web analytics
  

Jangan Terjebak Permainan Washington!

Jumat, 26 Maret 2021 13:26 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Jangan Terjebak Permainan Washington!, Joe Biden,laut china selatan,presiden amerika serikat

Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih, Joe Biden. (Suara.com/AFP)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM--Perundingan antara delegasi Amerika Serikat-China di Anchorage, Alaska minggu lalu hanya menghasilkan prospek suram hubungan kedua negara pada hari-hari mendatang. Para perunding dengan lantang mengemukakan pernyataan yang menggambarkan posisi sebagai negara adidaya, sedangkan pihak lain menekankan kepada kedaulatan untuk bersikap. 

Menlu Anthony Blinken dan Penasehat Keamanan Nasional Jake Sullivan memimpin delegasi AS. Lawannya Menlu Yang Jiechi dan pejabat partai komunis China  urusan luar negeri Yang Jiechi. Pertemuan berlangsung dua hari, 18-19Maret 2021.

Dalam pertemuan hari pertama yang diliput media, Blinken  langsung menyerang dengan menyatakan keprihatinan atas serangan cyber China  terhadap negaranya dan melakukan tekanan ekonomi terhadap sekutu AS. Pula perlakuan pemerintah China terhadap aktivis demokrasi di Hong Kong, terhadap Taiwan dan kelompok minoritas Uyghur di Xinjiang disebut.

Di hari kedua, Sullivan cs mengungkit lagi keberpihakan China terhadap Iran dan Syria. Suatu pernyataan yang secara jelas menunjukkan pengakuan atas meluasnya pengaruh China.

Sullivan menambahkan, kami tidak ingin berkonflik. Kami akan selalu berpegang kepada prinsip-prinsip kami dan sekutu-sekutu kami.   

Yang Jiechi membalas dengan menyatakan rakyat Amerika Serikat meragukan demokrasi dan rasisme di negaranya. Pemerintah AS memaksakan kekuatan militer dan keuangan, serta  membujuk sejumlah negera untuk menyerang China.

Boleh jadi yang dimaksudkan dengan pernyataan Jiechi itu adalah serbuan pendukung Donald Trump ke gedung Capitol, serta bujukan terhadap Australia supaya mengeroyok China. Padahal kedua negara tak punya masalah.    

Yang menarik, terungkap sikap munafik.  Blinken cs dalam pertemuan itu menyoroti pengabaian pemerintah China terhadap prinsip-prinsip HAM, namun AS menentang ketika PBB memperkenalkan sebuah Undang-Undang yang menyerukan Tindakan Global Melawan Rasisme pada Desember lalu.

Amerika Serikat bersama 13 negara lain, termasuk Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Inggris, Israel dan lainnya menentang seruan global bagi tindakan untuk mengakhiri rasisme, diskriminasi rasial, xenophobia dan yang berkaitan dengan intoleransi. Padahal negara-negara tersebut terus menerus menyerukan negara lain supaya mematuhi HAM dan Kebebasan. 

Mempertahankan Ketegangan

Hasil pertemuan itu mengukuhkan ketegangan yang dibangun Donald Trump dan dilanjutkan Presiden Joe Biden. Malahan Biden bertekad akan ‘melawan’ pada segala bidang, terutama ranah ekonomi dan pertahanan. 

Bila Trump cenderung membawa negaranya sendirian menghadapi China, bahkan disebut-sebut juga mengabaikan pendapat di dalam negeri. Biden menerapkan kebijaksanaan multilateral dengan mengajak Korea Selatan, Jepang, India dan Australia. Tiga negara terdahulu mempunyai latar belakang sejarah yang pahit dengan China, sedangkan Australia lantaran Pakta ANZUS.

Taiwan termasuk sekutu dekat, kendati secara ‘riil’ hanya merupakan boneka permainan kedua pihak yang berseteru. AS tak pernah mendorong negara pulau ini agar merdeka, namun secara teratur menjual peralatan militer.  Tahun lalu Taiwan membeli peralatan militer AS, termasuk rudal yang dapat menghantam sasaran di China Daratan, 66 pesawat F-16, drone tanpa senjata, artileri, misil anti kapal yang berbasis di darat, dengan harga US$8 miliar. 

Indonesia, Filipina, Vietnam, Indonesia, Thailand dan Singapura dalam beberapa aspek mendukung Washington, tetapi masih tetap mempertahankan hubungan baik dengan China. Dalam kerangka Asean, negara-negara tersebut mengikutsertakan China dalam mengatasi sengketa tapal batas dan kepemilikan, antara lain di laut China Selatan.  

Asean tidak ingin terjebak dan turut serta dalam perang dingin melawan China. Negara-negara Asean faham, China sangat reaktif dan dengan kekuatan ekonominya kerap menekan penentangnya. Sebagaimana ditunjukkan terhadap Australia.

Mewaspadai Sikap Ganda

Secara politis hubungan kedua negara berakar kepada pertarungan ideologi. Amerika Serikat khawatir dengan parta komunis China yang mengancam demokrasi, sebaliknya China pun bersikap serupa.

Persoalannya, persaingan ini sudah melebar ke ranah ekonomi, perdagangan, teknologi, hak cipta bahkan perebutan ruang pengaruh. Pernyataan Biden tentang ancaman China menggaris bawahi pelebaran persaingan tersebut.

Prakarsa One Belt One Road (OBOR) yang disepakati 25 negara di Asia Timur dan Pasifik, 17 negara di Timur Tengah dan Afrika Utara. 18 negara di Amerika Selatan dan Karibia serta enam negara di Asia Tenggara sangat mengganggu dominasi Amerika Serikat. 

Prakarsa OBOR menunjukkan, China menerapkan pendekatan ekonomi  sebaliknya Amerika Serikat masih bertahan dengan pendekatan konflik bahkan perang. AS menempatkan 160 ribu personel di 150 negara, dengan pangkalan militer dengan yang terbesar di Ramstein, Jerman.

Sejak tahun 1980 saja, setidaknya 23 kali pangkalan  militer itu di luar negeri dilibatkan dalam perang di 13 negara di kawasan Timur. Diantaranya melibatkan kekuatan militer NATO dalam menjatuhkan Presiden Libya Moammar Khadafi   tahun 1986.

Presiden Russia Vladimir Putin pernah menyatakan ironisme. Pakta Warsawa sudah dibubarkan tetapi AS dan sekutu-sekutunya masih mempertahankan NATO. 

Ekonomi-Perdagangan

Amerika Serikat pada awal  1970-an bersahabat dengan China dalam rangka membendung Uni Soviet. ‘Kebaikan “ ini dimanfaatkan Deng Xiaoping untuk mengundang investasi yang untuk memajukan negara. 

Deng terkenal dengan prinsip tak peduli kucing hitam atau putih yang penting bisa menangkap tikus. Bukan dosa bila menjadi kaya.

Alhasil, China melancarkan menghapus proteksi, menggalakkan sektor swasta, mengakhiri kontrol harga dan menerapkan kawasan khusus dengan insentif pajak seperti di Shenzen. Konon, dalam kaitan, ini mereka mencontoh dari Batam.

Ada kesinambungan program antara Deng dengan para penggantinya. Ekonomi China tumbuh rata-rata 9,5% per tahun (1978-2013). Kemudian menurun hingga 2,3% pada 2020, akibat pandemi CoVID-19.

Kemurahan hati kepada China dan anggaran militer yang besar, mengalahkan total anggaran militer sepuluh negara, menyebabkan ekonomi AS tercecer. 

Defisit perdagangan AS dengan China pada 2020 diperkirakan mencapai US$280 juta, tetapi secara keseluruhan AS  juga mengalami defisit perdagangan barang dengan banyak negara sebanyak US$915,5 miliar pada tahun lalu. Naik US$51,5 miliar dibanding tahun sebelumnya. Adapun total defisit barang dan jasa pada tahun lalu US$915,8 miliar, naik US$51,5 miliar. 

China memperoleh surplus US$535 miliar  dalam perdagangan dengan dunia pada tahun lalu. Surplus terutama didapat dari lonjakan ekspor produk-produk elektronika dan peralatan kesehatan. Boleh jadi sebab banyak negara yang mengimpor vaksin, masker dan lainnya.

Harus Memilah

AS merupakan negara kapitalis yang  didominasi sektor swasta, mempunyai banyak partai politik  dan kebebasan berpendapat.China pun menjadi kapitalis dengan kediktatoran partai tunggal, BUMN serta swasta sama-sama memainkan peran penting, tetapi kebebasan pendapat atau berserikat dibatasi. 

Tekanan terhadap pendiri Ali Baba, Jack Ma, menunjukkan prinsip menjadi kaya tidak berdosa tetapi jangan melampaui batas dalam menyatakan pendapat.

Pembatasan diperlukan karena pembangunan memerlukan kestabilan. Apalagi pemerintah sungguh-sungguh menerapkan kebijaksanaan yang tepat guna, berhasil guna. Koruptor dihukum berat atau ditembak mati.

Tampaknya akan semakin banyak negara yang separuh hati mengikuti kebijaksanaan Amerika Serikat. Dunia sudah berubah, maka diperlukan pendekatan baru untuk mewujudkan kedaulatan dan kemakmuran. 

Washington sendiri tengah menunggu realisasi penambahan impor China atas barang-barang AS senilai US$200 miliar pada tahun ini. Realisasi ini merupakan hasil kesepakatan tahap pertama pada periode Donald Trump yang galak itu.

Jadi jangan terjebak!

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers