web analytics
  

Menunda Mudik Sebuah Keniscayaan

Kamis, 1 April 2021 11:28 WIB Netizen Deffy Ruspiyandy
Netizen, Menunda Mudik Sebuah Keniscayaan, mudik,Mudik Lebaran,Larangan Mudik,Larangan Mudik Lebaran 2021,Larangan Mudik 2021,COVID-19

Suasana Terminal Cicaheum yang sepi penumpang, Kota Bandung, Rabu (31/3/2021). Kebijakan Pemerintah Pusat mengenai larangan mudik lebaran tahun 2021 dikeluhkan para awak angkutan umum di Kota Bandung karena akan berdampak pada pendapatan mereka. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Deffy Ruspiyandy

Penulis Artikel dan Penulis Ide Cerita di SCTV.

AYOBANDUNG.COM--Ada hal yang sungguh menarik di balik pelarangan mudik oleh pemerintah pada tahun ini karena dikhawatirkan dapat menimbulkan klaster baru penyebaran Covid-19

Larangan ini jelas mengekang keinginan setiap orang untuk bertemu sanak saudaranya di kampung halaman. 

Ada istilah nggak afdol kalau berlebaran tidak di tempat kelahiran. Namun dalam pandangan pemerintah kegiatan ini masih dianggap berisiko walaupun di jalan mungkin dapat dilakukan tes swab antigen. Tetapi dengan jumlah orang yang tidak terkendali, apakah mungkin dilakukan hal ini ? Juga siapkah mengeruk kocek lebih dalam untuk kebutuhan yang satu ini ?

Tentu saja pertimbangan pemerintah mengambil keputusan ini setelah mengukur dari berbagai elemen seperti pelarangan sekolah tatap muka. Beberapa waktu lalu sebuah sekolah di Kota Bandung ketika melakukan hal ini tanpa protokol kesehatan tersistematis membuat banyak pelajar yang terpapar virus yang satu ini. 

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa upaya menekan kerumunan masih perlu dilakukan guna menghindari risiko yang cukup besar terjadi di masyarakat. Jadi larangan mudik harus disikapi dengan bijaksana tanpa harus mengedepankan emosi.   

Siapapun yang hendak mudik apalagi rindu sanak saudara jelas adanya larangan ini sangat menyesakkan dada. Sesudah hamper satu tahun memendam rindu, kali ini pun m mereka tak kesampaian untuk mudik ke kampung halamannya. 

Jelas hal ini sangat tidak menyenangkan tetapi kita sendiri ketika mudik tak pernah tahu ada risiko yang tentunya bisa mengancam kita. Hal ini pun perlu dipikirkan matang-matang. Benar kenikmatan bertemu saudara tak bisa diukur dengan uang, namun kondisi yang dirasa belum nyaman dan aman tentu bisa menjadi alasan kuat kita menunda mudik tahun ini. Semuanya demi kebaikan bersama.

Bisa saja kita memaksakan diri untuk berangkat mudik dengan berbagai cara. Namun ada beberapa hal yang perlu kita pikirkan. Pertama, secara ekonomi mudik bukanlah hal yang murah. Apalagi jika selama ini perusahaan transportasi tidak memiliki penghasilan dalam satu tahun terakhir maka bisa muncul spekulasi dengan  tarif ongkos yang tinggi. 

Kedua, risiko yang akan didapatkan sebab kalau kita terpapar virus corona maka akan membuat runyam segalanya. Bukan untuk diri kita dan keluarga saja tetapi orang lain pun akan ikut terancam karenanya. 

Ketiga, aparat keamanan akan menyekat daerah-daerah masuk ke setiap tempat sehingga percuma saja sudah jauh-jauh pergi maka bisa saja dijegal dan diharuskan putar balik untuk kembali ke daerah asal. Jadi inilah yang harus menjadi pertimbangan semua pihak agar kembali memikirkan agar tidak mudik tahun ini. 

Benar sesuatu yang tidak sejalan dengan keinginan diri kita memang tidak mengenakkan. Namun itu tadi kita sendiri mesti berhitung tentang maslahat dan mudharatnya jika kita melakukan perjalanan mudik pada tahun ini. Kita semua tahu kondisi psikologis yang sudah tertahan satu tahun tak bisa bertemu sanak saudara adalah hal yang cukup berat. 

Namun pada sisi lain ada tugas bersama yang mesti diemban pula itu berusaha bagaimana bersama-sama kita mengakhiri pandemi ini. Kesadaran masyarakat yang paripurna di dalam menyikapi masalah mudik ini sangat diharapkan agar perjuangan kita mengakhiri semuanya dengan hasil yang optimal dapat terwujud. 

Memang bagi pemerintah amat dilematis, sebab  pada satu sisi tak ada keinginan mengekang kebebasan masyarakat untuk mudik, namun pada sisi lain tentu memiliki konsekuensi berat jika banyak yang terpapar virus corona. Bukankah itu kembali menjadi masalah bersama yang harus dihadapi pula dengan cost yang tidak murah?

Ada baiknya memang jika setiap orang berpikir untuk saat ini tidaklah mesti bertemu secara tatap muka, namun lebih baik bersilaturahimnya melalui alat komunikasi. Memang suasana tak kan khidmat bertemu langsung tetapi itu lebih baik dilakukan daripada tidak sama sekali. 

Nah kalau diberi kelebihan rezeki juga sebaiknya bisa dimanfaatkan untuk berbagai dengans anak sauadara yang ada di desa. Uang bisa dikirimkan melalui transfer atau dikirim dalam bentuk barang. Kendati wajah tidak bertemu tetapi ada hal yang bisa mendekatkan hubungan antar sesama saudara. Bukankah memberi kepada saudara adalah amal ibadah yang diperintahkan oleh agama?

Terlebih ada aplikasi zoom meeting. Bukankah hal ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana tatap muka melalui alat komunikasi seperti belajar daring ? Betul itu sangat tidak memuaskan namun setidaknya hal tersebut dapat melepas kerinduan karena kita tidak bisa pulang kampung alias mudik. Jelas hal ini adalah hal berat yang harus diterima oleh siapa pun. 

Tetapi hal tersebut jauh lebih aman dan kita bisa melihat seluruh anggota keluarga walaupun melalui aplikasi yang dimaksud. Tentu saja ini adalah ikhtiar agar silaturahim kita tidak terputus karena tak bisa mudik. Memang hal ini tidak akan memuaskan tapi setidaknya itu bagian yang bisa dilakukan saat kondisi pandemi seperti sekarang ini.

Intinya,tidak perlu berkecil jika tidak mudik tahun ini karena masih banyak kesempatan lain kita bisa melakukannya. Berdoa saja kepada Allah agar kita sendiri masih bisa dipertemukan dengan Lebaran tahun yang akan datang dan semoga saja pada tahun 2022 sendiri pandemi Covid-19 di Indonesia benar-benar sudah berakhir dan saat itu kita bisa mudik dengan aman dan nyaman tanpa ada kekhawatiran terpapar virus yang satu ini.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers