web analytics
  

Kalau Cuma Nyampah, Tak Perlu Mendaki Gede-Pangrango

Senin, 12 April 2021 16:05 WIB Netizen Djoko Subinarto
Netizen, Kalau Cuma Nyampah, Tak Perlu Mendaki Gede-Pangrango, Taman Nasional Gede-Pangrango,Gunung Gede,Gunung Pangrango,Sampah,Pendaki

Taman Nasional Gede-Pangrango di Pulau Jawa, Indonesia. (Pixabay/Ibadah Mimpi )

Djoko Subinarto

Penulis lepas, bloger, mukim di Cimahi

MENIKMATI panorama gunung tak perlu selalu harus dari jarak dekat ,dengan jalan mendekati dan kemudian mendakinya. Apalagi kalau kita belum bisa sepenuhnya mengendalikan diri dalam hal membuang sampah.

Beberapa waktu lalu, jagad media sosial kita sempat dihebohkan oleh foto Gunung Gede-Pangrango. Foto gunung itu diambil dari Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, dan kemudian diunggah ke akun instagram milik sang fotografer, dengan ditambahi caption berbunyi:

“Pemandangan Gunung Gede-Pangrango di Kemayoran, Jakarta Pusat, pagi ini, menandakan Kualitas udara sedang bersih, Jakartans.”

Unggahan foto gunung tersebut kemudian menjadi viral dan memicu lahirnya polemik di jagad maya. Polemik bukan hanya berkisar seputar asli atau tidaknya foto Gunung Gede-Pangrango tersebut, melainkan pula merembet-rembet ke masalah politik.

Beruntung, polemik segera bisa diakhiri setelah diketahui bahwa foto Gede-Pangrango tersebut memang benar-benar asli, bukan foto hasil rekayasa.

Termasuk Gunung tertinggi

Gede-Pangrango, yang sering juga disingkat menjadi Gepang, merupakan dua gunung yang tergolong tertinggi di Pulau Jawa. Gunung Gede memiliki ketinggian sekitar 2.958 meter di atas permukaan laut. Adapun ketinggian Pangrango sekitar 3.019 meter di atas permukaan laut.

Gede-Pangrango senantiasa terlihat indah, gagah dan anggun. Banyak orang ingin mendakinya. Di gunung ini, ada lembah bernama Mandalawangi, yang dhiasi oleh hamparan edelweis, yang menggoda bagi siapa pun untuk mengabadikannya — atau bahkan diam-diam memetiknya.

Tentu saja, ada semacam kebanggaan tatkala kita bisa berfoto di Mandalawangi dengan hamparan edelweis-nya.

Berdasarkan data dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah pengunjung yang menyambangi Gede-Pangrango pada 2019 lalu mencapai 345.861 orang.

Sayangnya, jumlah pengunjung yang sampai ribuan tersebut membawa pula masalah tersendiri bagi Gede-Pangrango. Masalah itu berupa melimpahnya sampah. Artinya, semakin banyak pengunjung datang ke Gede-Pangrango, semakin banyak sampah yang dibuang dan mengotori gunung tersebut.

Dalam giat operasi bersih (opsih), yang dilaksanakan pada 13-15 Maret 2020 silam, ada sekitar satu ton lebih sampah yang berhasil diturunkan dari Gede-Pangrango.

Menurut petugas Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan Balai Besar Taman Nasional Gede-Pangrango, Poppy Oktadiyani, sebagaimana dikutip sebuah portal berita nasional, sampah sebanyak itu diperoleh dari dua jalur pendakian, yakni pos resor Gunung Putri dan pos resor Cibodas.

Sebagian besar sampah yang dibuang pengunjung di Gede-Pangrango adalah jenis sampah anorganik, yang notabene butuh puluhan hingga ratusan tahun untuk bisa terurai secara alami.

Ini menyedihkan. Mengakrabi dan mencintai alam, tetapi kenapa masih membuang sampah sembarangan. Buat apa menyebut diri sebagai pendaki gunung, pecinta alam, maupun penikmat alam bebas, sembari memajang foto-foto diri kita yang sedang berpose di puncak gunung, tatkala tangan kita masih dengan gampangnya membuang sampah di daerah gunung yang kita daki.

Kalau mendaki Gede-Pangrango, ataupun gunung-gunung lainnya, cuma ikut mengotorinya, apa tidak sebaiknya menikmati gunung itu dari jarak jauh saja? Tak perlu mendekat. Tak perlu repot-repot mendaki.

Saat cuaca cerah dan udara relatif bersih, Gede-Pangrango selama ini dapat terlihat jelas mencolok dari beberapa titik di sejumlah kota. Selain dari arah Jakarta, gunung ini juga bisa kita lihat dari arah Bogor, Sukabumi, Cianjur, Padalarang dan Ciwidey. 

Tanpa perlu mendaki dan akhirnya malah ikut mengotori Gede-Pangrango, toh, kita tetap bisa menikmati eloknya gunung ini dari kejauhan, dan mengabadikannya lewat lensa kamera.

Saya pikir akan jauh lebih baik membiarkan gunung itu dibalut sepi, tanpa kehadiran hiruk pikuk manusia. Biarlah setiap sudutnya menjadi misteri, tanpa perlu orang-orang berbondong mendatangi untuk mengetahuinya. Apalagi malah mengotorinya. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers