web analytics
  

Berbahasa 'Malapah Gedang'

Kamis, 18 Maret 2021 14:00 WIB Netizen Dadang Darmansyah, S,Si, MM
Netizen, Berbahasa 'Malapah Gedang', Berbahasa 'Malapah Gedang',Bahasa,Malapah Gedang,Bahasa Sunda,Sunda,Budaya,Budaya Sunda,Etika,Etika Sunda,Sopan Santun

Ilustrasi orang Sudan sedang berbicara. (Pixabay/Jefferly Helianthusonfri )

Dadang Darmansyah, S,Si, MM

Kepala Seksi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis

Meski orang Sunda, pasti tidak semua orang memahami arti malapah gedang. Mungkin angkatan kelahiran tahun 70-an atau 80-an masih mengenal istilah ini. Tetapi generasi muda Sunda sekarang, dengan bahasa pergaulan sudah bercampur dengan bahasa nasional, sepertinya tidak. Bahkan ada anak suku Sunda tetapi sama sekali tidak bisa bahasa sunda atau kalaupun bisa terdengar aneh di telinga karena tidak terbiasa. Apalagi untuk mengenal dan memahami apa itu malapah gedang.

Banyak yang memahami malapah gendang adalah pelepah pepaya. Ini pemahaman keliru. Tetapi ada juga yang memahami malapah gedang adalah cara berbicara yang bertele-tele, ngalor ngidul, tidak to the poin. Ini juga tidak tepat. Mungkin karena era sekarang orang inginnya simpel, ingin cepat menangkap maksud, dan ga suka berlama-lama duduk mendengarkan.

Memang  malapah gedang terkait dengan teknik atau cara menyampaikan sesuatu secara runut dari pembukaan, isi, dan penutup. Konotasi malapah gedang menurut warisan budaya Sunda adalah berbicara atau berbuat secara tertib penuh etika dan sopan santun sesuai dengan tahapan atau aturan yang seharusnya. Ibarat ngitung tidak langsung ke 3 dan 4 tapi dari 1,2 ... dan seterusnya.  

Malapah gedang sesuai dengan peribahasa nete taraje nincak hambalan (semua ada tahapannya) atau datang katingali tarang indit katingali punduk (datang terlihat dahi pulang terlihat punggung). Agak kurang pas juga sebenarnya kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Jadi, malapah gedang intinya terkait dengan adab berbicara dan berprilaku, tidak slonong boy. Berbicara malapah gedang dalam berpidato disebut juga "biantara". Dimulai dengan salam, ada kalimat pembuka, kalimat inti, kesimpulan, kalimat penutup, dan diakhiri dengan doa.

Agar lebih mudah dipahami, sila simak etika berbicara malapah gedang dalam kalimat pembuka:

“Langkung tipayun abdi nyanggakeun salam silaturahmi ka Bapa miwah ibu, hapunten bilih kadongkapan abdi ngawagel waktosna. Nepangkeun wasta abdi Dadang kawit ti Ciamis, réréncangan damel Néng hayati putri bapak. Abdi téh tos lami sasarengan damel di kantor sareng putri Bapa, upami diétang-étangmah tos aya kana 2 taunna. Salami ieu abdi rumaos kataji ku Néng hayati anu kayungyun teu aya carekeun batur.”

Yang dalam bahasa Indonesia dapat dituturkan:

"Terlebih dahulu saya menyampaikan salam silaturahim kepada bapak dan ibu, mohon maaf jika kedatangan saya menyita waktunya. Perkenalkan nama saya Dadang dari Ciamis, teman kerjanya Neng Hayati putri bapak. Saya sudah lama bekerja bersama-sama di kantor dengan putri bapak. Jika dihitung-hitung sudah ada dua tahun. Selama ini saya merasa tertarik dengan Neng hayati yang menarik hati dan dipandang baik di mata sesama."

Ini contoh kalimat pembuka, meskipun kita yang mendengarkan sudah tahu maksud dan tujuannya. Hanya suasana menjadi enak karena diawali dengan bahasa yang santun dan beretika. Bayangkan jika orang punya maksud dan tujuan langsung to the poin. Ibarat masak kurang bumbu ga enak rasanya. Berbicara secara malapah gedang bermaksud agar lawan bicara tidak syok, atau ada kesiapan mental ketika mendengar inti pembicaraan.

Kalimat lanjutanya contohnya sebagai berikut:

“Hapunten abdi kumawantun, saur paripaos teamah ‘teu ngukur kana kujur teu nalipak kana awak’. Manawi teu acan aya pameget nu sumping ka Bapa sareng ka Ibu, abdi gaduh maksad anu saé ka tuang putri manawi kersaeun janten bojo abdi.

Untaian kata tersebut dapat diartikan:

"Maafkan saya memberanikan diri, yang menurut pribahasa seperti ‘tidak mengukur kemampuan diri sendiri’. Barangkali belum ada laki-laki yang datang ke bapak dan ibu, saya bermaksud baik ke putri bapak untuk saya jadikan istri saya."

Tidak semua orang diberikan anugerah keahlian untuk bisa menyampaikan sesuatu dengan cara malapah gedang. Biasanya mereka sudah terlatih untuk menyampaikan di moment-moment tertentu seperti lamaran, nikahan, atau pidato di event tertentu. Kadang anugerah ini juga dimiliki mereka yang dibentuk di lingkungan dengan etika berbahasa yang baik. Mungkin ada yang suka dan mungkin ada yang tidak suka, karena dianggap tidak to the poin atau terlalu bertele-tele.

Beruntung mereka yang memiliki kemampuan dalam menyampaikan sesuatu dengan teknik malapah gedang’. Hanya tersisa sedikit yang memiliki kemampuan seperti ini, di tengah arus modernisasi yang menuntut sesuatu serba cepat dan instan.

Berbahasa malapah gedang adalah warisan leluhur Sunda yang paling berharga dan langka yang harus dipelihara oleh generasi muda Sunda berikutnya. Bahkan dijadikan referensi berbahasa yang beretika dan berprilaku baik di tengah krisis berbahasa yang sudah semakin kritis. [*]
 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Kultur Overwork Tak Manusiawi dan Tak Bagus untuk Hidup Kita

Netizen Selasa, 18 Mei 2021 | 17:25 WIB

Para pelaku overwork didominasi oleh golongan muda di bawah 40 tahun.

Netizen, Kultur Overwork Tak Manusiawi dan Tak Bagus untuk Hidup Kita, Overwork,Muda-mudi,Bahaya Laten Overwork,Kultur Overwork,Dehumanisasi

Suara dari Surau Kala Pandemi

Netizen Senin, 17 Mei 2021 | 18:25 WIB

Pandemi berdampak pada banyak hal dan berbagai sektor, salah satunya adalah pendidikan agama.

Netizen, Suara dari Surau Kala Pandemi , Pandemi,Pendidikan Agama,Al-Qur'an,Islam

Butuh Stamina dan Kesabaran Sebelum Berfoto di Warung Nasi Mang Ade

Netizen Minggu, 16 Mei 2021 | 13:30 WIB

DI kalangan para goweser, Warung Nasi  Mang Ade bukanlah nama yang asing.

Netizen, Butuh Stamina dan Kesabaran Sebelum Berfoto di Warung Nasi Mang Ade, Warung Nasi Mang Ade,Sepeda,MTB (mountain bike),Liburan,Jalan Raya Puncak,Kabupaten Bogor

Leuwipanjang, di Mana Leuwinya?

Netizen Jumat, 14 Mei 2021 | 08:43 WIB

Leuwipanjang, di Mana Leuwinya?

Netizen, Leuwipanjang, di Mana Leuwinya?, leuwipanjang,Terminal Leuwipanjang,leuwi,sejarah leuwipanjang,leuwipanjang adalah

Menjaga Tradisi, Merawat Ingatan Lebaran

Netizen Kamis, 13 Mei 2021 | 17:30 WIB

Sejatinya, agama (Islam) dan budaya (tradisi) hadir tidak untuk dipertentangkan (dibenturkan).

Netizen, Menjaga Tradisi, Merawat Ingatan Lebaran, Tradisi,Lebaran,Idulfitri,Sejarah,Islam,budaya

Pamali sebagai Pendidikan Karakter Masyarakat Sunda

Netizen Kamis, 13 Mei 2021 | 17:05 WIB

Pamali atau pemali adalah pantangan atau larangan (berdasarkan adat dan kebiasan).

Netizen, Pamali sebagai Pendidikan Karakter Masyarakat Sunda, Pamali,Pemali,Pendidikan Karakter Masyarakat Sunda,Sunda,Budaya,Tradisi,Takhayul

Menjadi Tangan Kanan Pangeran Suriaatmaja

Netizen Rabu, 12 Mei 2021 | 16:53 WIB

Bataviaasch Handelsblad dan Java-Bode edisi 8 Mei 1883 antara lain memuat kabar pelelangan barang-barang milik Raden Kar...

Netizen, Menjadi Tangan Kanan Pangeran Suriaatmaja, raden kartawinata,belanda,suriaatmaja,kabupaten sumedang

Lebaran yang Indonesia Banget dalam Lagu Pop

Netizen Selasa, 11 Mei 2021 | 12:01 WIB

Salah satu lagu yang lumayan utuh mendeskripsikan perayaan Lebaran adalah lagu karya komponis masyhur negeri ini, Ismail...

Netizen, Lebaran yang Indonesia Banget dalam Lagu Pop, Selamat Hari Lebaran,Ismail Marzuki,Lebaran,Lagu Lebaran,Lagu Selamat Hari Lebaran,Jangan Korupsi

artikel terkait

dewanpers