web analytics
  

Mereka yang Terkenang Situ Aksan (1)

Kamis, 18 Maret 2021 15:30 WIB Netizen T Bachtiar
Netizen, Mereka yang Terkenang Situ Aksan (1), Terkenang Situ Aksan,Sejarah Situ Aksan,Situ Aksan,warga Bandung,Nostalgia,Sejarah,Taman,Keteduhan Pepohonan,Bioklimatis,AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia)

Theo Pietersz, Ariesta Bolina (satu tahun), dan Erlina Soeherman Reksalegora ( dok. Keluarga Pietersz, 1969)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Warga Bandung yang pernah ke Situ Aksan, baik bersama keluarga, orang tua, kakek-nenek, atau bersama teman-temannya saat remaja, mereka terkenang akan tempat hiburan di barat Kota Bandung. Inilah kesaksian, kenangan akan kehadiran situ tersebut dalam ingatannya. Dari kenangan yang terkumpul, dapat merekonstruksi perkembangan, kejayaan, dan kematiannya. Berikut ini adalah beberapa kesaksian yang dapat saya himpun bagian pertama.

Namanya E. Siti Aminah, lahir di Bandung 26 Oktober 1934. Pertama kali berkunjung ke Situ Aksan tahun 1949, pada usia 9 tahun bersama bapak dan aki Hamidi Adiwijaya. Berangkat ke Situ Aksan dari Jl. Pajagalan, Bandung, selain untuk botram, juga lalayaran atau naik perahu.

Erlina Soeherman Reksalegora, lahir di Bandung, 19 Juni 1942. Dari SD sampai mahasiswi tinggal di Jl. Pabaki, Bandung. Tahun 1952-1954, kalau lebaran, bersama kakak dan ibunya pergi ke Situ Aksan. Dari rumah naik delman. Waktu sekolah di SMP PARKI Jl. Balonggede, Erlina tidak pernah main ke Situ Aksan, karena teman mainnya rata-rata tinggalnya di Bandung Utara.

Main lagi ke Situ Aksan waktu SMA tahun 1960-1963. Perginya bersama teman-teman sekolah dan pacar, terutama pada akhir pekan. Di sana naik perahu. Perahunya kecil, cukup untuk bertiga, lebih nyaman kalau berdua. Seru, karena suka balapan perahu.

Tahun 1960-an awal, setiap akhir pekan, banyak anggota AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) muda yang pesiar ke Situ Aksan. Mereka berpenampilan khas, memakai kacamata riben (rayband), kacanya berwarna abu-abu perak. Tempat kacamatanya dimasukan ke ikat pinggang bagian depan sebelah kiri. Dan, Erlina, siswi SMA, bersama kakaknya, pergi ke Situ Aksan untuk ngecengin AURI muda yang sedang pesiar. Kakaknya, Lies, akhirnya menikah dengan anggota AURI.

Pada saat kuliah di Fakultas Hukum UNPAS tahun 1964, Erlina masih suka ke Situ Aksan. Karena dinamika politik, Erlina mengikuti wajib latih kemiliteran, sehingga kunjungan ke sana menjadi terhenti. Pada tahun 1967 menikah dengan Theo Pietersz, alumni Teknik Sipil, Fakultas Teknik UI, peralihan dari UI ke ITB, lulus tahun 1964. Anak pertamanya lahir tahun 1968, diberi nama Ariesta Bolina, dan pada usia satu tahun ia diajak berperahu di Situ Aksan.

Ada pula Anni Siti Suparni, lahir di Bandung, 21 Juli 1954. Bersama orang tua, kakak, dan adik, pergi ke Situ Aksan pada usia 9-10 tahun, sekitar tahun 1963-1964, pada saat tinggal di Jl. Pajagalan. Kemudian pindah dan tinggal lama di Jl. Pagarsih, berdekatan dengan Situ Aksan. Kalau ke Situ Aksan bersama keluarga, acara utamanya adalah makan-makan dan naik perahu. Situ Aksan itu tempat bermain, melihat danau, naik perahu, dan melihat panggung orkes. Pernah menyaksikan orkes pada peringatan cap go meh, dan dibagi makanan.

Kadang ke Situ Aksan untuk mengantarkan makanan, untuk ayahnya yang sedang memancing. Tapi, sesampainya di sana selalu diteruskan bermain. Masuk ke Situ Aksan tidak pernah membeli karcis, karena mau mengantar makanan. Jalan-jalan di kawasan Situ Aksan, di bawah pohon yang rindang, sangat teduh. Terdengar alunan musik dan ajakan untuk naik perahu. Pernah naik perahu dengan kakak dan adik keliling danau, dan berlabuh di pulau yang ada di tengah situ.

Aam Rochamah Rachmawati, lahir di Bandung, 25 Juli 1956. Tinggal di Jl Pagarsih, Kota Bandung. Pada tahun 1968, Aam Rohamah duduk di kelas 4 SD Pagarsih 5. Bila samen, kenaikan kelas, rapornya dibagikan di luar sekolah. Dan sudah menjadi kebiasaan, menutup pembelajaran tahun itu dengan membagikan rapor sambil botram di Situ Aksan.

Dari SD Pagarsih ke Situ Aksan itu dekat, tinggal berjalan kaki ke arah barat. Senang sekali pergi bersama teman-teman. SD Pagarsih itu ada 6 SD, mulai dari SD 1 sampai SD 6. Sebagian ada yang membagikan rapornya di sekolah, namun SD Pagarsih 5, sejak Aam duduk di kelas 4 tahun 1968 sampai kelas 6 tahun 1970, rapornya selalu dibagikan di Situ Aksan.

Situ Aksan itu situ yang sangat luas, dapat berperahu, pepohonannya berdiri tegak, besar-besar, rindang, dan teduh. Anak-anak membawa bekal untuk makan siang dari rumah. Bila ada anak yang tidak membawa bekal, teman-temannya dengan senang hati berbagi bekalnya. Kadang dibagi oleh ibu/bapak guru. Pengalaman yang indah masa kecil, tinggal kenangan.

Imas Suhaeti, lahir di Bandung, 26 Oktober 1954. Berkunjung ke Situ Aksan tahun 1960-an saat usia 6-7 tahun bersama saudara. Main ke sana karena jaraknya dekat dengan rumah. Paling ramai pengunjung pada hari Minggu. Sering ada acara-acara kesenian dan orkes, terutama pada akhir pekan. Rasanya tidak pernah membeli karcis, karena menerobos pagar yang sudah bolong, yang biasa dilewati anak-anak.

Adi Raksanagara, lahir di Bandung, 13 Maret 1958. Berkunjung ke Situ Aksan awal tahun 1960-an, pada usia 4-5 tahun bersama ibu dan kakak adik. Ke sana naik becak dari Jalan Ciliwung 12, Bandung. Kadang-kadang memborong dua becak. Jalanan masih sepi, lancar. Kalau tidak memborong becak, pulangnya naik delman yang banyak mangkal di dekat gerbang.

Berkunjung ke Situ Aksan dalam acara rekreasi liburan hari Minggu keluarga. Dari rumah membawa makanan untuk botram, bergembira sambil makan. Kegiatan selama di Situ Aksan, selain botram adalah berperahu mengelilingi pulau di tengah situ.

Umumnya ke Situ Aksan pada hari Minggu, hari libur lebaran, dan menjelang liburan sekolah. Situ Aksan penuh sampai ada antrian menunggu giliran sewa perahu. Ada juga yang ke sana untuk memancing. Di bawah kerindangan pohon, ada tempat ayunan, padang rumput tempat menggelar tikar untuk botram, dan bermain air di pinggir situ. Kegiatan yang paling menarik di Situ Aksan pada masa kanak-kanak adalah bermain di rerumputan dan berperahu.

Situ Aksan itu taman dengan keteduhan pepohonan yang sangat dominan. Boleh jadi ini yang disebut kenyamanan termal, bioklimatis-nya terjaga. Pohonnya tinggi-tinggi. Pohon sekeliling taman ada kihujan, dan pohon besar lainnya sekeliling situ dan pagar luar. Yang fenomenal ada pohon di pinggir situ, dekat parkiran perahu, pohonnya doyong ke situ. Bisa eundeuk-eundeukan, manjat ke dahan sambil digoyang-goyang. Pohon-pohon itulah yang paling khas.

Sam Askari Soemadipradja (67 tahun), piknik Situ Aksan bersama orang tuanya pada tahun 1960-an. Kegiatan wisata yang menarik adalah berperahu. Acaranya macam-macam. Pernah menonton acara peh cun, perginya bersama tetangga, koh Goan, namanya. Acara peh cun paling ramai. Berperahu sambil melemparkan makanan (bacang) ke Balong Aksan. Tempat wisata yang teduh. Banyak pohon yang rindang. Ada juga dua tiga pohon yang tumbang ke kolam yang luas.

Bersambung ….

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers