan ajar bagi mahasiswa di Delft, meskipun agak terlalu bebas menerjemahkannya (“wel eens wat al te vrij”).

Giliran Holle membela muridnya yang sekaligus juga berarti membela kebijakannya sendiri. Dalam De Indische Gids edisi yang sama (1884: 1012-1013), Holle yang menulis dari Waspada pada 19 Maret 1884 antara lain menekankan kehendak dan tujuan kepada Kartawinata untuk menyusun buku tersebut.  Katanya, saat menugaskan Kartawinata menyusun buku tersebut, dia memiliki dua tujuan di kepalanya, yaitu sebagai perkakas bagi orang Belanda yang hendak berbicara dalam bahasa Sunda dan bagi orang Sunda yang belajar berbicara dalam bahasa Belanda. Dalam hal tersebut, bahasa lisan dikedepankan dan bukannya terjemahan yang kaku dan harfiah. Ini berbeda dari pandangan Oosting, yang katanya buku tersebut agak tidak harfiah dan maunya penerjemahannya sesuai dengan kata per kata.

Holle juga menyetujui sepenuhnya pernyataan Gonggrijp mengenai pentingnya bercampur gaul dengan orang Sunda agar dapat berbicara dengan bahasa mereka. Sehingga bagi Holle, baik bagian berbahasa Sunda dan Belanda harus digunakan sealami mungkin dengan menggunakan bahasa lisan serta tidak terpaku pada kekakuan. Oleh karena itu, saat menemukan kata-kata seru yang merupakan kekhasan Sunda (“Wat de werktwoordelijke tusschenwerpsels betreft, een eigenaardigheid van de Soendasche taal”) dia berupaya mencari-cari padannya dalam bahasa Belanda, karena sepenuhnya akan bertentangan dengan bahasa Belanda serta memang sukar sekali mendapatkan hal yang sama dalam bahasa Belanda. Kata-kata tersebut, menurut Holle, disebut sebagai “oempak basa” (kata-kata penegas, atau yang kini dikenal dalam bahasa Sunda sebagai “kecap panganteur pagawean” atau “kaayaan”) yang tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa. Holle mencontohkan “gek dioek, gong njumbah, pok ngomong”.

Betapa pun, bagi Raden Kartawinata sendiri, dengan terbitnya Soendasch-Hollandsche samenspraken mencatatkan dirinya sebagai orang pertama yang menyusun buku percakapan Sunda-Belanda. Langkahnya kemudian diikuti oleh M. van der Ent yang menyusun Hollandsch-Soendasche spreekwijzen en samenspraken (1891, 1913); O. A. van Polanen Petel dengan karyanya Soendaneesche samenspraken met Nederlandschen tekst ten dienste van geemployeerden in de thee cultuur (1912); A.C. Deenik dan Moehamad Rais yang menulis Nederlandsch-Soendasche Samenspraken (1913); dan buku-buku cara belajar mandiri (“zelfonderricht”) bahasa Sunda yang ditulis oleh L.A. Lezer, yaitu Practische leercursus voor zelfonderricht in de Soendaneesche taal (1918, bersama L. Borst), Kleine leercursus voor zelfonderricht in de Soendaneesche taal, De Soendaneesche taalcursus (1919, bersama L. Borst), dan De vier Indische talen (empat bahasa Hindia): Leerboek voor zelfonderricht in de Nederlandsche, Maleische, Soendaneesche en Javaansche taal.

Daftar judul tersebut saya baca dari karya E.M. Uhlenbeck, A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura (1964). Ia (1964: 17) antara lain menyatakan “Mostly for practical purposes, Sundanese conversations, sometimes with Dutch translations, were published, i.e. by Kartawinata, son of the penghulu of Garut, by Van der Ent, Van Polanen Petel and much later by Deenik and Mas Moehamad Rais” (Kebanyakan untuk kegunaan praktis,  percakapan bahasa Sunda, yang kadang-kadang disertai terjemahannya dalam bahasa Belanda, banyak diterbitkan  yakni oleh Kartawinata, putra penghulu Garut, oleh Van der Ent, Van Polanen Petel, dan lebih kemudian oleh eenik and Mas Moehamad Rais).

Dari titimangsa tulisan-tulisan resensi yang ditulis Oosting (23 November 1883), Gonggrijp (2 Desember 1883), dan Holle (19 Maret 1884), saya jadi punya dugaan bahwa buku Soendasch-Hollandsche samenspraken paling tidak sudah diterbitkan di Batavia pada pertengahan 1883. Pada paruh kedua tahun tersebut bukunya dikirimkan ke Belanda dan tiba sekitar Oktober 1883 atau awal November 1883. Sementara bagi konsumsi publik Belanda, buku tersebut baru diiklankan dalam Nieuwsblad voor den boekhandel, jrg 51, no. 59 (23 Juli 1884). [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers