web analytics
  

Pusaran Korupsi Aa Umbara, Dipicu Biaya Politik hingga Gaya Hidup

Rabu, 7 April 2021 11:49 WIB Restu Nugraha
Bandung Raya - Ngamprah, Pusaran Korupsi Aa Umbara, Dipicu Biaya Politik hingga Gaya Hidup, Korupsi Aa Umbara,korupsi Pemkab Bandung Barat,Aa Umbara,aa umbara tersangka korupsi,KPK Tetapkan Aa Umbara Tersangka

Petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah kediaman pribadi Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (16/3/2021). Dalam penggeledahan tersebut, petugas KPK memeriksa serta mengamankan beberapa dokumen yang diduga terkait kasus Bansos Covid-19 (Ayobandung.com/Kavin Faza)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna ditetapkan tersangka kasus dugaan korupsi karena terlibat konflik kepentingan dalam proyek Pengadaan Barang Tanggap Darurat Bencana Pandemik Covid-19 pada Dinas Sosial Tahun 2020. 

Tak hanya Aa Umbara, KPK juga menetapkan anak Aa Umbara, Andri Wibawa, sebagai pihak swasta pemilik PT Jagat Dir Gantara dan M Totoh Gunawan pemilik CV Sentral Sayuran Garden City Lembang sebagai tersangka. 

KPK menduga Aa Umbara telah menerima uang sejumlah sekitar Rp1 miliar. Sedangkan M Totoh diduga telah menerima keuntungan sejumlah sekitar Rp2 milliar dan Andri diduga menerima keuntungan sejumlah sekitar Rp2,7 miliar.

Terkait hal itu, Pakar Hukum Universitas Parahyangan (Unpar), Asep Warlan Yusuf, menilai ada 4 faktor Bupati Bandung Barat atau kepala daerah lain bisa terlibat korupsi. 

Pertama, karena besarnya biaya politik saat pencalonan dan setelah terpilih. Untuk memenuhi biaya tersebut seorang kepala daerah harus mencari dari sumber lain, karena dari gaji tidak mencukupi. 

"Jadi baik pada proses pemilihan di Pilkada maupun pada saat sudah jadi pun biaya itu besar. Dia mencari jalan, maka carilah celah-celah untuk bisa mendapatkan uang tambahan dari uang dan gaji. Salah satu di antaranya bisa dari proyek barang dan jasa," paparnya, Rabu 7 April 2021.  

Kedua, karena ada kesempatan dan celah dari peraturan perundang-undangan. "Biasanya kepala daerah bekerja sama dengan birokrasi, kira-kira perundang-undangan mana yang bisa dimanfaatkan. Ia mencari celah atau lubang peluang dari regulasi yang tidak tegas dan tidak jelas untuk korupsi," tambahnya. 

Ketiga, karena faktor gaya hidup yang glamor. Hal ini menyebabkan seorang pejabat harus mengeluarkan biaya lebih tinggi. Kondisi ini bisa dihindari, jika kepala daerah mau hidup sederhana. 

"Keempat karena faktor intregritas moral yang rendah. Walaupun sikapnya jelek, pengawasan kurang tapi kalau imannya kuat dan moralnya tinggi ya gak akan melalukan korupsi. Sebaliknya, kalau moral jelek, pengawasan ketat pun dicari celahnya," katanya..

Editor: Fira Nursyabani

terbaru

Bisnis Tanaman Hias Air, Mudah dan Menjanjikan di Masa Pandemi

Ngamprah Sabtu, 17 April 2021 | 10:06 WIB

Tanaman hias air banyak diminati untuk memperindah kolam maupun akuarium di rumah.

Bandung Raya - Ngamprah, Bisnis Tanaman Hias Air, Mudah dan Menjanjikan di Masa Pandemi, ikan,Tanaman Hias,tanaman hias air

Terperosok Lubang 10 Meter, Nenek Anah Tewas

Ngamprah Jumat, 16 April 2021 | 23:03 WIB

Seorang perempuan paruh baya bernama Anah (60), warga Kampung Cimerang, RT 04 RW 05, Desa Cipatat, Kecamatan Cipatat, Ka...

