web analytics
  

Kaulinan Barudak, Upaya Kikis Ketergantungan Gadget

Rabu, 17 Maret 2021 13:00 WIB Netizen Deffy Ruspiyandy
Netizen, Kaulinan Barudak, Upaya Kikis Ketergantungan Gadget, Kaulinan Barudak,Permainan Tradisional,bahaya gadget,Kencaduan Gadget,Pendidikan Orang Tua

Sejumlah anak bermain ular tangga yang dilukis oleh warga di Jalan Asep Berlian, Gang Wargaluyu, RT 01 RW 05, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Senin (1/3/2021). Selain permainan ular tangga, warga juga membuat mural dengan berbagai tema seperti permainan tradisional dan mural 3 dimensi. Mural-mural tersebut diharapkan dapat menjadi area bermain baru bagi anak-anak untuk membangun interaksi sosial anak dengan teman sebayanya, juga untuk mengurangi ketergantungan penggunaan gadget saat pandemi Covid-19. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Deffy Ruspiyandy

Penulis Artikel dan Penulis Ide Cerita di SCTV.

Pada era seperti sekarang ini, ketergantungan manusia terhadap gadget sungguh luar biasa. Segala aktivitas kehidupan hampir takkan lepas dari barang yang satu ini. Kemajuan teknologi membuat manusia menjadikan gadget sebagai hal penting dalam hidupnya; dan tak sedetik pun mereka rela lepas dari handphone yang dimilikinya.

Ini menjadi bukti bahwa orang zaman sekarang bukan saja tak mau ketinggalan teknologi, bahkan bisa jadi telah menjadi budak dari teknologi itu sendiri, karena salah di dalam memahami dan mengaplikasikannyapada kehidupan sehari-hari.

Kebutuhan akan gadget memang vital pada kehidupan kita sehari-hari, apalagi saat pandemi seperti sekarang ini. Apalagi anak-anak harus melakukan sekolah daring dan gadget adalah barang yang sangat dibutuhkan mereka. Persoalannya, selain kebutuhan tersebut, anak-anak malah lekat untuk bermain game. Ketergantungan kepada hal inilah yang kemudian mulai meresahkan, karena anak-anak lupa akan lingkungan sekitarnya. Belum lagi dampak negatif lainnya yang dihadirkan oleh persoalan gadget.

Setianingsih, dkk., dalam Dampak Penggunaan Gadget Pada Anak Usia Prasekolah Dapat Meningkatan Resiko Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Hiperaktivitas (2018), menyatakan kecanduan gadget dapat memengaruhi perkembangan otak anak. Kondisi ini terjadi karena  produksi  hormon  dopamine  yang  berlebihan menganggu kematangan fungsi prefrontal korteks dalam mengontrol emosi, tanggung  jawab, pengambilan keputusan, dan nilai-nilai moral lainnya.

Hal ini jika dibiarkan terus menerus akan berdampak buruk kepada anak dan membuat anak selamanya selalu ketergantungan kepada gadget. Dengan melihat kenyataan itu, maka para orang tua tentu saja perlu memikirkan satu langkah yang paling tidak bisa meminimalisasi ketergantungan. Untuk menghilangkan ketergantungan itu sepenuhnya tentu saja bukan hal yang mudah, tetapi setahap demi setahap dengan adanya aktivitas lain maka tentu saja ketergangtungan pada gadget itu bisa dikurangi.

Alternatif yang bisa kita kedepankan adalah dengan mengambil khazanah di tatar Pasundan, seperti kaulinan barudak. Ini adalah bagian yang sangat penting untuk edukasi anak, agar tidak selalu tergantung kepada gadget

Selama ini kita melihat kecenderungan anak itu lebih menyukai game. Semua itu sebetulnya terjadi karena peran orangtua tidak mengarahkan anak untuk mengetahui tentang adanya permainan anak tradisional, yang sesungguhnya menarik bagi usia mereka. Benar tidak semudah itu mereka akan menyukainya, tetapi bila disosialisasikan secara baik maka lambat laun bisa saja mereka tertarik dengan permainan tersebut.

Sesungguhnya banyak sekali permainan anak atau kaulinan barudak yang bisa dikenalkan kepada anak-anak di lingkungan kehidupan kita sehari-hari. Ada anjang-anjangan, gatrik, cingciripit, oray-orayan, boy-boyan, galah asin, dan sebagainya. Nama-nama ini tentu saja sangat asing di telinga anak-anak zaman sekarang. Maka jika tak dikenalkan sejak dini tentu saja mereka akan semakin tak mengetahuinya serta membuat mereka takkan pernah mau mengenal permainan tersebut.

"Harus diakui, keberadaan kaulinan barudak baheula tinggal nama. Ini terlihat dari hasil penelitian Komunitas Hong (Pusat Kajian Mainan Rakyat Jawa Barat) bahwa 168 jenis atau 70 persen jenis mainan dan permainan tradisional anak-anak di Jabar dan Banten punah," tulis Ibn Ghifarie di salah satu media nasional.

Tentu saja untuk melakukan permainan anak-anak tradisional atau kaulinan barudak itu tidak memerlukan biaya yang cukup besar, namun dapat dikatakan kegiatan murah meriah dan bisa dilakukan di lingkungan rumah kita sendiri. Kuncinya di sini adalah adakah kemauan dari para orang tua untuk memulai mengenalkan hal ini kepada anak-anak mereka?

Bahkan jika memungkinkan para orangtua terlebih dahulu yang melakukannya agar membuat ketertarikan kepada anak-anak mereka. Jika kita melakukan hal itu anggap saja kita semua para orang tua bernostalgia dengan masa kecilnya. Sungguh mengasyikkan dan perlu untuk segera dilakukan.

Artinya, kita semua selaku orang tua harus memprioritaskan waktu untuk hal ini. Tetapkanlah, misal seminggu sekali, dengan beberapa kaulinan barudak yang bisa dilakukan sehingga anak-anak akan semakin tahu ragam permainan anak-anak tradisional.

Bahkan tidak menutup kemungkinan jika kegiatan tersebut disuguhi dengan makanan dan minuman tradisional Sunda juga. Benar hal ini bukan persoalan mudah namun jika kita tidak memulainya maka semakin lama kaulinan barudak ini akan jauh dari anak-anak kita dan yang pasti gadget akan semakin digemari oleh mereka. Gadget ada manfaatnya tapi jangan sampai mereka selalum ketergantungan kepada gadget itu sendiri.

Patut mendapat apresiasi jika ada Sebagian orangtua yang mau melakukan hal itu. Selain akan menghibur anak-anak itu sendiri juga yang lebih terpenting dapat memberi edukasi kepada anak-anak tentang kebersamaan, tentang sportivitas, tentang kepedulian, tentang solidaritas dan tentang kaulinan barudak itu sendiri hingga mereka yakin di tanah kelahiran mereka ternyata ada permainan yang lebih asyik ketimbang bermain game.

Semoga saja hal ini menjadi pemicu bagi para orang tua untuk berpikir agar anak-anaknya tidak selalu bergantung kepada gadget dan berani mengajak anak-anaknya untuk mau mengutamakan kaulinan barudak. Hal itu akan lebih bermanfaat bagi mereka karena tidak individualis lagi, sebab di sana selalu mengutamakan kebersamaan apalagi kita semua adalah mahluk sosial. [*]

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Aris Abdulsalam

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers