web analytics
  

Menerjemahkan Robinson Crusoe

Rabu, 17 Maret 2021 11:11 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Menerjemahkan Robinson Crusoe, Robinson Crusoe,Raden Karta Winata,Bahasa Sunda

Halaman judul Robinson Crusoe karya Daniel Defoe, yang disundakan oleh Kartawinata dan diterbitkan Landsdrukkerij pada 1879. (Istimewa)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

“Ook was er een logé in huis, Radén Karta Winata, een zoon van Karel Holle vriend, de penghoeloe van Garoet. Deze jonge Soendase Edelman had op de door Karel gesichte kweekschool een opleiding tot onderwijzer gevolgd. Hij was een bescheiden, hoffelijke huisgenoot, die voortreffelijk Nederlands sprak. Ten behoove van de school vertaalde hij teksten voor leesboeken; De avontuurlijke reis naar Oost-Indie van Willem Bontekoe was al in het Soendaas verschenen, nu werkte hij aan een vertaling van de Nederlandse uitgave van Defoe’s Robinson Crusoe. Rudolfs vader, die een Engelse editie van die roman bezat, hielp Karta Winata bij vergelijking met de oorspronkelijke tekst, in ruil voor Soendase les.” (Haasse, 1992: 104).

“Di rumah juga ada seorang seorang tamu yang menginap. Raden Karta Winata, putra sahabat Karel Holle, pengulu Garut. Ningrat Sunda yang masih muda ini telah mengikuti pendidikan calon guru di sekolah guru yang telah didirikan oleh Karel Holle. Ia seorang penghuni rumah yang sangat sopan dan rendali hati. Ia berbahasa Belanda bagus sekah. Untuk keperluan sekolah ia telah menerjemahkan teks-teks dijadikan buku bacaan. De avontuurlijke reis naar Oost-Indie karya Willem Bontekoe telah terbit dalam terjemahan Sunda. Kini ia mengerjakan terjemahan dari penerbitan bahasa Belanda Robinson Crusoe tulisan Defoe. Ayah Rudolf yang memiliki edisi bahasa Inggris novel tersebut, membantu Karta Winata dalam memperbandingkan dengan teks aslinya. Sebaliknya ayahnya lalu memperoleh pelajaran bahasa Sunda dari Karta Winata” (Haasse, 1993,terjemahan Joko Raswono).

“There was also a lodger at Ardjasari, Raden Karta Winata, a young Soendanese nobleman who had been a student at Karl Holle’s teacher training college and whose father was penghoeloe of Garoet. Modest and well-mannered, he spoke fluent Dutch, and was working on the translation of various books for use in the college: he had already produced a Soendanese version of Willem Bontekoe’s Adventurous Travels to the East Indies, and was now translating Robinson Crusoe from the Dutch version of that book owned by Rudolf’s father, who offered guidance in excahange for instruction in Soendanese” (Haasse, 2010: 110-111, diterjemahkan oleh Ina Rilke).

“Di rumah juga ada seorang seorang tamu yang menginap, Raden Karta Winata, bangsawan muda Sunda, yang dulu murid di sekolah pendidikan guru yang didirikan Karel Holle, dan ayahnya adalah penghulu Garut. Ia pemuda yang sederhana, bertatakrama baik, menguasai bahasa Belanda, dan sedang menerjemahkan berbagai buku untuk kepentingan sekolah; ia sudah menghasilkan versi terjemahan Perjalanan Penuh Petualangan ke Hindia Timur karya Willem Bontekoe dalam bahasa Sunda, dan kini sedang menerjemahkan Robinson Crusoe karya Defoe dari edisi Belanda milik ayah Rudolf, yang menawarkan bimbingannya, dengan imbalan pelajaran bahasa Sunda” (Haasse, 2015: 147, terjemahan Indira Ismail). 

Kutipan di atas yang pertama diambil dari novel Heren van de Thee (1992) karya Hella S. Haasse dan tiga kutipan selanjutnya merupakan terjemahan untuk kutipan Belanda tersebut. Kutipan kedua hasil terjemahan Joko Raswono atas novel tersebut dengan judul Pengusaha Teh dan dimuat secara bersambung dalam HU. Kompas pada 1993. Kutipan ketiga berasal dari The Tea Lords yang dikerjakan oleh Ina Rilke. Sementara yang keempat berasal dari buku Sang Juragan Teh (2015) hasil terjemahan Indira Ismail.  

Bila dibanding-banding, saya kira, yang lebih mendekati terjemahan untuk kutipan dari bahasa Belanda dikerjakan oleh Joko. Sementara dalam Rilke ada tambahan keterangan Ardjasari dan menghilangkan kata “Engelse” (Inggris) yang digantinya dengan kata “Dutch” (Belanda). Kemudian Indira agaknya menerjemahkan dari yang dikerjakan oleh Rilke, yang terlihat dari struktur kalimat yang dihasilkannya sejajar dengan yang digunakan oleh Rilke, berbeda dengan versi aslinya dalam bahasa Belanda dan terjemahan Joko. Demikian pula kata Inggris dalam terjemahan Indira tidak ada. Padahal dalam kolofon buku terjemahan Indira ini diberi keterangan menggunakan versi bahasa Belanda, tetapi dari struktur terjemahannya, nampak menerjemahkan dari versi bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Rilke.

Memang asyik bila melihat hasil kerja penerjemahan itu. Kita jadi turut mempelajari tata bahasa yang digunakan oleh penulis aslinya dan bagaimana penerjemahnya mengalihkan ke dalam bahasa sasaran. Kita juga dapat melihat kreativitas penerjemah untuk sedapat-dapatnya mendekatkan hasil terjemahannya kepada pembaca sasarannya. Dan ini pula yang hendak saya kaitkan dengan sosok Raden Karta Winata (Kartawinata) yang menjadi pokok kutipan di atas. 

Bila saya rekonstruksi dengan titik pijak hasil terjemahan Kartawinata atas kisah Robinson Crusoe dalam bahasa Sunda, kejadian dalam kutipan di atas semestinya terjadi sebelum tahun 1879. Karena dalam kutipan tersebut buku Kapten Bontekoe sudah diterjemahkan itu mengandung arti tahun 1874. Dengan demikian, dapat diperkirakan kunjungan Kartawinata ke rumah ayahnya Rudolf terjadi antara 1875 hingga 1878. Namun, Hella S. Haasse menempatkan peristiwa tersebut pada bab “Taferelen van voorbereiding” atau “Scenes of preparation” atau “Kisah-kisah Persiapan” yang meliputi tahun 1869-1873. Saya kira Haasse keliru menempatkan peristiwa pertemuan Kartawinata dengan ayahnya Rudolf itu, atau bisa jadi pula itu merupakan bagian dari kenangan Rudolf terhadap pertemuan tersebut, meskipun tetap saja secara logika itu kurang masuk akal. Atau mungkinkah itu bagian dari imajinasi Haasse yang ditambahkan untuk memperkaya novelnya?

Kemudian Rudolf yang disebut dalam kutipan adalah Rudolf Eduard Kerkhoven (1848-1918) yang mendirikan perkebunan teh Gambung (Bandung) pada 1873 dan ayah Rudolf adalah Rudolf Albert Kerkhoven (1820-1890) yang mendirikan perkebunan teh Arjasari (Bandung) pada 1869. Lalu bagaimana hubungan antara Kartawinata dengan keluarga Kerkhoven? Yang jelas karena baik R.E. Kerhoven maupun R.A. Kerkhoven berkerabat dekat dengan mentor Kartawinata, K.F. Holle. R.A. Kerkhoven adalah sepupu K.F. Holle, karena ibu R.A. Kerkhoven, yakni Anna Jacoba van der Hucht (1795-1856), adalah kakak ibunya K.F. Holle, Alexandrine A. van der Hucht (1802-1878). (“Stamboom van de families van der Hucht, Kerkhoven en Holle” dalam Brieven van de thee, 2004, suntingan Nelleke Noordervliet). 

Bila peristiwa pertemuan antara Kartawinata dengan R.A. Kerkhoven sekaligus dengan R.E. Kerkhoven benar terjadi, barangkali pada saat itu Kartawinata yang sudah bekerja sebagai adjunct translateur (1874-1877) atau bahkan sudah menjadi juru bahasa Sunda secara penuh (sejak 1877) di Bandung diajak berkunjung ke Arjasari oleh K.F. Holle untuk menyambangi sepupunya itu. Atau meski tidak berbarengan gurunya tersebut, barangkali memang Kartawinata bertandang sendiri dengan maksud untuk mendapatkan bahan perbandingan bagi penerjemahan cerita Robinson Crusoe dari bahasa Belanda. Karena ternyata memang dari kutipan di atas, R.A. Kerkhoven memiliki versi bahasa asli karya pujangga Inggris Daniel Defoe (1660-1731) tersebut: The Life and Strange Surprizing Adventures of Robinson Crusoe, of Tork, Mariner (1719). 

Kutipan tersebut juga menunjukkan keinginan orang-orang perkebunan di Priangan untuk mempelajari bahasa Sunda, yang tentu saja demi terjalinnya komunikasi yang baik dengan para pribumi pekerjanya yang memang kebanyakan orang Sunda dan tidak banyak yang mengerti bahasa Melayu, apalagi Belanda. Sebagaimana yang nampak dari kutipan di atas, serta kutipan selanjutnya dalam buku Hella S. Haasse tersebut menunjukkan minat baik R.A. Kerkhoven maupun R.E. Kerkhoven untuk mempelajari bahasa Sunda. Memang penggunaan kosa kata dan kalimat bahasa Sunda memang terlihat dalam Heren van de Thee (1992).

Saya dapat mengambil kutipan lagi dari hasil terjemahan Joko Raswono (1993) sebagai berikut: “Dengan sabar dan hati-hati Karta Winata menunjukkan liku-liku bahasa itu kepada Rudolf. Dengan bentuk-bentuk ‘halus’ dan ‘’kasar’ dalam pergaulan antara orang-orang sesama tingkat; pendekatan terhadap orang-orang terkemuka; menyatakan hormat yang sedalam-dalamnya; mengungkapkan penghinaan; penekanan nuansa-nuansa halus dari nilai yang hendak diperuntukkan diri senairi dalam pergaulan dengan seseorang lain. Mustahil Rudolf akan menggunakan kata ‘aing’ untuk ”aku' bagi seorang bawahan alih-alih kata ‘urang’  atau ‘dewek’ yang lebih akrab. Sebab kata ‘aing’ itu hanya digunakan dengan congkak dari atas ke bawah. Kecuali bila betul-betul marah yang pada tempatnya, atau sedang sangat tersinggung perasaannya. Atau dalam pergaulan orang-orang Sunda yang sama-sama sederajat atau setingkat ia akan menunjuk dirinya dengan kata ‘kuring’ alih-alih kata ‘abdi’ yang lebih resmi, sebelum tercipta suasana saling percaya dan akrab satu sama lain”.

Dengan demikian, terlepas dari benar-tidaknya peristiwa pertemuan antara antara Kartawinata dengan R.A. Kerkhoven sekaligus dengan R.E. Kerkhoven yang berkontribusi bagi upaya penerjemahan Kartawinata terhadap buku Robinson Crusoe, yang jelas adalah kedekatan Kartawinata dengan kalangan orang Belanda melalui perantaraan gurunya, K.F. Holle. Kenyataan demikian akan nampak jelas bila kita dapat menyimak terjemahan-terjemahan dan karya-karya asli yang disusun oleh Kartawinata selanjutnya.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers