web analytics
  

Merawat Tradisi Munggahan, Meneguhkan Harmoni 'Sunda-Islam'

Senin, 12 April 2021 18:20 WIB Netizen Ibn Ghifarie
Netizen, Merawat Tradisi Munggahan, Meneguhkan Harmoni 'Sunda-Islam', Munggahan,Tradisi Munggahan,Munggahan Ramadan,Sunda,Islam

Acara makan bersama (botram) yang biasa dilakukan dalam tradisi munggahan menjelang Ramadan. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Ibn Ghifarie

Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Kehadiran munggahan dengan berbagai tradisinya; silaturahmi, mandi, beberesih, kuramas di sungai, makan bersama (botram) di Sukabumi, bancakan di Tasikmalaya,  papajar di Cianjur, ziarah kubur ke makam leluhur, dan kampung adat, ini menjadi bukti nyata atas harmonisasi budaya Sunda dengan Islam sebagai petanda identitas muslim Jawa Barat yang berpijak pada khazanah kearifan lokal.

Pasalnya, suatu bangsa yang besar itu tidak akan melupakan tradisi, budaya sendirinya. Justru kehadiran budaya suatu daerah ini menjadi pilar menyangga keberlangsungan Negara Indonesia tercinta ini.        

Harus diakui, Islam yang hadir di tatar Sunda ini telah memperkaya potensi kemanusiaan orang sunda sendiri sebagaimana budaya sunda, dengan caranya sendiri telah ikut andil dalam memperkaya peradaban Islam.

Bagi masyarakat Sunda-Islam yang masih menjadikan ke-Sunda-annya sebagai identitas dan bagian integral dirinya. Islam dipandang sebagai lokus yang memberi ruang formal sebagai penyempurna dalam mewadahi pengalaman batin dan nilai-nilai kearifan lokal dan pengalaman batin masyarakat sunda. (Ahmad Gibson Albustomi,2012;ix-x).

Kesadaran Munggahan

Munggahan adalah tradisi menyambut bulan suci Ramadan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Sunda (Jawa Barat). Mereka biasanya berkumpul bersama orang terkasih dan makan bersama (botram). Bukan hanya keluarga, munggahan pun sering dilakukan di kantor dengan sesama rekan kerja. Tujuan dari munggahan adalah untuk bersilaturahmi menjelang pelaksanaan bulan suci Ramadan agar ibadahnya lancar dan diterima Allah Swt. (Yeti Nurmayati, 2020:11)

Dalam cerita Poe Kahiji, misalnya, dikisahkan bagaimana kagetnya para santri mendengar kiai yang tiba-tiba saja menetapkan hari pertama puasa lebih cepat sehari dibandingkan kampung-kampung lain.

Padahal sejumlah santri sudah telanjur menyiapkan makanan untuk munggahan pada hari itu. Tiba-tiba ada seorang santri yang yang mengaku  masih ingat ucapan kiai, yang mengatakan bahwa tidak puasa diperbolehkan hukumnya apabila sedang berkunjung ke tempat yang belum memulai puasa, asal kunjungan itu dilakukan pagi-pagi sekali dan mempunyai alasan yang kuat.

Dengan dasar ucapan sang kiai, pergilah mereka ke kampung tetangga dengan membawa makanan yang sudah dipersiapkan untuk acara munggahan. Sebelum pergi, mereka tidak lupa mengucapkan niat bahwa kepergiaanya untuk mengantarkan kitab kepada seseorang di kampung itu. Sebuah alasan yang sangat kuat karena mengantarkan kitab merupakan pekerjaan mulia dan seyogyanya dilakuakn secara bersama-sama.

Setibanya di kampung tujuan, puasa memang belum dimulai, maka dengan gembira mereka melakuakn acara munggahan, makan bersama-sama tanpa merasa telah melakukan dosa. Sorenya, barulah mereka pulang kembali ke Pesantren sambil senyum-senyum. (Acep Zamzam Noor,2018:56-57)

Sukron Abdilah menegaskan munggahan mestinya bisa menciptakan empati dan kolektivisme di tengah-tengah pergaulan sosial. Sebab, munggahan merupakan tradisi lokal yang berdialektika dengan ajaran Islam untuk menyadarkan manusia bahwa perilakunya harus bersih dari anasir-anasir yang bisa mengotori jiwa.

Puasa harus dijadikan medium untuk mengempati penderitaan orang lain hingga engkau (fakir, miskin) adalah aku (yang merasakan penderitaan fakir miskin). Itulah inti dari munggahan yakni mempersiapkan diri untuk ngunggahkeun pribadi ke posisi yang dihiasi rasa empati dan kolektivisme.

Tuhan mewajibkan hamba-Nya berpuasa di bulan Ramadan untuk menyadarkan bahwa kita harus terus merasakan dan menanggulangi penderitaan sesama.

Tradisi munggahan merupakan awal dari proses munggahkeun diri untuk memijakkan nilai-nilai ketuhanan di aras kebiasaan yang bernilai sosial dan manusiawi. Jadi, munggahan kalau direnungkan akan mempererat rasa kolektif antar manusia Sunda, hingga dapat mengeluarkan diri dari jurang kemiskinan. Tradisi munggahan juga secara praksis sosial adalah salah satu aktus (habitus) yang bakal menaikkan diri kita ke tangga pribadi yang sarat nilai-nilai kemanusiaan.

Sejatinya bulan puasa tahun ini harus dijadikan bulan untuk meninggalkan perilaku adigung-adiguna, pedit, jail, kaniaya dan linglung yang merupakan representasi anomali kemanusiaan dalam diri kita. Begitu dikutip dari salah satu media nasional pada 30 Agustus 2008.

Menyikapi Tradisi

Di tengah-tengah perdebatan panjang antara Sunda itu Islam, Islam itu Sunda, rupanya kehadiran berbagai tradisi dan ritual bernuansa Islami, termasuk dalam konteks munggahan ini diharapkan mempu menciptakan keseimbangan para pelaku tradisi dengan ajaran leluhur mereka.

Tidak heran bila komunitas-komunitas tertentu akan membela sepenuh hati untuk menjaga atas keberlangsungan tradisi dan praktik tadi. Perlawanan seperti itu ditujukan oleh Prof. Kusanaka Adhimihardja.

Bagi komunitas sunda seperti ini memelihara adat dan tradisi dari para leluhur merupakan prasyarat mutlak untuk menjaga keutuhan komunitas mereka. Pada sisi lain, kelompok Islam ortodoks juga terus berupaya melakukan perbaikan terhadap kebiasaan komunitas tadi. Islam ortodoks menyebut praktik yang dilakukan kelompok adat sebagai Islam hybrid (cangkokan). (Julian Millie dan Dede Syarif [editor],2015:15)

Menurut Prof. Dadang Kahmad, menjadi keniscayaan di tengah masyarakat Sunda. Aneh lamun aya urang Sunda lain Islam. Ini lebih memberi tekanan kepada fakta bahwa mayoritas masyarakat Sunda adalah beragama Islam (kebanyakan urang sunda) berkeyakinan tauhid kepada Allah.

Asimilasi dan akulturasi antar dua kebudayaan (lebih) akan melahirkan suatu bentuk kebudayaan baru yang merupakan hasil titik temu dari proses pembauran terus menerus antara berbagai kebudayaan yang berbeda tersebut. Titik temu antara nilai-nilai Sunda dengan nilai-nilai Islam adalah lebih banyak pada etika (tatakrama).

Sistem muamalah yang diajarkan Islam menemukan realitas empirisnya dalam kehidupan masyarakat Sunda. Apa yang dicita-citakan oleh masyarakat Sunda tentang cageur bageur, someah ka semah, nyaah ka sasasama sesuai dengan ajaran Islam. Prinsip-prinsip ulah ngarawu ku siku dalam pemilikan harta dan jabatan, ulah kaleuleuwihi dalam makan dan minum menemukan kaidah Zuhud dan Qonaah dalam ajaran tasawuf.  (Ensa Wiarna dan Rudi H. Turmudzi [editor],2012:174-175)

Dengan demikian, mari kita jadikan silaturahmi, mandi, beberesih, kuramas, makan bersama, botram, bancakan, papajar, nadran sebagai salah satu ikhtiar bersama-sama untuk merawat, memelihara, menziarahi tradisi munggahan guna meneguhkan kembali harmoni antara Sunda dengan Islam. Marhaban Ya Ramadhan. Semoga. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers