web analytics
  

Wajit Cililin dan Hikayat Pembangkangan Terhadap Belanda

Selasa, 6 April 2021 12:21 WIB Restu Nugraha
Bandung Baheula - Baheula, Wajit Cililin dan Hikayat Pembangkangan Terhadap Belanda, Wajit Cililin,sejarah wajit cililin,makanan khas bandung barat,wajit,belanda,Kolonial Belanda,wajit cililin cap potret,nina lubis,siti romlah,Buku Kehidupan Kaum Menak Priangan,Wajit Asli Cililin Cap Potret Hj Siti Romlah

Hj. Siti Romlah (tengah, berkerudung) diapit para pekerjanya. (Dok Syamsul Ma’Arif)

CILILIN, AYOBANDUNG.COM--Bandung Barat mempunyai makanan khas bernama wajit cililin. Di tengah ketenaran dan keunikan rasanya yang mendunia, wajit cililin ternyata menyimpan sejarah perlawanan terhadap Belanda.

Tak seperti saat ini, sekitar tahun 1920 makanan wajit pernah dilarang oleh pemerintah Kolonial Belanda dan pejabat pribumi. Alasannya, wajit dianggap makanan khusus untuk kaum menak dan pejabat tinggi. Kaum bawah dan rakyat biasa tak berhak menikmati kuliner ini.

Apalagi panganan wajit berbahan dasar beras ketan yang merupakan makanan mewah pada saat itu. Beras ketan hanya boleh dikonsumsi kalangan menak atau mejadi komoditi rempah yang dijual ke luar negeri.

Syamsul Ma’Arif (50), seorang penerus keempat usaha wajit cililin "Cap Potret” yang pernah menelusuri sejarah lisan asal muasal sejarah makanan khas Cililin itu. Dia membenarkan wajit pernah dilarang untuk kalangan bawah. 

Menurutnya, hadirnya wajit cililin tak lepas dari dua sosok perempuan asal Cililin bernama Juwita dan Uti. 

Wajit bukanlah makanan baru, semula Juwita berniat membuat kue wajik dengan resep, rasa, dan kemasan bereda. Namun, karena ada kesalahan penyebutan bahasa, orang Cililin menyebut makanan buatan Juwita itu bernama wajit.

"Juwita dan Uti adalah orang pertama kali membuat sekaligus memperkenalkan wajit di Cililin pada sekitar tahun 1916," paparnya kepada Ayobandung.com, Selasa 6 April 2021.

Untuk beberapa waktu lamanya, Juwita dan Uti mengonsumsi wajit tersebut untuk kebutuhan sendiri. Namun berkat sering dipakai jadi hidangan hajatan, makanan ini terkenal dan makin banyak orang yang mencari. 

Juwita dan Uti akhirnya membuat wajit untuk dijual tahun 1920. Aktivitas mereka memproduksi wajit semakin teratur. 

Semakin seringnya wajit tersaji dalam pesta pernikahan dan khitanan, banyak pula kerabat dari luar daerah Cililin yang mulai mencicipi dan menyukainya. 

Pada masa itu, mulailah kalangan menak dan pejabat kolonial Belanda mengetahui wajit buatan Juwita dan Uti. Mereka sangat menyukai produk wajit tersebut. 

"Oleh karena itu, mereka memonopolinya dan mengeluarkan kebijakan wajit buatan Juwita dan Uti hanya khusus diproduksi untuk kalangan menak dan pejabat kolonial Belanda," jelas Syamsul. 

Nina Lubis (1998) dalam buku Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942 menjelaskan bahwa kaum Menak menjadi elite politik tradisional di Priangan. 

Dalam stratifikasi sosial masyarakat Priangan, kaum menak adalah kelas sosial atau golongan sosial dengan status tertinggi. Kelas santana menempati kelas sosial di bawah kaum menak. 

Di bawah kaum santana adalah rakyat kebanyakan yang disebut cacah, somah, somahan. Mereka merupakan kelas paling bawah dalam hierarki status tradisional. 

Arti kata cacah di sini berbeda maknanya dengan cacah sebagai satuan unit kerja. Dalam kelas somahan yang mayoritas ada di pedesaan ini, terdapat suatu stratifikasi yang didasarkan atas pemilikan tanah

Kolonialisme Belanda merawat struktur sosial semacam ini di Priangan untuk kepentingan stabilitas ekonomi dan politik. Bahkan pada masa Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1819-1926), kaum menak sangat dimuliakan demi kepentingan politik kolonial, meskipun pada mulanya Baron ingin menghapuskan pemerintahan tradisional.

Larangan Konsumsi Wajit Lilin

Larangan tersebut konsumsi wajit bagi kaum bawah terus berlanjut hingga tahun 1926. Saat itu Juwita mulai menurunkan pengetahuan pembuatan wajit kepada putrinya Irah.

Pada rentan waktu itu wajit Cililin dijual secara sembunyi-sumbunyi. Namun dengan keyakinan bila rakyat berhak memakan apa yang meraka tanam, Irah pun memberanikan diri menjual wajit secara terang-terangan.

"Pada tahun tahun 1936, Irah berani menjual secara terang-terangan. Ia tahu bahwa bahan dasar wajit itu hasil dari sawah rakyat. Jadi tak salah jika dimakan semua kalangan," ujarnya. 

Berkat aksi berani itu, Irah beberapa mendapat intimidasi dari pemerintah kolonial Belanda. Dia bahkan sempat ditegur untuk tak menjual wajit lagi. 

Namun, Irah tak bergeming. Dia terus menjual makanan tersebut bahkah hingga ke Kota Bandung. Tak pelak kudapan wajit cililin makin terkenal dan tak terbendung lagi untuk diprivatisasi oleh satu kalangan.

"Tahun 1950 hasil penjualan wajit bisa menunaikan haji ibu Irah, dulu masih menggunakan kapal laut, perjalanan ke Makkah membutuhkan waktu lama, dalam perjalanan ke Makkah bisa tiga bulan lamanya," pungkasnya

Setelah Irah, perkembangan usaha wajit cililin dikembangkan oleh anaknya Siti Romlah. Sampai saat ini usaha wajit ini masih berjalan dengan nama “Wajit Asli Cap Potret Hj. Siti Romlah

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Tewasnya Laksda Udara dalam Kecelakaan Pesawat di Tegalega

Baheula Kamis, 6 Mei 2021 | 16:25 WIB

Sang jenius berusaha untuk mendarat darurat di Lapangan Tegalega, Bandung, namun gagal.

Bandung Baheula - Baheula, Tewasnya Laksda Udara dalam Kecelakaan Pesawat di Tegalega, Nurtanio Pringgoadisuryo,Tegalega,Kota Bandung,Pesawat,Kecelakaan,Kerusakan Mesin,Jokowi

Dari Rebocco Sampai Red Fox, Urat Nadi Sejarah Bisbol Bandung 

Baheula Rabu, 5 Mei 2021 | 16:40 WIB

Di samping kultur sepak bola yang sudah mendarah daging, Bandung sebetulnya punya klub bisbol legendaris yang layak diba...

Bandung Baheula - Baheula, Dari Rebocco Sampai Red Fox, Urat Nadi Sejarah Bisbol Bandung , Sejarah Bisbol Bandung,Rebocco,Red Fox,Perserikatan Bisbol dan Sofbol Amatir Seluruh Indonesia,Perbasasi Bandung

Hilangnya Insulindepark dan Sejarah Taman Lalu Lintas di Bandung

Baheula Selasa, 4 Mei 2021 | 15:00 WIB

Namanya berubah-ubah, dari Insulindepark sampai Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution, begitu pula fungsinya.

Bandung Baheula - Baheula, Hilangnya Insulindepark dan Sejarah Taman Lalu Lintas di Bandung, Taman Insulinde,Insulindepark,Taman Lalu Lintas,Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution,Taman Nusantara,Bandung,Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL),Hindia Belanda

Di Bandung 1961, Debut Perdana Indonesia dalam Piala Davis

Baheula Senin, 3 Mei 2021 | 15:20 WIB

Ini merupakan debut perdana Indonesia di Piala Davis bersama dengan Maroko dan Ekuador.

Bandung Baheula - Baheula, Di Bandung 1961, Debut Perdana Indonesia dalam Piala Davis, Bandung,1961,Piala Davis,Tenis,Indonesia,Petenis Indonesia,Tan Liep Tjiauw,Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PELTI)

Mengenang Kejayaan Radio Unasko Cimahi di era Orde Baru

Baheula Senin, 3 Mei 2021 | 11:00 WIB

Mengenang Kejayaan Radio Unasko era Orde Baru di Cimahi

Bandung Baheula - Baheula, Mengenang Kejayaan Radio Unasko Cimahi di era Orde Baru, Radio Unasko,Radio bersejarah Cimahi,Radio Cimahi,Radio bersejarah Bandung

Di Tegalega, Annie Salamun Memulai Kejayaan Atletik Indonesia

Baheula Jumat, 30 April 2021 | 22:00 WIB

Annie Salamun, perwakilan atlet dari Bandung, merajai cabang olahraga lempar cakram putri tahun 1950-an.

Bandung Baheula - Baheula, Di Tegalega, Annie Salamun Memulai Kejayaan Atletik Indonesia, Tegalega,Bahder Djohan,Dimas Wahyu Indrajaya,Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI),Annie Salamun,cabang olahraga lempar cakram,Bandung,atlet dari Bandung

Ingar Bingar Peresmian Stadion Terbagus Pertama di Bandung

Baheula Kamis, 29 April 2021 | 20:50 WIB

Stadion Siliwangi mulai dibangun pada 1 Januari 1954 dan biaya pembangunannya mencapai Rp6 juta pada tahun 1950-an.

Bandung Baheula - Baheula, Ingar Bingar Peresmian Stadion Terbagus Pertama di Bandung, Peresmian Stadion Siliwangi,Stadion Siliwangi,Bandung,Stadion Terbagus Pertama di Bandung,Komando Daerah Militer (Kodam),Jawa Barat

Mengenang si Kuda Terbang, Penjebol Gawang Finalis UCL 1956

Baheula Rabu, 28 April 2021 | 17:55 WIB

Salah satu pemain Persib yang merepotkan Stade de Reims ialah Aang Witarsa, yang punya julukan "Si Kuda Terbang".

Bandung Baheula - Baheula, Mengenang si Kuda Terbang, Penjebol Gawang Finalis UCL 1956, Si Kuda Terbang,The Flying Horse,Aang Witarsa,Persib,Stadion Siliwangi,Stade de Reims,Liga Champions,UEFA Champions League (UCL),real madrid
dewanpers