web analytics
  

Mengenang Pieterspark, Taman Tertua di Kota Bandung

Kamis, 1 April 2021 10:26 WIB Fira Nursyabani
Bandung Baheula - Baheula, Mengenang Pieterspark, Taman Tertua di Kota Bandung, Taman Dewi Sartika,Taman Badak,Pieterspark,Pieter Sijthoff,Taman tertua di Bandung,Taman pertama di Bandung,sejarah taman Pieterspark

Taman Dewi Sartika di Balai Kota Bandung. (Ayobandung.com/Ghina Tsuroya/magang)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Kota Bandung dikenal dengan taman-tamannya yang beragam, unik, dan tematik. Ternyata desain Bandung sebagai Kota Taman sudah diinisiasi sejak 1800-an.

Adalah Pieter Sijthoffpark atau biasa disebut Pieterspark, taman pertama yang dibangun di kota ini. Letaknya persis di taman balai kota Bandung sekarang. Pieterspark bahkan sudah ada sebelum Bandung berstatus Gemeente atau kota. 

Menurut Sudarsono Katam dalam bukunya 'Gemeente Huis (Balaikota) Bandung dan Sekitarnya dari Masa ke Masa' yang diterbitkan 2014, Pieterspark dibangun pada 1885. Sedangkan Bandung baru resmi berdiri sebagai sebuah kota 21 tahun setelahnya, yakni 1 April 1906.

Taman ini merupakan bentuk penghormatan terhadap Asisten Residen Priangan pada masa itu, Pieter Sijthoff. Sijthoff dinilai telah banyak memberikan kontribusinya kepada perkembangan Bandung yang saat itu masih menjadi ibu kota kabupaten.

pieterspark-bandung.jpeg" />
Taman Pieterspark yang berada di Balai Kota Bandung. (dok. Pemkot Bandung)

Sudarsono mengatakan, Pieterspark dirancang oleh seorang botanikus Belanda bernama R. Teuscher. Taman ini merupakan cikal bakal Kota Bandung dijuluki 'kota taman.'

"Tatakota Kota Bandung memang dirancang mengacu ke pada konsep kota taman (Garden City) seperti di negara-negara Eropa," tulis Sudarsono.

Tak terhitung banyaknya pohon dan tanaman yang menghiasi di Pieterspark. Salah satu yang terkenal adalah pohon sepatu dewa atau ki angsret (Spathodea campanulata).

Kebutuhan air taman seluruhnya dialiri oleh Sungai Cikapayang yang mengelilingi taman. Sungai ini merupakan anak dari Sungai Cikapundung yang tersohor.

Seperti fungsi taman pada umumnya, pada 1930-an, Pieterspark menjadi lokasi favorit warga Bandung untuk berkumpul dan bersantai. Taman pun dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti bangku-bangku dan bahkan delman.

Perubahan nama dari masa ke masa

Menurut Sudarsono, Pieterspark resmi berganti nama menjadi Taman Merdeka pada 1950. Namun, taman ini tak lagi secantik dulu.

Hingga beberapa puluh tahun setelahnya, Taman Merdeka dikenal kumuh dan banyak dijadikan tempat berkumpul para gelandangan. Sampah berserakan. Bangku-bangku tak terawat. Begitu pula dengan fasilitas lainnya.

Taman ini baru kembali ditata pada masa pemerintahan Wali Kota Husen Wangsaatmaja pada 1980-an, yang kemudian digabung dengan Taman Badak yang ada di sebelah utara Balai Kota Bandung.

Ada yang menarik tentang Taman Badak yang ditulis Sudarsono dalam bukunya. Di taman ini terdapat sebuah Patung Badak Putih yang konon dibuat karena adanya mitos kepercayaan tradisional.

Warga berenang di kolam Taman Badak. (dok. Ayobandung.com)

Bupati Bandung saat itu, RA Wiranatakusumah II, percaya jika ibu kota kabupaten harus berlokasi di daerah yang tanahnya bahe ngidul (miring ke selatan), dekat sumber air, dan bekas paguyangan badak putih (tempat berkubangnya badak putih). Tempat itu tepat di lokasi balai kota sekarang.

Pada 1996, Taman Merdeka kembali berganti nama menjadi Taman Dewi Sartika. Penggantian nama ini beriringan dengan diresmikannya patung dada Pahlawan Nasional Dewi Sartika di sana oleh Wali Kota Wahyu Hamijaya.

Patung dada Dewi Sartika di Balai Kota Bandung. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

Sejak saat itu, Pieterspark, yang kini menjadi Taman Dewi Sartika, terus berbenah. Pekan lalu Ayobandung.com berkesempatan untuk berkunjung ke sana dan berbincang dengan pengurus Taman Balai Kota Andri Yulianto (40).

Ia mengatakan, perubahan signifikan Taman Dewi Sartika terjadi setelah Ridwan Kamil menjabat sebagai Wali Kota Bandung. Taman ini memiliki luas 4.000 meter persegi dan dihuni lebih dari 500 jenis tanaman hias serta pepohonan rindang.

Taman yang ditutup karena pandemi tersebut terus ditata rapi, tak ada gelandangan dan kursi-kursi yang rusak. Pengolahan sampahnya pun sudah modern, melibatkan proses daur ulang dan pengomposan.

Satu hal yang tidak berubah, Pieterspark dan Taman Dewi Sartika dari dulu hingga kini tetap menjadi ikon Bandung sebagai 'kota taman'.

Editor: Fira Nursyabani

terbaru

Tewasnya Laksda Udara dalam Kecelakaan Pesawat di Tegalega

Baheula Kamis, 6 Mei 2021 | 16:25 WIB

Sang jenius berusaha untuk mendarat darurat di Lapangan Tegalega, Bandung, namun gagal.

Bandung Baheula - Baheula, Tewasnya Laksda Udara dalam Kecelakaan Pesawat di Tegalega, Nurtanio Pringgoadisuryo,Tegalega,Kota Bandung,Pesawat,Kecelakaan,Kerusakan Mesin,Jokowi

Dari Rebocco Sampai Red Fox, Urat Nadi Sejarah Bisbol Bandung 

Baheula Rabu, 5 Mei 2021 | 16:40 WIB

Di samping kultur sepak bola yang sudah mendarah daging, Bandung sebetulnya punya klub bisbol legendaris yang layak diba...

Bandung Baheula - Baheula, Dari Rebocco Sampai Red Fox, Urat Nadi Sejarah Bisbol Bandung , Sejarah Bisbol Bandung,Rebocco,Red Fox,Perserikatan Bisbol dan Sofbol Amatir Seluruh Indonesia,Perbasasi Bandung

Hilangnya Insulindepark dan Sejarah Taman Lalu Lintas di Bandung

Baheula Selasa, 4 Mei 2021 | 15:00 WIB

Namanya berubah-ubah, dari Insulindepark sampai Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution, begitu pula fungsinya.

Bandung Baheula - Baheula, Hilangnya Insulindepark dan Sejarah Taman Lalu Lintas di Bandung, Taman Insulinde,Insulindepark,Taman Lalu Lintas,Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution,Taman Nusantara,Bandung,Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL),Hindia Belanda

Di Bandung 1961, Debut Perdana Indonesia dalam Piala Davis

Baheula Senin, 3 Mei 2021 | 15:20 WIB

Ini merupakan debut perdana Indonesia di Piala Davis bersama dengan Maroko dan Ekuador.

Bandung Baheula - Baheula, Di Bandung 1961, Debut Perdana Indonesia dalam Piala Davis, Bandung,1961,Piala Davis,Tenis,Indonesia,Petenis Indonesia,Tan Liep Tjiauw,Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PELTI)

Mengenang Kejayaan Radio Unasko Cimahi di era Orde Baru

Baheula Senin, 3 Mei 2021 | 11:00 WIB

Mengenang Kejayaan Radio Unasko era Orde Baru di Cimahi

Bandung Baheula - Baheula, Mengenang Kejayaan Radio Unasko Cimahi di era Orde Baru, Radio Unasko,Radio bersejarah Cimahi,Radio Cimahi,Radio bersejarah Bandung

Di Tegalega, Annie Salamun Memulai Kejayaan Atletik Indonesia

Baheula Jumat, 30 April 2021 | 22:00 WIB

Annie Salamun, perwakilan atlet dari Bandung, merajai cabang olahraga lempar cakram putri tahun 1950-an.

Bandung Baheula - Baheula, Di Tegalega, Annie Salamun Memulai Kejayaan Atletik Indonesia, Tegalega,Bahder Djohan,Dimas Wahyu Indrajaya,Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI),Annie Salamun,cabang olahraga lempar cakram,Bandung,atlet dari Bandung

Ingar Bingar Peresmian Stadion Terbagus Pertama di Bandung

Baheula Kamis, 29 April 2021 | 20:50 WIB

Stadion Siliwangi mulai dibangun pada 1 Januari 1954 dan biaya pembangunannya mencapai Rp6 juta pada tahun 1950-an.

Bandung Baheula - Baheula, Ingar Bingar Peresmian Stadion Terbagus Pertama di Bandung, Peresmian Stadion Siliwangi,Stadion Siliwangi,Bandung,Stadion Terbagus Pertama di Bandung,Komando Daerah Militer (Kodam),Jawa Barat

Mengenang si Kuda Terbang, Penjebol Gawang Finalis UCL 1956

Baheula Rabu, 28 April 2021 | 17:55 WIB

Salah satu pemain Persib yang merepotkan Stade de Reims ialah Aang Witarsa, yang punya julukan "Si Kuda Terbang".

Bandung Baheula - Baheula, Mengenang si Kuda Terbang, Penjebol Gawang Finalis UCL 1956, Si Kuda Terbang,The Flying Horse,Aang Witarsa,Persib,Stadion Siliwangi,Stade de Reims,Liga Champions,UEFA Champions League (UCL),real madrid

artikel terkait

dewanpers