Bandung Raya - Ngamprah, Terperosok Lubang 10 Meter, Nenek Anah Tewas, Nenek Anah Tewas,Nenek Terperosok Lubang,Nenek di KBB

Hengky Kurniawan Jadi Plt Bupati, PDIP Minta Angka Kemiskinan Diturunk...

Ngamprah Jumat, 16 April 2021 | 19:44 WIB

Hengky Kurniawan Jadi Plt Bupati, PDIP Minta Angka Kemiskinan Diturunkan

Bandung Raya - Ngamprah, Hengky Kurniawan Jadi Plt Bupati, PDIP Minta Angka Kemiskinan Diturunkan, PDIP Jabar,Ketua PDIP Jabar Ono Surono,Wakil Bupati Bandung Barat Hengky Kurniawan,angka kemiskinan Bandung Barat

Jadi Garda Depan Pandemi, Ribuan Nakes KBB Belum Dapat Insentif

Ngamprah Jumat, 16 April 2021 | 16:15 WIB

Ribuan nakes di Kabupaten Bandung Barat (KBB) belum mendapat hak insentif selama 4 bulan, mulai dari Desember 2020 hingg...

Bandung Raya - Ngamprah, Jadi Garda Depan Pandemi, Ribuan Nakes KBB Belum Dapat Insentif, Garda Depan Pandemi,Ribuan Nakes KBB Belum Dapat Insentif,tenaga kesehatan (nakes),Kabupaten Bandung Barat (KBB)

Trayek Angkutan Umum Menuju Kantor Pemkab Bandung Barat Akan Dikaji

Ngamprah Jumat, 16 April 2021 | 13:25 WIB

Keberadaan angkutan umum menuju kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) sebagai sarana transportas...

Bandung Raya - Ngamprah, Trayek Angkutan Umum Menuju Kantor Pemkab Bandung Barat Akan Dikaji, trayek angkot Bandung Barat,rute angkot Kantor Pemkab Bandung Barat,trayek angkutan umum Bandung Barat,Dishub Bandung Barat,angkot Cimareme-Cilame,angkot Padalarang-Saguling

Miris! Insentif Nakes RSUD Cililin Belum Dibayar 4 Bulan

Ngamprah Kamis, 15 April 2021 | 18:22 WIB

Miris! Insentif Nakes RSUD Cililin Belum Dibayar 4 Bulan

Bandung Raya - Ngamprah, Miris! Insentif Nakes RSUD Cililin Belum Dibayar 4 Bulan, Insentif Tenaga Medis,insentif nakes Bandung Barat,insentif nakes belum dibayar,nakes Bandung Barat,Covid-19 Bandung Barat,RSUD Cililin,nakes RSUD Cililin,insentif nakes RSUD Cililin

Hengky Kurniawan Minta Kepala SKPD Kooperatif dengan KPK

Ngamprah Kamis, 15 April 2021 | 16:55 WIB

Hal itu guna membantu tim penyidik KPK dalam mengusut tuntas kasus korupsi di KBB hingga ke akar-akarnya.

Bandung Raya - Ngamprah, Hengky Kurniawan Minta Kepala SKPD Kooperatif dengan KPK , Wakil Bupati Bandung Barat Hengky Kurniawan,Korupsi Aa Umbara,Korupsi dana bansos Bandung Barat,aa umbara tersangka korupsi,KPK Tetapkan Aa Umbara Tersangka,kpk

Dishub Bandung Barat Sebut Sanksi Bagi Pemudik Bandel Belum Jelas

Ngamprah Kamis, 15 April 2021 | 16:41 WIB

Lukman berharap aturan sanksi bagi pemudik yang memaksa pulang kampung bisa diatur oleh pemerintah pusat melalui Permenh...

Bandung Raya - Ngamprah, Dishub Bandung Barat Sebut Sanksi Bagi Pemudik Bandel Belum Jelas , Larangan Mudik Lebaran 2021,Dishub Bandung Barat,Permenhub Larangan Mudik,Aturan Larangan Mudik

artikel terkait

dewanpers