web analytics
  

Bapak Ideologi Muhammadiyah Itu Menjadikan Puasa sebagai 'Kanopi Diri'

Minggu, 18 April 2021 19:10 WIB Netizen Anto Ramadhan
Netizen, Bapak Ideologi Muhammadiyah Itu Menjadikan Puasa sebagai 'Kanopi Diri', Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si.,Bapak Ideologi Muhammadiyah,Muhammadiyah

Bapak Ideologi Muhammadiyah, Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. (suaramuhammadiyah.id)

Anto Ramadhan

Pengamat Budaya Tinggal di Cicadas.

Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum PP. Muhammadiyah, adalah kader otentik Muhammadiyah yang tidak ada irisan ideologis dengan organisasi lain di luar Muhammadiyah. Sejak usia yang masih belia, aktif sebagai Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP. IPM) 1983-1986 (sebagai Ketua I, Bidang Pengkaderan), kemudian Departemen Kader PP. Pemuda Muhammadiyah 1985-1990, Sekretaris Badan Pendidikan Kader (BPK) PP. Muhammadiyah 1985-1995, Ketua Badan Pendidikan Kader dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah (BPKPAMM) PP. Muhammadiyah 1995-2000, Sekretaris PP. Muhammadiyah, 2000-2005, Ketua PP. Muhammadiyah 2005-2015, dan Ketua Umum PP. Muhammadiyah 2015-sekarang. 

Dilihat dari riwayat organisasinya, sosok Haedar Nashir terlihat sangat konsisten dan benar-benar menekuni Muhammadiyah. Sejak muda, tidak ada organisasi lain, selain organisasi internal Muhammadiyah yang digeluti. Sosok Haedar tergolong sangat produktif menulis, terutama berkaitan dengan pemikiran ideologi Muhammadiyah, sehingga tak heran warga Muhammadiyah menyebutnya sebagai Bapak Ideologi Muhammadiyah

Melalui karya-karya tulisnya, di rubik husus bernama "Bingkai", Haedar mampu membingkai pikiran warga Muhammadiyah dalam nuansa “Islam Washatiyah”.

Pikiran-pikirannya senantiasa menjadi rujukan wajib, bagi siapa pun yang ingin membicarakan Muhammadiyah

Haedar juga dikenal sebagai Pimpinan Muhammadiyah yang low profile. Sebagai Guru Besar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, banyak aktivis Muhammadiyah memandang tokoh ini sebagai penjaga gawang ideologi Muhammadiyah

Haedar sosok yang beraliran khitois karena ketaatannya pada garis-garis haluan organisasi. Haedar memiliki wawasan kebangsaan, keislaman, dan kemuhammadiyahan, yang luas serta mendalam.

Dalam bukunya yang berjudul, Muhammadiyah Gerakan Pembaruan (2010), Haedar mengungkapkan betapa Muhammadiyah sungguh “kenyang” dengan hiruk pikuk dunia politik. Muhammadiyah merasakan betul betapa rumitnya bersentuhan dengan dunia politik.

Meskipun demikian, terang Haedar,  Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang bercorak sosio-keagamaan tidak boleh alergi terhadap politik. Wawasan keagamaannya justru harus menyatu dengan wawasan kekuasaan. 

"Akan tetapi, yang perlu dijaga adalah bagaimana agar Muhammadiyah tidak terjebak oleh isu-isu politik praktis yang tidak menguntungkan" jelasnya.

Muhammadiyah adalah gerakan Islam Non-politik. Pelibatan politik di Muhammadiyah sangat dikhawatirkan, sehingga hal ini menjadikan Haedar sangat memegang teguh kepada khittah organisasi. 

Keberpihakan Haedar kepada khittah Muhammadiyah merupakan kebanggan tersendiri segenap warga Muhammadiyah. Gaya politik ini dapat disebut sebagai politik kebangsaan, high politics, atau politik nilai.

Pengalaman panjang berorganisasi di Muhammadiyah sejak muda, keterlibatan pada perumusan keputusan-keputusaan organisasi Muhammadiyah, membuat Haedar sebagai seorang nakhoda yang memahami betul ideologi dan khittah Muhammadiyah, termasuk memahami hendak kemana membawa sikap dan pandangan Muhammadiyah di masa yang akan datang. 

Puasa Sebagai Kanopi Diri 

Sebagai publik pigur, Haedar Nashir juga sering menggunakan media sosial sebagai ajang berbagi pengetahuan, sekaligus berdawah. Baru baru ini juga lewat akun Twiter nya mengatakan tentang "konsep kanopi " di bulan Ramadan ini.

Menurut Haedar, setiap tahun kita berpuasa tidak cukup hanya sebagai ritual individu semata, tetapi puasa harus memancarkan diri kita yang menjadi uswah khasanah (teladan yang baik) dalam kehidupan. 

Masih menurut Haedar,  puasa sebagai ibadah mahdhah merupakan satu kewajiban yang rutin kita tunaikan. Puasa dalam membentuk pribadi taqwa, tentu tidak sekali jadi, maka setiap tahun berpuasa menurut ulama sebagai "olah jiwa tahunan " yang akan membentuk kita semakin baik, semakin bertaqwa.

"Saya mencoba meletakan puasa sebagai 'kanopi'. Sekaligus sebagai teras rohani kita, agar dengan ketaqwaan yang terus kita bangun itu melahirkan diri kita yang bersih, suci lahir batin ,dalam makna puasa adalah proses revolusi rohani" kata Haedar. 

Ketika puasa diproyeksikan sebagai laalakum tattaquun (agar kamu menjadi orang yang bertakwa) bagaimana sifat taqwa itu diperaktikkan.

"Contohnya, apakah setelah puasa kita akan menjadi orang yang semakin dermawan , apakah kita akan menjadi orang yang sabar, tidak pemarah, kemudian menjadi pemaaf," terang Haedar mencontohkan. 

Di dalam cuitannya, Haedar juga menulis bahwa puasa yang bisa membentuk kanopi diri, menjadi insan yang bersih lahir batin, adalah puasa yang berintegrasi.

Bukan hanya menahan puasa dari makan minum dan pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi juga menjadikan diri menjadi orang yang mempunyai kemampuan merawat dan menjaganya. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers