web analytics
  

Harga Gabah dan Beras di Tengah Polemik Impor

Kamis, 15 April 2021 17:50 WIB Netizen Ester Anida Gree Sitorus
Netizen, Harga Gabah dan Beras di Tengah Polemik Impor, Polemik Impor,Beras,Petani,komoditas padi,Gabah kering panen (GKP),gabah kering giling (GKG),Jawa Barat,Badan Pusat Statistik (BPS)

Ilustrasi padi, yang bakal diolah menjadi gabah dan beras. (Pixabay/Trung Hieu Dang)

Ester Anida Gree Sitorus

Statistisi Muda pada Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat

Beberapa minggu belakangan ini beberapa demo digelar dalam rangka menunjukkan gerakan anti-impor beras. Demo tersebut bergulir lantaran ada dugaan kebocoran beras impor asal Vietnam yang masuk ke pasar tradisional, dengan harga yang lebih murah dari beras medium hasil produksi petani dalam negeri.

Kekhawatiran melimpahnya pasokan beras itu juga disebabkan oleh datangnya masa panen raya yang terjadi di bulan Maret dan April tahun 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat setiap bulan merilis perkembangan harga gabah dan harga beras di penggilingan. Harga gabah dan harga beras tersebut dihasilkan dari survei bulanan yang dilaksanakan di seluruh kabupaten di Jawa Barat.

Ada dua jenis gabah, Gabah Kering Panen (GKP) adalah gabah yang langsung dipanen oleh petani dari sawah/kebun; dan Gabah Kering Giling (GKP) merupakan gabah yang sudah mengalami proses pengeringan/penjemuran. 

Sedangkan beras dibedakan atas 3 jenis kualitas berdasarkan besaran pecahan/patahan beras. Beras premium untuk yang pecahannya maksimum 15 persen dari total. Beras medium apabila pecahan mencapai 15-25 persen, dan beras kualitas rendah untuk yang pecahannya melebihi 25 persen.

Selama tahun 2021, harga gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG) di Jawa Barat cenderung terus mengalami penurunan dari bulan Januari hingga Maret.  Demikian juga dengan harga beras di penggilingan. 

Ini memang disebabkan karena jadwal panen raya di Jawa Barat jatuh di bulan Maret dan April. Hal lain yang menjadi pemicu adalah curah hujan yang cukup tinggi yang menyebabkan kualitas gabah yang dihasilkan kurang baik. 

Bahkan di beberapa wilayah, gabah hasil panen petani tidak dapat dikeringkan secara alami dengan menggunakan sinar matahari. Petani akan menjual hasil panennya kepada pembeli atau tengkulak yang memiliki alat pengering, dan tentu harga gabah yang basah akan dibeli dengan harga lebih murah.

Sedangkan proses pengeringan dengan menggunakan tenaga listrik akan dibebankan sebagai faktor pengurang harga gabah yang harus ditanggung oleh petani.

Kontradiktif

Menurut data BPS, harga rata-rata GKP tahun 2019 sebesar Rp5.054/kg sementara tahun 2020 sebesar Rp4.893/kg.  Sedangkan harga GKG tahun 2019 sebesar Rp5.443/kg dan di tahun 2020 sebesar Rp5.427/kg. Hal ini menunjukkan ada trend penurunan harga gabah selama pandemic covid yang disebabkan oleh kurangnya aktifitas masyarakat. 

Rumah makan, hotel dan kebijakan bekerja dari rumah menyebabkan konsumsi masyarakat untuk bahan makanan pokok berupa beras juga mengalami pengurangan. Selain itu, masyarakat modern saat ini berusaha menghindari asupan karbohidrat yang berlebihan untuk menunjang bentuk tubuh yang ideal.

Sejalan dengan data tersebut, secara umum harga beras di Jawa Barat juga mengalami penurunan. Pada tahun 2020 rata-rata harga beras berada dikisaran Rp10.006, dimana tahun 2019 harga beras mencapai Rp10.098. Harga beras selama periode Januari sampai dengan Maret juga cenderung menurun. 

Walau tidak dapat dipungkiri bahwa harga beras tidak sepenuhnya tergantung dari faktor persediaan dan permintaan (supply dan demand), tetapi pada kenyataannya tengkulak juga cukup penting dalam menentukan harga di lapangan.

Turunnya harga beras ternyata tidak ditunjang oleh banyaknya produksi gabah yang dihasilkan oleh petani. Menurut metode Kerangka Sampel Area (KSA) BPS dengan menggunakan teknologi citra satelit yang berasal dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), pada tahun 2020 produksi padi di Provinsi Jawa Barat sekitar 9,017 juta ton GKG sementara tahun 2019 produksi padi lebih banyak sekitar 68,18 ribu ton yaitu total sebesar 9,085 juta ton. Sementara tahun 2021 perkiraan puncak produksi padi terbesar di Jawa Barat akan diperoleh di bulan Maret dan April.

Dengan membandingkan data di atas, ada faktor lain yang menyebabkan turunnya harga komoditas padi di tahun 2020, karena pada saat yang bersamaan produksi padi juga mengalami penurunan. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya permintaan beras oleh masyarakat maupun sektor usaha.  Kemungkinan lainnya kualitas padi yang dihasilkan kurang baik karena terjadinya panen di musim hujan.

Kebijakan

Adanya isu impor beras tentu menimbulkan keresahan bagi para petani dan masyarakat perdesaan. Dengan turunnya harga gabah dan beras dari tahun 2019 dibanding tahun 2020, otomatis akan menurunkan kesejahteraan petani. Ini juga didukung dengan pengamatan harga gabah dan beras yang terus mengalami penurunan di lapangan. Daya beli petani padi akan makin tergerus.

Respons dari Presiden Joko Widodo yang menegaskan bahwa tidak akan mengimpor beras hingga pertengahan tahun 2021 cukup melegakan petani. Harapannya dengan pernyataan ini maka harga gabah tidak akan makin jatuh. Bulog juga diharapkan dapat menyerap hasil produksi padi di musim panen raya.  Intervensi pemerintah kadang dibutuhkan untuk menstabilkan harga.

Di samping itu, teknologi paska panen memang dibutuhkan di tengah perubahan cuaca yang kurang bisa ditebak saat ini. Para petani juga dapat diberi penyuluhan agar dapat menanam padi di musim yang tepat, sehingga hasil panen menghasilkan kualitas beras premium. Dengan demikian persediaan pangan tetap tercukupi dan para petani dapat menikmati hasil kerja kerasnya dengan tersenyum gembira. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

Sudah Tahu Instrumen Investasi Kalangan Kpopers? Harganya Luar Biasa!

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:35 WIB

Segala hal langka yang diincar para Kpopers bisa dihargai amat mahal.

Netizen, Sudah Tahu Instrumen Investasi Kalangan Kpopers? Harganya Luar Biasa!, Instrumen Investasi Kalangan Kpopers,Kpopers,Korean Pop,photocard,photobook

Dilecehkan di Ranah Daring, Pengguna Internet Harus Bagaimana?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 11:55 WIB

Kejahatan di ranah digital yang saat ini banyak dilaporkan adalah Kekerasan Berbasis Gender Online, atau yang biasa dise...

Netizen, Dilecehkan di Ranah Daring, Pengguna Internet Harus Bagaimana?, Ranah Daring,Pelecehan,Kekerasan Berbasis Gender Online,KBGO,psikologis,Mental

Menjadi Pion Utama di Bawah Nasib Buruk Perfilman Indonesia

Netizen Senin, 3 Mei 2021 | 14:10 WIB

Sebab, pion utama dalam sebuah film ialah seorang produser.

Netizen, Menjadi Pion Utama di Bawah Nasib Buruk Perfilman Indonesia, Perfilman Indonesia,Nasib Buruk Perfilman Indonesia,Pion Utama,Produser,Film

artikel terkait

dewanpers