web analytics

Surat Berbahasa Sunda Abad ke-19

clockRabu, 7 April 2021 16:55 WIB user-groupNetizen ATEP KURNIA
Netizen, Surat Berbahasa Sunda Abad ke-19, raden kartawinata,kartawinata,Sunda,Bahasa Sunda

Kulit jilid buku Kitab Conto-conto Surat Anyar. (Sumber: Mikihiro Moriyama, 2017)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYOBANDUNG.COM--Pada abad ke-19 ada revolusi tata persuratan di kalangan orang Sunda. Perubahan besar tersebut berkaitan dengan perubahan bahasa yang digunakan orang Sunda untuk mengungkapkan perasaan, pengalaman, perintah, dan ihwal lainnya, yang semula berbahasa Jawa kemudian lama kelamaan secara bertahap berubah dengan menggunakan bahasa Sunda.

Pada gilirannya, penggunaan bahasa Sunda sebagai bahasa tulis tersebut disebabkan oleh diperkenalkannya tradisi cetak ke dalam ranah budaya Sunda sejak paruh kedua abad ke-19 oleh K.F. Holle.

Dilihat dari sejarahnya, pada awal abad ke-19, bahasa Sunda belum digunakan sebagai bahasa tulis oleh orang Sunda, melainkan menggunakan bahasa Jawa dan Melayu. Ini misalnya terlihat dari surat-surat yang dikirimkan para bupati Priangan kepada Letnan Gubernur Thomas Raffles yang hendak meninggalkan Pulau Jawa, sebagai tanda perpisahan. Koleksi suratnya kini dimiliki British Library dengan kode Add MS 45273 (Raffles Papers Vol. III).

Di dalamnya antara lain ada 19 surat dari penguasa lokal Jawa Barat. Sebanyak 17 surat ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa, 1 surat menggunakan aksara Jawi dan bahasa Melayu, dan 1 menggunakan aksara Latin dan bahasa Melayu (“Salam Perpisahan untuk Raffles: Kajian terhadap Makna Cap Surat para Penguasa Lokal ‘Jawa Barat’ Warsa 1816”, oleh Hazmirullah, dkk. dalam Mengungkap Selaksa Makna yang Terpendam dalam Budaya Nusantara [2018] dan “Surat Bupati Cianjur untuk Raffles (1816): Naskah Melayu Pertama yang Ditulis Menggunakan Aksara Latin?” oleh Hazmirullah, dalam Jumantara Vol. 11 No. 1 Tahun 2020) 

Hazmirullah, dkk. (2018) dan Hazmirullah (2020) selanjutnya menyatakan bahwa surat-surat tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dengan judul Addresses, &c. Presented to Mr. Raffles, on the Occasion of His Departure from Java (1817). Para penguasa yang mengirimkan surat kepada Raffles adalah Pangeran Raja Carbon Kasepuhan (adik Sultan Sepuh Cirebon), Sultan Sepuh VIII Cirebon, Bupati Bandung Adipati Wiranatakusumah, Bupati Sumedang Dipati Suryanagara, Bupati Limbangan Dipati Adiwijaya, Bupati Sukapura Tumenggung Wiradadaha, Bupati Cirebon, Bupati Cikaso, Bupati Ciamis, Bupati Gebang, Bupati Kuningan, Bupati Linggajati, Bupati Sindangkasih, Bupati Rajagaluh, Bupati Talaga, dan Bupati Panjalu.

Bupati Bandung, Sumedang, Limbangan, Sukapura dan Sultan Sepuh Cirebon menggunakan surat beraksara dan berbahasa Jawa. Surat beraksara Jawi dan berbahasa Melayu ditulis oleh Sultan Anom Cirebon Muhammad Komaruddin.

Satu-satunya surat dalam aksara Latin bahasa Melayu ditulis Bupati Cianjur Raden Aria Adipati Prawiradireja. Oleh karena itu, Hazmirullah (2020) menganggap Prawiradireja merupakan penguasa pribumi pertama yang menggunakan aksara Latin untuk menuliskan bahasa Melayu.

Hal menarik lainnya, menurut Hazmirullah, dkk., adalah penggunaan aksara dan bahasa Jawa oleh para penguasa lokal wilayah Priangan tampaknya terkait dengan besluit VOC pada 5 Desember 1704. Di situ disebutkan bahwa para kepala di wilayah Priangan diwajibkan menggunakan bahasa Belanda dan Jawa.

Kewajiban itu dimaksudkan “demi ketertiban dan kebaikan”. Bahasa Jawa memang telah menjadi bahasa resmi di wilayah-wilayah taklukan Mataram dan kondisi itu tetap berlaku hingga abad ke-19 (De Klein, Het Preangerstelsel (1677-1871) en Zijn Nawerking, 1931: 17).

Tiga dasawarsa lebih selanjutnya, pada 1849 atau 1850, di Belanda, dicetak buku sekolah pertama dalam bahasa Sunda: Kitab Pangadjaran Basa Soenda (Soendasch spel en leesboekje). Sementara di Hindia-Belanda, K. F. Holle dan adiknya A.W. Holle menerbitkan Tjarita koera-koera djeng monjet (1851), sebagai pelopor buku pegangan siswa di Jawa Barat (Mikihiro Moriyama, Semangat Baru, 2005: 90, 277).

Karena ditujukan untuk bahan pelajaran atau bacaan di sekolah-sekolah, ini mengandung arti pencetakan buku-buku Sunda sangat erat kaitannya dengan pendirian sekolah-sekolah modern bagi kalangan orang Sunda, sekaligus mengandung arti pula bahwa bahasa Sunda “dibangkitkan” fungsinya dari semula sebagai bahasa vernakular, bahasa informal, bahasa percakapan sehari-hari, menjadi bahasa resmi yang diajarkan di sekolah-sekolah pribumi, yang mulanya menyasar kalangan bangsawan yang notabene sebelumnya terbiasa dengan tradisi tulis Jawa.

Sebagai bagian dari bahan pengajaran sekaligus meluaskan penggunaan bahasa Sunda sebagai bahasa tulis, K.F. Holle juga merintis penulisan buku bersurat dengan menggunakan bahasa Sunda. Pada 1861,

Holle menerbitkan buku berbahasa Sunda dan berksara Cacarakan dengan tajuk Kitab Conto-conto Surat pikeun murangkalih anu iskola, Jilid no. 1 (Soendasche modellen van verschillende brieven). Buku ini berisi 49 surat yang berasal dari arsip para bupati di Priangan, sebagian lainnya merupakan surat-surat pribadi.

Dengan bantuan kawan muda Hady Prastya (1 April 2021), saya dapat membaca sebagian alih aksara buku tersebut. Kata pengantarnya termasuk disusun dengan menggunakan pupuh asmarandana.

Saya kira pengantarnya istimewa karena sekelas orang Belanda seperti Holle mampu menganggit guguritan yang dianggap ciri khas kepujanggaaan bagi orang Sunda saat itu. Barangkali dengan bantuan sahabatnya R.H. Moehamad Moesa yang sudah dikenalnya sejak 1858, Holle dapat menyusun wacana dalam bentuk sajak tersebut.

Pada awal tulisannya, ia menyatakan demikian: “Pépéling dijieun dangding, laguna asmarandana, ieu buku conto-conto, aoseun anu iskola, pepek sagala surat nurut ti nu geus tangtu, nu kalampah di Priyangan” (Pelajaran dalam bentuk dangding, lagunya asmarandana, buku ini berupa contoh-contoh, bacaan anak-anak sekolah, lengkap dengan segala surat yang sudah tentu dilakukan di Priangan).

Contoh-contohnya berupa “Serat ti ménak ka kuring, reujeung ti kuring ka ménak, jeung ka sasamana baé, mungguh ménak pada ménak kintunan jeung walonan, diatur hanteu paselup, kumaha nu geus kalampah” (surat dari bangsawan kepada bawahan, dan dari bawahan kepada bangsawan, di antara sesama, kiriman dan jawaban antara bangsawan dengan bangsawan, diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling tertukar, sebagaimana yang biasa dilakukan).

Penyusunan buku tersebut agar anak-anak bila selesai sekolah dan mulai bekerja dapat mengatur pekerjaan dan membuat laporan (“lampah ngatur padamelan, paranti nyanggakeun lapor”). Anak-anak sekolah seyogyanya mengetahui etika bersurat (“ulah tinggal tindak-tanduk, ninggang pipernaheunnana”), karena menurut Holle surat sangatlah mujarab daripada perkataan yang dapat saja diingkari, lebih tajam dari pedang karena tiada yang gagal (“surat matih batan omong, malah seukeut batan pedang, omong benang diinkar, pedang luput sabab jauh, surat mah taya gagalna”). Untuk etika tersebut, Holle menegaskan pula pentingnya memperhatikan penggunaan bahasa halus-kasar agar pas digunakan kepada kalangan bangsawan maupun sesama (“Aya ka handapan teuing, jadi asa disindiran, geus kudu meujeuhna baé, ninggang pipernaheunnana, babasan dina suratna, tindak-tanduk undak-usuk, ka ménak jeung ka sasama”).

Untuk contoh pertama, Holle menyajikan surat dinas (“Prasakara dines”) dari seorang bupati (“Kangjeng dalem bupati anu”) kepada wadana-wadana agar memperhatikan pesanggarahan-pesanggrahan di gunung yang telah rusak. Pesanggrahan tersebut digunakan sebagai tempat tinggal sementara saat memanen kopi. Surat tersebut selengkapnya berbunyi demikian: “Ayeuna kami enggeus mariksa pasangrahan di gunung serta enggeus raruksak pisan. Éta paréntah kami ka wadana. Kudu gera pada ngahadéan supaya ulah bocor jeung deui wadana kudu geura sadiya prabot mupu buwah kopi saprantina baé. Kayaning tangga cirengna kaliyan prabot mowé. Kayaning tampir2 pangan2 atawa bengker2. Sarta ayeuna wadana2 enggeus meujeuhna pada parindah ka gunung geura ngamimitiyan ngabresihan jalan2 rondaan di gunung rawuh pasanggrahan2. Kudu geura laluwis bresih. Krana kangjeung tuwan residén. Enggeus tangtu badé ngarsakeun ngaronda kakebon kopi”.

Lima belas tahun kemudian, seakan meneruskan jejak mentor dan gurunya, Raden Kartawinata menyusun buku sejenis dengan tajuk Kitab Conto-conto Surat Anyar (Nieuw Brievenboek voor de Soendasche Scholen) (1876). Pengaruh Holle nampak dari adanya keterangan bahwa buku tersebut disusun di bawah pengawasannya (“sarta nurut pangwurukna tuwan K.F. Holle” atau “onder leiding van den heer K.F. Holle”). Karena buku karya Kartawinata ini juga ditulis dalam aksara Cacarakan, saya juga mendapatkan banyak bantuan dari kawan saya Ilham Nurwansah (20 Maret 2021) untuk membacanya.

Dalam “Bubuka” atau pendahuluan, Kartawinata memulainya dengan menulis: “Saupama aya tongtoneun: munding, huluna hulu sapi buntutna buntut méyong sukuna suku manuk, kumaha hayang lalajo? taksirran kula masih jauh ogé sarta masih kudu mayar ogé mowal burung dijugjug baé, tina bawaning hayang nongton barang langka cara kitu. Upama enya hayang lalajo, gampang pisan, montong hésé capé sarta montong kaluwar duwit, kula boga barang ahéng kitu sarta hadé pisan mun hayang nénjoan, geura nyokot surat Sunda baé nu kasebut ginding jeung nu kasebut alus, tah éta méh saruwa jeung barang langka tadi téya. Geuning huluna éta surat sok cara Jawa, beuheungna jawaréh, awakna pinuh ku basa Arab, Malayu Jawa, tungtungna sok campurraduk, lain kitu?”

Kutipan tersebut berarti: “Bila ada tontonan: kerbau berkepala sapi, berbuntut macan, berkaki burung, apakah mau menontonnya? Menurut saya, meski jauh dan harus membayar pun tentu akan dikunjungi, karena saking hendak menyaksikan barang langka seperti itu. Bila sungguh mau menontonnya, mudah saja, jangan susah-susah dan tidak usah keluar uang, saya punya barang aneh dan bagus sekali untuk dilihat-lihat. Ambil saja surat Sunda yang tertata dan bagus, karena hampir sama dengan barang langka tadi. Ternyata kepala suratnya suka menggunakan cara Jawa, lehernya Jawareh, badannya penuh bahasa Arab, Melayu Jawa, hingga akhirnya kerap campur aduk, bukankah demikian?”

Dengan pendahuluan tersebut, Kartawinata menegaskan ketidakmurnian bahasa Sunda, karena banyak terpengaruh bahasa lainnya. Apa sebabnya demikian? Dalam konteks pengaruh bahasa Jawa, menurut Kartawinata, karena dulu tanah Priangan pernah berada di bawah kekuasaan Mataram, sehingga banyak pejabat berbangsa Jawa di daerah tersebut dan bupati Sunda dan kepala-kepala Sunda lainnya wajib berbakti setiap tahun ke Mataram (“kunaon sababna nu matak kitu? éta meureun tacan pati réya nu terang, ayeuna ku kula dibéjakeun: Baheula tanah Prayangngan kabawah ku Mataram, ku sabab éta di tanah Sunda réya pangkat urang Jawa, kitu deui regén2 jeung pangkat2 Sunda unggal tahun kudu ngadareuheus ka Mataram, jeung réya kapala2 atawa nu leutik tugur ngalampahhan gawé di Mataram”).

Untuk cara bersurat, sebenarnya menurut Kartawinata, semula orang Sunda menggunakan bahasa Sunda, tetapi setelah dikuasai Mataram diganti dengan Jawa, bahkan untuk surat-surat dinas. Namun, pada praktiknya, karena tidak ada yang bisa berbahasa Jawa murni, surat-surat tersebut ditulis dengan bahasa campuran Jawa-Sunda atau Sunda-Jawa yang dikenal sebagai Jawareh (“Surat paparéntahhan baheulana pisan ku basa Sunda, sanggeus ku Mataram diganti ku basa Jawa. Ku sabab éta lila2 basa Jawa jadi basa gawé atawa dines, sagala susurattan hal pagawéyan ditulis ku basa Jawa, saha2 nu nyekel gawé kudu baé nulis basa Jawa. Tina euweuh jawa tulén nu mangnuliskeun, kapaksa nulis sabisa bisa ku manéh baé, nya bebenangngannana teu urus campur Jawa jeung Sunda atawa Sunda jeung Jawa, ti dinya mimitina aya basa Jawaréh hartina Jawa sawaréh”).

Setelah Priangan diberikan kepada VOC pun bahasa Jawa masih tetap digunakan, karena oleh kongsi dagang tersebut Priangan ditempatkan di bawah pengawasan Cirebon. Dengan demikian, laporan ditulis dalam bahasa Jawa Cirebon, bukan benar-benar bahasa Jawa. Demikian pula, setelah Priangan langsung berada di bawah VOC di Batavia, bahasa yang digunakan di sana sudah bercampur baur Sunda, Melayu, Belanda, Portugis. Keadaan tersebut menyebabkan bahasa Sunda tidak terawat dan bila ada yang menulis dalam bahasa Sunda, pasti dicampur bahasa lain karena bila tidak demikian tidak dianggap cakap (“Ku sabab éta lila2 basa Sunda jadi teu urus kacida, datang ka urang Sunda éta nulis basana sorangngan. Aya ogé nu nulis basa Sunda tapi kudu maké dicampur jeung basa séjén, sabab pangngirana kurang ginding atawa kurang semu pinter lamunn teu kitu téh”).

Konteks inilah yang menyebabkan Kartawinata beranggapan sebaiknya menggunakan bahasa Sunda yang bersih, tetapi belum ada yang berpikir demikian bahkan ada yang menyebut bahwa bahasa Sunda bukanlah bahasa (“Ari rasa kula mah leuwih hadé ku basa Sunda baé nu beresih teu maké campurran deui, tapi taya pisan anu boga inggettan kitu, malah tacan pati lila aya nu nyebutkeun yén basa Sunda lain basa”). Orang Sunda yang suka menulis masih menggunakan bahasa Jawa yang tanggung serupa dengan pakaian bertambalan. Padahal bahasa Sunda yang benar itu masih ada dalam pantun dan sindir (“ari basa pantun jeung basa sindir ti baheula ogé tetep Sunda bener baé”). 

Kartawinata kemudian tiba pada pertanyaan apakah bahasa Sunda memang miskin, sehingga tidak dapat dibuat sebagai bahasa surat? Sebagai jawabannya, ia menyatakan bahwa sejak 15 tahun sebelumnya sudah ada orang yang berupaya memeriksa dan menyelidiki bahasa Sunda, sekaligus membuktikan bahwa bahasa Sunda ternyata tidak miskin-miskin amat, sehingga tidak perlu meminjam kata-kata dan tata bahasa Jawa (“Na enya Sunda téh basa miskin pisan datang ka teu beunang dipaké nyiyeun surat? Kabenerran dina 15 tahun ka tukang geus aya ogé nu mariksa basa Sunda sarta dihantem ditungtik, geus nyata pisan yén basa Sunda téh teu miskin 2 teuing, hanteu kudu 2 nginjeum kna basa Jawa hal kecapna jeung nahuna”).

Penyebutan 15 tahun sebelumnya oleh Kartawinata, saya pikir, jelas merujuk kepada pelbagai upaya yang dilakukan oleh K.F. Holle untuk menghidupkan kembali bahasa Sunda agar menjadi bahasa tulis, melalui cara penerbitan buku-buku cetak berbahasa Sunda yang melibatkan ayah Kartawinata serta pujangga-pujangga yang berada di sekitar Kabupaten Limbangan (Garut) yang dekat kepada Holle dan berkerabat dengan R.H. Moehamad Moesa. 

Bersihkan Bahasa Sendiri

Soal selanjutnya yang dikemukakan oleh Kartawinata adalah mengapa orang Sunda tidak mau membersihkan bahasanya sendiri? Jawaban Kartawinata adalah bisa jadi karena adanya anggapan bahwa bahasa campuran adalah bunganya bahasa atau lambang dari keindahan bahasa (“éta campuran jadi kembangna basa”). Meski mengiyakan, Kartawinata tetap menegaskan pentingnya takaran tidak berlebih-lebihan seperti seorang perempuan yang berdandan.  

Kartawinata memberikan contoh surat berbahasa Sunda yang bahasanya campuran, terlalu berlebih-lebihan penggunaan kata-katanya sebagai berikut:

“Punnika hingkang serat sayugya konjukka hing panjenengngan dalem paduka kangjeng gusti kangjeng dalem tumenggung hingkang hanyakrawati saha hingkang apilenggah hing datu layapa negari anu.” 

“Satuhussing serat hingngawiyos kawula nun jisim abdi unjuk uninga saréhning geus nampi nu wala paparin dampal gusti, sareng katupiksa sadayana, haprakawis dampal gusti ngadawuh hoyong macangkrami linggih ka pakawissan jisim abdi, éta unjuk jisim abdi saalintang lintang saé, sanget ngajadikeun bingngah hamarwatasuta ka jisim abdi kawulanun.”

“Kéring hingkang sembah sujud abdi dalem hingkang seca tuhu, pun anu.”

Kartawinata juga memberikan contoh surat berbahasa Sunda yang mengandung banyak pujian tidak perlu, penggunaan bahasa Arab berlebihan terutama kata Allah. Ia pun sering menemukan penulis surat yang menjadi hama kepada bahasa, seperti membuat bahasa halus yang baru (“Kula remen manggihhan anu nulis surat jadi hama kana basa”), sekaligus memberikan contoh surat yang menggunakan bahasa halus yang dibuat-buat sehingga tidak termasuk bahasa Sunda atau Jawa (“Tah éta kabéh basa anyar baé nu lain pisan basa Sunda malah basa Jawa gé lain”). 

