web analytics

Buku Matematika Sunda

clockSelasa, 23 Maret 2021 11:11 WIB user-groupNetizen ATEP KURNIA
Netizen, Buku Matematika Sunda, Buku Matematika Sunda,Buku Matematika Sunda Pertama di Indonesia,Buku Matematika Sunda Pertama yang Ditulis Orang Sunda,raden kartawinata,Bahasa Sunda

Jilid buku 300 Masalah Elmu Itungan. (Mikihiro Moriyama (2017).)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

Ada buku tipis setebal 54 halaman. Di halaman judul sebelah kiri ada tajuk berbahasa Belanda, 300 Rekenkundige voorstellen voor eerst beginnenden, dengan keterangan penulisnya Raden Kartawinata, Eleve tolk en Translateur voor de Soendasche Taal te Garoet, dan di bawahnya penerbit dan keterangan tempat serta tahun terbitnya, Batavia, Landsdrukkerij, 1876. Sementara di halaman judul sebelah kanannya adalah judul berbahasa Sunda dengan aksara Cacarakan ditambah satu kata beraksara Arab.

Menurut bacaan kawan saya Hady Prastya (21 Maret 2021), judul tersebut berbunyi 300 Masalah Elmu Itungan, dengan keterangan penulisnya “Dikarang ku Raden Kartawinata, Elepe juru basa Sunda di Garut”, dan keterangan: “Dipiwarang dicitak ku kangjeng gupernemén di kantor citak Batavia, Tahun 1876”.

Bila dikaitkan dengan penerbitan buku Sunda antara 1850-1908 sebagaimana yang didaftarkan dalam “Senarai Buku-buku Cetakan Berbahasa Sunda Sebelum 1908” (Mikihiro Moriyama, Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, 2005: 277-302), buku 300 Masalah Elmu Itungan karya Kartawinata ini saya pikir sangat penting. Betapa tidak, buku ini adalah buku pertama berbahasa Sunda yang bertalian dengan matematika dan disusun oleh orang Sunda sendiri.

Sebelum Kartawinata, yang mula-mula mengusahakan penulisan dan penerbitan buku Sunda yang berkaitan dengan ilmu hitung adalah Nederlandsche Zendingsvereeniging alias Perhimpunan Misionaris Belanda. Pada 1866, lembaga tersebut menerbitkan tiga judul buku, yakni Kitab Elmoe Itoengan no.1, pikeun maroerangkalih anoe kur iskola; Kitab Elmoe Itoengan (Rekenboekje voor de scholen). jilid 1; dan Kitab Itoengan, pangmimitina pisan keur baroedak iskola karya C. Albers. Kitab Elmoe Itoengan (Rekenboekje voor de scholen) semuanya ada empat jilid, yakni jilid 2 (1866), jilid 3 (1867), dan jilid 4 (1868).

Setelah Kartawinata menerbitkan bukunya, buku Sunda lain yang berkaitan dengan matematika adalah Buku Itungan nu ka I, pikeun murid-murid pangkat panghandapna di iskola pribumi, karya W. van Gelder dan terbit sebanyak lima jilid antara 1881 hingga 1883. Selain Gelder, yang menulis buku jenis tersebut adalah C.J. Haastert dengan karyanya Boekoe Itoengan Petjahan-perpoeloehan, pikeun moerid-moerid pangkat kadoewa di sakola-Soenda (1894) dan Boekoe Itoengan Petjahan Bener, pikeun moerid-moerid pangkat kadoewa di sakola-Soenda (1894).

Dengan demikian, memang Kartawinata terbilang orang Sunda pertama yang menulis dan menerbitkan buku matematika dalam bahasa ibunya. Karena sebelumnya diusahakan oleh orang-orang Belanda, terutama yang tergabung dalam lembaga misi Nasrani. Demikian sesudahnya, paling tidak hingga 1908, yang menulis buku-buku semacam itu masih dilakukan oleh kalangan misionaris Belanda.

Hal kedua yang membuat 300 Masalah Elmu Itungan menarik adalah fakta bahwa buku tersebut diterbitkan pada 1876, tetapi untuk keterangannya menyebutkan bahwa Raden Kartawinata yang masih menjadi magang juru bahasa dan penerjemah Sunda di Garut (Eleve tolk en Translateur voor de Soendasche Taal te Garoet). Saya bisa memastikan ini salah, sebab pada 1876, Kartawinata sudah menjabat sebagai adjunct juru bahasa dan penerjemah Sunda selama dua tahun (1874-1876) dan tempat dinasnya sudah di Bandung.

Mengapa ada kekeliruan begitu? Kemungkinan yang terjadi adalah buku tersebut disusun saat Kartawinata masih berstatus sebagai eleve (magang) tetapi diterbitkan saat sudah menjadi adjunct (wakil, asisten).

Kemungkinan tersebut memang terbukti dari kata pengantar yang ditulis oleh Kartawinata. Sebagaimana yang ditransliterasi Hady, saya mendapatkan titimangsa penulisan buku tersebut adalah “Sumedang, 30 Agustus 1871”. Ini menarik. Apa sebabnya? Dengan fakta tersebut, saya jadi terpikir tiga hal. Pertama, kemungkinan besar, 300 Masalah Elmu Itungan disusun oleh Kartawinata saat dirinya masih menjadi murid di Sekolah Bupati Sumedang yang dibuka oleh Pangeran Sugih pada 1867. Kartawinata masuk ke sekolah tersebut saat sudah berusia 16 tahun pada 1868. Di sekolah tersebut memang selain diberikan pelajaran bahasa Belanda dan geografi Hindia Belanda dan dunia, diberikan pula pelajaran matematika. Jadi, barangkali di bawah bimbingan Gerrit Warnar dan K.F. Holle, Kartawinata berhasil menyusun buku itu di Sumedang.

Kedua, jadi terpikir juga apakah Kartawinata diangkat sebagai eleve saat bersekolah di Sumedang? Kemungkinan demikian terbuka. Meskipun pada pemberitaan media Belanda menunjukkan pengangkatannya sebagai magang itu baru terjadi pada 1872. Namun, satu hal yang membuat saya yakin adalah pada 1871 adalah masa akhir pendidikan Kartawinata di Sumedang, karena menjelang akhir 1871, ia sudah menemani K.F. Holle berkeliling ke Jawa Tengah. Jadi, ini mengandung arti, Kartawinata bersekolah di Sumedang antara 1868 hingga 1871.

Ketiga, bila buku 300 Masalah Elmu Itungan disusun pada 1871, berarti buku ini menjadi buku pertama yang ditulis oleh Kartawinata. Setelah berhasil menyusun buku ini, ia kemudian tersita pada pekerjaannya sebagai juru bahasa dan penerjemah. Dan memang terbukti hasil karyanya sendiri baru muncul pada tahun 1876, yaitu 300 Masalah Elmu Itungan dan Kitab Conto-conto Surat Anyar (Nieuw Brievenboek voor de Soendasche Scholen). Setelah tahun 1876, ia terus terlibat lagi sebagai penerjemah, dan baru menulis karyanya sendiri pada 1879, dengan menyusun Hollandsch-Soendasch Woordenboek bersama-sama dengan Mr. P. Blussé. Karya tulisnya kemudian muncul lagi pada 1883, berupa Pagoeneman Soenda djeng Walanda (Soendasche Hollandsche samenspraken).

Selanjutnya, pada pengantar 300 Masalah Elmu Itungan, Kartawinata mengajak agar anak-anak sekolah mau berlatih sendiri, aktif, dan tidak melulu menunggu perintah layaknya prajurit yang menunggu perintah komandannya, karena yang penting adalah si murid harus mengerti dulu duduk soalnya.

Rasa kula éta masalah beunang ogé ditéangan buktina ku murid-murid, hanteu karasa tulungan guruna, asal éta murid ti tadina ulah dipagahan jawabanna baé, nya éta jeung dihartikeun sababna sakali, ulah cara perjurit, ngan nurutkeun parentah baé, kudu aya ogé ingetannana sorangan,” demikian yang diungkapkan Kartawinata.

Karena katanya, makin lama soal-soalnya akan kian sulit dipecahkan, sehingga ia mengakalinya sebisanya agar tidak membuat anak-anak sekolah yang membaca buku tersebut menjadi bosan (“demi masalah iyeu beki maju beuki hésé, sarta sabisa-bisa ku kula diwarnakeun tamba bosen”).

Adapun isi bukunya disusun secara urut dari nomor 1 hingga 300 soal matematika dalam bentuk narasi. Misalnya, untuk soal 1, Kartawinata menulis, “Upama indung silaing meuli buwah reyana 14 buwah, sabaraha piduwittennana, mun hiji buwah hargana 11 sén” (Bila ibumu membeli buah sebanyak 14 buah, berapa uang yang harus dikeluarkan bila satu buahnya seharga 11 sen); soal 2, “Upama duwit silaing 27 sén réyana, leungit 15 sén, sabaraha sésana nu aya di silaing” (Bila uangmu banyaknya 27 sen, hilang 15 sen, berapa sisanya yang ada padamu); dan soal 3, “Kuda kagungan tuwan residén sukuna 72, sabaraha réyana éta kuda” (Kuda kepunyaan tuan residen kakinya ada 72, berapa ekor banyaknya kuda tersebut).

Dari ketiga soal tersebut, tampak penggunaan undak-usuk atau penggunaan halus-kasar bahasa Sunda yang digunakan oleh Kartawinata. Bila merujuk kepada orang yang kedudukannya di bawah Kartawinata, yang dalam hal ini barangkali merujuk kepada murid-murid yang menjadi sasaran buku tersebut, kata ganti yang digunakan untuk menyebut atau menyerunya adalah dengan menggunakan kata “silaing” (kamu) yang terbilang kasar. Sementara untuk yang posisinya lebih tinggi dari posisi Kartawinata, ia menggunakan kata-kata halus, yakni dengan menggunakan kata “kagungan” (milik, kepunyaan), alih-alih menggunakan kata “bogana” atau “nu boga”.

Dan memang betul soal-soal yang diberikan dalam buku ini kian sulit, karena misalnya melibatkan angka pecahan, seperti yang ditulis pada nomor 298 dan 299. Pada nomor 298 tertulis “Sapertilu tina muncangna Ki Hamdan saruwa jeung hiji tina 4 bagiyan tina muncangna Ki Saléh, upama Ki Saléh muncangna 56 siki, sabaraha ari muncangna Ki Hamdan” (Sepertiga dari kemiri Ki Hamdan sama dengan satu dari empat bagian kemiri punya Ki Saleh, bila Ki Saleh memiliki kemiri 56 buah, berapa jumlah kemiri milik Ki Hamdan). Demikian pula yang disajikan pada nomor 299: “Sabaraha ari saperdalapanwelas tina duwawelas kalina per tilu tina 5600 rupiya” (Berapa jumlah dari seperdelapan belas dari 12 kalinya per tiga dari 5600 rupiah).

            Soal nomor 300 menarik pula untuk dibicarakan, sebab menggambarkan kehidupan petani Priangan pada abad ke-19 yang masih punya kewajiban secara paksa untuk menanam dan memelihara kopi di perkebunan milik pemerintah kolonial. Selengkapnya soal nomor 300 adalah “Dina hiji gudang kopi eusina tilu gunduk kopi, dina gundukan ka hiji aya 84 pikul, dina gundukan kaduwa 6 pikul leuwih, jeung dina gundukkan ka tilu aya eusina sruwa jeung satengngah gundukkan ka hiji, upama éta kopi hargana 2160 rupiya, sabaraha harga sapikulna” (Pada suatu gudang kopi, isinya terdiri atas tiga gundukan kopi, pada gundukan pertama ada 84 pikul, gundukan kedua ada 6 pikul lebih, dan gundukan ketiga isinya sama dengan setengah gundukan pertama, bila kopi tersebut harganya 2160 rupiah, berapa harga per pikulnya).

            Alhasil, bagi saya, buku tipis 54 halaman ini sangat menarik, karena dapat mengungkap beberapa hal yang sebelumnya tidak dapat saya temukan sepanjang berkaitan dengan pendidikan dan awal pekerjaan Kartawinata. Dalam perkembangan penerbitan buku Sunda, karya Kartawinata ini adalah buku matematika pertama yang ditulis oleh orang Sunda sendiri. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Wim Kuik, Pegawai Kereta Api Pendiri UNI

Netizen Selasa, 3 Agustus 2021 | 09:49 WIB

Wim Kuik, Pegawai Kereta Api Pendiri UNI

Netizen, Wim Kuik, Pegawai Kereta Api Pendiri UNI, Wim Kuik,Olahraga,sepakbola,PSIB,uni,Persib

Nonton Drakor Juga Ada Manfaatnya: Meredakan Stres, Meningkatkan Imun...

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 22:00 WIB

Ya, nonton drama korea. Salah satu alternatif refreshing masa pandemi. Begitu banyak sekali drama bagus yang wajib Anda...

Netizen, Nonton Drakor Juga Ada Manfaatnya: Meredakan Stres, Meningkatkan Imun Tubuh, nonton drakor,Meredakan Stres,Meningkatkan Imun Tubuh,refreshing,Drama Korea,Hiburan

Hustle Culture, Gaya Hidup para Pekerja Keras

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 21:15 WIB

Semakin sibuk, maka semakin cepat untuk meraih kesuksesan. Fenomena ini disebut dengan budaya “Hustle Culture”.

Netizen, Hustle Culture, Gaya Hidup para Pekerja Keras, Hustle Culture, gaya hidup,Pekerja Keras,Pekerjaan,karier,Kesehatan Mental,burnout syndrome,toxic postivity

[Ayo Netizen] 6 Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com Edisi Juli 2...

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 16:30 WIB

Selamat untuk 6 netizen yang tulisannya terpopuler di Ayobandung.com edisi Juli 2021.

Netizen, [Ayo Netizen] 6 Tulisan Terpopuler Netizen Ayobandung.com Edisi Juli 2021, Ayo Netizen,6 Tulisan Terpopuler,netizen,Ayobandung.com,Juli 2021

Medali Emas Polii dan Rahayu, Pengorbanan Demi Martabat

Netizen Senin, 2 Agustus 2021 | 16:15 WIB

Sungguh perjalanan Polii dan Rahayu menggambarkan perjuangan dengan pengorbanan yang tidak kecil.

Netizen, Medali Emas Polii dan Rahayu, Pengorbanan Demi Martabat, Medali Emas,Greysia Polii,Apriani Rahayu,Olimpiade Tokyo 2020

Tips Menghindari Berita Hoax Yang Sangat Meresahkan Warga

Netizen Minggu, 1 Agustus 2021 | 19:53 WIB

Berita hoax merupakan suatu berita yang disampaikan oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan...

Netizen, Tips Menghindari Berita Hoax Yang Sangat Meresahkan Warga, Tips Menghindari Berita Hoax,Berita hoaks

Ketika Rumah Sakit Menolak Pasien

Netizen Minggu, 1 Agustus 2021 | 11:00 WIB

Yang paling mirisnya penolakan terhadap pasien Covid-19 dengan alasan bisnis.

Netizen, Ketika Rumah Sakit Menolak Pasien, Rumah Sakit,Menolak Pasien,uang pendahuluan,Pandemi Covid-19

Lansia dan Covid-19

Netizen Minggu, 1 Agustus 2021 | 08:20 WIB

Lansia merupakan kelompok umur yang paling rentan terpapar virus Covid-19.

Netizen, Lansia dan Covid-19, Lansia,COVID-19,terpapar Covid-19,Virus Corona,Lanjut Usia

artikel terkait

dewanpers
arrow-up