web analytics
  

Mari Berbangga dengan Pesawat CN-235-220 MPA!

Senin, 22 Maret 2021 07:51 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Mari Berbangga dengan Pesawat CN-235-220 MPA! , cn-235-200-MPA,PT DI,PT DIrgantara,Pesawat PT DI,CN 235 MPA,CN 235 200 MPA

CN-235 MPA (Wikipedia)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM--Masyarakat sepertinya alpa untuk memuji pelepasan pesawat CN-235-220 MPA dari Bandung menuju Senegal, pada Jumat 19 Maret 2021. Padahal ini adalah bukti kepercayaan pihak asing terhadap produk buatan PT Dirgantara Indonesia. Ini adalah pesawat ketiga yang dibeli Senegal.

Sifat lupa itu boleh jadi karena tersita dengan berita-berita politik, korupsi atau berita buruk lain yang mengalir deras sejak beberapa waktu terakhir. Akibatnya tak ada ruang dalam alam pikiran bahwa negeri ini masih punya hal-hal yang positif dan membanggakan. 

Pesawat dengan awak  Captain Pilot Esther Gayatri Saleh cs itu rencananya singgah di beberapa negara sebelum sampai di Dakar, Senegal. Jaraknya dari Bandung, 14.141 km.

Kalau mau, pesawat bisa terbang non stop selama 10-11 jam dengan kecepatan maksimal 445 km per jam. Namun sebagaimana peraturan yang berlaku di dunia penerbangan, jam kerja pilot dibatasi. 

International Civil Aviation Organization (ICAO) Council menetapkannya dalam International Standard and Recommended Practices atau yang biasa disebut dengan SARPs. Indonesia juga memiliki Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 28 Tahun 2013 tentang jam kerja penerbang. Disebutkan, seorang pilot dan kopilot dilarang terbang secara berturut-turut lebih dari 9 jam dalam satu hari.

Di Indonesia, biasanya seorang pilot total bekerja 30 jam dalam seminggu. Jarang pilot mendapat jam kerja yang panjang seperti, Jakarta-Balikpapan pp lalu dilanjutkan Jakarta-Medan pp. atau Biak-Jayapura pp diteruskan Biak-Makassar-Jakarta.  

Jadi kalaupun penerbangan ke Senegal berhari-hari, itu dikarenakan menomor satukan keselamatan bukan gara-gara kelemahan pesawat. Entahlah kalau mau ada yang menggoreng berita.    

Merebut Niche 

Dewasa ini, 90 persen pasar pesawat komersial berukuran besar dikuasai Boeing Co. dan Airbus S.A.S, sedangkan pesawat dengan kurang dari  150 kursi diperebutkan berbagai perusahaan.

Pesawat-pesawat jet  seri Embraer buatan Brazil mengambil ceruk 66-124 penumpang. Adapun ATR buatan Prancis yang sebetulnya mirip N-250, yang  sudah dimuseumkan, bisa memuat 78 penumpang. 

Pesawat CN-235, yang mengakomodir 44 penumpang,  merupakan pesawat serba guna yang dapat dipakai untuk tujuan sipil maupun militer. Senegal akan menggunakan CN-235-MPA yang mampu mengintai sasaran kecil di laut sejauh 200 mil laut.

Dalam laman Teknologi Militer disebutkan CN-235  dibuat dua pabrikan yakni CASA EADS Spanyol, CN-25 MP Persuader yang dilengkapi dengan radar bikinan Northrop Grumman APS-504. dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Indonesia mengembangkan CN- 235-MPA yang dilengkapi dengan Sespray 4000 dari BAE System, AN/APS-134 dari Raytheon atau radar Ocean Master 100 buatan Thales. 

CN-235 MPA juga dilengkapi dengan radar infra merah untuk pengawasan dan pengintaian di malam hari. Pesawat dapat membawa dua torpedo mk46 atau rudal Exocet antikapal permukaan.

Pesawat yang dikirim ke Senegal boleh jadi dilengkapi radar atau persenjataan versi baru yang tak diungkapkan ke publik. Lantaran sifatnya yang rahasia.Namun sudah pasti, CN-235 tak hanya bertugas mengawasi tetapi juga dapat melakukan penyerangan.

Sudah banyak negara yang memesan CN-235 MPA, di antaranya Brunei Darussalam, Malaysia, Thailan,  dan Qatar. TNI-AU dan TNI-Al juga memiliki.

Data PT DI menunjukkan CN-235 MPA dan seri lainnya mempunyai keunggulan:

1. Dapat lepas landas dengan jarak yang pendek, dengan kondisi landasan yang belum beraspal.

2. Mampu mengangkut 49 penumpang termasuk pilot dan co-pilot. Dapat digunakan untuk patroli, mengawasi zona ekonomi khusus serta SAR. 

4. Memiliki sistem avionik terbaru modern dan Full Glass Cockpit.

5. Multihop Capability Fuel Tank, teknologi yang memungkinkan pesawat tidak perlu mengisi ulang bahan bakar untuk melanjutkan penerbangan ke rute berikutnya. 

6.Diperlengkapi winglet yang membuat pesawat lebih stabil dan hemat bahan bakar.

Produk PT DI tidak kalah kualitasnya dibanding buatan negara lain. Segmentasi pasarnya pun sudah tepat. Almahum BJ Habibie yang lama di Eropa pastilah paham dengan teknologi dan segmentasi ini. Yang kurang adalah dukungan dari dalam negeri.

Calon pembeli pun mempertanyakan, mengapa lebih banyak buatan luar negeri yang digunakan di Indonesia? Apakah tidak dipercaya?

Hampir bersamaan dengan keberangkatan N-235-MPA, PT PAL Indonesia, Surabaya pada Rabu, 17 Maret 2021  meluncurkan KRI Alugoro -405.  Hasil kerjasama  bekerjasama dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), Korea Selatan.

Dua kapal selam sebelumnya, KRI Ardadedali-404 dan KRI Nagapasa 303, dibuat di Gyeongsang Selatan, Korea Selatan. Ketiganya bersama yang sudah ada sebelumnya , KRI Cakra, akan menjadi kekuatan pemukul.

Jangan lupa, keempat kapal selam ini mewarisi kehebatan Jerman dalam pembuatan kapal selam. Sebelum bekerjasama dengan PT PAL,  Daewoo sudah bermitra dengan perusahaan Jerman.

Keempat kapal selam, yang tergabung dalam kelas Nagapasa, bertenaga diesel elektrik dengan tingkat kesenyapan tinggi. Menyelam hingga kedalaman 250 meter dan melaju dengan kecepatan 21 knot. Mampu beroperasi selama 50 hari terus menerus.

Kecuali Cakra, ketiga  kapal selam mempunyai  delapan tabung torpedo dan mampu meluncurkan peluru kendali untuk sasaran di udara. Masih banyak spesifikasi lainnya.

Sejauh ini, Indonesia menganut sistem pertahanan defensif yang mengutamakan kebersamaan antar angkatan. Dalam konteks ini, keberadaan CN-235-MPA dan Nagapasa punya peranan penting. Apalagi ditambah dengan kapal siluman KRI Klewang-625 buatan PT Lundin Industry Invest, Banyuwangi. 

Masalahnya, masih ada para pihak yang ingin Indonesia lemah dengan cara mempengaruhi opini publik dan strategi canggih lainnya.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?
dewanpers