Pengetahuan Kartawinata mengenai tidak adanya bahasa halus pada bahasa Sunda kuna, 400-450 tahun lalu, karena mendapatkan informasi dari orang-orang Belanda (Eropa) yang sudah menyelidiki buku-buku dalam bentuk lontar yang tentu menggunakan bahasa Sunda murni (“Coba pikir, basa Sunda nu enya 400 atawa 450 tahun ka tukang, waktu harita euweuh pisan basa kramana, dalah [kula kawula kuring abdi] ogé teu acan aya, kula bisa nyebutkeun kitu, tina meunang cariyos ti tuwan2 nu geus ngulik buku2 basa2, kapanggih tina buku2 dina lontar nu éstu Sunda”).

Bahasan selanjutnya, Kartawinata menguraikan ikatan dan aturan bersurat. Para pembacanya diingatkan pada orang yang dikirimi surat dan isi surat. Ia mengingatkan agar penulis surat selalu memperhatikan etika saat bersurat kepada orang yang posisinya atau umur lebih, kepada orang yang belum kenal, serta harus tetap sopan saat bersurat kepada sahabat, sesama, atau posisi dan umurnya ada di bawah penulis surat. Kata-kata yang digunakan harus efektif (kudu pondok kecap panjang maksud). Bila berupa permohonan, jangan menimbulkan kesan tidak mengenakkan kepada pembaca surat. Bila ditanya informasi, maka jawaban atas pertanyaan tersebut yang harus dikedepankan atau bila ada yang sangat penting disampaikan, maka hal tersebut dulu yang harus dikemukakan dan setelahnya barulah memberi jawaban. 

Sementara pada ikatan surat, Kartawinata menyatakan bahwa bila menyampaikan hal besar maka harus diiringi dengan kata-kata besar dan agak angker pula. Menulis harus seperti berbicara (“Nu nulis téh kudu cara ngomong baé”), tetapi diatur agar tidak berlebihan. Jangan loncat-loncat, misalnya saat menulis surat yang berisi sebab dan akibat. Pokok-pokok obrolan dipisah-pisah berdasarkan paragraf-paragraf (pada-pada). Tampilan surat pun harus bersih luar dan dalamnya. Bila tidak ada lak, surat jangan dilem dengan butir nasi yang sebelumnya tidak dihancurkan terlebih dahulu (“ulah dirapet ku réméh nu henteu diriyeus heula”). Bila dilem menggunakan nasi, jangan sampai mengenai kertas surat. Dan saat mulai menulis surat, jangan terlalu atas dan terlalu bawah menulisnya.  

Pada akhir pengantarnya, Kartawinata memberikan titimangsa penulisan: Bandung, Maret 1875. Hal tersebut mengandung arti bahwa, buku tersebut disusun oleh Kartawinata setahun setelah dirinya diangkat sebagai adjunct juru bahasa dan penerjemah Sunda sekaligus berpindah tempat dinas, yang semula di Limbangan menjadi di Bandung. Selanjutnya, di dalam bukunya Kartawinata memberikan 79 contoh surat-surat berbahasa Sunda yang disebutnya sebagai “Conto-conto Surat Anyar”.

Bagaimana penerbitan buku contoh surat berbahasa Sunda setelah Kartawinata menyusun bukunya? Dari penelusuran pustaka, saya menemukan baha Sierk Coolsma memuat 50 contoh surat berbahasa Sunda dalam tulisannya “Soendaneesche Brieven” (dalam Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde, Vierde Vorgreks, Vol. 3, 1879). Di dalam pengantarnya, Coolsma menyatakan bahwa dia memuatkan 50 surat, yang berbeda dari dua buku yang sama yang diterbitkan oleh pemerintah (maksudnya tentu saja buku Holle dan Kartawinata. Karena ke-50 surat yang dimuatkan Coolsma sebelumnya tidak pernah dicetak. Kebanyakannya berupa surat-surat pribadi yang dikumpulkan oleh Coolsma dari Cianjur, Bogor, dan Sumedang. Ia memuatkan surat-surat tersebut seadanya.

Selain Coolsma, yang juga memuatkan contoh-contoh surat berbahasa Sunda adalah G.J. Grashuis dalam Soendanesche bloemlezing: fabelen, brieven en verhalen (1881). Di dalam bukunya, Grashuid memuat ulang 21 surat berbahasa Sunda yang dimuat dalam buku Holle (1861). Jadi berbeda dengan Coolsma, Grashuis tidak berusaha mengumpulkan contoh-contoh baru penggunaan bahasa Sunda untuk surat. Sementara itu, dalam praktiknya, hingga menjelang akhir abad ke-19, bahasa Jawa dan Jawareh tetap digunakan oleh menak Sunda untuk berkorespondensi. Ini terbukti dari kumpulan surat keluarga R.H. Moehamad Moesa yang ditulis pada 1884 dan dimuat dalam buku yang disusun oleh Danoeredja, Serat-Sinerat Djaman Djoemenengna Raden Hadji Moehamad Moesa (1929).

Kendati demikian, tetap saja harus diakui bahwa Raden Kartawinata adalah orang Sunda pertama yang mengajukan sejarah perkembangan bahasa Sunda. Ia juga termasuk orang Sunda pertama yang turut merevolusi tata persuratan orang Sunda dengan mengajukan teori penyusunan surat yang baik dan benar dalam bahasa Sunda sekaligus memberikan contoh-contohnya.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Inggris Melibatkan Diri Dalam Perang Ideologi di Asia

Netizen Sabtu, 24 Juli 2021 | 15:24 WIB

Media-media internasional secara luas memberitakan pelayaran satuan tugas gabungan Inggris, Amerika Serikat dan Belanda...

Netizen, Inggris Melibatkan Diri Dalam Perang Ideologi di Asia, Inggris,Pengaruh Inggris,kebudayaan Asia,Pengaruh Inggris di Asia

510 Hari Minus Sentuhan

Netizen Jumat, 23 Juli 2021 | 21:35 WIB

Kesakralan sentuhan tak lagi ada selama masa pandemi Covid-19.

Netizen, 510 Hari Minus Sentuhan, sentuhan,Pandemi Covid-19,Jaga Jarak,Sosial,Dampak Pandemi Covid-19

Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan...

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:30 WIB

Di Cekungan Bandung, sedikitnya ada 8 nama geografi yang berhubungan dengan harimau.

Netizen, Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan dengan Harimau, Toponimi,Harimau,cekungan bandung,Kota Bandung

Jangan Berhenti pada Kata Maaf

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB

Akhirnya ada perwakilan pemerintah yang menyampaikan permintaan maaf kepada publik terkait dengan penanganan pandemi Cov...

Netizen, Jangan Berhenti pada Kata Maaf, Kata Maaf,Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan,PPKM Jawa-Bali,pemerintah Indonesia

Mengatasi Over Kapasitas Lapas

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 21:15 WIB

Hukuman penjara, meskipun menjadi mekanisme yang penting untuk menghukum pelaku, bukanlah merupakan “obat”.

Netizen, Mengatasi Over Kapasitas Lapas, Over Kapasitas,Lapas,Hukuman Penjara,Masalah Kejahatan,Kriminalitas

Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyel...

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 20:00 WIB

Masyarakat dunia menghadapi dua masalah yang sangat menganggu.

Netizen, Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyelamat?, Politik Bebas Aktif,Indonesia,Politik Luar Negeri,Ketergantungan,dependent

Kesehatan Anak Indonesia

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 18:15 WIB

Mengkhawatirkan, 1 dari 8 pasien Covid-19 di Indonesia ternyata anak-anak.

Netizen, Kesehatan Anak Indonesia, Kesehatan,Anak,Indonesia,pasien Covid-19,Case fatality rate,Hari Anak Nasional

Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi

Netizen Selasa, 20 Juli 2021 | 22:30 WIB

Kata-kata “Memanusiakan Manusia” nampaknya sangat berkaitan erat dengan kondisi pandemic yang saat ini kita alami.

Netizen, Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi, Memanusiakan Manusia,Pandemi,Renungan,Sosial,Si tou timou tumou tou

artikel terkait

dewanpers
arrow-up