web analytics
  

Dian Radio City, Bioskop Tertua Kota Bandung Kini Terbengkalai

Selasa, 30 Maret 2021 12:23 WIB Gelar Aldi S
Bandung Baheula - Baheula, Dian Radio City, Bioskop Tertua Kota Bandung Kini Terbengkalai, Radio City,Gedung Bioskop Dian,Hari Film Nasional,30 Maret,Sejarah Hari Ini,Sejarah Film Indonesia,Sejarah Bioskop,Kota Bandung,Hindia Belanda,Mal Palaguna

Gedung eks Bioskop Dian di Jalan Dalem Kaum No. 58, Kota Bandung. (Ayobandung.com/Gelar Aldi S)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Setiap tanggal 30 Maret, kita mengenang Hari Film Nasional secara berulang. Dari beragam sudut pandang, termasuk peran sineas, sejarah perfilman, atau nostalgia bioskop.

Tentu saja, Kota Bandung pun akan merayakan peringatan Hari Film Nasional dengan penuh suka cita, mengingat tonggak perfilman Indonesia telah dimulai dari Kota Kembang. Pada masa kolonial Hindia Belanda, sineas lokal membuat bangga bangsa se-Nusantara, dengan dirilisnya film Loetoeng Kasaroeng pada 31 Desember 1926 di Bioskop Elita (bekas lahan Mal Palaguna), 

Kota Bandung pun, pada masa penjajahan Hindia-Belanda, memang merupakan kota terpilih yang akan dijadikan Ibu kota. Ini terbukti dengan berbagai gedung penting dibangun, seperti Gedung Sate yang nantinya akan digunakan sebagai kantor Gubernur Jenderal dan Kantor Pos.

Pusat kota di Bandung saat dulu ditandai dengan adanya Alun-Alun. Adanya sebuah lapangan terbuka luas yang termasuk bagian dari halaman Kabupaten dan digunakan masyarakat sebagai tempat kumpul. Di sekeliling pusat kota terdapat bangunan-bangunan penting yang fungsional seperti Pendopo, Masjid Agung, dan sarana hiburan yaitu bioskop.

Terdapat sedikitnya empat gedung bioskop yang dahulunya berdiri di sekitaran kompleks Kabupaten, antara lain Bioskop Elita, Oriental, Varia (ketiganya berdiri berderet), serta Radio City yang letaknya persis di samping dengan kompleks Kabupaten. Radio City dibangun pada tahun 1925 [beberapa sumber lain menyebut dibangun 1930] dan dikelola oleh J.F.W de Kort dan Thio Tjoan Tek.

Fungsi bangunan di sekitaran Alun-Alun berubah dari waktu ke waktu. Misalnya saja, pada 1980an, ketiga bioskop yang berdiri berderet (Elita, Oriental, dan Varia) dihancurkan lalu diganti dengan gedung pertokoan atau lebih tepatnya gedung Palaguna.

Alhasil, bioskop yang masih berdiri tegak hanya tinggal Radio City. Bioskop bergaya oriental dengan Art Deco Zig-zag Moderne yang sangat sederhana, dengan fasad tangga yang mengerucut ke puncaknya.

Dahulu, bioskop hanya dapat dinikmati oleh orang-orang Belanda saja [terkadang ada juga beberapa elit pribumi kelas atas]. Sementara orang pribumi biasa harus gigit jari menunggu giliran untuk menonton layar tancap, dengan proyektor putar serta layar untuk menampilkan film dari Radio City.

Memang tidak di ruang bioskop. Pribumi dahulu mesti menunggu layar tancap di ruang terbuka. Mereka menyebutnya bioskop "misbar", atau bioskop yang jika turun "gerimis" harus segera "bubar", suatu hal yang sudah langka pada masa kini.

Radio City berganti nama jadi Bioskop Dian

Plakat pada Gedung Bioskop Dian. (Ayobandung.com/Gelar Aldi S)

Setelah kemerdekaan Indonesia, Bioskop Radio City lantas berganti nama menjadi bioskop Dian. Tempat ini lebih sering memutar film-film Bollywood. Masa keemasan bioskop Dian terjadi selama puluhan tahun sebelum era 1990-an. Ujung-ujungnya terpaksa gulung tikar, akibat penonton Bioskop Dian yang semakin sepi dan tersisihkan oleh bioskop-bioskop modern di pusat perbelajaan Kota Bandung

Meski sampai saat ini ditutup, tetapi gedung Bioskop Dian masih berdiri kokoh. Fasad Dian sangat mudah dikenali, karena bangunannya masih dalam bentuk aslinya dan terdapat ciri khas yang melekat. Bentuk bangunan simetris yang setengah membulat di bagian kanan dan kiri bangunan. Terdapat tujuh buah barisan jendela di bagian depan atas bangunan. Lalu, yang paling khas, terdapat relief yang terukir di dinding bagian kanan dan kiri sebelum pintu masuk.

Menurut pegiat sejarah Komunitas Aleut, Ridwan Hutagalung, relief yang berada di kedua sisi pintu masuk gedung Bioskop Dian menceritakan suasana pemandangan alam pedesaan.

"Soal relief seingat saya itu suasana tani dan alam Priangan," ujar Ridwan merujuk pada artikel Ayobandung.com berjudul Relief Unik Bioskop Dian, Menceritakan Tentang Suasana Pedesaan yang rilis pada Sabtu (27/4/2019).

Bioskop Tertua di Bandung Kini Tak Terbengkalai

Isi Gedung Bioskop Dian yang kini terbengkalai. (Ayobandung.com/Gelar Aldi S)

Gedung eks Bioskop Dian, di Jalan Dalem Kaum No. 58, sampai saat ini tak berfungsi apa pun. Ketika Ayobandung.com berkunjung ke sana pada tanggal 27—28 Maret 2021, gedungnya tak terurus dan pintu gerbang pun ditutup oleh besi, laiknya jeruji besi yang digembok. 

Terlihat di sela-sela besi ada lantai gedung yang beberapa bagiannya sudah bolong-bolong. Cat dari warna pintu sudah memudar dan terlihat kusen pintu. Beberapa bagian atap gedung sudah rusak parah dan kayu-kayu triplek yang terpasang juga menjuntai lapuk, tak kokoh lagi di tempatnya.

Di bagian samping gedung pun dipasangi seng-seng untuk menutupi area gedung yang bolong dan berlubang. Di beberapa bagian atap itu pun tumbuh rumput-rumput liar yang tak terawat.  

Sekilas mungkin tak akan menyangka bahwa gedung eks Bioskop Dian adalah gedung bersejarah dan punya cerita menarik, sebab kondisi terkini Dian memang terbengkalai. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk dapat melihat triplek-triplek itu berjatuhan. Ibarat sebuah dedadaun coklat kusam pertanda sudah tua, ia akan gugur pada akhirnya.

Padahal, gedung eks Bioskop Dian tepat bersebelahan dengan rumah dinas Wali Kota Bandung. Di seberangnya terpampang Palestine Walk atau Jalan Palestina yang diapit oleh Alun-alun Kota Bandung dan lahan eks bangunan Palaguna, yang kini hanya menjadi tempat parkir wisatawan.

Atap Gedung Bioskop Dian yang sudah bolong-bolong. (Ayobandung.com/Gelar Aldi S)

Status dari gedung eks Bioskop Dian, yang penuh dengan makna sejarah dan nilai budaya, saat ini ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Golongan A. Hal itu berdasarkan pada Peraturan Daerah Kota Bandung No. 19 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya. Oleh karena itu, walaupun bangunan Bioskop Dian sempat dijadikan arena futsal sejak pertengahan tahun 2000, pengelola bangunan dilarang keras untuk membongkar atau mengubah bentuk bangunan itu sendiri. Kini gedung eks Bioskop Dian dimiliki oleh Perusahaan Daerah Jasa dan Kepariwisataan, BUMD Jaswita Jabar, 

Kabar Terakhir yang didapatkan Ayobandung.com mengenai gedung eks Bioskop Dian, gedung ini pernah dipakai sebagai pameran bertajuk "Dian Lentera Budaya" oleh seniman asal Bandung, Tisna Sanjaya, pada 20 Desember 2020 hingga 28 Januari 2021.

Setelah itu, bekas Gedung Bioskop Dian kembali kosong dan sepi. Sunyi dan sama sekali tak berfungsi.

Kondisi tersebut amat disayangkan, mengingat setelah diruntuhkannya Bioskop Elita, Oriental, dan Varia, hanya tinggal Bioskop Dian Radio City yang tersisa dari peninggalan Hindia Belanda. Tak pelak, Gedung Bioskop Dian pun menjadi sisa bioskop tertua yang masih bertahan hingga kini di Kota Bandung. [*]

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Tewasnya Laksda Udara dalam Kecelakaan Pesawat di Tegalega

Baheula Kamis, 6 Mei 2021 | 16:25 WIB

Sang jenius berusaha untuk mendarat darurat di Lapangan Tegalega, Bandung, namun gagal.

Bandung Baheula - Baheula, Tewasnya Laksda Udara dalam Kecelakaan Pesawat di Tegalega, Nurtanio Pringgoadisuryo,Tegalega,Kota Bandung,Pesawat,Kecelakaan,Kerusakan Mesin,Jokowi

Dari Rebocco Sampai Red Fox, Urat Nadi Sejarah Bisbol Bandung 

Baheula Rabu, 5 Mei 2021 | 16:40 WIB

Di samping kultur sepak bola yang sudah mendarah daging, Bandung sebetulnya punya klub bisbol legendaris yang layak diba...

Bandung Baheula - Baheula, Dari Rebocco Sampai Red Fox, Urat Nadi Sejarah Bisbol Bandung , Sejarah Bisbol Bandung,Rebocco,Red Fox,Perserikatan Bisbol dan Sofbol Amatir Seluruh Indonesia,Perbasasi Bandung

Hilangnya Insulindepark dan Sejarah Taman Lalu Lintas di Bandung

Baheula Selasa, 4 Mei 2021 | 15:00 WIB

Namanya berubah-ubah, dari Insulindepark sampai Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution, begitu pula fungsinya.

Bandung Baheula - Baheula, Hilangnya Insulindepark dan Sejarah Taman Lalu Lintas di Bandung, Taman Insulinde,Insulindepark,Taman Lalu Lintas,Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution,Taman Nusantara,Bandung,Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL),Hindia Belanda

Di Bandung 1961, Debut Perdana Indonesia dalam Piala Davis

Baheula Senin, 3 Mei 2021 | 15:20 WIB

Ini merupakan debut perdana Indonesia di Piala Davis bersama dengan Maroko dan Ekuador.

Bandung Baheula - Baheula, Di Bandung 1961, Debut Perdana Indonesia dalam Piala Davis, Bandung,1961,Piala Davis,Tenis,Indonesia,Petenis Indonesia,Tan Liep Tjiauw,Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PELTI)

Mengenang Kejayaan Radio Unasko Cimahi di era Orde Baru

Baheula Senin, 3 Mei 2021 | 11:00 WIB

Mengenang Kejayaan Radio Unasko era Orde Baru di Cimahi

Bandung Baheula - Baheula, Mengenang Kejayaan Radio Unasko Cimahi di era Orde Baru, Radio Unasko,Radio bersejarah Cimahi,Radio Cimahi,Radio bersejarah Bandung

Di Tegalega, Annie Salamun Memulai Kejayaan Atletik Indonesia

Baheula Jumat, 30 April 2021 | 22:00 WIB

Annie Salamun, perwakilan atlet dari Bandung, merajai cabang olahraga lempar cakram putri tahun 1950-an.

Bandung Baheula - Baheula, Di Tegalega, Annie Salamun Memulai Kejayaan Atletik Indonesia, Tegalega,Bahder Djohan,Dimas Wahyu Indrajaya,Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI),Annie Salamun,cabang olahraga lempar cakram,Bandung,atlet dari Bandung

Ingar Bingar Peresmian Stadion Terbagus Pertama di Bandung

Baheula Kamis, 29 April 2021 | 20:50 WIB

Stadion Siliwangi mulai dibangun pada 1 Januari 1954 dan biaya pembangunannya mencapai Rp6 juta pada tahun 1950-an.

Bandung Baheula - Baheula, Ingar Bingar Peresmian Stadion Terbagus Pertama di Bandung, Peresmian Stadion Siliwangi,Stadion Siliwangi,Bandung,Stadion Terbagus Pertama di Bandung,Komando Daerah Militer (Kodam),Jawa Barat

Mengenang si Kuda Terbang, Penjebol Gawang Finalis UCL 1956

Baheula Rabu, 28 April 2021 | 17:55 WIB

Salah satu pemain Persib yang merepotkan Stade de Reims ialah Aang Witarsa, yang punya julukan "Si Kuda Terbang".

Bandung Baheula - Baheula, Mengenang si Kuda Terbang, Penjebol Gawang Finalis UCL 1956, Si Kuda Terbang,The Flying Horse,Aang Witarsa,Persib,Stadion Siliwangi,Stade de Reims,Liga Champions,UEFA Champions League (UCL),real madrid

artikel terkait

dewanpers