web analytics
  

Transformasi Munggahan dan Ujian di Tengah Pandemi Covid-19

Kamis, 8 April 2021 17:37 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Transformasi Munggahan dan Ujian di Tengah Pandemi Covid-19, Tradisi Munggahan,Munggahan Ramadan,Transformasi Munggahan,Munggahan di Tengah Pandemi Covid-19,Arti Munggahan,Filosofi Munggahan

Pemukulan bedug menyambut Ramadan. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Tradisi Munggahan lekat dimaknai sebagai sambutan atas datangnya bulan suci Ramadan. Di tengah pandemi Covid-19, penerapan protokol kesehatan (prokes) menjadi kunci yang menjamin keamanan dan keselamatan bersama.

Tradisi Munggahan umum dilaksanakan masyarakat Sunda. Namun begitu, tradisi serupa juga dilakukan masyarakat di Jawa Tengah maupun Sumatera Utara, dengan istilah Punggahan.

Di masyarakat Sunda, Munggahan diyakini berasal dari kata Unggah yang dalam Kamus Basa Sunda berarti kecap pagawean nincak ti handal ka ni leuwih luhur, naek ka tempat nu leuwih luhur (Danadibrata, 2006).

Beberapa referensi juga mengartikan munggah adalah naik dalam bahasa Indonesia. Sementara, dalam bahasa Jawa, Punggahan berasal dari kata Munggah yang pula berarti naik.

"Intinya tradisi Munggahan itu sebagai sambutan atas datangnya bulan suci yang penuh barokah dan ampunan, yang akan menaikkan derajat kita dari manusia penuh dosa menjadi lebih bertakwa," kata pemerhati budaya Cirebon yang juga pengajar budaya dan seni pada Poltekpar Prima Internasional Cirebon, Mustaqim Asteja kepada Ayocirebon.com, Kamis, 9 April 2021.

Menghadapi bulan suci, lanjutnya, umat muslim diharapkan menyiapkan diri lahir batin. Secara lahir, tak hanya menyiapkan keperluan selama ramadan untuk diri dan keluarga, melainkan pula dapat dilakukan dengan berbagi kepada sesama.

Sementara, kesiapan batin dapat diupayakan melalui peningkatan pemahaman atas hukum-hukum ibadah selama bulan puasa, baik wajib dan sunah.

"Nah, untuk mencapai kesiapan lahir dan batin itu ada tradisi Munggahan yang salah satunya berupa permintaan maaf antara orang satu dengan lainnya," tutur Mustaqim.

Tradisi saling bermaafan ini masih berlaku sampai kini, meski terdapat perbedaan dalam cara penyampaiannya. Dahulu, bermaafan dilakukan secara langsung dengan dihiasi pertukaran buah tangan, yang umumnya berupa makanan.  

Kebiasaan itu berbeda kini, ketika teknologi komunikasi lahir dan berkembang. Di sebagian masyarakat, tradisi bermaafan kini berpindah melalui beragam aplikasi perpesanan.

Gaya hidup yang tergantung pada teknologi belakangan menjadi relevan ketika Covid-19 mewabah. Meski begitu, gaya hidup tersebut dinilai tak mengurangi makna bermaafan.

Meski arus teknologi melaju, tradisi bermaafan secara langsung masih berlaku di sebagian masyarakat. Kebiasaan ini kebanyakan dilakukan sesama anggota keluarga dengan menggelar silaturahmi tatap muka.

"Malah, dulu itu ada namanya tradisi Bancakan di musala atau masjid. Orang berkumpul untuk makan bersama, makanannya berupa nasi dan lauk pauk sederhana yang alas sajinya berupa daun pisang," tambahnya.

Saat ini, tradisi Bancakan di musala dan masjid nyaris tak lagi dilakukan. Makan bersama di rumah makan atau restoran menjadi fenomena Munggahan yang berlaku di masa kini.

"Zaman dulu kan enggak ada restoran, kafe, jadi kumpulnya di rumah atau musala dan masjid. Malah dulu saling kirim makanan pakai rantang," cetusnya.

Selain bermaafan, tradisi lain berupa nyekar ke makam orang tua atau leluhur. Khusus di Cirebon, dikenal tradisi Dlugdag atau Drugdag yakni penabuhan bedug di Keraton Kasepuhan oleh Sultan Sepuh dan kerabat keraton.

Dilaksanakan setelah Salat Ashar pada akhir bulan Sya'ban, dlugdag juga dimaknai sebagai sambutan atas datangnya ramadan. Tabuhan bedug juga berfungsi sebagai pengingat kepada masyarakat untuk menyiapkan diri menghadapi bulan suci.

Secara umum, dia meyakini, tradisi Munggahan telah ada sejak Islam membumi di Nusantara. Dia mengingatkan tradisi jelang ramadan bukanlah momentum untuk berlaku berlebihan, melainkan sebagai pengingat atas kekuasaan Allah SWT dan keberkahan yang diberikan-Nya terhadap umat manusia.

Sayangnya, imbuh dia, selama hampir 2 tahun terakhir tradisi Munggahan memang menghadapi ujian sebab pandemi Covid-19. Karenanya, prokes yang ketat tetap harus diterapkan setiap orang untuk keselamatan dan keamanan bersama.

"Tidak perlu mendramatisir pandemi, yang penting prokes diterapkan," tutupnya.

Sementara itu, sejumlah warga mulai menyiapkan diri mendekati ramadan yang diprediksi datang pertengahan pekan depan. Seorang warga Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Nurhayati (65) mengaku, sudah merencanakan jadwal untuk nyekar ke makam orang tuanya.

"Rencana sih mau nyekar ke makam orang tua, kemudian bermaafan dengan anggota keluarga yang dekat saja," ungkapnya.

Dengan alasan penyakit bawaan dan usia yang tak lagi muda, dia terpaksa tak bisa mengunjungi anak maupun kerabatnya yang berada di luar kota. Dia pun memilih akan bersilaturahmi dengan mereka secara virtual.

Beruntung, masih ada anak dan beberapa kerabatnya yang lain yang tinggal di Cirebon. Dengan begitu, dirinya dan suami tak terlalu kesepian menyambut bulan suci nanti.

"Rencananya sih akan saling kunjung kalau yang masih 1 kota. Untuk prokes pasti diterapkan karena kan untuk kesehatan saya dan suami saya juga, saya enggak mau kalau orang lain enggak disiplin prokes," tegasnya.

Editor: Dadi Haryadi

terbaru

Wagub Jabar Serahkan Bantuan untuk Dhuafa dan Santri Salafiyah di Garu...

Regional Kamis, 15 April 2021 | 21:16 WIB

Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum melanjutkan Safari Ramadhan 1442 H/2021. Kali ini, Pak Uu menyambangi Masjid...

Umum - Regional, Wagub Jabar Serahkan Bantuan untuk Dhuafa dan Santri Salafiyah di Garut, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum,Safari Ramadan,Santri Salafiyah

Pendaftaran Lelang Jabatan Sekda Cianjur Diperpanjang 14 Hari

Regional Kamis, 15 April 2021 | 20:48 WIB

Hingga batas akhir pendaftaran lelang jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cianjur pada Kamis, 15 April 2021, tid...

Umum - Regional, Pendaftaran Lelang Jabatan Sekda Cianjur Diperpanjang 14 Hari, Lelang Jabatan Sekda Cianjur,Pendaftaran Lelang Jabatan Sekda Cianjur,Pemkab Cianjur

Kolang Kaling Cianjur, Turun Harga Akibat Pandemi

Regional Kamis, 15 April 2021 | 20:03 WIB

Kolang kaling atau orang Sunda menyebutnya curuluk merupakan bahan menu buka puasa serta saat Hari Raya Idulfitri.

Umum - Regional, Kolang Kaling Cianjur, Turun Harga Akibat Pandemi, Kolang Kaling Cianjur,Kolang Kaling Ramadan,Harga Kolang Kaling Anjlok

Budayawan Cianjur: Bangunan SPG Jangan Alih Fungsi, Bangun Kembali

Regional Kamis, 15 April 2021 | 19:56 WIB

Para budayawan dan alumni Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan SMA Negeri 2 Cianjur meminta pemerintah membangun kembali ge...

Umum - Regional, Budayawan Cianjur: Bangunan SPG Jangan Alih Fungsi, Bangun Kembali, Budayawan Cianjur,Bangunan SPG Cianjur,Bangunan Cagar Budaya Cianjur,SMA Negeri 2 Cianjur

Ratusan Warga Indramayu Mendadak Jadi Jutawan

Regional Kamis, 15 April 2021 | 19:47 WIB

Mereka diketahui mendapat ganti rugi pembebasan lahan untuk proyek Petrochemical Complex Jawa Barat. Total luas pengadaa...

Umum - Regional, Ratusan Warga Indramayu Mendadak Jadi Jutawan, warga Indramayu kaya mendadak,warga Indramayu jutawan,Petrochemical Complex Indramayu,Indramayu,ganti rugi warga Indramayu

Ini 9 Titik Penyekatan Kendaraan Mudik di Kota Cirebon

Regional Kamis, 15 April 2021 | 19:23 WIB

Penyekatan akan diberlakukan di 9 titik.

Umum - Regional, Ini 9 Titik Penyekatan Kendaraan Mudik di Kota Cirebon, titik penyekatan Cirebon,Penyekatan kendaraan mudik Cirebon,Larangan Mudik 2021,Larangan Mudik Lebaran 2021,Cirebon

Masjid Agung Manonjaya Tasikmalaya, Berdiri 1832 Bergaya Neoklasik Ero...

Regional Kamis, 15 April 2021 | 19:07 WIB

Masjid Agung Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya dibangun pada tahun 1832 oleh Raden Tumenggung Daruningrat atau Wiradadaha...

Umum - Regional, Masjid Agung Manonjaya Tasikmalaya, Berdiri 1832 Bergaya Neoklasik Eropa, Masjid Agung Manonjaya Tasikmalaya,Masjid Manonjaya Tasik,Profil Masjid,Masjid di Tasik

Pelaku Ganjal ATM Tasikmalaya Foya-foya dengan Uang Korban di Bandung

Regional Kamis, 15 April 2021 | 18:51 WIB

Pelaku Ganjal ATM Tasikmalaya Foya-foya dengan Uang Korban di Bandung

Umum - Regional, Pelaku Ganjal ATM Tasikmalaya Foya-foya dengan Uang Korban di Bandung, modus ganjal ATM,Kasus Ganjal Mesin ATM,ganjal ATM Tasikmalaya,pembobolan ATM Tasikmalaya,Tasikmalaya
dewanpers